
Sebastian termangu, apa benar istrinya minum obat itu. Tidak mungkin seorang Mutia melakukannya. Apa ada orang lain yang sengaja memberikan obat itu. Pikir Sebastian menerka-menerka.
.
Dewa hilir mudik di depan lobi IGD. Mau masuk tidak diperbolehkan.
Akhirnya Dewa memberi kabar tuan besar Baskoro dan juga Dena sebagai keluarga terdekat Sebastian dan Mutia. Dewa menceritakan keadaan Mutia secara sekilas sebatas yang Dewa ketahui.
Dewa terjingkat saat ponselnya bergetar lagi. Padahal baru saja dia taruh saku.
"Halo Tuan, gimana nyonya?" Dewa ikutan cemas sedari tadi tentang kondisi sang nyonya.
"Wa, kau selidiki siapa saja yang masuk ruanganku saat kita tadi nemui Frans. Lihat di rekaman CCTV. Sekalian CCTV pantry dan juga semua ruangan yang dilalui dari pantry ke ruanganku" perintah Bara.
"Apa yang terjadi?" Dewa menyahut suara Sebastian.
"Sepertinya ada yang sengaja memberi obat peluruh kehamilan ke istriku" perjelas Sebastian.
"Siap tuan" Dewa bergerak cepat.
Dia buka rekaman CCTV kantor melalui ponselnya. Kalau urusan beginian, Dewa lah ahlinya. Sebastian tak salah pilih asisten.
"Sepertinya ada penyusup?" picing mata Dewa ke arah layar ponselnya yang melihat pergerakan orang tak dikenal masuk ke pantry. Dewa ikuti pergerakan orang itu, di pantry dia terlihat ngobrol dengan karyawan baru. Dewa sekilas membaca name tag karyawan yang tepat menghadap ke arah kamera.
"Bagaimana bisa petugas keamanan kecolongan?" gumam Dewa sendirian.
Dewa menelpon Sebastian yang saat ini pasti kalut menunggu sang istri di dalam.
"Halo Dewa" jawab Sebastian dengan suara lemas.
"Tuan saya pamit dulu ke Blue Sky, ada yang harus segera diselesaikan" jelas Dewa.
"Kau menemukan sesuatu?" tanya Tian penasaran.
"Sepertinya kita melewatkan sesuatu tuan" tandas Dewa.
Dewa beranjak dari duduk, dan bergegas melangkah ke tempat di mana mobil mewah sang tuan terparkir.
"Kali ini aku harus bertindak cepat, nyawa nyonya Mutia sungguh terancam" pikir Dewa.
Dewa akan mengusut tuntas sosok yang dilihatnya di rekaman CCTV itu. Melihat baju yang dipakai, dia adalah karyawan Blue Sky bagian kebersihan.
"Doni, tolong kau kumpulkan cleaning service dan juga semua karyawan yang berada di bawah lantai CEO" perintah Doni bagian HRD.
"Ada apa? Sudah jam pulang ini Tuan Dewa?" sanggah Doni.
"Sudahlah, jalankan perintahku. Tidak usah banyak bertanya" nada tegas di suara Bara.
"Ba...baik Tuan" jawab Doni tergagap.
Sampai di Blue Sky, semua karyawan yang disebutkan Dewa selama perjalanan tadi telah dikumpulkan oleh Doni.
"Siapa yang memimpin masing-masing bagian? Tolong sebutkan lengkap tidaknya anggota kalian" perintah Dewa.
Suasana menegangkan tercipta di sana.
__ADS_1
Masing-masing bagian telah menyebutkan kelangkapan anggotanya, kecuali satu bagian yaitu Cleaning Service.
"Siapa yang tidak hadir saat ini???" Dewa sudah muncul kedua tanduknya.
"Maaf tuan, Putri tadi ijin pulang duluan karena kurang enak badan" jelas penanggung jawab Cleaning service di lantai ruang CEO dan lantai di bawahnya.
Dewa melirik sekilas ke orang itu, "Jam berapa dia ijin?" imbuh Dewa tanpa ada senyum di wajahnya.
"Abis istirahat siang. Kira-kira jam dua an lebih dikit" terang karyawan itu.
Dewa mengingat kejadian tadi, bukannya itu jamnya Frans datang tadi. Dewa berpikir keras.
"Doni, tolong kau kirim file kepegawaian karyawan yang disebutkan tadi!!" pinta Dewa.
"Atas nama Putri?" imbuh Doni, Dewa mengiyakan.
Kebetulan Dewa mengambil gambar layar tentang sosok wanita di rekaman cctv kantor.
"Ini kah orang yang bernama Putri" tunjuk Dewa ke Doni.
Doni pun mengangguk.
"Berapa lama dia kerja di sini?" tanya penuh selidik Dewa.
"Kurang lebih dua minggu tuan" jawaban Doni semakin meyakinkan Dewa.
Bagaimana dia dan Sebastian bisa kecolongan kali ini? Batin Dewa penuh sesal.
Mutia Bakery yang diperketat keamanannya, malah di Blue Sky kena.
.
"Sayang, ada di mana ini?" tanya Mutia menengok ke arah suami. Sebuah jarum infus telah tertancap di punggung tangannya.
"Di rumah sakit. Kamu mengalami perdarahan tadi, makanya kubawa kau ke sini" jawab Sebastian tetap menggenggam erat tangan istrinya.
"Kok perdarahan? Apa yang terjadi, bagaimana bayi kita?" Mutia heran, mencoba mengingat apa yang terjadi.
"Istirahat lah dulu, jika Om Abraham datang nanti kuberitahu" kata Sebastian mengelus puncak kepala sang istri.
"Sayang, kenapa aku bisa perdarahan?" tatap mata Mutia butuh jawaban.
"Aku belum tau sayang. Biar om Abraham nanti yang menjelaskan" tukas Sebastian.
Mutia mencoba mengingat kembali kejadian di Blue Sky.
"Tadi itu aku hanya merasakan sedikit mules di perut. Setelah kamu keluar bersama Dewa, aku sering bolak balik ke toilet. Yang aku ingat aku limbung di atas tempat tidur. Itu saja" terang Mutia berdasarkan yang dia ingat saat kejadian.
"Iya, waktu aku balik ke ruangan dan mencarimu. Ternyata kamu pingsan di lantai" jelas Tian.
"Kamu nggak habis minum sesuatu waktu itu" selidik Sebastian.
"Minum air putih yang ada di mejamu sayang. Maaf ya air minum untukmu yang aku habisin. Abis rasanya beda gitu" tukas Mutia.
"Sekarang masih mules?" Sebastian mengelus perut sang istri.
__ADS_1
"Sudah reda kok" singkat Mutia.
Sebastian mengurimkan pesan ke Dewa, 'Wa, amankan gelas minum air putih yang ada di ruanganku. Itu bisa dijadikan alat bukti' ketik Sebastian.
'Siap tuan. Saya sedang di Blue Sky ini, mencari karyawan yang bernama Putri" balas Dewa.
"Putri, bukannya cleaning service baru itu?" gumam Sebastian. Dia sering memintanya mengambilkan minum memang.
"Putri...Putri siapa sayang?" selidik Mutia yang mendengar suaminya bergumam.
"Sayang, apa yang kau minum itu gelas yang disodorkan Putri?" tanya Sebastian.
"Melihat name tag nya sih, benar namanya Putri" imbuh Mutia.
"Baiklah. Aku hubungin Dewa dulu" tegas Tian.
Terdengar ketukan pintu dari luar.
"Masuk" Sebastian mempersilahkan.
"Malam Tian, malam Mutia. Habis ini Mutia biar disiapkan di ruang USG ya?" sapa Om Abraham.
Om Abraham memberi aba-aba bidan yang mengikutinya visite untuk memindahkan Mutia ke ruang USG dengan kursi roda.
Mutia keluar duluan, sementara Om Abraham menghampiri Sebastian.
"Kau ini, kenapa bisa sih ada kejadian seperti ini. Sebagai pengusaha kau harus berhati-hati Tian?" tegur Om Abraham.
"Benar sih Om, teledor aku memang. Yang kuperketat perusahaan istriku. Malah istriku kena di Blue Sky. Di bawah pengawasanku pula" sesal Sebastian.
"Baskoro pasti akan menghajarmu abis-abisan" ledek Abraham kali ini.
"Jangan gitu Om, takut nih kena amukan pria tu4 itu" tutur Sebastian.
"Siapa yang kau bilang pria tua? Suruh njagain istri saja nggak becus kamu" terdengar nada tinggi dari pintu masuk ruangan Mutia.
"Haissss...kenapa cepat sekali sih datangnya" gerutu Sebastian yang melihat papa Baskoro dan mama Cathleen masuk ruangan.
Sebuah benda melayang tepat mengenai Sebastian. "Jangan gitu dong Pah, aku memang teledor. Mana mungkin aku mau istriku celaka" Sebastian membela diri.
"Emang dasar kamunya aja tak becus jagain istrimu" ucapan mama Cathleen sama saja dengan papa Baskoro tadi.
Abraham menertawakan Sebastian yang dihardik oleh kedua orang tuanya itu.
"Ish...Om..jangan ketawa dong. Bantuin" ucap Tian.
"Sudah...Sudah...aku mau periksa Mutia. Aku pamit dulu" tandas Om Abraham.
"Aku ikut" alibi Sebastian untuk menghindari amukan tuan Baskoro.
๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ
To be continued, happy reading
Jangan ditanya malam minggu ku kemana, yang pasti @luar jangkauan dong ๐ค
__ADS_1
Sori up nya nggak lagi dobel, sibuk up @agenda dokter Bara๐