WANITA ITU IBU ANAKKU

WANITA ITU IBU ANAKKU
Part 144


__ADS_3

Mutia semakin merasakan sakit yang tak tertahan di perutnya.


"Sayang, kita ke rumah sakit ya" ajak Sebastian.


"Paling masih pembukaan satu ini. Kontraksinya juga masih lima menit sekali" jelas Mutia.


"Daripada kenapa-napa. Ke rumah sakit aja ya?" rayu Sebastian.


"Bik, tolong siapin semuanya. Nyonya mau kubawa ke rumah sakit nih" kata Sebastian ke bik Inem yang kebetulan lewat.


"Ntar kalian nyusul aja ya" pinta Sebastian.


"Sayang, aku mau mandi dulu. Sepertinya berendam air hangat seger juga" pinta Mutia.


"Kamu ini mau melahirkan sayang, jangan aneh-aneh dech" tolak Sebatian.


"Aku yang lahiran kenapa kamu yang heboh?" seloroh Mutia, dan berjalan ke arah kamar mandi di kamar yang luas itu.


Sebastian mengikuti langkah sang istri.


"Ngapain ikut?" tanya Mutia.


"Untuk memastikan kamu aman dong" tukas Sebastian.


"Haisss...ada-ada saja" sungut Mutia.


Sebastian dengan cekatan menyiapkan air hangat untuk sang istri.


Sambil menunggu sang istri yang sedang selonjoran di bath up, Sebastian menelpon Om Abraham.


"Halo Om, ada di mana sekarang?" sapa Tian dan langsung saja bertanya.


"Di Jepang" jawab Om Abraham.


Panik...enggak...panik...enggak...ya panik lah.


"Om, istriku mau lahiran nih. Om kok malah ke Jepang sih" seloroh Sebastian dengan rasa panik.


"Kan tinggal bawa Mutia ke rumah sakit Tian. Aku sedang ada acara jadi pembicara ilmiah nih" jelas Abraham.


"Ah Om nggak seru tau" sungut Tian.


"Kalian datang aja ke rumah sakit Suryo Husada, di sana ada dokter Alex. Nanti kutelpon dia" beritahu Abraham.


"Rumah sakitnya Bara?" celetuk Sebastian.


"Nah, itu kamu tau" sahut Om Abraham.


Sebastian menutup panggilan ke Om Abraham.


Tak sengaja dilihatnya darah yang mengalir dari paha sang istri, saat Mutia keluar dari bath up.


"Sayang, kau pendarahan?" selidik Tian dengan kecemasan.

__ADS_1


"Pokoknya ke rumah sakit sekarang, dan tak ada penolakan" ajak Tian.


"Aku nggak pake baju nih?" tukas Mutia yang sekarang hanya pakai kimono mandi.


"He...he...ya pakailah" seloroh Sebastian dengan mengusap tengkuknya.


Ternyata begini rasanya menjadi suami siaga. Mendingan menghadapi lawan bisnis yang banyak daripada berhadapan dengan situasi seperti ini. Rasa cemas yang mendominasi.


Saat berjalan keluar mansion, tiba-tiba saja keluar air yang banyak dari jalan lahir Mutia.


"Sayang, sepertinya air ketubanku pecah nih" kata Mutia masih dengan santai.


Sebastian segera menggendong sang istri ke arah mobil, dan mengemudikan mobilnya ke arah rumah sakit yang dibilang Om Abraham.


Mutia merasakan sakit yang luar biasa kali ini. Dia cengkeram lengan sang suami yang sedang fokus melihat jalan depan.


"Sabar sayang, bentar lagi sampai" hibur Tian.


"Sepertinya sudah mau keluar ini sayang" Mutia mencoba menghela nafas untuk mengurangi rasa ingin mengejan.


Sebagai seorang bidan, Mutia sedikit banyak mengetahui kondisinya saat ini.


"Tahan sayang, jangan keluarin dulu" kata Sebastian yang membagi konsentrasi antar menyetir dan menemani sang istri.


Sebastian bahkan tak ingat kalau mempunyai sopir yang siap mengantar kemana-mana karena saking paniknya. Meski anak kedua, tapi ini adalah pengalaman pertama bagi seorang CEO Blue Sky.


Sampailah mereka berdua di depan lobi IGD Suryo Husada. Dengan sigap, Sebastian mengangkat tubuh sang istri yang sedang kesakitan menahan kontraksi.


Kebetulan Bara lewat.


"Iya kutelponin" tukas Bara. Sementara Mutia telah dibawa masuk ke ruang IGD oleh petugas jaga.


Sebastian ikut masuk mencari keberadaan sang istri setelah Bara berhasil menelpon Alex.


Ternyata Alex sudah berada di ruangan Mutia. Karena tadi kebetulan Alex sudah dihubungin guru besarnya. Otomatis dia menunggu kedatangan pasien spesial itu.


"Eh, mau diapakan istriku dok?" posesif Sebastian mulai muncul saat melihat tangan Alex yang memakai sarung tangan hendak memeriksa jalan lahir Mutia.


"Nggak, nggak boleh. Carikan dokter cewek aja" tolak Sebastian.


"Dasar posesif" gumam Alex.


"Heh, kalau istrimu yang melahirkan pasti kau tak akan rela diperiksa laki lain" sergah Tian.


"Boleh, istriku lahiran juga ditolong oleh dokter laki" imbuh Alex.


"Terang aja dok, kan kau tolong sendiri" sela bidan Nina.


"He...he..." Alex hanya terkekeh.


"Dok, kapan ini diperiksa. Sudah ingin mengedan nih" ucap Mutia di tengah obrolan mereka.


Kebetulan dokter Anita lewat, dan dipanggil lah oleh Alex.

__ADS_1


"Sayang, ni ada pasien menolak kutolong. Tolongin dong" celetuk Alex.


"Keluar kau" usir Tian saat dokter Anita sudah bersiap di dekat sang istri.


"Tanpa kau suruh aku juga mau keluar" gerutu Alex berhadapan dengan suami posesif itu.


"Senengnya punya pasien begini, datang-datang sudah pembukaan lengkap" tutur dokter Anita yang barusan memeriksa Mutia.


"Ayo dok, sudah nggak tahan nih" kata Mutia dengan menggenggam erat tangan Sebastian. Bahkan sesekali dia tarik rambut sang suami dengan keras.


"Ayo nyonya, tarik nafas dalam tahan terus mengejan" instruksi dokter Anita.


Dengan segala perjuangan Mutia hampir setengah jam, terdengarlah tangisan bayi mungil di ruangan itu.


Mata Sebastian berkaca-kaca dan diciumnya kening sang istri berkali-kali.


"Makasih sayang" kata Sebastian di telinga Mutia yang nampak kelelahan setelah tenaganya terkuras untuk mengejan.


Bayi mungil itu diletakkan di dada Mutia, dan dengan cepat dia meraih puncak pabrik susu dan melahapnya.


"Selamat tuan Sebastian dan nyonya atas kelahiran putri cantiknya" dokter Anita menyalami pasangan uwu itu.


Keluarga besar datang saat Mutia telah dipindahkan ke kamar VVIP rumah sakit. Semuanya memberikan selamat ke Sebastian dan juga Mutia. Bahkan Langit tak mau meninggalkan sang adik sedetik pun.


"Bunda, adik cantik seperti bunda" seloroh Langit.


Langit pun memeluk Mutia dengan penuh rasa sayang.


"Siapa namanya Tuan?" sela Dewa yang barusan datang menyusul.


"Mega Putri Ramadhani Baskoro" kata Sebastian.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


*End


Sekian cerita Mutia dan Sebastian. Untuk sekuel Langit dan juga Mega masih othor pikirkan 🤗🤗🤗


Terima kasih atas dukungan semua. Tanpa kalian apalah othor ini.


Lope-lope buat semua*.


💝💝💝💝💝



Tania Fahira seorang pengacara yang bekerja di sebuah firma hukum terkenal. Sore itu dia ditugaskan oleh bos nya yang merupakan pengacara paling ngehits untuk menghadiri pertemuan para pengacara di sebuah resto yang terletak di sebuah mall.


Tak sengaja dia bertemu dengan sang pacar yang merupakan seorang manajer keuangan di sebuah perusahaan elektronik sedang mencium seorang wanita cantik nan elegan. Tania yang terkenal bar-bar hendak menghampiri keduanya. Untuk apa? Tentu saja melabrak sang pria. Tapi nahas baginya, pintu mall yang membuka tutup otomatis tiba-tiba menutup saat Tania lewat. Alhasil kening mulusnya kejedot pintu, Tania oleng dan terjatuh tepat di antara lalu lalang orang-orang.


Semua orang melihat ke arah Tania, termasuk kedua orang yang sedang memagut kasih itu. Tania menutup muka dengan tas yang ditenteng, mau kutaruh mana mukaku. Batin Tania.


Hingga datanglah seorang laki-laki dengan pakaian kasual menyodorkan tangannya, menolong Tania.

__ADS_1


Next project 😊


.


__ADS_2