WANITA ITU IBU ANAKKU

WANITA ITU IBU ANAKKU
Part 127


__ADS_3

Hingga suatu saat tuan Baksono mendengar sesuatu yang dikatakan oleh Rima kepada seseorang, yang membuat dunia tuan Baksono seakan runtuh.


"Aku sudah sedari lama ingin menjadi nyonya di sini. Segala cara sudah kulakukan" kata Rima kepada seseorang yang ditelpon itu.


Tuan Baksono masih terdiam di tempatnya, ingin mendengar kelanjutan kisah dari istri sambungnya itu.


"Aku bahkan sengaja tak memberikan vitamin buat kehamilan istrinya yang kedua, dan kuganti dengan obat yang membahayakan kehamilannya. Hingga saat melahirkan Sukma mengalami perdarahan hingga dia meregang nyawa. Untungnya juga putrinya ikutan meninggal. Membuat aku semakin mudah mengatasi rintanganku selama ini...ha...ha..." tawa Rima terdengar mengerikan di telinga Baksono. Baksono bergetar mendengar semua.


"Apa kau tau juga, kalau aku sengaja merusak masa depan putra kandungnya. Aku bahkan telah membuatnya mengusir putra kandungnya sendiri" Rima tertawa dan masih asyik mengobrol dengan seseorang di panggilan telpon itu.


"Oh ya, gimana kalau putramu itu kujodohkan saja dengan putriku Martha. Putriku sekarang penerus utama dari perusahaan suamiku loh" jelasnya dengan penuh rasa bangga.


Baksono berjalan ke ruang kerja setelah mengetahui semua untuk menenangkan diri. Giginya saling bertaut menahan amarah.


Sekian tahun tuan Baksono mencari keberadaan sang putra dan belum berhasil menemukan.


Bahkan rencana Rima untuk menikahkan putrinya dengan Supranoto disetujui saja oleh Tuan Baksono.


Perusahaannya pun dikelola oleh Supranoto, meski tak bertambah maju tapi malah sebaliknya semakin menurun.


Tuan Baksono tak berniat sedikitpun menjual perusahaan yang dibangunnya itu.


Bahkan aset-aset miliknya tak pernah sekalipun diatasnamakan istri sambungnya.


Diam-diam tuan Baksono sudah menunjuk seorang pengacara, untuk mengurus semuanya. Semua asetnya telah dipindahtangankan atas nama putra kandungnya.


Hingga suatu saat istri keduanya, Rima tahu akan hal itu. Tuan Baksono diusir dari rumahnya sendiri dan mulai saat itu tinggalah tuan Baksono di rumah ini, rumah yang beralih fungsi jadi sebuah panti jompo.


Meski perusahaan dan semua dipegang oleh Rima dan menantunya, tapi mereka tak memiliki hak kepemilikan atas semuanya.


Sampai Rima meninggal dan tersisa Supranoto dan Martha dan juga cucunya Janetra, Tuan Baksono masih belum berhasil mencari keberadaan Aminoto Winardi putranya.


Hanya Aminoto maupun ahli warisnya yang bisa mengambil alih semua.


"Itulah sayang, sedikit cerita tentang Opa Baksono" Sebastian mengakhiri cerita panjangnya di depan Mutia.


Mutia masih syok mendengar penjelasan Sebastian. Air mata mengalir di pipi tanpa dia sadari.

__ADS_1


"Maafkan Opa Nak? Semua karena salah Opa" laki-laki renta itu menangis.


Mutia masih meneruskan tangisannya. Tak tahu harus kah bahagia atau malah sebaliknya.


Setelah beberapa lama Mutia menghambur ke pelukan opa kandungnya.


"Maaf...maafkan Opa Nak" tuan Baksono Winardi semakin tergugu dan memeluk erat Mutia.


"Maafkan Mutia juga Opa, kenapa baru tau sekarang? Andai waktu bisa diputar kembali" ucap Mutia dalam isak tangis.


Sebastian membiarkan kakek dan cucu itu saling mengurai cerita masing-masing.


Tuan Winardi yang selama ini pura-pura pikun hanya Sebastian yang tahu. Itupun Sebastian juga tahu baru-baru saja. Sungguh pintar kakek itu menyembunyikan semua.


"Kapan-kapan ajak Opa ke makam putra dan menantu. Menantu yang tak pernah kukenal" ucap Opa Winardi penuh nada sesal.


"Sudahlah Opa, ayah di sana pasti sudah memaafkan Opa" imbuh Mutia untuk menghibur sang Opa.


Mutia belum menceritakan semua kisahnya, di mana ayah dan ibu nya meninggal karena syok mendengar kehamilannya yang di luar nikah.


"Opa, aku minta maaf" sela Sebastian.


"Kenapa minta maaf?" Opa Winardi menoleh ke arah Sebastian.


"Karena ulahku dan kesalahan satu malam, cucumu ini mengandung Langit. Bahkan aku belum diberi kesempatan untuk bertanggung jawab waktu itu. Hingga ayah dan ibu Mutia meninggal karena putrinya hamil di luar nikah" tegas Sebastian.


Mutia saja belum ingin menceritakan kisah sedihnya, malah Sebastian mendahuluinya.


Sebuah pukulan tepat mengenai kepala Sebastian, "Itu upahmu karena menyakiti cucuku" ujar Opa Winardi.


"Opa, katanya nggak makan berhari-hari? Kok kuat sih pukulannya?" sungut Sebastian.


"Itu karena Opa sakit hati tau" seloroh Opa Winardi yang sudah akrab dengan Sebastian.


"Tian, apa kau juga yang membatalkan nikah dengan Janetra. Cucu dari wanita ular itu?" tukas Opa Winardi.


"Iyessss...karena aku telah menemukan berlianku yang sebenarnya" kata Sebastian memeluk erat sang istri.

__ADS_1


"Opa, apa tuan Supranoto masih sering ke sini?" tanya Tian. Dan dijawab anggukan Opa.


"Opa, bagaimana kalau perusahaan Opa itu aku akuisisi aja? Itu kalau Mutia sebagai ahli waris menyetujui. Biar semua aset selamat" bisik Sebastian ke telinga Opa. Membuat Mutia yang tak mendengar ikutan bersungut.


"Curang kalian, kenapa tak kasih tau aku" rajuk Mutia.


"RHS....alias rahasia" imbuh Sebastian dan Opa Winardi bersamaan membuat Mutia semakin bersungut.


"Tian, semua kuserahkan padamu" mandat Opa Winardi kepada Sebastian. Opa Winardi yakin, jika Sebastian adalah sosok laki-laki bertanggung jawab terhadap cucunya.


Tinggal membereskan keluarga uler itu. Batin Sebastian.


Sementara Mutia masih bercengkerama dengan Opa yang notabene baru diketahui kalau Opa Winardi adalah Opa kandungnya.


"Opa, Mutia seneng banget hari ini" celetuk Mutia.


"Opa juga. Opa bersyukur, karena ternyata cucu Opa wanita baik yang selama ini Opa kenal. Yang memaafkan Opa yang punya kesalahan sangat fatal ini" ulas Opa.


"Sudah jangan dibahas lagi. Opa, apa nggak tinggal aja sama kita?" pinta Mutia.


"Nggak Nak, Opa senang tinggal di sini. Banyak teman" tolak Opa.


"Mutia janji dech, akan sering-sering ke sini. Langit akan kuajak juga" janji Mutia.


"Jangan janji kalau sukar ditepati. Opa sadar kalau kalian sibuk semua" jawab Opa.


"Nggak kok Opa, aku mau jadi ibu rumah tangga aja. Bisa nemanin Langit dan calon adiknya ini" Mutia mengelus perutnya yang mulai membuncit.


Sebastian menyunggingkan senyum. Ternyata tak sesulit yang dia kira, untuk membuat Mutia resign dari perusahaannya sendiri...he...he...


"Smoga selalu sehat-sehat cicit Opa" Opa Winardi mengenggam erat Mutia. Binar mata bahagia nampak jelas di sana.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


To be continued, happy reading


💝

__ADS_1


__ADS_2