WANITA ITU IBU ANAKKU

WANITA ITU IBU ANAKKU
Part 111


__ADS_3

"Mau mengajak beli bubur ayam aja pakai teka teki" gumam Sebastian sambil tersenyum melihat sang istri yang sedang mengantri.


Mutia mengantri lumayan lama. Sebastian pun menyusul.


"Sayang masih lama kah?" Sebastian menghampiri.


Banyak pasang mata melihat ke arah mereka. Sampai tibalah giliran Mutia.


"Nyonya Mutia, bunda nya den Langit. Apa kabar nyonya? Lama sekali tak mampir ke sini?" sapa bapak-bapak penjual bubur ayam.


"Alhamdulillah kabar baik pak Sarmin. Pesanan seperti biasa ya" ucap Mutia.


"Ayamnya disuwir kecil-kecil sekali kan? Nggak pake kacang kedelai goreng" imbuh pak Sarmin.


Mutia tersenyum menanggapi. "Bapak masih ingat aja kebiasaanku...he...he..."


"Nyonya, ini jumlahnya dikurangi atau bagaimana?" tanya pak Sarmin.


"Disamain aja pak" pinta Mutia.


"Tapi aku dengar di sana sudah berkurang lho penghuninya" beritahu pak Sarmin.


"Oh ya, kapan pak?" penasaran Mutia.


"Baru juga beberapa hari yang lalu nyonya" jelas penjual bubur itu.


"Sudah sering ke sini sayang?" bisik Sebastian penasaran karena melihat sang istri yang akrab banget dengan penjual bubur yang dipanggil pak Sarmin itu.


"Hhhmmmm" tukas Mutia.


"Den Langit nggak ikut nyonya?" tanya pak Sarmin dengan tangan tetap bergerak menyiapkan bubur ayam.


"Dia sekarang sudah gedhe pak, sudah sekolah" imbuh Mutia.


"Terus tuan tampan yang berdiri di belakang nyonya? Tuh ibu-ibu yang antri matanya tak ada yang berkedip" canda pak Sarmin.


"Oh ya pak, kenalin ini suamiku. Suami yang baru kutemukan setelah pergi selama lima kali puasa lima kali lebaran he...he..." balas Mutia dengan becanda pula.


"Ah Nyonya bisa aja" pak Sarmin menaruh bubur ayam ke sebuah kantung plastik besar.


Pak Sarmin menatap Sebastian. "Nyonya benar-benar tak salah pilih. Selain tampan, sepertinya tuan ini juga kaya raya" lanjut Pak Sarmin.


"Tapi ingat pak, kaya bukan jaminan bahagia" celetuk Mutia menimpali.


"Wah...benar itu nyonya" Sekantung besar yang berisi bubur itu diserahkan pak Sarmin ke Mutia. Tapi dengan cepat Sebastian menyambar untuk membawakan.


Mutia menyerahkan sepuluh lembar uang seratusan untuk pak Sarmin seperti biasa.


"Makasih nyonya, kudoakan rejeki anda lancar, keluarganya bahagia" ucap pak Sarmin.


"Sama-sama pak Sarmin. Kita pamit ya" Mutia melangkah meninggalkan penjual bubur, diikuti oleh Sebastian yang membawa bubur ayam.

__ADS_1


Sebastian kembali menjalankan mobil dan Mutia duduk di sampingnya.


"Beli buburnya banyak banget sayang?" Sebastian masih penasaran.


"He..he..ada dech" Mutia kembali mengajak tebak-tebakan.


"Kok sepertinya kamu akrab sekali dengan penjualnya tadi" selidik Sebastian dan mulai kelihatan posesif.


"Oh pak Sarmin? Dia tuh langganan aku mulai dari jaman ngidamnya Langit dulu. Bahkan kalau aku tak punya uang, saking kepingin bubur ayam pak Sarmin tak segan untuk memberiku bubur ayam dengan alasan bonus karena aku sering beli. Padahal kutau itu hanya cara agar aku mau menerima pemberian bubur ayam dari dia" Mutia tergelak menceritakan saat jaman dia susah.


"Terus pertanyaan yang satunya belum terjawab" Sebastian menoleh ke arah sang istri.


"Yang mana?"


"Tadi, beli bubur ayam segitu banyak?" Sebastian mengulangi pertanyaannya.


"Sabar, bentar lagi kau juga akan tau sayang" Mutia menampakkan senyum cantik buat suaminya.


"Lampu merah depan itu kita belok kiri, gang pertama kita masuk" jelas Mutia.


"Mau mengajak ke mana?"


"Ish, jangan banyak nanya dech yank. Bentar lagi juga bakalan tau" sela Mutia.


"Iya...iya...aku diam nggak nanya lagi" sungut Sebastian. Mutia hanya ketawa aja menanggapi.


Sebastian fokus melajukan mobil. Sepertinya aku kenal daerah ini. Bukannya ini yang aku lewatin waktu nyari kembang gula kapas beberapa hari yang lalu. Pikir Sebastian.


Loh, bukannya ini jalan yang waktu itu didatangi tuan Supranoto. Batin Sebastian.


Dia masih terdiam, belum bertanya lagi ke sang istri.


"Bangunan lama sebelah kanan jalan. Kita berhenti di sana sayang" pinta Mutia.


"Ngapain??"


"Ayo masuk, nanti kamu juga akan tau" Mutia menggandeng lengan sang suami.


"Halo Mutia, lama tak datang?" sapa Sarah dari dalam ruangan.


"Maaf kak Sarah, akhir-akhir ini aku sibuk banget" jawab Mutia.


"Oh ya kak, kenalin ini suamiku. Dia daddy nya Langit lho" bisik Mutia.


"Wow, akhirnya kau menemukannya" terlihat binar kebahagiaan di mata Sarah melihat Mutia sekarang telah bersuami dengan orang yang tepat.


"Opa-opa dan Oma-oma pada ke mana kak?" tanya Mutia.


"Biasa, mereka semua kumpul di halaman belakang" jelas Sarah.


Sarah adalah penanggung jawab di rumah itu dibantu oleh empat orang untuk memasak dan bersih-bersih.

__ADS_1


Mutia merupakan seorang donatur tetap di sana. Panti Jompo swasta yang hanya mengandalkan donasi dari orang-orang baik seperti Mutia.


Ternyata aku belum begitu kenal dengan pribadi baik istriku, batin Sebastian.


Mutia melangkah bersama Sebastian mengikuti langkah Sarah.


"Beneran mereka pada kumpul kak, sudah makan semua kah?" tanya Mutia ke Sarah. Banyak orang tua di sana yang telah pikun. Bahkan banyak juga yang tak mengenal anggota keluarganya lagi.


"Kak, tadi aku bawa bubur ayam pak Sarmin. Ntar bagikan aja waktu makan sore" kata Mutia.


"Sayang, bisa bukain pintu mobilnya kan?" pinta Mutia. Sebastian beranjak untuk mengambil bubur ayam yang dibeli sang istri tadi.


"Kak, Opa gantengku di mana?" tanya Mutia terkikik karena teringat opa kesayangannya.


"Yukkk kita ke sana, ke kamarnya..semenjak kamu lama tak ke sini, Opa mu itu jarang keluar kamar" cerita kak Sarah.


"Hah, benarkah?" tanya tak percaya Mutia.


"Iya benar. Bahkan beberapa hari yang lalu, keluarganya ada yang datang. Tapi Opa mu tetap tak mau menemuinya" imbuh kak Sarah.


.


Sementara Sebastian yang selesai mengambil bubur mencari keberadaan sang istri.


"Mba, tadi istriku yang di sini tadi kemana ya?" tanya Sebastian ke mbak yang membantunya membawa bubur ayam.


"Oh, nyonya Mutia? Biasanya nyonya Mutia kalau ke sini pasti ke kamar yang itu tuan untuk menemui Opa kesayangannya" tunjuknya ke arah sebuah kamar.


"Boleh aku ke sana?" tanya Sebastian.


"Silahkan tuan, saya permisi dulu" Mbak panti undur diri dari hadapan Sebastian.


Sebastian melangkah ke arah kamar yang ditunjuk tadi.


Saat akan masuk, Sebastian mendengar obrolan Mutia, Sarah dan juga suara laki-laki yang sepertinya sudah tua.


Sebastian mengetuk pintu dan dipersilahkan masuk oleh Sarah yang sudah berada di dalam.


"Kenalin sayang, ini Opa tersayangku" Mutia mengenalkan orang tua yang duduk di samping sang istri.


"Sebastian Opa, suaminya Mutia" ucap Sebastian.


Orang tua itu menatap tajam ke arah Sebastian.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


To be continued, happy reading


Tekan jempol, ketik komen, siram bunga nya, klik tanda hati, vote nya jangan ketinggalan.


Secangkir kopi juga baik untuk membuka mata, biar othor semangat nulis dong 😆

__ADS_1


💝


__ADS_2