
Dalam dua minggu ini, Sebastian hanya lah menjadi pengamat tanpa melakukan apa-apa.
Keluarga Supranoto telah menghancurkan diri mereka sendiri.
Uang hasil hutang nyonya Martha bahkan telah habis tak bersisa, hanya untuk foya-foya.
Panyakit judi dan mabuk Supranoto semakin menjadi. Bahkan Supranoto banyak yang mencari karena hutang yang semakin menumpuk.
Demikian juga nyonya Martha, jatuh tempo hutang seratus jutanya telah datang.
Pagi itu, wanita yang sok baik memberikan uang waktu itu sudah berdiri tegak di depan pintu kontrakan mereka.
Wanita itu juga membawa beberapa bodiguard untuk mengeksekusi nyonya Martha.
"Keluar kau Martha, hari ini jatuh tempo. Bayar hutang kau" kata wanita itu mengetuk pintu.
Sementara nyonya Martha kebingunan di dalam. Coba dia bangunkan Supranoto yang masih tidur nyenyak, karena menjelang Subuh baru pulang.
"Apaan sih?" kata Supranoto tanpa membuka mata.
"Pah, bantuin mamah dong. Itu temanku arisan menagih uang yang aku pinjam dua minggu yang lalu" kata Martha.
"Aku nggak ada uang" tukas Supranoto tetap diam di atas tempat tidur.
"Pah, kamu kan janji mau ganti uangnya itu" tukas Martha, yang memang sisa uang pinjamannya diberikan ke sang suami untuk diputar di meja judi.
Harapan menang, yang ada malah kekalahan bertubi-tubi. Hingga uang ludes tak bersisa.
"Harus berapa kali kubilang, aku tak ada uang" celetuk Supranoto.
"Terus ini gimana dong?" Martha semakin kebingungan.
"Temuin aja, bilang kalau kita belum ada uang. Sudah sono!" ucap Supranoto.
Martha benar-benar menemui wanita itu. Omelan demi omelan dia terima, karena memang dia tak ada uang untuk saat ini.
Wanita itu pergi setelah Martha memohon untuk memberinya waktu tiga hari.
"Pah, kau temui Opa Winardi saja. Kita minta bantuan padanya. Aku rasa Mutia juga tak tega melihat keadaan kita" seloroh Martha mendekat ke sang suami yang telah duduk di tepian ranjang.
"Apa mereka akan mau, setelah semua yang kita lakukan padanya" imbuh Supranoto.
"Lihatlah putrimu itu, yang juga mengalami depresi. Dia sama sekali tak mau memegang putrinya yang masih bayi" imbuh Martha.
Pasca tiga hari melahirkan, memang Janetra sering menangis dan tertawa sendiri. Dan tak mau sama sekali memegang bayinya. Bahkan saat itu Janetra sempat mencekik sang bayi tapi keburu ketahuan Martha.
"Oke, akan kucoba" seloroh Supranoto.
.
__ADS_1
Supranoto berusaha mencari keberadaan Mutia. Mutia Bakery adalah tujuan pertama. Karena dia tidak tahu di mana Mutia tinggal dan keberadaan Opa Winardi juga tidak Supranoto ketahui.
Supranoto langsung menanyakan keberadaan Mutia di front office.
Jawaban mereka sungguh tak melegakan Supranoto, karena Mutia memang sekarang tak pernah datang ke kantor. Begitulah mereka menginformasikan.
Saat dia berbalik, tepat kedatangan Sebastian dan Dewa di sana.
"Tian" panggilnya.
Sebastian menghentikan langkah demikian juga Dewa. Saat menoleh, ditatapnya Supranoto dengan tajam dan tanpa menyahut panggilan Supranoto.
"Tian, apa kau lupa denganku?" tanya Supranoto yang memang kelihatan lebih dekil daripada sebelum-sebelumnya.
"Aku rasa kita tak seakrab itu. Siapa dia Wa, yang berani nya memanggil namaku?" celetuk Sebastian.
"Aku juga nggak kenal tuan" ucap Dewa.
Sungguh akting mereka berdua sangatlah pintar untuk mengelabui orang licik itu. Sebastian sengaja mendatangi Mutia Bakery saat para anak buah mereka melaporkan Suparanoto hendak mencari Mutia di sana.
"Tian, aku Supranoto papanya Janetra" bahkan dirinya masih berusaha menjelaskan ke Sebastian.
"Ooohhhhh....tuan Supranoto? Kau percaya Wa? Bukannya tuan Supranoto itu orang kaya. Pemilik sebuah perusahaan retail, yang cabangnya ada di setiap kota" Sebastian beralih menatap Dewa dengan maksud menyindir Supranoto.
"Aku tak percaya kalau dia tuan Supranoto. Bisa saja dia cuman ngaku-ngaku tuan. Tuan Supranoto yang aku kenal adalah orang yang angkuh dan sombong" ucap Dewa mengompori.
Sementara Supranoto mulai mengepalkan tangannya, geram dengan sindiran mereka berdua.
Sebastian bertepuk tangan, "Wa kelihatan aslinya" ledek Sebastian.
Supranoto mendekat dan hendak mencengkeram dasi Sebastian. Belum sempat mengenai sasaran, tangannya terkunci oleh Sebastian.
"Ha...ha...mau main-main denganku? Kau bukan lawan yang pantas untukku" kecam Sebastian penuh ketegasan di setiap kata yang diucapkan.
Supranoto keluar dari Mutia Bakery tanpa mendapatkan apa-apa.
Saat berjalan di sebuah gang yang sepi, segerombolan orang mencegatnya.
"Heh, kau. Bayar hutangmu" ucap salah satu dari mereka dengan menghunus senjata.
"Siapa kalian?" kata Supranoto dengan gemetaran. Karena dia sendirian dan tak membawa senjata.
"Ha...ha...kau tak perlu tau siapa kami. Tapi satu yang pasti, aku mencarimu karena menagih hutangmu di meja judi" imbuh orang itu.
"Tapi aku belum ada uang" jawab Supranoto.
"Ha...ha...enak saja kau bilang begitu. Cepat bayar sekarang atau nyawamu melayang" hardiknya.
"Aku benar-benar belum ada uang tuan. Ini juga lagi usaha mencari untuk membayar semua hutang-hutangku" Supranoto gugup.
__ADS_1
"Jangan banyak alasan" orang itu mendekat.
Supranoto semakin gemetaran saat orang itu mencengkeram kuat kemejanya.
"Hajar dia!" perintah orang itu ke anggotanya.
Beberapa orang menghajar Supranoto karena telah mangkir membayar hutangnya.
Satu orang tak sengaja menusuk perut Supranoto karena pergerakan Supranoto yang mendadak.
"Heh, apa yang kau lakukan?" gertak orang yang pertama kali bicara dengan Supranoto.
"Aku tak sengaja tuan" jelas orang yang menusuk.
"Kita tinggalkan dia saja" perintah orang itu.
Semua yang mengeroyok meninggalkan Supranoto yang berlumuran darah dengan senjata tajam masih menancap di perut.
"Tolong....tolong...." ucap Supranoto dengan lirih. Darah yang terus mengucur dari luka, menyebabkan Supranoto pingsan.
.
Sebuah berita muncul keesokan harinya. Sebastian dan Dewa hanya saling menatap. Kebetulan mereka melewat lobi perusahaan yang di sana terpampang sebuah layar televisi besar yang saat itu menayangkan berita kematian Supranoto.
Sebastian mengedikkan bahu, tanda tak tahu.
"Dia jadi korban penagih hutang. Itu info yang aku dapat" celetuk Dewa.
"Heemmmmm" gumam Sebastian dan melangkah menuju lift.
Padahal dalam hati Sebastian, dia sebenarnya hanya ingin memberikan efek jera saja kepada Supranoto dan keluarga. Setelah puas baru dimasukkan penjara.
Tapi ternyata Tuhan lah Maha segalanya. Manusia hanya bisa berencana. Supranoto meninggal karena ulahnya sendiri.
Beberapa minggu sesudahnya, depresi Janetra juga semakin parah, dan akhirnya dimasukkan rumah sakit jiwa dengan bantuan beberapa tetangga yang menaruh iba melihat keluarga nyonya Martha.
Nyonya Martha bekerja di sebuah resto. Karena tak punya keahlian dia hanya kebagian cuci piring dan membersihkan meja pelanggan. Dan membawa serta anak Janetra sambil bekerja.
Orang yang melihatnya pasti tak percaya kalau dulunya nyonya Martha adalah orang kaya.
.
Sebastian pun telah bahagia bersama Mutia dan Langit. Kesehatan Opa Winardi juga semakin membaik, begitu tinggal bersama Mutia.
Seperti pagi itu, Mutia tiba-tiba merasakan kontraksi di perut. Kehamilannya pun sudah sembilan bulan.
"Kenapa sayang?" tanya Sebastian yang melihat Mutia meringis seperti menahan sakit.
Sebastian sengaja bekerja dari rumah mendampingi sang istri yang sudah berada dekat dengan hari perkiraan persalinan. Dia tak ingin melewatkan sedikitpun semua proses kehamilan dan persalinan istrinya kali ini. Suami siaga istilahnya...he...he...
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
#hanya tinggal end nya saja 😊🤗