
Bahkan mama Cathleen memeluk menantunya itu, "Selamat datang di keluarga Baskoro Nak" ucapnya menyambut Mutia.
Acara ijab kabul telah selesai dilaksanakan. Suasana mansion sudah balik seperti semula, seolah tidak ada acara sebelumnya. Pergerakan Dewa sungguh cepat hari ini sesuai permintaan sang bos. Siapa lagi kalau bukan Sebastian.
"Mah, hari ini kita pulang ke apartemen ya" celetuk Sebastian saat makan siang bersama. "Kenapa nggak nginap aja di sini aja sich?" ucap mama Cathleen. "Mama kayak nggak pernah muda aja sich, aku mau memenuhi permintaan putraku. Ya kan Langit?" Sebastian menoleh ke Langit yang sedang asyik makan bersama Bintang. "Apa Dad? Aku nggak minta apa-apa kok?" elak Langit. Sementara Mutia hanya terdiam, sudah mengerti arah pembicaraan suaminya itu.
"Langit, ntar malam bobok sama siapa?" ucap Reno mulai usil. Catherine menambahi, "Ya Langit, mau sama Daddy apa sama Bunda?" imbuhnya. Sebastian mendelik ke arah kakak dan kakak iparnya itu. "Ha...ha...." meledaklah tawa Reno, demikian juga Catherine.
"Langit mau tidur bareng Daddy sama Bunda dong. Kan kalau sudah menikah katanya boleh tinggal bersama" tukas Langit polos. Reno semakin tak bisa menghentikan tawanya.
Kalau Bintang sudah terbiasa tidur sendiri mulai umur setahun, beda halnya dengan Langit. Karena selama ini Mutia yang terbiasa hidup sendiri, masih membiasakan Langit untuk tidur bersamanya. Mana pernah Mutia membayangkan kalau dia bakalan menikah dan hidup bersama dengan ayah kandung putranya itu.
"Mulai sekarang biasakan Langit tidur sendiri Mutia. Pelan-pelan aja dan jangan dipaksakan" mama Cathleen memberi nasehat saat Langit sedang main bersama Daddy, Bintang dan Uncle Reno. "Baik Mah" tukas Mutia. "Mulai saat ini juga, belajarlah untuk menerima kelebihan dan kekurangan suami, demikian juga Sebastian. Saat ijab kabul terucap, mulai saat itu juga kalian berdua telah berjanji di hadapan Tuhan. Tidak ada keluarga yang sempurna, tapi pasangan ada karena untuk saling melengkapi. Bahagialah kalian" mama Cathleen memberikan nasehatnya. "Makasih Mah" Mutia menjawab singkat.
__ADS_1
Tuan Baskoro memberi sebuah amplop untuk putranya. "Apa ini Pah?" tanya Sebastian. "Pelimpahan saham papa kah??? Ha...ha..." Sebastian suka sekali menggoda sang tuan besar. Tuan Baskoro hanya berdehem tanpa merespon ucapan putranya itu. "Bukalah, aku ikut penasaran apa yang papa kasih buatmu" sela Catherine. "Yeeiiii...ikut-ikutan aja kakak ni" imbuh Sebastian. Melihat semua melotot ke arahnya, "Iya...iya...kubuka nih" Sebastian akhirnya mengalah. "Wah...paket honeymoon. Maldives" ucap Sebastian setelah membuka amplop yang diberikan oleh tuan Baskoro. "Jangan lupain Langit" imbuh Reno sengaja merusak suasana bahagia Sebastian.
Seperti yang diutarakan Sebastian siang tadi. Keluarga baru itu pun kembali ke apartemen. Mutia hanya mengikuti Sebastian yang sekarang telah sah menjadi suaminya. "Sayang, kamu mandi duluan aja!" ucap Sebastian saat mereka baru sampai di apartemen. "Untuk makan malam ntar kita keluar aja yuk" imbuh Sebastian.
Mutia mulai menjelajah area apartemen yang luas itu. Baru pertama kali dia masuk apartemen Sebastian. Beda dengan Langit yang sudah sering berada di apartemen Daddynya. "Dapur di mana sih?" tanya Mutia. "Mau ngapain? Harusnya yang kau tanya pertama kali itu, kamar di sebelah mana?" goda Sebastian. "Jangan mulai dech. Aku mau masak aja buat makan malam" kata Mutia. "Mau masak apa, aku nggak punya apa-apa untuk dimasak" Sebastian hanya garuk kepala. Karena selama ini memang dia tak pernah sedia bahan mentah untuk dimasak. Paling hanya ada buah di kulkas dapur. "Sudahlah, mandi dulu saja sana. Nggak usah pake acara masak. Ntar kita makan malam di luar saja" saran Sebastian.
"Kok nggak dengar suara Langit ya, dia di mana?" tanya Mutia. "Tuh...." arah mata Sebastian menunjukkan ke arah sofa ruang keluarga. "Sudah tidur aja dia" Mutia mendekati putranya. Ternyata oleh Sebastian sudah ditata sedemikian rupa sehingga sofa yang ditempati Langit sudah beralih fungsi menjadi sebuah tempat tidur yang nyaman. "Langit tuh pintar banget, tau apa yang dimau Daddynya sekarang" bisik Sebastian. Dan blussssshhhh, lagi-lagi Mutia sampai malu menanggapi ucapan Sebastian. "Kok malah diam? Katanya mau mandi?" Sebastian mangambil posisi di dekat Langit. "Di sebelah sana kamarnya. Jangan dikunci, soalnya kalau dikunci akan sangat susah membukanya" Sebastian beralibi. Mutia tanpa banyak kata melangkah menuju kamar yang ditunjuk oleh Sebastian. Seharian beraktivitas bahkan mulai pagi buta membuat badan berasa lengket semua.
Mutia berendam dalam bath up sambil menghirup aroma terapi yang merilekskan itu. Bahkan sampai tertidur.
Mutia terlonjak saat sebuah tangan mengelayar di tubuhnya. Bibirnya dibungkam saat akan berteriak. Bahkan bibir Mutia sengaja digigitnya agar mau membuka. Siapa pelakunya, ya pastilah Sebastian...he...he... Mutia mulai bergetar tubuhnya menerima sentuhan Sebastian. "Akan kubantu menghilangkan trauma mu Mutia" bisiknya. Sebastian mulai melum4at bibir Mutia dengan lembut dan hati-hati. "Langit di mana?" tanya Mutia tiba-tiba. "Tenang aja, Langit masih nyenyak di tempatnya" jawab Sebastian.
Karena pertanyaan Mutia, Sebastian harus mengulang dari awal. "Kita mulai aja di tempat tidur" ajak Sebastian yang tanpa menunggu persetujuan Mutia mengangkat tubuh itu ke atas tempat tidurnya. "Aku malu Tian" Mutia menarik selimut menutupi tubuhnya. Sebastian tak menjawab tapi telah menyerang Mutia dengan *****4* bibir Mutia kembali. Tubuh Mutia seakan mulai menerima sentuhan-sentuhan yang dilakukan Sebastian. Bahkan tangan Sebastian telah menyusup ke balik selimut.
__ADS_1
Reaksi yang awalnya menolak dari dalam tubuh Mutia, seakan berbalik sekarang. Sentuhan lembut seorang Sebastian membuat kuduk meremang dan Mutai mulai merespon sentuhan Sebastian. Tak sengaja des4han pun lolos dari mulut Mutia, membuat Sebastian semakin bersemangat. Dia sibak selimut dan bibirnya mulai turun ke leher jenjang putih mulus itu. Dia ciumi dan ses4p. Sementara tangannya meraba puncak buah ceri dan memilinnya. Mutia semakin meracau. Tangan Sebastian semakin bergerilya demikian juga bibirnya yang telah beralih ke tempat berukuran 36B itu. Bagai bayi kehausan, Sebastian mulai melancarkan aksinya. Mutia semakin dibuat tak karuan oleh ulah suaminya itu.
Tapi tiba-tiba gedoran pintu terdengar, "Bunda, Daddy...kalian di mana. Langit jangan ditinggalin sendirian" teriak Langit dari luar kamar. Sebastian dan Mutia hanya bisa saling pandang. Tongkat besi yang telah siap tanding, langsung terkulai lemas tak berdaya. Mutia tertawa memandang Sebastian yang nampak lesu itu.
"Bunda..." kembali panggilan Langit terdengar. Mutia berlari ke kamar mandi dengan tubuh polosnya. Sementara Sebastian merapikan kembali pakaiannya dan membuka pintu untuk Langit putranya. "Daddy, bunda di mana?" Langit mengusap-usap matanya yang baru terbangun itu. "Bunda sedang mandi sayang. Tadi tuh Daddy mau mengambilkan baju ganti buat bunda. Eh kamu sudah terbangun aja" kata Sebastian. Padahal itu hanya modusnya saja. "Kan bunda biasa ambil sendiri baju gantinya Dad" celetuk Langit. "Kan bunda baru masuk ke apartemen Daddy pertama kali ini nak, jadi belum tau tempat-tempatnya" jelas Sebastian agar Langit mengerti. Maafkan Daddy nak, Daddy bohongin kamu. Ucap Sebastian dalam hati.
Sementara Mutia melanjutkan aktivitasnya sebelum digangguin Sebastian. Setelah mengganti air dalam bath up, Mutia kembali berendam sambil menikmati aroma therapi. Mutia keluar dengan hanya menggunakan jubah mandi, dan rambut terbungkus handuk. "Langit nggak mandi sekalian. Biar bunda siapin airnya" ucap Mutia. Langit hanya mengangguk. Mutia pun kembali ke kamar mandi untuk menyiapkan keperluan Langit.
"Kamu ganti baju aja sayang. Biar aku yang bantuin Langit mandi. Ruangannya ada di situ" kata Sebastian menunjuk sebuah pintu. Entah apa yang dibicarakan kedua laki-laki berbeda usia itu saat di kamar mandi, Mutia berjalan menuju ke pintu yang ditunjuk Sebastian tadi. Mutia kagum setelah membuka pintu, sebuah ruangan wardrobe yang luas. Bahkan baju-baju Sebastian tertata rapi di sana bersama koleksi sepatu dan jam mewahnya. Dasi pun tak ketinggalan. Dan semua tidak ada yang murah, merk-merk yang terkenal mahal itu rapi berjejer di ruangan itu. Mutia membuka satu persatu. Bahkan Mutia cukup kaget melihat baju wanita juga telah banyak di sana. Bahkan logo dari masing-masing baju juga masih setia menempel di sana. Semuanya baru. "Kapan dia nyiapkan semuanya??" batin Mutia. Mutia tak menyangka sebegitunya Sebastian prepare untuk semuanya.
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
To be continued, happy reading π
__ADS_1