WANITA ITU IBU ANAKKU

WANITA ITU IBU ANAKKU
Part 45


__ADS_3

Ayo, bersiaplah. Kita jemput Langit bersama" ajak Sebastian. Sudut bibir Mutia sedikit terangkat saat tak terlihat oleh Sebastian. Ternyata ini salah satu usahanya, setelah menutup panggilan telpon seenak jidatnya tadi pagi, batin Mutia.


Sebastian menoel kening Mutia yang malah melamun itu. "Kok malah melamun? Ayo" ajak Sebastian kembali. Mereka berdua akhirnya menyempatkan waktu bersama untuk menjemput Langit. "Kak, jemput Langit?" sapa Dena saat Mutia dan Sebastian berjalan beriringan. "Hm...." Mutia hanya berdehem saja. Sementara Sebastian ikut menghentikan langkahnya, "Dena tolong kau kirim beberapa kue itu ke Blue Sky. Antarkan ke Dewa" tunjuk Sebastian ke beberapa rak kue yang terpajang. "Semuanya????" tanya Dena tak percaya. "Hmmmmm...." gantian Sebastian yang berdehem. "Terus kau kirim juga ke panti asuhan yang sebelumnya itu ya. Harusnya beberapa hari yang lalu, karena terlalu sibuk mencari orang yang menghindariku aku jadi kelupaan" Sebastian sengaja menyindir Mutia. "Kok aku yang kena???" sungut Mutia. Sebastian tertawa, "Emang kau menghindariku?" Sungguh menyenangkan menggoda wanita ini. Batin Sebastian.


"Dena, untuk bill biar menjadi urusan Dewa. Oke???" ucap Sebastian. "Siap tuan Sebastian" tukas Dena.


Seperti yang sudah-sudah dengan seenaknya Sebastian menggandeng Mutia. Membuat iri pasang mata yang melihat kebersamaan mereka. Siapa yang tak mengenal CEO Blue Sky. Pria rupawan idola para wanita. Mutia berusaha melepas genggaman tangan Sebastian, tapi genggaman tangan Sebastian semakin erat dirasakan Mutia.


Di sekolah Langit, mereka tak sengaja bertemu dengan Catherine. "Wah, tambah mesra aja kalian" gurau Catherine. Catherine ikut senang karena adik satu-satunya yang semenjak putus dengan Janetra mulai membuka hatinya. Meski awalnya Catherine menganggap sebagai tanggung jawab kesalahan masa lalu. Tapi semakin ke sini Catherine dapat melihat ketulusan dari seorang Sebastian merangkul Mutia untuk benar-benar dijadikan pasangan hidupnya.


"Wah nggak pada sibuk nih?" celetuk Reno dari belakang mereka. Reno yang barusan keluar dari toilet menyapa Sebastian dan Mutia. "Lha ini bukannya di rumah sakit malah berada di sekolah?" tukas Sebastian menimpali Reno yang merupakan spesialis bedah jantung itu. "Emang nggak boleh, dokter sekali-kali juga perlu healing tau" sahut Reno.


"Eh, mumpung bertemu. Makan siang yukkk di resto langganan" ajak Catherine. Dia sengaja ingin membantu sang adik untuk secepatnya jadian dengan Mutia. Entah kenapa, firasat seorang kakak meyakini kalau Mutia adalah wanita yang cocok menjadi pendamping adiknya yang meski pintar dalam bisnis tapi sangat bodoh dalam urusan wanita.

__ADS_1


"Gimana Mutia?" tanya Sebastian. Mutia mengangguk saja, menerima usulan Catherine. Menolak pun percuma, anak-anak keluarga Baskoro kan memang suka memaksa..he..he...benak Mutia.


"Kak, tapi aku nggak bisa lama-lama. Sore ini aku mau berangkat ke kota A" Sebastian menimpali. "Ada masalah, sampai kau turun tangan sendiri??" sahut Reno. Sebastian mengangguk. "Berapa hari di sana?" lanjut Reno. "Sampai clear semua" jelas Sebastian. "Ntar kalau Mutia kangen gimana???" goda Reno kembali. Blusshhhh...merahlah pipi Mutia. Sungguh keluarga ini kalau membulli pun juga tak tanggung tanggung. "Gampang, tinggal video call aja" jawab enteng Sebastian. "Mutia, abis ini blokir aja nomer Sebastian" sang dokter bahkan mengompori Mutia.


"Bundaaaaa......Daddy....." terdengar teriakan Langit di ujung koridor sekolah. Sebastian menyambut dan menggendong putranya itu. Bintang ternyata keluar hampir bersamaan dengan Langit. Dia juga menyapa papa dan mama nya. Sesuai usul Catherine sebelumnya mereka semua menuju resto langganan.Tentunya dengan mobil yang berbeda.


Tapi kemanapun seorang CEO Blue Sky berada, pasti ada yang mengenalnya. Seperti saat mereka tiba di resto itu. Segerombolan ibu-ibu sosialita menghampiri Sebastian. "Siang tuan Sebastian. Boleh menganggu waktunya. Kami minta foto sebentar" bujuk salah satu anggota gerombolan itu. Sebastian menuruti permintaan mereka. Sebastian membayangkan andai mama Cathleen melakukan hal seperti itu kayaknya lucu juga.


Tapi ponselnya kembali berdering, bahkan beberapa kali. "Boleh aku angkat, barangkali penggemar mu???" tanya Sebastian. "Eh, biarin aku silent aja" tukas Mutia. Reno dan Catherine hanya saling pandang saja melihat polah adiknya itu. Sementara Langit dan Bintang jangan ditanya ke mana mereka, mereka sudah sibuk dengan dunia game nya.


Terlihat notifikasi pesan masuk di ponsel Mutia. Mutia pun membuka, yang ternyata berasal dari nomer tak dikenal tadi. "Mutia kenapa tidak mengangkat panggilan mama. Aku berada di sini nih. Kata asistenmu kamu sedang jemput Langit ya???" bunyi pesan itu. Tak lupa mama Cathleen mengirim gambar outlet Mutia Bakery.


Mutia akhirnya melakukan video call, "Halo, Maaf nyonya. Mutia memang menjemput Langit" jelas Mutia. "Bentar Mutia, kamu lagi sama siapa?" tanya mama Cathleen. Mutia pun mengarahkan kameranya ke muka Sebastian dan juga yang lain. "Mah, gangguin aja. Lagi mo makan siang ni" sergah Sebastian ikut nimbrung di obrolan video call itu. "Tian, bilang Mutia. Besok suruh datang ke mansion. Mama menagih janjinya untuk mengajari mama. Lagian aku datangin, Mutia sudah kau culik duluan" gerutu mama Cathleen di layar ponsel Mutia. "Mutia sudah dengar, katanya iya" tukas Sebastian dan menutup panggilan mama Cathleen sepihak. Alhasil pelototan tajam Mutia didapatkan Sebastian. "Asal, emang sudah tau scedule ku" tandas Mutia ke Sebastian. "Sempatkan lah. Lagian mama tuh nggak gampang akrab dengan orang loh. Jadi kalau mama mau menghubungimu berarti kamu orang yang istimewa di mata mama" ujar Catherine, padahal niatnya mengompori Mutia.

__ADS_1


Sebastian mengangkat jempolnya, dan hal itu hanya diketahui oleh Catherine. "Besok aku juga ke tempat mama" imbuh Catherine. "Baiklah, kuusahakan kak" sahut Mutia akhirnya. Yesss...yessss...sorak Sebastian dalam hatinya.


Setelah selesai makan, mereka berpisah ke tempat tujuan masing-masing. Catherine mengantarkan Reno ke rumah sakit karena ada jadwal operasi siang. Sementara Sebastian meluncur mengantar Mutia dan Langit kembali ke perusahaan. "Langit, Daddy mau keluar kota beberapa hari" pamit Sebastian. "Kerja Dad???" tukas Langit dan Sebastian mengangguk. "Langit, jagain bunda ya selama daddy di luar kota" bisik Sebastian. "Siap Dad..." merekapun ber toss ria.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


To be continued, happy reading


*ke pasar beli roti, roti coklat enak sekali#niat hati update tiap hari, tapi kesibukan menghalangi


Othor sudah sempatin up nih, klik like komen and favoritnya yaaahhhhhh...


matursuwun 😊😊😊*

__ADS_1


__ADS_2