WANITA ITU IBU ANAKKU

WANITA ITU IBU ANAKKU
Part 51


__ADS_3

Aku hanya ingin bilang, kalau aku balik tolong luangkan waktu. Aku ingin benar-benar bicara sama kamu" Sebastian dengan mimik serius. "Akan aku usahakan" jawab Mutia singkat. Langit pun mengakhiri panggilan telepon dari daddy nya itu.


Langit telah selesai bersiap pagi itu. Sarapan yang ditemani bunda, membuat Langit selalu menghabiskan menu makanannya. Langit telah dibiasakan Mutia untuk tidak menyiakan makanan. Karena Mutia selalu berujar, banyak di luaran sana yang nasibnya kurang beruntung seperti Langit. Bahkan untuk makan saja, sampai mengais sisa makanan di tong sampah. Itu yang selalu diajarkan Mutia kepada putra semata wayangnya. Selalu bersyukur apapun keadaannya.


"Kak, jangan lupa. Kalau sampai nyonya yang kemarin datang lagi, tugas kakak untuk menemuinya" ucap Dena ketika baru saja gabung di meja makan untuk sarapan. "Aku ini bos mu loh Den, main perintah aja" gurau Mutia. "Males ah kak, kalau ketemu nyonya lagi. Bawel dan riweh buangettttttt. Sumpahhhh" tandas Dena. "Really...masih ada orang kayak gitu? Harusnya sudah pada masuk museum orang-orang yang seperti itu" celetuk Mutia. "Beneran kak, kalau nggak percaya, coba aja ntar buktikan sendiri..Hadech bisa buat pusing tujuh keliling kalau ketemu lagi" tukas Dena. "Tapi kalau nggak ada orang tipikal seperti itu, dunia bakalan sepi. Beneran nggak bik???" Mutia menoleh ke bik Sumi yang sedang makan. "Bener atuh non Mutia, non Dena. Mungkin dunia akan terasa hambar. Karena nggak ada yang saling cakar-cakaran...he...he..." komen bik Sumi. "Bener juga ya? Dunia pasti lempeng aja" sahut Dena.


Langit yang sedari tadi telah menghabiskan susu yang dibuatkan bunda duduk di ruang tamu menunggu para wanita yang sedang ngobrol di meja makan. Lama-lama Langit pun memanggil bunda nya. "Bun, buruan. Ayo berangkat!!!" teriak Langit dari ruang tamu. Mereka bertiga yang berada di meja makan saling pandang dan tertawa. "Tuh, tuan muda kecil mulai tak sabar" seloroh bik Sumi.


"Ya udah bik, kita berangkat dulu ya. Ati-ati di rumah" pamit Mutia. "Terus ini uang buat belanja bik, yang ini buat pegangan bik Sumi" Mutia menyerahkan sejumlah uang yang dibaginya dalam dua amplop yang berbeda. "Tapi uang belanja selalu sisa banyak loh" bik Sumi menerima amplop yang diberikan Mutia. "Anggap saja rejekinya bik Sumi. Yang penting segala kebutuhan tercukupi. Tapi kalau kurang jangan sungkan untuk bilang ya bik" tandas Mutia dan berjalan ke ruang tamu karena Langit telah memanggilnya lagi.


Dalam perjalanan terdengar celetukan Langit, "Bun, apa siang nanti daddy sudah pulang ya???" Mutia menoleh ke belakang, "Langit, kalau urusan daddy selesai. Pasti Daddy langsung menemui Langit. Semalam daddy kan juga sudah nelpon Langit lama sekali" imbuh Mutia. "Daddy pagi ini juga nggak menelpon lagi, semalam daddy bilang mau nelpon pagi-pagi" Langit terlihat manyun. Mutia yang melihat jadi gemas sendiri melihat bibir yang mengerucut itu. "Tuh bibir mau dikuncir sama bunda ya, sedari tadi manyun terus" Mutia mencoba bergurau. "Bunda nggak asyik" Langit melengos ke arah jendela mobil. Mutia sampai menghela nafas, apalagi putranya mulai tantrum sekarang. "Coba bunda lihat ponsel bunda sebentar. Sedari pagi bunda belum melihatnya. Barangkali daddy pas menelpon bunda melewatkannya" ucap Mutia hati-hati. Langit kembali menatap bunda seakan memberi persetujuan untuk melihat ponsel.

__ADS_1


Ternyata memang benar, ada beberapa panggilan tak terjawab dari Sebastian. "Maafin bunda, ternyata Daddy menepati janjinya.Tapi Bunda yang tak tahu kalau Daddy menelpon. Maafin bunda ya" Mutia meminta maaf. "Langit maafin, asal Langit boleh telpon balik Daddy now" pinta Langit. "Ini sudah mau sampai sekolah loh" sela Dena. "Bentar aja bun, plisssss" mohon Langit. "Oke, janji cuma sebentar ya" kata Mutia dan Langit mengiyakan.


Langit menekan kontak Sebastian yang tersimpan di ponsel Mutia. Sekali belum dijawab, dua kali belum dijawab juga. Kali ketiga dengan mengucap bismillah Langit mencoba lagi dan akhirnya tersambung. "Halo sayang, loh kok belum sekolah??? " tanya Sebastian yang kelihatannya juga tengah bersiap itu. "Iya Dad, sudah mau sampai sekolah ini" cerita Langit yang wajah mendungnya telah berganti wajah cerah. Mutia dan Dena hanya saling berdehem, mendengar Langit yang sedang asyik mengobrol dengan daddy nya. "Langit sudah sampai nih, lekas pamit daddy" ucap Mutia. Langit pun menuruti apa perintah Mutia. Setelah pamitan dengan daddy nya, panggilan itu pun terputus. "Langit pamit dulu bun, aunty" ujarnya. "Oke sayang, belajar yang rajin ya" tukas Dena yang masih berada dalam mobil.


Mobil melaju pelan menuju perusahaan karena kemacetan yang luar biasa pagi ini. "Parah ya kak, semakin hari macetnya amboi indahnya" celetuk Dena. Daripada bosan Dena menyalakan radio, selain untuk update situasi lalu lintas terkini, bisa dengerin lagu juga. Kebetulan di sela-sela berita, operator menyalakan lagu 'ojo dibanding-bandingke' yang sedang viral saat ini. Apalagi pas hari kemerdekaan, seorang anak kecil menyanyikan lagu dengan suara merdu menambah keviralan lagu itu. Dena bahkan hafal betul lirik dan nada lagunya. Mutia hanya tertawa saja melihat kekonyolan Dena, berasa mendapat hiburan di pagi hari...he...he.. Dena sampai ikut bergoyang ala tok-tok. "Biar FYP kak" celetuk Dena. "Ha...ha....nggak usah repot kak. Ntar aja di kantor bikin kontennya" gurau Dena. Mutia hanya bisa geleng kepala melihat keabsurdan Dena.


Karena kemacetan yang parah, Mutia dan Dena sedikit terlambat sampai Mutia Bakery. Seseorang telah menunggu kedatangan mereka. Mutia yang telah diberitahu oleh karyawannya di front office segera menghampiri seorang wanita yang duduk dengan posisi membelakanginya. "Selamat pagi nyonya, saya Mutia. Ada yang bisa dibantu?" tanya Mutia dengan ramah. Wanita itu menoleh ke arah Mutia. "Oh ternyata ini ownernya???" jawab wanita itu sinis. "Begini nyonya, saya kemarin sudah ke sini. Tapi pelayanan anak buah anda sungguh membuat saya miris. Jujur saja saya kecewa" ucapnya sinis. "Saya mewakili karyawan yang melayani anda kemarin minta maaf yang sebesar-besarnya" ucap tulus Mutia. Pasti nyonya ini yang diceritakan oleh Dena, pikir Mutia. Nyonya yang mungkin usianya tak jauh beda dengan mama Cathleen, tapi perangainya sungguh berbanding terbalik dengan mama Cathleen.


"Perihal diskon akan saya pikirkan nyonya, seberapa saya bisa memberikan. Intinya saya berada di sini untuk meminta maaf kalau memang karyawan saya punya kesalahan dengan anda" Mutia masih mencoba ramah dengan nyonya itu. Usaha di bidang ini, Mutia benar-benar mengutamakan service ke pembeli. Meski diakui kalau wanita di depan ini bukanlah pelanggan tetapnya. "Jadi anda meragukan saya??" ucapnya mulai dengan nada tinggi. Susah menjelaskan memang kalau bicara dengan tipikal orang seperti ini.


"Begini saja nyonya, mari kita bicarakan sambil duduk. Mba, tolong buatkan minuman untuk nyonya ini" Mutia meminta tolong ke salah satu karyawannya. "Nyonya Martha...nama saya nyonya Martha" tandasnya. "Baiklah nyonya Martha, silahkan duduk" ujar Muthia sopan.

__ADS_1


"Pertama, saya ucapkan terima kasih mempercayai produk-produk kami. Kedua maksud tujuan anda monggo disampaikan. Barangkali saya bisa membantu" Mutia mulai melakukan negosiasi. Dalam hatinya dia tak ingin lama-lama juga bersama wanita ini..he...he..sabar...sabar...batin Mutia.


"Saya ingin pesan wedding cake yang mewah untuk acara pernikahan putri saya, dessert-dessert pelengkap juga tolong disediakan" tandasnya lagi. "Baik nyonya, kira-kira jumlah tamu undangannya? Agar saya bisa menyiapkan dengan maksimal untuk acara putri anda. Oh ya, boleh diberitahukan tanggal pelaksanaannya?" Mutia menyerahkan beberapa model wedding cake yang bisa disediakan oleh outlet pusat ini.


Nyonya Martha, "Yang paling mewah yang mana? Saya pastikan akan memilih itu. Saya tidak mau main-main untuk acara sepenting ini" tegasnya. Mutia menunjukkan gambar wedding cake yang sangat indah. "Oke, aku pesan ini. Oh ya, karena tamu undanganku juga sangat istimewa aku juga ingin pelengkap yang lain juga istimewa. Acara minggu kedua bulan depan" jelasnya. Dia juga menambahkan jumlah tamu undangan untuk acaranya. Mutia mengangguk tanda mengerti. "Baik nyonya, nanti akan saya ajukan semua rincian biayanya" ujar Mutia. "Oke, saya tunggu potongan harga sesuai janji nyonya di depan" senyumnya dengan sinis. Nyonya Martha beranjak dari duduknya dengan menyerahkan sebuah kartu nama ke Mutia.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


To be continued, happy reading


Pagi-pagi sarapan roti, selamat menikmati 🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2