
Setelah direpotkan oleh ulang sang bos seharian kemarin. Belum juga mendudukkan pantatnya di kursi kesayangan, ponsel Dewa telah berdering.
"Ke ruanganku sekarang!!!" nada perintah terdengar.
"Semoga hari ini aman terkendali. Aamiin" doa Dewa sebelum melangkah ke ruangan sang CEO.
Hawa segar menyeruak di ruangan CEO saat Dewa masuk. Rambut basah, wajah yang bersinar melengkapi aura Sebastian pagi ini.
"Selamat pagi tuan, ada yang bisa dibantu?" ucap Dewa yang sebenarnya hanya basa basi menyapa.
"Laporan!!!" tandas Sebastian singkat.
"Sudah kukirim by email tiap hari tuan" jelas Dewa.
"Jelaskan yang penting-penting aja" perintah tanpa terbantah.
Dewa hanya garuk kepala. Percuma juga kirim email, kalau ujungnya harus menyampaikan lisan juga.
Dewa menjelaskan semua pekerjaan yang telah diselesaikan selama Sebastian pergi.
"Dewa... Jangan lupa di akhir bulan!" sela Sebastian.
"Maksudnya? Gajian? Bonus?" canda Dewa.
Sebuah bolpoin melayang mengenai tubuhnya.
"Hiks, pagi-pagi sudah jadi korban penganiayaan" kata Dewa.
"Serius Dewa" tanggap Sebastian.
"Aku juga serius tuan. Bukannya akhir bulan memang waktu gajian dan pembagian bonus" ulas Dewa.
"Mau kutimpuk lagi" Sebastian mulai jengah.
"Apalagi tuan?" pura-pura tidak paham.
"Siapkan pesta buat ulang tahunku bersama Langit!!!!!" nada perintah jelas terdengar di kata-kata Sebastian itu.
"Boleh dibantu EO?" tanya Dewa.
"Terserah kau saja. Minta bantuan Dena juga boleh. Yang penting meriah. Aku juga mau memberi kejutan untuk istriku" terang Sebastian.
Sebastian menjelaskan konsep yang diingininya kepada Dewa, Dewa mengangguk menanggapi.
"Rencana ini jangan sampai bocor ke istriku" pesan Sebastian. Dewa mengangguk lagi.
"Persiapan hanya dua minggu tuan?" tukas Dewa. Persiapan gedung dan lain-lain hanya dikasih waktu sesingkat itu.
"Pasti kau bisa. Acara akad dua hari saja bisa kau selesaikan. Ini masih dua minggu Wa" ucap Sebastian.
__ADS_1
"Akan kuusahakan tuan" imbuh Dewa.
"Bukan kuusahakan tapi harus kau laksanakan" ucap Sebastian penuh penekanan.
"Terus Wa, abis ini carikan camilan buat aku! Pahit ni mulut" lanjut Sebastian.
"Camilan? Apa nggak salah dengar tuan?" perjelas Dewa.
"Nggak"
Dewa bingung harus nyarikan camilan apa. Sementara sang bos adalah orang dengan type pemilih makanan. Tumben juga minta camilan.
Sebaiknya kuhubungi nyonya Mutia saja. Pikir Dewa. Sekarang tuan kan sudah ada pawangnya he...he... Dewa tertawa dalam hatinya.
"Baik tuan, aku ijin keluar dulu buat nyarikan camilan" pamit Dewa.
Sebastian tak menoleh hanya mengiyakan saja.
Dewa menghubungi Mutia untuk menyampaikan keinginan sang tuan.
"Oke nyonya, bentar lagi aku otewe ke sana" ucap Dewa hendak mengakhiri panggilan itu.
"Dena mau keluar ini, biar dia mampir ke Blue Sky" bilang Mutia.
"Makasih nyonya" tutup Dewa.
Benar apa yang dikatakan Mutia. Tak sampai tiga puluh menit, ponsel Dewa berdering.
"Ha...ha...oke aku turun" Dewa masih sempat menertawakan Dena. Membayangkan saja pasti lucu, Dena berhadapan dengan security perusahaan yang kaku itu.
"Maaf pak, nona ini tamuku" Dewa menggandeng Dena untuk masuk.
"Tuan Dewa harusnya bilang dong kalau mau ada tamu. Maafkan saya nona" ucap security itu.
Dena mendengus kesal.
Dena mengantar apa yang menjadi suruhan kakaknya.
"Wa, segedhe ini perusahaan Blue Sky?" tatap kagum Dena. Bahkan dia juga melihat para karyawan wanita yang menatapnya dengan muka tak bersahabat.
"Wa..." panggil Dena lagi.
"Ya, seperti yang kau lihat" tukas Dewa.
"Sebelah sini!" ajak Dewa. Kakinya melangkah ke sebuah lift khusus. Dena semakin kagum dibuatnya.
"Lift ini hanya untuk kau dan tuan Sebastian?" tanya Dena dijawab anggukan Dewa.
"Benar-benar keluarga sultan keluarga Baskoro" puji Dena.
__ADS_1
"Betul, bahkan kalau nyonya Mutia tak bekerja pun hidupnya sudah terjamin" imbuh Dewa.
Dena mengangguk menanggapi. "Tapi kalau kak Mutia tak bekerja, nasib ribuan karyawannya bagaimana dong?" celetuk Dena.
"Iya juga sih...he...he... Mungkin itu salah satu alasan tuan Sebastian tidak membatasi aktivitas nyonya" tukas Dewa.
Lift telah berhenti di lantai teratas. Duo D pun keluar. "Mau ada yang aku bicarakan. Jadi tunggu di ruanganku sebentar. Aku ke ruang tuan Sebastian dulu ngantar ini" Dewa mengangkat tas yang sudah beralih dibawa olehnya. Dena diantar ke ruangan Dewa.
Sebastian mendongak saat Dewa masuk ruangan. "Camilan anda tuan" Dewa meletakkan sebuah paper bag di atas meja.
Terlihat label Mutia Bakery di paper bag itu. Sebastian menatap tajam ke Dewa. "Jelaskan!" tegas Sebastian. Dewa sudah pasti merepotkan istrinya, pikir Sebastian.
"He...he...maaf tuan. Aku minta tolong nyonya tadi. Padahal mau kuambil ke sana, tapi keduluan diantar oleh Dena" Dewa beralasan.
"Hhmmm tinggal aja disitu" perintah Sebastian.
Saat dipastikan Dewa telah keluar ruangan, segera saja Sebastian membuka bingkisan yang diberikan oleh istrinya. "Hhmmmm...aromanya" Sebastian menghirup dalam-dalam nafasnya untuk membau kue-kue yang masih hangat itu.
Dilahapnya satu persatu, hingga tandas seketika.
Dewa yang melihat dari balik kaca, tertawa kecil melihat ulah sang tuan. Tuan itu suka apa memang lagi kelaparan? batin Dewa.
Dewa kembali ke ruangan setelah puas memperhatikan Sebastian. Dilihatnya Dena yang masih termangu di tempat.
"Dena" panggil Dewa.
"Eh, ngagetin aja sih" Dena terlonjak dari duduknya.
"Makanya jangan ngelamun aja" Dewa duduk di samping Dewa.
"Langsung aja, ada proyek apa sampai nyuruh aku menunggumu" ucap Dena tanpa basa basi.
"Buru-buru amat, abis ini mau ke mana?" tanya Dewa.
"Kak Mutia minta dibelikan mie pangsit yang ada di mall Dirgantara. Karena jam segini belum buka, makanya aku disuruh mampir ke sini dulu" imbuh Dena.
"Kamu curiga nggak, semakin aneh saja permintaan-permintaan pasangan ini?" bisik Dewa.
Dena nampak berpikir, "Apa benar mereka saling ngidam ya?" gumam Dena.
"Eh iya. Apaan yang akan kau bicarakan?" kembali ke topik awal.
Dewa menceritakan keinginan sang tuan yang akan mengadakan sebuah pesta. Pesta pernikahan sekaligus pesta ulang tahun. "Tapi pesannya, jangan sampai nyonya Mutia tau" ungkap Dewa. Dena mengangguk tanda mengerti.
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
To be continued, happy reading π€
kolak pisang dikasih selasih, yang sudah ngikutin othor ucapin makasih
__ADS_1
Yukk ramaikan karya ini dengan like, komen n' vote kalian π