
Sebastian menggandeng tangan Mutia dan menggendong Langit, "Saatnya pulang". Mutia hanya mengikuti langkah Sebastian saja. Dewa menyusul mereka setelah menyelasaikan administrasi tuannya itu.
"Dad, kita mau ke mana?" tanya Langit saat sudah berada dalam mobil. "Balik ke kota J" jawab Sebastian. "Eh, kok balik?" sergah Mutia. "Aku kan kesini mau liburan sama Langit" alasan Mutia. "Nanti kita rencanakan lagi yang lebih matang. Lagian liburan mu kali ini dalam rangka menghindar dariku kan?" tandas Sebastian. Sungguh ucapanmu benar-benar tanpa saringan, batin Mutia. "Sapa juga yang menghindar????" tukas Mutia. "Kalau nggak menghindar, ngapain juga pake matiin ponsel. Pergi nggak bilang-bilang" lanjut Sebastian. Ucapanmu sungguh tanpa tedeng aling-aling, menurut Mutia. "Emang kamu apaku? Kenapa musti ijin padamu?" sarkas Mutia. "Kamu calon istriku" tandas tegas Sebastian. "Emang aku pernah bilang kalau mau jadi istrimu" tukas cepat Mutia. "Pernah, saat kamu mengigau semalam" balas Sebastian berbohong. Padahal semalam Mutia tidur nyenyak. Mutia menutup mulutnya, emang benarkah aku semalam bilang begitu?? Pikir Mutia. Seingatnya semalam dirinya tidak bermimpi apa-apa. Kenapa bisa mengingau. "Kalau nggak percaya, mau kutunjukin rekamannya???" imbuh Sebastian. Padahal dalam hatinya tertawa berhasil mengerjai wanita yang merupakan ibu dari anaknya itu. Mutia manyun menanggapinya.
"Loh Dad, bukannya ini stasiun???" seloroh Langit saat mobil mereka berhenti di gerbang mereka turun kemarin. Memori anak kecil itu sungguh kuat ternyata. "Iya kita naik kereta aja, bahkan seluruh gerbong ini sudah daddy pesan semua" jelas Sebastian. "Uh...sombong" gerutu Mutia. "Aku hanya ingin Langit nyaman, itu saja" bisik Sebastian di telinga Mutia. Mutia pun terkicep mendengarnya. "Alasan tak logis" gerutu Mutia. Sebastian hanya tersenyum saja menanggapinya.
"Bentar-bentar..koper punyaku sama punya Langit masih di hotel" sela Mutia dan berhenti sebentar. "Tenang saja, semua sudah diberesi oleh mereka" tunjuk Sebastian ke arah beberapa pengawal yang mendahului mereka bertiga. Sak karepe dewe (semaunya sendiri), umpat Mutia dalam hati.
"Kamu tidak tau saja, alasan keamanan kalian juga yang utama" gumam Sebastian. Rombongan Dewa dan para pengawal yang lain masuk mengiringi di belakang mereka bertiga. "Mereka siapa Dad?" tanya Langit. "Karyawan daddy" jawab Sebastian. "Langit mau duduk di gerbang loko depan?" tanya Sebastian. "Loko itu apa?" Langit malah bertanya ke daddy nya. "Lokomotif itu kepala kereta. Yukk kita ke sana" ajak Sebastian. Langit turun dari gendongan daddy nya dan berlari ke arah depan kereta. Dengan antusias Langit duduk di gerbong loko. "Dad....bagusnya" celetuk Langit saat kereta melewati hamparan sawah yang luas. "Langit seneng nggak?" tanya Sebastian. "Seneng pake banget Dad" tukas Langit tertawa lepas sambil menunjukkan deretan gigi yang tak lengkap itu.
Mereka berdua sangat menikmati perjalanan kali ini. Berbeda dengan Mutia yang sedari pulang dari rumah sakit tadi terlihat merenung. Ingin ketenangan, malah dua hari terakhir ini rempong dengan urusan Sebastian. Ponsel Mutia berdering. Meski telah on, Mutia memang tak pernah melihatnya selama bersama dengan Sebastian. Dena memanggil. "Halo Dena. Apa kabar?" sapa Mutia basa basi. Mutia sudah mengira dia akan mendapatkan ceramah dari Dena kali ini. "Kau menghilang ke mana? Kau kira aku sama bik Sumi nggak kuatir. Main ngilang begitu saja. Perusahaanmu ini terus siapa yang ngurusin. Aku nggak sanggup tau. Pake acara ponsel dimatikan segala. Pesan pun tak terbalas. Kau kejam kak!!!" Dena nyerocos begitu saja mengungkapkan isi hatinya. "Baru juga dua hari Dena" tukas Mutia santai. "Dua hari sudah bikin kalang kabut semua orang. Untung tuan Sebastian cepat menyadari kalau kau mau kabur kak. Lain kali kalau mau kabur bilang-bilang dong" bilang Dena. "Kalau kabur musti bilang dulu, itu namanya bukan kabur dong tapi pamitan" celetuk Mutia tertawa. Padahal Dena di sana sudah geregetan dengan ulah Mutia bos nya itu.
__ADS_1
"Langit di mana? Dari tadi aku belum dengar suaranya" sambung Dena. "Langit lagi sama daddynya di loko depan" ujar Mutia. "Cieee...cieee....sudah ada yang manggil daddy nich" ledek Dena. "Kalau begitu kabur aja terus kak, biar tuan Sebastian secepatnya jadi suamimu" Dena melanjutkan ledekannya. "Nggak nyambung tau" seloroh Mutia. "Ya dipaksa nyambung dong" tandas Dena tertawa. "Kak, cepat pulang kutunggu oleh-olehnya" ucap Dena menutup panggilannya. Liburan di rumah sakit, malah ditanya oleh-oleh. Batin Mutia.
Langit dan Sebastian telah duduk di hadapan Mutia saat mereka sampai di stasiun kota. "Mutia, mampir dulu ke kediaman orang tua ku" ajak Sebastian. "Mau ngapain?" tanya Mutia heran. "Ada barang yang mau ku ambil" jawab bohong Sebastian. Sebastian sengaja ingin mempertemukan kembali Mutia dengan kedua orang tuanya. Meski masih bertepuk sebelah tangan, Sebastian akan berusaha terus untuk memepet Mutia. Usaha terus pantang mundur...he..he...
"Kan bisa saja kau antar kami dulu, baru balik ke kediaman orang tua mu" tukas Mutia. "Hanya sebentar saja. Lagian jarak stasiun ke rumah orang tua ku nggak sampai tiga puluh menit. Kalau ke apartemen dulu, tambah muter dong. Kelamaan" jelas Sebastian. Mutia akhirnya terdiam tanpa menanggapi. Sementara diamnya Mutia, Sebastian anggap sebagai persetujuan.
Sampailah mereka di sebuah hunian mewah. Langit sangat takjub dengan rumah bak istana itu. "Waaaahhhhhhh rumah siapa ini Dad?" tanya Langit penasaran. Sebastian hanya tersenyum menanggapi pertanyaan putranya itu. Meski pernah mengajak Langit ke mansion, kebetulan bukan mansion yang dikunjungi sekarang ini. Jadi wajar saja Langit bertanya lagi.
"Ayo masuk" ajak Sebastian. "Eh...." Mutia terkaget karena Sebastian sudah main gandeng saja.
Sementara di dalam sudah berkumpul keluarga lengkap Sebastian. Ada tuan Baskoro, mama Cathleen dan juga kakak Sebastian bersama suami yang merupakan orang tua dari Bintang itu.
__ADS_1
"Sudah kenal kan dengan mereka?" tanya Sebastian sengaja menggoda Mutia. "Heh, sudah ada yang main gandeng aja nih?" celetuk kak Catherine. Mutia langsung menarik tangannya dari genggaman Sebastian. Semua yang di sana malah menertawakan Mutia. Semburat merah nampak di pipi Mutia. Malu nggak ketulungan.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
to be continued
happy reading
ke toko beli roti sama kedondong, tolong like-nya lagi dong 😊
Salam sayang author buat semua yang sudi mampir 💝
__ADS_1