
Sebastian hanya bisa menggerutu, karena sang papa yang langsung menutup panggilannya sepihak.
Padahal itu juga kebiasaan dia juga yang selalu menutup panggilan Dewa seenaknya sendiri.
"Dari papa?" tanya Mutia.
"Ada yang penting kali. Makanya papa suruh kamu mampir" seloroh Mutia.
"Sayang. Nanti jangan siang-siang ya jemputnya? Aku ingin mengajak kamu ke sesuatu tempat" bisik Mutia penuh teka teki.
"Kemana?" tanya Sebastian penasaran.
"Yuuk ah, kita berangkat" ajak Mutia.
Di sinilah mereka sekarang, di sebuah mobil mewah dalam perjalanan ke Mutia Bakery.
"Sayang, boleh nggak aku dibawaian bekal kue karakter nya" rajuk Sebastian.
"Hhhmmm..boleh nggak ya?" canda Mutia.
"Ayolah sayang...sebiji ajah" pinta Sebastian penuh harap.
Mutia bahkan tertawa dibuatnya.
"Iya.. Iya...nanti kubawain" tukas Mutia. Sebastian mengecup punggung tangan sang istri.
Sebastian benar-benar membawa bekal seperti yang diminta tadi.
"Sayang, aku nitip ini buat mama. Jadi ke mansion kan?" Mutia menyerahkan sebuah paper bag yang berisi kue-kue kesukaan mama Cathleen.
"Iya mau langsung ke sana. Abis dari mansion papa balik sini lagi" jelas Sebastian.
"Nggak ke Blue Sky?" sahut Mutia.
"Nggak, soalnya ada yang mau ngajakin diriku ke suatu tempat" seloroh Sebastian.
"Ya udah aku pergi dulu" pamit Sebastian.
Semua pasang mata mengamati interaksi kedua bos di lobi itu.
Mutia mengantar kepergian Sebastian, sampai mobil yang melaju itu tidak tertangkap netranya lagi.
Mutia hendak masuk lift, tapi terhenti langkahnya saat mendengar panggilan dari Dena.
"Bumilku sayang, apa kabar?" tanya renyah Dena.
"He...he...baik dong" ulas senyum di bibir Mutia.
"Tumben dibolehin sang bos satunya" kata Dena.
"Cuman setengah hari, abis itu langsung dijemput. Seminggu cukup sekali ke ruangan ini" jelas Mutia.
"Ha...ha...suami kakak bener-bener ya" Dena bahkan terbahak. Tapi dalam hati Dena bersyukur karena Mutia mendapat jodoh yang baik, meski sebelum bertemu mereka berdua telah melewati banyak cobaan yang merintangi.
"He...he...." Mutia tersenyum kecut.
"Dena ke pantry yuk. Lama nggak ke sana" celetuk Mutia mengajak Dena.
"Lama apaan kak? Baru juga beberapa hari yang lalu" imbuh Dena.
"Kak, mau membaui kue yang baru matang lagi???" selidik Dena dan dijawab anggukan cepat oleh Mutia.
Dena dan Mutia jalan beriringan menuju pantry yang berada di lantai bawah.
Dan benar saja, Mutia langsung menghampiri tempat-tempat yang terdapat kue yang barusan keluar dari pemanggang.
Dena hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah sang kakak.
__ADS_1
"Nggak ambil kue nya?" ucap Dena menghampiri Mutia.
"Enggak" jawab Mutia singkat.
.
Sebastian telah sampai mansion tuan Baskoro.
"Mah, ni ada titipan dari Mutia" Sebastian menyerahkan sebuah paper bag untuk mama Cathleen.
"Papa di mana?" tanya Sebastian yang belum melihat keberadaan papa.
"Di belakang. Main tenis sama tuan Abraham" beritahu mama.
"Hah? Om Abraham, dokter?" tanya Sebastian penuh heran.
"Iya" jawab singkat mama Cathleen dan membuka bingkisan dari Mutia.
"Wah, menantuku cantik tau aja kalau mama suka kue ini" mama Cathleen tersenyum simpul membuka bingkisan itu.
"Menantumu yang cantik itu istriku Mah" pertegas Sebastian.
"He...he...semua orang juga tau itu Tian" mama Cathleen menimpali ucapan putranya.
"Apa kususul papa aja ya Mah?" tanya Tian.
"Nggak usah. Mungkin bentar lagi selesai. Abraham kan juga sudah waktunya ke kampus?" jawab mama Cathleen.
"Semenjak kapan om Abraham sering ke sini Mah. Kok aku tak tahu?" selidik Sebastian.
"Sejak kamu menikah" jawab enteng mama.
"Apa kamu juga nggak tau kalau papa mu sering main tenis bareng di luar sama Abraham?"
Sebastian menggelengkan kepalanya. Setahu Tian, papa nya itu penghobi golf.
"Sudah lama Tian?" terdengar suara papa yang barusan masuk ruang makan itu.
"Nggak kok Pah, paling sejam. Ya kan Mah?" imbuh Sebastian.
"Heleh, bo'ong dia Pah. Barusan juga duduk dia" jawab mama.
"Pah, ada apa nyuruh mampir?" Sebastian memasukkan kue kedua yang barusan dibuka olehnya.
Papa Baskoro ikutan gabung di meja makan setelah mencuci tangan.
"Tian, apa kau tau kalau Supranoto ternyata menghibahkan bangunan lama untuk sebuah panti jompo" ucap tuan Baskoro serius.
"Baru kemarin tau" tukas Sebastian.
"Bahkan semalam aku penasaran dengan sebuah nama" imbuhnya.
"Siapa?" kejar papa Baskoro.
"Tuan B. Winardi" singkat Sebastian.
"Papah tau siapa dia?" tatap Sebastian mengharap jawaban papa sesuai dengan yang diinginkannya.
"Nggak mungkin itu nama panjang tuan Baksono yang telah dinyatakan meninggal beberapa tahun yang lalu" alis tuan Baskoro bertaut seperti memikirkan sesuatu.
"Kalau liontin yang dibawa Mutia benar-benar sama dengan milik nyonya Martha, istrimu pasti masih terkait dengan keluarga Baksono. Tinggal kita mulai urai benang kusutnya Tian" tuan Baskoro masih serius dengan ucapannya.
"Tapi anehnya, kenapa istriku benar-benar tak tahu akan hal itu?"
"Sepertinya ada yang sengaja menyembunyikan identitas istrimu yang sebenarnya" analisa tuan Baskoro.
"Sepertinya begitu" imbuh Tian.
__ADS_1
Ponsel Sebastian berbunyi, panggilan dari istri tercinta.
"Halo sayang. Iya masih di mansion papa" sapa Sebastian setelah menggeser icon hijau di panggilannya.
"Abis ini aku balik ke Mutia Bakery" beritahu Sebastian.
"Pah, jadi hanya ini yang ingin disampaikan?" Sebastian beralih menatap tuan Baskoro.
"Hhhmmmm" tuan Baskoro menanggapi.
"Proses selanjutnya menjadi tugasmu Tian" perintah tuan Baskoro.
"Untuk itu aku selalu siap Pah. Demi Mutia, ibu yang melahirkan anak-anakku semua pasti akan kupertaruhkan" tandas Sebastian.
"Kalau begitu aku balik Pah, Mah" Sebastian berdiri dari tempat duduknya.
.
Dan di sinilah Sebastian sekarang, duduk menatap sang istri yang sedang serius dengan laporan-laporan yang disodorkan Dena bersamaan dengan kedatangan Sebastian.
"Sayang, aku kok malah dianggurin sih" rajuk Sebastian.
"He...he...bentar aja" sahut Mutia.
"Dibawa ke rumah aja tuh laporannya" usul Sebastian.
"Bentar lagi sayang, nggak ada tiga puluh menit kok" Mutia belum beralih fokus dari kertas-kertas di depannya.
Ponsel Sebastian berdering lagi kali ini Dewa yang nelpon.
"Tuan, anda di mana? Kenapa nggak datang ke Blue Sky?" tanya Dewa yang kelihatan sewot di layar ponsel Sebastian.
"He...he...lagi sama istriku dong" balas Sebastian menunjukkan deretan gigi putihnya.
"Proposal yang kemarin sudah ku evaluasi dan sudah kukirim by email" imbuh Dewa.
"Oke, nanti malam ku cek lagi" janji Sebastian.
"Ngapain di cek lagi tuan? Kalau anda hari ini datang ke Blue Sky, berkas itu malah telah tertandatangani tadi. Ku tinggal nyerahkan saja ke divisi hukum" kata Dewa panjang lebar. Sebal dengan ulah sang bos yang kali ini berimbas ke pekerjaan Dewa karena banyak yang ketunda.
"Siap tuan Dewa, besok sudah ada di meja anda" Sebastian malah menirukan kata yang bisa diucapkan oleh Dewa.
"Terserah anda saja Tuan" Dewa mengakhiri penggilan dan Sebastian terkekeh saja.
"Sayang, sudah nih...Yuuk lekas!!!" ajak Mutia.
"Mau ke mana?" tanya Sebastian yang penasaran.
"Ada dech" sahut Mutia penuh teka teki.
Akhirnya Sebastian hanya mengikuti arahan Mutia saat sudah berada di mobil.
"Sayang, perempatan depan belok kiri. Aku mau beli sesuatu" pinta Mutia.
Sebastian mengernyitkan alis tanpa mau bertanya ke sang istri.
"Kiri depan stop ya sayang" ucap manja Mutia membuat gemas Sebastian ingin mencium bibir Mutia sekarang.
Mutia keluar dari mobil dan berjalan ke arah penjual bubur ayam di sana.
"Mau mengajak beli bubur ayam aja pakai teka teki" gumam Sebastian sambil tersenyum melihat sang istri yang sedang mengantri.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
To be continued, happy reading
bunga sedap malam di dalam pot, up datang jangan lupa vote 😊
__ADS_1
💝💝💝