
Mutia sibuk di dapur, sementara Bik Sumi sibuk bersih-bersih. Mereka berdua bahu membahu bekerja sama. Sementara tuan dan tuan kecil masih berperang melawan selimut.
Mutia kembali ke kamar setelah merampungkan semuanya. Dia sibakkan tirai kamar di lantai teratas itu.
"Sayang" panggilnya. Karena tak merespon dia kecup pipi sang suami.
"Dia kalau tidur menggemaskan juga ya, persis seperti Langit...he..he..." Bahkan Mutia menoel hidung mancung Sebastian.
Saking gemasnya dia kecup bibir sang suami. Tak dinyana serobotan bibirnya malah mendapat balasan dari sang suami.
Mutia sampai terengah kehabisan nafas.
"Eh..eh...ternyata sudah bangun ya? Daddy nakal ah" celetuk Mutia.
"Siapa yang nakal, suka nyuri ciuman saat orang lagi tidur" Sebastian terkekeh.
"Buruan mandi. Aku mau ke kamar Langit" Mutia beranjak, tapi tangannya tertahan oleh genggaman Sebastian.
Pandangannya beralih ke sang suami.
"Sekali lagi yuuukkk????" ucap Sebastian meminta persetujuan.
"Tapi aku sudah mandi yank, malah ini juga abis memasak" imbuh Mutia.
"Plisssssss" rayu Sebastian. Mutia sampai menatapnya jengah melihat kemesuman suami yang naik berkali-kali lipat.
"Tapi bik Sumi juga di sini lho yank, lagi bersih-bersih" tukas Mutia.
Sebastian mengambil remot dan menekannya. Terdengar pintu yang mengunci otomatis. "Aman" seloroh Sebastian sambil tertawa.
Diraihnya tangan sang istri untuk mendekat padanya. Dan kembali terulang adegan semalam di pagi itu. Mutia bahkan sampai kewalahan dengan ulah 'hercules'.
"Aku mandi dulu" ucap Sebastian setelah puas mengajak main sang istri.
Sementara Mutia masih bersembunyi di balik selimut.
Ponsel Sebastian berdering. Mutia meliriknya sebentar. 'Dewa calling'.
"Yank, ada telepon tuh dari Dewa" beritahu Mutia.
"Iya, bentar. Biarin aja, ntar kuhubungin dia balik" tukas Sebastian dari kamar mandi.
Paling juga urusan kerjaan, batin Mutia. Dia kembali menarik selimutnya, bahkan sampai menutupi wajahnya.
Mutia beranjak setelah sang suami keluar kamar mandi. "Yank, tolong bangunin Langit ya" ucap Mutia saat masuk kamar mandi.
"Emang belum bangun?" Sebastian heran.
"Belum, katanya hari ini libur" jelas Mutia.
Dengan wajah segar, Sebastian menghampiri kamar Langit. Dilihatnya putranya masih tertidur lelap. "Sayang, wake up. Sudah siang nih. Bunda sudah masakin makanan kesukaanmu loh" bisik Sebastian.
"Dad, hari ini kan libur" Langit malah menarik selimutnya.
"Libur kan nggak harus malas-malasan sayang. Habis sarapan kita ke opa oma. Di sana ada Bintang loh" ujar Sebastian.
Dan benar saja, Langit langsung membuka matanya dengan sempurna.
__ADS_1
"Mau ditemenin daddy mandinya?"
"Nggak Dad, aku bisa sendiri" Langit turun dari tempat tidur dengan semangat.
Sebastian menghubungi Dewa dari ruang kerjanya setelah berhasil membangunkan Langit.
"Halo Wa, sudah ada hasil?" selidik Sebastian
" Sudah lebih baik dari semalam sih tuan...he..he... Orang yang kita bawa semalam masih ada hubungannya dengan Ardian yang tertangkap bersama manager nyonya Mutia" jelas Dewa.
"Tapi kita sekarang hanya punya bukti tak langsung. Hanya dapat dari pengakuan orang ini saja" imbuh Dewa.
"Harus kita kejar sampai dapat Wa. Kamu ingat kejadian di kota A, sewaktu aku alergi. Kita hanya berhasil menangkap pelaku di TKP saja. Orang yang menyuruhnya belum bisa kita tuntaskan" beritahu Sebastian.
"Musuhmu semakin banyak saja Tuan" bilang Dewa.
"Hhmmm..."
"Tuan, bagaimana dengan orang ini. Kita lepas atau kita tahan sementara?" tanya Dewa.
"Biarkan saja dulu. Masih mau kutanyakan hasil penyelidikan di kota S" perintah Sebastian.
"Oh ya Wa, malam nanti aku akan datang ke pesta pernikahan Janetra dengan Frans. Akan kubawa serta istriku. Tolong kau perketat penjagaan untuk kami" lanjut Sebastian.
"Siap tuan" tukas Dewa.
Sebastian mengakhiri panggilannya ke Dewa berbarengan Mutia memanggilnya dari luar ruang kerja.
Meski mereka belum tahu kalau Mutia adalah istriku, tapi semua orang tahu kalau Mutia adalah ibu dari anakku. Sebastian keluar dari ruang kerja, yang ternyata sudah ditungguin istri dan putranya di meja makan.
Sementara Bik Sumi yang tadi bantuin bersih-bersih, telah turun ke lantai bawah di mana unit apartemen Mutia berada.
"Langit nginap di sana boleh??" ijin Langit.
Mutia masih terdiam. "Bolehin aja sayang. Besok kan Langit juga masih libur. Di sana juga ada Bintang. Katanya Kak Catherine sudah ngirim pesan ke kamu" beritahu Sebastian.
"Ponselku masih di kamar" sahut Mutia.
"Baiklah Langit. Besok sore dijemput bunda sama Daddy" Mutia mengijinkan.
"Kan malam nanti kita juga ke pesta pernikahan orang yang pesan wedding cake padamu itu sayang" Sebastian mengingatkan.
Sambil ngobrol Mutia mengambilkan menu sarapan yang mulai dingin itu. Karena kedua laki-laki yang disayangi terlambat bangun. Dan bahkan juga disela dengan adegan enak-enak.
Siang hari mereka benar-benar mendatangi mansion papa Baskoro. "Dad, kenapa sih wajah Opa itu mirip Daddy?" tanya Langit.
"Loh, kan Opa ayahnya Daddy" jelas Sebastian.
"Sekarang bunda nanya, kenapa Langit yang awalnya manggil Granpa dan Grandma kok sekarang jadi Oma dan Opa?" Mutia terkekeh.
"He...he...biar mudah manggilnya Bun" celetuk Langit.
Sesampai di mansion, mobil mewah Reno ternyata telah berada di sana. "Wah, dokter spesialis bedah jantung cepet amat sampainya" celetuk Sebastian.
Ternyata mereka tengah berkumpul di ruang keluarga. Bintang merangkul bahagia sepupu yang baru datang itu.
Bahkan kedua anak kecil itu langsung berlarian ke halaman untuk bermain bola.
__ADS_1
"Tian, sudah kau urus semua berkas nya Langit?" tanya serius tuan Baskoro.
"Sudah Pah. Masih tersimpan rapi di kantor. Istriku aja belum kukasih tau" jawab Sebastian.
Mutia menatap sang suami, apa ada yang terlewat selama ini. Batin Mutia.
"Jangan curiga, aku nggak bisa kasih tau sekarang. Nanti akan kuberikan saat ulang tahun Langit" Sebastian menatap mesra sang istri sampai Mutia malu karena diperhatikan oleh semua orang yang berada di sana.
"Tian, Mutia nanti malam jadi datang ke pesta nikah keluarga Supranoto?" tanya Catherine.
"Kayaknya sih jadi kak" tukas Sebastian.
"Barengan aja" imbuh Catherine.
"Reno mau kemana?" toleh Sebastian ke arah Reno.
"Reno ya ikut. Tapi daripada berangkat sendirian. Kan mendingan bareng aja" celetuk Catherine.
"Ye ogah, ntar malah aku putar balik. Kita kan berangkatnya dari apartemen. Ya kan sayang?" tolak Sebastian sambil menunggu persetujuan sang istri.
"Aku ikut kamu aja" singkat Mutia.
Catherine hanya bisa mencebik mendengar tolakan sang adik.
"Sudah jangan galau sayang, kayak suamimu ini tidak ada mobil saja. Ntar kita yang mampir ke apartemen Sebastian. Boleh kok kalau mereka mau nebeng...he...he..." sela Reno membalas candaan Sebastian.
"Mutia, gimana? Jadi dilanjutin nggak nih rencana yang pernah kita bahas dulu itu?" tanya Catherine.
"Oh, kue-kue yang limited itu ya kak. Kebetulan aku baru dapat ahli gizi" tukas Mutia antusias.
"Itu apa yang kau suruh aku jadi brand ambasadornya yank???" Reno menimpali. Catherine hanya mengangguk
"Mama dukung deh" ucap mama Cathleen di tengah obrolan.
"Apa hanya aku saja yang tak tahu yang tengah diobrolin sama kalian?" tanya Sebastian heran.
"He...he...." Mutia hanya menanggapi ucapan suaminya. "Nanti juga kau akan tahu"
"Masalahnya yang jadi brand ambasador itu Reno. Kenapa nggak suamimu ini aja sih yank? Lagian gantengan aku dech daripada dokter spesialis bedah jantung itu. Daripada kau bayar dokter itu, kalau sama aku free dech. Mayan bisa menghemat biaya promosi" sungut Sebastian.
"Wah, kau ini sudah kaya. Tapi masih pelit aja" sindir Reno.
"Biarin. Emang uangmu dari hasil operasi masih kurang?" balas Sebastian. Reno hanya bisa melempar sekotak tisu, tapi kalah cepat dari pergerakan Sebastian sehingga lemparannya mengenai tempat kosong.
Papa Baskoro dan mama Cathleen yang sudah sering melihat anak dan menantunya bercanda, merasa biasa saja.
Sore hari Sebastian dan juga Mutia pamit balik ke apartemen dengan meninggalkan Langit bersama Bintang menginap di mansion oma dan opanya. Mobil mereka beriringan dengan mobil Reno yang memutuskan untuk balik juga ke mansionnya.
π»π»π»π»π»π»π»π»π»π»
To be continued, happy reading
Malam hari suasana gelap, ketak ketik biar bisa up
Pantunnya niat banget ya??? Keep smileπ
Follow IG author ya
__ADS_1
@moenaelsa_
π