
Prof Abraham hanya tersenyum simpul. "Semua pasti ulahmu Tian" gumamnya.
Anak muda yang tak akan tanggung-tanggung menyelesaikan masalah yang mengusik keluarganya. Pikir Abraham.
Sebastian nggak jauh beda dengan Mayong menantunya. Abraham bermonolog.
.
Sementara Sebastian dan keluarga telah sampai ke apartemen pribadi mereka, apartemen Royal.
Opa memandang takjub seisi ruangan apartemen pribadi cucu menantunya itu.
Opa lega, karena cucu dan cicitnya tak akan kekurangan sekarang.
"Opa, apa yang dipikirkan?" Mutia menghampiri Opa Winardi.
"Opa bahagia sekarang, cucu dan cicit Opa berada di tangan orang yang tepat" tukas Opa Winardi.
Mutia tersenyum menanggapi ucapan Opa.
Sebastian yang barusan menyusul masuk, "Ada apa ini? Kok saling bengong di sini. Sayang, ajak Opa istirahat" kata Sebastian.
"He...he...sampai lupa" Mutia terkekeh.
"Opa istirahat dulu. Seharian ini kita sudah kemana-mana" lanjut Mutia.
Opa Winardi mengikuti langkah cucunya yang berjalan ke arah kamar tamu.
Mutia kembali ke kamar, setelah memastikan sang Opa telah istirahat di kamarnya.
Dilihatnya Sebastian yang tengah sibuk memeriksa tab yang dipegang.
"Sayang, sini mendekat" pinta Sebastian sambil menepuk sisi ranjang kosong di sampingnya.
Mutia mengecup pipi sang suami, dan lanjut duduk di samping Tian.
"Makasih, untuk semuanya" kata Mutia.
"Itu semua tak seberapa sayang, tak sebanding dengan perjuanganmu mengasuh putra kita tanpa aku di sampingmu" Sebastian memeluk Mutia dan mengecup keningnya.
"Sudah jangan dibahas lagi, semua sudah berlalu" tukas Mutia.
"Yank" panggil Sebastian menjeda ucapannya.
Mutia mengurai pelukan Sebastian, "Ada apa?" telisiknya.
"Heemmmm...apa ya?" Sebastian menatap sang istri.
"Idih, nggak lucu ah" sungut Mutia dan hendak menjauh dari sang suami.
Tapi Sebastian menahan Mutia agar tetap di posisinya saat ini.
"Ada apa?" tukas Mutia penasaran.
"He...he....happy birth day my wife" ucap Sebastian sambil terkekeh.
Mutia menutup mulutnya. Dia sendiri bahkan lupa kalau hari ini adalah hari lahirnya.
Sebastian memeluk sang istri, "Semoga panjang umur, bahagia dan selalu menemaniku sampai kita menua" harap Tian dalam doanya.
Mutia memeluk erat Sebastian, sosok ayah dari anak-anaknya. "Aamiin" ucap Mutia menanggapi Sebastian.
"Tutup mata sekarang" pinta Tian.
"Untuk?" tanya Mutia.
"Lakukan saja" kata Tian, dan tidak ada romantisnya sama sekali.
__ADS_1
Mutia melakukannya dengan bersungut. Sebastian tertawa kecil melihat ekspresi istrinya.
Dia tuntun Mutia keluar dari kamar utama.
"Mau kemana sayang?" tanya Mutia dengan mata yang masih tertutup oleh tangan suaminya.
"Sabar dong" tukas Sebastian.
"Stop" kata Sebastian dengan menahan tubuh sang istri untuk tidak berjalan lagi.
Sebastian membuka pelan tangannya dari netra sang istri.
"Sekarang bukalah" bisik Sebastian di telinga Mutia.
Mutia mulai membuka matanya pelan, silau oleh cahaya yang begitu terang di sekitarnya.
Terdengar alunan lagu selamat ulang tahun membahana di seluruh ruangan. Bahkan kini Sebastian telah membawa kue ulang tahun di tangannya dengan beberapa lilin yang sudah menyala.
"Tiup...tiup...tiup...."kata semuanya.
"Berdoa dulu sayang" kata Tian. Mutia memejamkan mata, dan berdoa.
Mutia menangis karena rasa yang terlalu bahagia.
Semua angggota kekuarga Baskoro lengkap hadir di sana. Mulai dari papa, mama, kak Catherine dan Reno. Adanya Opa Winardi semakin menambah kebahagiaan seorang Mutia.
Dewa dan Dena, mereka lah yang menyiapkan kejutan untuk Mutia atas permintaan Sebastian tentunya.
"Makasih...makasih...sayang" Mutia menghambur ke pelukan suami karena terlalu bahagia.
Sebastian mengecup kening sang istri yang sangat dicintainya itu.
"Dad, menjauhlah. Aku juga ingin ngucapin happy birth day buat bunda" sela Langit sambil menarik daddynya untuk menjauh dari bunda.
Semua yang di sana menertawakan Sebastian, karena masih kalah pamor oleh sang putra.
Setelah itu gantian, semua memberikan selamat dan doa terbaik untuk bunda Langit.
"Dad, kok pelit sekali sih kasih hadiahnya?" Langit lagi-lagi ikutan bicara.
"Kamu sendiri kasih apa sayang?" tanya Tian.
"Aku nggak kasih kado buat bunda. Tapi aku janji akan melindungi dan menyayangi bunda selamanya" ucap Langit lantang.
Mutia memeluk sang putra yang kadar posesifnya sefrekuensi dengan daddynya itu.
"Makasih sayang" ujar Mutia.
Saat menerima kado dari Sebastian, semua yang di sana berujar, "Buka....buka...buka..." sambil bertepuk tangan.
Mutia menatap sang suami, "Bukalah" kata Sebastian.
Dengan persetujuan sang suami, Mutia mulai membuka bungkus kado pemberian sang suami.
Hari ini terlalu banyak kejutan yang diberikan oleh suaminya.
Mutia menatap sang suami, saat kado yang telah terbuka itu berisi sepasang kunci. "Apa ini sayang?" kata Mutia.
Dewa menyalakan layar televisi besar yang ada di ruangan itu.
Terlihat di sana sebuah mansion mewah lengkap dengan semua isi dan perabotnya.
"Itu hadiahmu sayang" bisik Tian.
Mutia terbengong.
"Kita akan tinggal di sana nantinya" imbuh Tian.
__ADS_1
Sebastian telah menyiapkan itu jauh hari sebelumnya. Sebastian harus memastikan sendiri, saat ulang tahun sang istri semua telah siap. Dan semua berjalan sesuai rencana yang telah disusun oleh Tian dibantu Dewa dan Dena.
"Kak, kok malah melamun sih?" Dena menghampiri Mutia yang masih termenung di tempat.
"Sudah saatnya kakak bahagia sekarang" lanjut Dena.
"Makasih Dena" jawab Mutia.
"Besok pagi kita pindah ke sana" ucap Sebastian.
"Dan lokasinya dekat dengan mansion kita" celetuk mama Cathleen yang terlalu senang, karena putra dan menantunya itu akan semakin dekat dengan mereka.
Tuan Baskoro bahkan telah akrab dengan Opa Winardi. Mereka berdua seakan sudah kenal lama.
Ponsel Dewa tiba-tiba berdering keras, kala acara ulang tahun Mutia belum usai.
Sebastian menoleh ke arah Dewa.
Dewa menunjukkan layar ponselnya. "Pak Budi?" gumam Tian.
"Selamat malam pak Budi" sapa Dewa yang masih berada di samping Sebastian.
"Malam tuan Dewa, barusan tuan Supranoto ke sini dan memaksa saya untuk memberikan berkas-berkas milik tuan Baksono. Mohon maaf karena saya telah memberi tahu semua kepadanya tentang pengalihan status aset milik beliau yang telah resmi menjadi hak milik nyonya Mutia Arini" beritahu pak Budi.
"Baik pak Budi, secepatnya saya infokan ke bos saya. Terima kasih" ucap Dewa dan menutup ponselnya.
"Apa Supranoto sudah tau?" tanya Tian.
"Sepertinya begitu" jawab Dewa.
"Akan aku lihat, apa yang akan dilakukannya setelah ini" ujar Sebastian.
"Sayang, sini dong. Jangan kerjaan mulu yang dibahas" panggil Mutia ke arah sang suami yang masih bersama Dewa.
Sebastian mendekat ke arah sang istri yang sedang berkumpul dengan keluarga besarnya itu.
Suasana bahagia sangat terasa di sana.
Opa Winardi yang terbiasa menyendiri di panti, mulai bisa membaur dengan tuan Baskoro. Itu terlihat dari tawa lepas mereka berdua. Tuan Baskoro dan tuan Baksono.
.
Pagi-pagi, kedatangan Sebastian di Blue Sky telah dihadang oleh Supranoto.
Karena meski kemarin seharian Sebastian sibuk dengan urusan Opa Winardi dan Mutia, dia tetap memerintahkan Dewa untuk mengeksekusi semua harta milik Opa Winardi.
Salah satunya mengusir Supranoto dan keluarga dari rumah tinggal yang selama ini mereka tempati.
Bahkan Sebastian juga membekukan semua akses bank keluarga itu.
"Apa yang kau lakukan kepada keluargaku?" sergah Supranoto.
Sebastian hanya mengangkat kedua bahu tanpa membalas ucapannya.
"Apa karena kau dipengaruhi oleh istrimu? Hah?" bentak Supranoto.
Sebastian tersenyum, "Itu belum ada apa-apanya dibanding perlakuanmu kepada istriku selama ini" bisik Sebastian dengan menatap tajam ke arah Supranoto.
"Penjara mungkin akan terlalu enak bagi dirimu dan keluargamu" imbuh Sebastian dengan setengah mengancam.
"Ha...ha...emang apa yang bisa kau lakukan?" sarkas Supranoto.
"Tunggu saja!!" kata Sebastian dan berjalan menjauh dari laki-laki setengah baya itu.
Supranoto meninggalkan Blue Sky dengan tangan mengepal erat.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
__ADS_1
To be continued, happy reading
💝