WANITA ITU IBU ANAKKU

WANITA ITU IBU ANAKKU
Part 108


__ADS_3

Tuan Dika dan rombongan menunggu kedatangan CEO Blue Sky dan asistennya. Karena janji temu yang telah dibuat.


"Selamat siang tuan-tuan" sapa Dewa yang barusan datang bersama tuan muda nya.


Tuan Dika dan rombongan berdiri dan menyalami CEO Blue Sky itu.


"Silahkan duduk" ucap Sebastian datar dan dingin.


"Terima kasih tuan" sahut mereka serempak.


Tuan Dika menyerahkan beberapa bandel dokumen berupa proposal untuk dibaca oleh Sebastian dan juga Dewa.


"Semua desain bangunan dan juga rencana anggaran biaya sudah tertuang di situ tuan Sebastian. Dan saya juga mengucapkan terima kasih karena Blue Sky kembali mempercayakan proyek rumah sakit itu kepada kami" ucap tuan Dika dengan sopan.


"Baik, nanti akan kami teliti kembali" sahut Dewa.


"Begini tuan Dika, intinya saya tidak ingin membuat rumah sakit untuk kalangan menengah ke atas saja. Tapi juga untuk kalangan yang selama ini kesulitan akses untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. Aku dengar di kota A, banyak juga pasien yang belum tertampung di rumah sakit pemerintah" ucap Sebastian.


"Kami akan upayakan yang terbaik tuan" janji tuan Dika.


"Untuk proyek sebelumnya?" Sebastian mulai membuka laporan yang diserahkan barusan.


"Ingat tuan Dika, jika ingin terus bekerja sama dengan Blue Sky. Jangan pernah khianati kepercayaan yang telah kami berikan" tegas Sebastian.


"Untuk proyek hotel dan mall hampir enam puluh persen pengerjaannya. Semoga dalam tiga bulan ke depan bisa operasional" jelas tuan Dika.


"Utamakan keselamatan tenaga kerja di sana juga. Jangan hanya karena kejar target waktu, semua terabaikan" pesan Sebastian.


"Baik tuan. Kami akan ingat itu" patuh tuan Dika.


"Proposal ini akan kami pelajari dulu. Untuk selanjutnya akan kami hubungi kembali perwakilan anda" kata Dewa merapikan proposal yang sekilas telah diteliti oleh Sebastian tadi.


"Silahkan lanjut makan siang. Maaf kami tak bisa menemani" pamit Dewa ke rombongan tuan Dika bersama stafnya.


Sebastian beranjak dari duduknya, melangkah mendahului Dewa.


"Wa, kita ke Mutia Bakery dulu!" ajak Sebastian.


"Mau ngapain?" tanya Dewa heran.


"Tiba-tiba saja ku ingin kue karakter yang diproduksi perusahaan istriku. Kayaknya enak sekali" Sebastian menelan ludah membayangkan kue yang diingininya.


"Susah memang ketemu orang yang sedang ngidam" gumam Dewa.


"Kudoakan semoga saat istrimu hamil nanti akan ngidam yang lebih aneh lagi" celetuk Sebastian.


"Istri dari mana? Kalau tiap hari kerjaannya lembur melulu" gerutu Dewa.


"Kasih waktu yang longgar dong tuan, biar selekasnya aku menemukan belahan jiwa" harap Dewa.


"Kan tinggal setor surat pengunduran diri. Maka waktumu akan longgar" tukas Sebastian sambil menyilangkan kaki.


"Dipecat dong? Terus anak istriku dikasih makan apa?" Dewa kembali menggerutu.


"Nasi lah" singkat sang bos.


"Itu aku juga tau Tuan" seloroh Dewa.


Percuma berdebat dengan tuannya. Yang ada dirinya yang terpojok. Dewa lebih memilih diam dengan fokus melajukan mobil ke Mutia Bakery.


"Dewa" panggil Sebastian.

__ADS_1


"Iya" Dewa terkaget saat sedang fokus menyetir.


"Aku tadi nanya istriku. Katanya dia tidak punya saudara di kota ini" cerita Tian.


"Tapi Pak Aminoto jelas-jelas dari kota ini lho Tuan" tandas Dewa dengan sangat yakin.


"Hhmmm" Sebastian hanya bergumam untuk menanggapi Dewa.


"Beberapa hari yang lalu tak sengaja aku juga ketemu mobil tuan Supranoto berada di daerah barat kota" cerita Sebastian.


"Bukannya di situ ada aset mertua tuan Supranoto? Dan sekarang bangunan lama itu telah berubah fungsi menjadi panti jompo" Dewa menimpali.


"Iya kah? Baru dengar kalau di sana dijadikan panti jompo. Ngapain juga tuan Supranoto berkunjung ke sana?" imbuh Sebastian dengan banyak tanya yang terucap.


"Lihat bangunan kali tuan" jawab Dewa asal.


"Bangunan lama dan jelas tak menguntungkan. Itu bukan karakter tuan Supranoto Wa, yang jelas-jelas tak mau susah itu" jelas Tian.


"Anda yang lebih mengenalnya tuan. Kalau aku mah hanya follower anda" tukas Dewa.


Sebastian mengambil segepok tisu di dekatnya dan melempar ke arah Dewa.


"Aneh aja si tua itu datang ke sana kalau tidak ada tujuan. Wa, bisa kau retas nggak data-data penghuni panti jompo itu? Barangkali ada titik terang dari sana. Sampai sekarang aku masih penasaran dengan liontin istriku yang sama persis dengan liontin nyonya Martha. Sementara Mutia benar-benar tidak tahu semuanya" ucap Tian panjang lebar.


"Anda yakin kalau nyonya benar-benar tidak tahu?" tanya Dewa serius.


"Yakin" tandas Tian. Karena sebelumnya beberapa kali Tian menanyakan langsung ke Mutia. Dan sang istri menjawab spontan tanpa ada keraguan di jawabannya.


"Sudah sampai tuan, turun nggak?" seloroh Dewa dan menghentikan laju mobil mewah itu.


"Selamat siang tuan Tian" sapa pak Sarno satpam jaga siang ini.


"Aku juga tau itu pak" singkat ramah Sebastian.


Dia melangkah menuju etalase yang ada kue yang sangat diingini olehnya saat ini. Sementara Dewa hanya berdiri saja di lobi.


"Dewa...." panggil seseorang dan menghampirinya.


"Eh Dena" sahut Dewa menjawab panggilan Dena.


"Ngapain?" selidik Dena


"Tuh" arah mata Dewa menuju Sebastian yang sibuk memilah kue di sana.


Dena mengernyitkan alisnya, sementara Dewa mengangkat kedua bahu tanda tak mengerti.


"Ngidam lagi?" bisik Dena ke Dewa.


"Ho'oh" mereka berdua saling berbisik sambil menatap sang tuan muda memilih kue.


"Bukannya bisa menelponku, ntar bisa kubawakan skalian pulang" celoteh Dena.


"Ucapanmu itu tidak berlaku bagi orang ngidam Dena" perjelas Dewa.


"Aneh juga ya orang ngidam itu" seloroh Dena.


"Heemmm" gumam Dewa.


.


Sebastian pulang setelah Dewa menggesek kartunya di meja kasir. Dua kantong besar kue dibawanya.

__ADS_1


"Ntar abis tuan?" tanya Dewa heran. Dewa tau tuan nya itu adalah orang yang pemilih soal makanan. Apalagi punya riwayat alergi yang dia idap. Kue yang ditenteng Sebastian adalah kue dengan bahan dasar gula. Dan selama ini Sebastian sangat membatasi konsumsi gula.


"Abis. Kalau nggak habis, ntar kau bawa pulang aja. Langit juga sudah bosen dengan kue beginian" jawab Tian. Sebastian mengambil sebuah kue dan makan dengan lahap. Dewa hanya memandang aneh tuannya itu. Gini amat ya, orang yang ngidam tuh. Batin Dewa.


"Oh ya Wa, mampir mansion kak Catherine. Aku mau mengantar ini buat Bintang" Sebastian menunjukkan satu kantong kue yang diambilnya tadi.


"Baik tuan. Setelah itu balik apartemen kan?" tanya Dewa.


Sebastian hanya mengangguk sebagai jawaban dan melanjutkan makan kue. Sudah kue ketiga yang dilahapnya saat ini. Sementara Dewa hanya bisa menelan ludah, karena Sebastian tak berniat memberinya. Sabar....sabar...Dewa. Hiburnya sendiri.


Bintang tersenyum sumringah menerima kue yang diberi oleh uncle nya.


"Makasih uncle" ucap Bintang.


"Uncle langsung balik ya" pamit Sebastian.


"Oke uncle" Bintang berlarian masuk mansion dan Dewa kembali melajukan mobil mewah sang majikan ke arah apartemen.


"Wa, kutunggu besok pagi ya nama-nama penghuni panti itu" seloroh Sebastian saat hendak turun dari mobil.


"Kirain lupa, kok masih ingat aja" gerutu Dewa yang ikutan turun untuk berganti mobil dengan mobilnya sendiri.


"Kue yang masih ada kau bawa aja" perintah Sebastian dan berjalan meninggalkan Dewa sendirian.


"Daddy" panggil Langit saat Sebastian barusan masuk dan segera menghambur ke pelukan Daddy nya.


"Tadi dijemput om Pandu?" Sebastian kembali memeluk Langit.


"Bunda di mana sayang?" Tian mengurai pelukan.


"Lagi makan Dad" terang Langit.


Sebastian melangkah menyusul keberadaan sang istri.


"Sepertinya enak, lagi makan apa sayang?" Sebastian mendekat dan mencium kening sang istri.


"Mie instan rasa soto" jawab singkat Mutia dengan terus melahap mie yang terhidang.


"Mie instan? Mana ada gizinya?" imbuh Tian.


"Ada, paling karbohidrat yang tinggi..he...he..." Mutia terkekeh.


Tapi tetap saja ikutan makan, minta disuapin lagi.


"Enak ternyata. Lagi boleh?" Mereka pun tertawa bersama di hadapan Langit sang putra yang bengong melihat kebersamaan bunda dan daddy nya.


"Langit mau?" Mutia menawari.


"Nggak ah. Sudah kenyang" tolak Langit.


Drama mie instan.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


To be continued, happy reading


Makan petai bersama sambal terasi, enaknya dimakan bersama nasi hangat #othor berusaha menulis dan menulis lagi, kasih komen juga biar semangat


🤗🤗🤗


💝

__ADS_1


__ADS_2