WANITA ITU IBU ANAKKU

WANITA ITU IBU ANAKKU
Part 65


__ADS_3

"Emang beneran enak ya kak? Bikin nagih nggak sih?" Dena bener-bener kepo. "Buangetttttt" Mutia berlalu dari hadapan Dena dan menertawakan Dena yang bahkan bengong mendengar jawaban dari Mutia.


Sampai depan pintu Apartemen teratas, "Berapa ya kodenya?" Mutia termangu sendirian. Ternyata ada ada bel di dekatnya. Mutia mencoba menekannya. Malah terdengar notifikasi pesan masuk ke ponsel Mutia. "Kodenya ulang tahun Langit" bunyi pesan itu. "Oh iya, kenapa kok nggak kepikiran ya?" Mutia tersenyum sendiri.


"Sayang...sayang...Dad...Langit...kalian di mana?" panggil Mutia, karena apartemen luas yang nampak lengang itu. Mutia langsung menuju kamar Langit yang diceritakan Sebastian tadi sore. Saat masuk ke sana, bahkan Mutia kagum akan desainnya. Penuh dengan imajinasi, menurut Mutia. Kamar penuh dengan barang-barang yang berbau film the car. Bahkan tempat tidur nya pun berbentuk mobil yang sama persis bentuknya seperti di film. "Kapan kau nyiapkan semua ini?" Mutia masih takjub dengan ruangan itu. "Semenjak Langit tidur di sini untuk pertama kali. Aku tanya mau punya kamar seperti apa? Dan ini semua jawabannya. Dan bahkan kemarin Langit mau lho tidur sendirian di sini" cerita Sebastian. "Oh ya???" Mutia tak percaya. "Beneran, iya kan Langit?" tandas Sebastian menoleh ke putranya yang masih terjaga itu. "Bener Bun, Langit bobok di sini. Karena Daddy bilang kalau mau punya adik harus berani dulu bobok sendiri. Ya kan Dad?" ucap polos Langit. Mutia melototi Sebastian, dan Sebastian hanya bisa garuk kepalanya yang tak gatal itu.


"Baiklah, Langit ditemani Daddy dulu. Bunda biar ke kamar sebelah. Ganti baju, cuci tangan, cuci kaki seperti yang Langit lakukan. Bener kan Bun?" elak Sebastian biar aman dari pelototan sang istri yang baru tadi siang sah menjadi pendamping hidupnya. Kehadiran Langit dan Mutia hari ini di apartemen besar yang biasanya sepi, membuat suasana berbeda di sana. "Dad, aku mau diceritain kancil dan buaya" celetuk Langit. "Siap anak ganteng. Daddy akan bercerita. Simak baik-baik ya" Sebastian memposisikan dirinya berbaring di samping putranya. Mendengar Sebastian bercerita penuh semangat, sesungging senyum nampak di bibir Mutia.


Mutia kembali ke kamar untuk melakukan hal-hal yang disebutkan Sebastian tadi. Ganti baju, cuci tangan, cuci kaki dan gosok gigi. Persis seperti yang dilakukan Langit dan tak ada yang terlewat. Mutia duduk di meja rias membersihkan sisa make up nya.

__ADS_1


Mutia kembali ke kamar Langit, yang ternyata oleh Sebastian dibuatkan pintu tembus dari kamar utama. Saat berada di sana dilihatnya Daddy dan putranya yang sama-sama tidur saling berpelukan. Mutia menarik selimut untuk mereka berdua. Dan menaikkan sedikit suhu pendingin ruangan yang disetting oleh Sebastian, karena Langit tak bisa dengan suhu sedingin itu. Mutia yang juga lelah, kembali ke kamar utama yang juga menjadi kamarnya sekarang. Mutia merebahkan diri dan sedetik kemudian telah tertidur pulas.


Sebastian yang terjaga di tengah tidurnya. Lampu kamar yang berubah temaram dan suhu kamar yang sudah berubah membuatnya terbangun. "Shitttt...malam pertamaku...malah kusia-siakan" gerutunya di kamar Langit di tengah malam itu. Melihat Langit yang masih terlelap, Sebastian terbangun perlahan dan berjalan mengendap-endap. Kalau orang lain tau, pasti dikira ada seorang maling menyusup..he...he....


Sebastian membuka pintu lebih perlahan lagi. Dan dilihatnya Mutia tertidur meringkuk kedinginan. "Sudah tau dingin, kenapa nggak pake selimut sih??" Sebastian menarik selimut itu dan tidur bersama Mutia di bawah selimut yang sama. Bukannya tidur, malah membuat sesuatu di bawah sana terbangun. "Kok kamu malah nggak tau situasi sih" toel Sebastian ke sesuatu yang terbangun itu. Tapi nggak masalah kan sudah ada pawangnya, batinnya.


Dan tangan Sebastian pun mulai bergerilya. Ternyata Mutia mempunyai kebiasaan yang baru Sebastian tahu saat ini. "Wah, kalau gini enak juga buat diriku. Nggak usah repot buka pengait di punggung" gumam Sebastian karena telah menemukan tempat favoritnya yang baru. Meski posisinya di belakang sang istri, Sebastian tetap leluasa memilin puncak 36B nya. Mutia yang masih tertidur pulas bahkan bisa mendesa4h karena ulah Sebastian. Karena tak tahan, Sebastian beralih ke depan sang istri. Kancing depan Mutia lepas satu persatu. Dan nampaklah sesuatu di depan mata. Sebastian kembali menyes4pnya bergantian seakan tak pernah puas. Mutia terbangun karena merasakan sensasi yang luar biasa di tubuhnya.


Mutia yang terbiasa bangun pagi, tapi tidak kali ini. Mutia terbangun karena mendengar panggilan Langit yang lumayan keras itu. "Bun, sudah jam tujuh. Bunda kok belum bangun sih??" teriak Langit dari luar pintu. "Bun...bunda" panggilnya lagi. "Iya Langit, bentar ya. Bunda kesiangan ni" tukas Mutia dari dalam kamar. Mutia segera memakai pakaian yang terbang entah kemana semalam. Sementara tubuh Sebastian yang polos dia tutupi dengan selimut. Melihat tubuh suaminya, membuat Mutia teringat peristiwa semalam. "Mau lagi???" ucap Sebastian tiba-tiba. "Idih, ngagetin aja sih" sungut Mutia. "Tuh, Langit kesiangan ntar" canda Sebastian. "Semua karena ulahmu tau" ledek Mutia. "Kata siapa...Kamu juga menikmati" Sebastian tak mau kalah. "Siapa yang mulai duluan?" tukas Mutia juga tak mau kalah. "Terus yang bilang aku tak tahan sayang siapa? Hayo ngaku?" celetuk Sebastian yang menurut Mutia semakin menjengkelkan. Mutia meninggalkan kamar itu dengan bersungut.

__ADS_1


Langit yang menunggu bunda nya lama semakin dibuat heran ketika bunda nya itu muncul. "Bun, lehernya merah-merah kenapa? Bukannya apartemen Daddy bebas dari semut dan serangga ya?" tanya Langit penasaran. Mendengar ucapan putranya, Mutia berjalan ke arah tempat yang ada kacanya. Dan memang benar ada beberapa bekas gigitan di sana. Gigitan drakula yang menyerangnya di tengah malam buta. Drakula yang sangat dicintainya. "Benar kan bun apa yang kubilang?" seloroh Langit. "Tapi anehnya kok ada serangga di apartemen Daddy ya???" Langit nampak berpikir serius. Serangganya ya Daddy mu itu Langit, batin Mutia.


"Ayo buruan mandi, ntar sekolahnya telat. Jangan ngurusin serangga aja" sela Mutia. "Bunda mau nelpon aunty Dena dulu biar nganter baju seragam mu kemari" beritahu Mutia. "Aunty Dena gimana naiknya ke sini. Kan harus punya akses khusus bun" Langit bahkan teringat hal detail seperti itu. "Oke, aku minta tolong daddy aja biar turun ambil seragam. Bunda nyiapin sarapan dulu" tandas Mutia. "Oke bunda" senyum menghiasi wajah Langit.


Sementara Sebastian yang masih terlelap, Mutia bangunkan. "Sayang, boleh minta tolong nggak? Buat ambilin seragam Langit. Mau nyuruh Dena, tapi kan dia nggak punya akses untuk bisa ke lantai ini. Sayang, ayolah" Mutia menggoyang tubuh Sebastian yang seolah ogah berpisah dengan selimut itu. "Sayang, ayo main lagi" goda Mutia supaya Sebastian terbangun. Alhasil mata Sebastian terbuka dengan sempurna.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


To be continued, happy reading

__ADS_1


Malam Minggu malam panjang# kalian like othor senang 😊


Be happy smua nya


__ADS_2