WANITA ITU IBU ANAKKU

WANITA ITU IBU ANAKKU
Part 102


__ADS_3

Sebastian nampak berpikir, "Ada sih, cuma ini masih sebatas kecurigaan" sambut Tian.


"Atau mereka mau mengadu domba keluarga Baskoro" celetuk Dewa.


"Kok bisa?" tanya Sebastian heran.


"Bisa saja. Dari kedatangan tuan Suparanoto yang sengaja memberitahu tuan besar secara langsung tentang nyonya Mutia. Tuan Frans yang beberapa kali mencoba menemui nyonya Mutia. Pasti lah ada maksud Tuan" ulas Dewa.


"Kalau itu tak usah kau bilangi juga aku tau Wa" sewot Sebastian.


"Gimana hasil penyelidikan lanjut tentang istriku?" tatap Tian menunggu jawaban Dewa.


"Saya masih mentok di silsilah keluarga nyonya Tuan. Saya tidak menemukan kaitan sama sekali antara keluarga orang tua nyonya Mutia dengan keluarga Supranoto maupun keluarga Baksono" imbuh Dewa.


"Terus istriku dapat liontin itu darimana ya?" gumam Sebastian.


"Ada satu hal yang aneh tuan, tapi ini bisa saja menjadi hal wajar" lanjut Dewa.


"Catatan akte kelahiran nyonya Mutia dibuat setelah umurnya hampir enam tahun tuan" perjelas Dewa.


Sebastian menautkan kedua alis nya. "Wajar juga sih" Sebastian manggut-manggut.


"Bentar Wa, habis ini kau telusuri juga pekerjaan orang tua istriku. Mungkin dari sana kita bisa menemukan peluang" ucap serius Sebastian.


"Baik tuan" Dewa menyanggupi perintah dari sang bos. Sesaat kemudian dia beranjak meninggalkan ruangan Sebastian.


Ponsel Sebastian menyala menampilkan beberapa notifikasi. Kak Catherine sungguh-sungguh ingin mempengaruhi istriku, gumam Sebastian menyunggingkan senyumnya.


Panggilan masuk ke ponsel. Ada Reno dan tuan Baskoro yang mengajak panggilan grub. Bapak-bapak tidak ada kerjaan apa, jam segini mengajak telpon berjamaah, gerutu Sebastian.


Meski menggerutu tetap saja dia menggeser icon hijau di ponselnya.


"Halo, bapak-bapak pengangguran" sapa Sebastian.


"Hei, enak aja. Kau mau ikut kita nggak?" celetuk Reno yang masih lengkap pakai atribut kamar operasi.


"Kemana?" selidik Sebastian. Kalau Reno sudah melibatkan papa nya pasti ada kaitannya dengan para istri yang sedang berpergian itu.


"Ada dech, nanti ku share lok" imbuh Reno.


"Gimana Pah, ikut nggak?" tanya Sebastian ke sang papa.


"Papa ikutlah, apalagi ada mama di sana" jawab tuan Baskoro.


"Hhmmmm" Sebastian hanya bergumam.


"Kau sudah selesai operasi?" tanya Tian ke Reno.


"Sudah dong, ni tinggal ganti baju aja" tukas Reno.


"Oke, aku ngikut" jawab Sebastian akhirnya.


Reno benar-benar mengirim share lok ke Sebastian dan papa Suryo.


"Tuan mau kemana?" tanya Dewa saat dia kembali memasuki ruang CEO itu.


"He..he...urusan kaum lelaki yang sudah punya istri. Jadi loe nggak masuk kriteria" ledek Tian.


"Tanda tangan dulu Tuan" Dewa menyerahkan segepok berkas.

__ADS_1


"Haiissssss...kau ini!!!!" gerutu Sebastian.


.


Sebastian benar-benar melajukan mobil ke lokasi yang dikirim oleh Reno sang kakak ipar.


Ternyata mereka bertiga tiba bersamaan. "Ngapain ngajak ke sini?" Sebastian yang baru pertama kali ke sana merasa aneh.


Ngapain juga para lelaki ini mengajaknya ke salon dan spa, pikir Sebastian.


"Sudah jangan banyakan mikir, ayo kita masuk" ajak Reno.


Kedatangan ketiga laki-laki tampan dan berwibawa itu tentu saja membuat heboh suasana di tempat itu.


"Mba, istriku sedang treatment apa?" tanya Reno pelan. Melihat hal itu, Sebastian mengira kalau Reno pastilah sering ke sini. Tapi melihat sang papa yang ikutan juga, aneh. Batin Sebastian.


"Ayo" Reno dan tuan Baskoro melangkah menuju ruangan yang ditunjuk oleh mba-mba bagian admisi itu. Sebastian masih terdiam di tempat.


"Ayo" ulang Reno yang melihat Sebastian tak beranjak dari tempatnya berdiri.


"Kau harus biasa ke sini" kata tuan Baskoro yang sedari tadi banyak terdiam.


"Ogah" imbuh Tian.


"Beneran ogah? Sekali ini saja" rayu Reno.


Akhirnya Sebastian mengikuti juga Reno yang mendahului bersama tuam Baskoro.


Saat memasuki ruangan, aroma segar menyeruak. Didapatinya sang istri yang telah menyelesaikan treatment nya.


"Sudah selesai semua? Abis ini kita dinner bersama" kata tuan Baskoro.


"Sampai di sini sudah paham??" sindir Reno.


"Ha...ha....sudah dong" Sebastian terbahak.


"Sekali-kali kita ikutan treatment juga yukkk. Biar wajah kita juga segar seperti istri kita ini" kelakar tuan Baskoro.


"Papa genit ah" cubitan mama Cathleen mendarat di dada sang suami.


"Ha...ha..." semua tertawa membahana.


"Tian, giliranmu sekarang" ucap Catherine.


"Giliran apa?" bego Sebastian.


"Giliran menggesek kartumu. Aku kan sudah buat bahagia istrimu seharian ini" jelas Catherine tersenyum licik.


"Alesan aja" gerutu Sebastian. Tapi dia tetap melangkah seperti yang diminta oleh sang kakak.


.


.


Sesuai janji yang dibuat oleh dokter Abraham. Sore ini Sebastian mengajak periksa sang istri. "Smoga saja hari ini sudah nampak bayinya ya sayang" celetuk Sebastian saat menunggu antrian masuk ke ruang periksa.


"Aamiin" imbuh Mutia.


"Banyak ibu hamil juga yang periksa hari ini ke Om Abraham" kata Tian.

__ADS_1


"Dokter Abraham kan idola para bumil yank" canda Mutia.


"Jadi kau juga mengidolakan om Abraham seperti mama yang mengidolakan beliau?" posesifnya mulai muncul.


"He..he...iya pastilah. Beliau kan juga dokter fetomaternal andalan. Siapa juga yang tak mau diperiksa oleh beliau" imbuh Mutia.


Sebastian salah paham dengan ucapan sang istri. "Bagaimana bisa kau mengidolakan dokter yang usianya saja hampir sama dengan papa?" tanya Tian penuh selidik.


Mutia tertawa, sadar kalau sang suami mulai pasang mode posesifnya.


"Ha...ha...nggak usah sewot. Aku seneng aja diperiksa oleh beliau. Langsung ditangani oleh profesor handal tentu saja hati ini lebih yakin" jelas Mutia.


"Ooooooo....kirain mengidolakan om Abraham karena yang lain"


"Nyonya Mutia, silahkan masuk" panggil asisten dokter Abraham.


Mutia beranjak diiringi oleh Sebastian di belakangnya.


"Selamat sore prof" sapa Mutia.


"Sore Om" Sebastian menimpali.


"Eh kau Tian. Sore...silahkan duduk" dokter Abraham mendongak mendengar panggilan Om, pastilah orang yang sudah akrab dengan keluarganya.


"Apa kabar kalian?" tanyanya.


"Baik Om" singkat Tian.


Sementara dokter Abraham sedang membolak balik berkas rekam medik Mutia.


"Oke Mutia baringlah" dokter Abraham mempersilahkan Mutia mengambil posisi.


Selama menunggu Mutia, "Gimana kabar mama mu Tian?" sela dokter Abraham.


"Kok mama aja yang ditanyain Om?" gurau Tian


"Ha...ha...takut aku nanyain kabar papah mu" balas dokter Abraham.


Dokter Abraham yang selalu dicemburui oleh tuan Baskoro, karena saat hamil Sebastian mama Cathleen tak mau diajak periksa selain ke dokter yang berada di depannya sekarang ini.


"Ha...ha..." Mereka berdua sama-sama tergelak mengingat keposesifan tuan Baskoro waktu itu.


"Baiklah, mulai kuperiksa ya" probe USG mulai diarahkan di perut bawah Mutia.


"Mana Om bayinya?" Sebastian mengamati layar monitor yang terlihat hanya berwarna hitam putih itu.


Mutia mengamati layar monitor yang berada di depannya dengan serius.


Melihat dokter Abraham mengerutkan alisnya membuat Sebastian dan Mutia cemas.


"Apa ada sesuatu dokter?" Mutia tak bisa menahan kecemasannya.


"Bentar ya, saya pastikan dulu" jawab dokter Abraham semakin membuat Sebastian dan Mutia panik.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


To be continued, happy reading


Masih othor tunggu loh like, komen, vote. Bunga-nya juga boleh 🤗🤗

__ADS_1


💝💝💝💝💝


__ADS_2