
Beberapa hari kemudian, Sebastian menepati janji untuk mengenalkan Mutia ke sahabat pengacaranya. Tania Fahira.
Dewa membuat janji temu dengan pengacara yang super sibuk itu. Dewa sengaja memesan tempat yang menjadi langganan mereka bertiga makan saat mereka menempuh kuliah dulu.
"Halo, kalian apa kabar? Sori ya diriku telat" sapa Tania yang barusan datang.
"Kebiasaan" sungut Sebastian.
"Ha...ha...maafin tuan CEO, kamu nggak lupa kan kalau aku sekarang pengacara yang sibuk sekali" tukas nya.
"Lagak loe" sergah Sebastian.
"Kenalin, istri tercintaku" ucap Sebastian.
Mutia dan Tania saling sapa dan kenalan.
Bahkan karena Tania yang bar-bar itu, tak lama berkenalan mereka telah akrab satu sama lain.
"Mutia, ingat ya. Suamimu itu sultan loh, sering-sering aja kau gesek kartunya" rayu Tania.
"Heh, jangan kau racuni istriku" Sebastain meninju bahu Tania.
Mutia yang melihat interaksi keduanya, mengulum senyum.
Dewa datang menyusul bersama Dena. Dewa harus menyelesaikan rapat yang ditinggalkan oleh Sebastian tadi.
"Wah...wah...sepertinya ada yang kulewatkan nih?" celetuk Mutia.
Tersungging senyum tipis di sudut bibir Dewa.
"He...he...he...." Dewa hanya terkekeh.
"Siapa nih?" Tania masih bengong melihat mereka.
"Kenalin calon istriku" tukas Dewa.
"Terus kamu ngenalin calon suamimu kapan?" sela Sebastian sengaja menyindir Tania.
"Haaiiiissssss....kau selalu saja mengejek diriku" sungut Tania.
"Jangan-jangan kau belum move on dari manajer nggak jelas itu?" selidik Sebastian.
"Hah? Mana ada begitu" tolak Tania.
"Makanya lekas kenalin ke kita-kita dong" sela Dewa.
Tania mencebik dipojokkan oleh kedua laki-laki itu.
"Jodoh akan datang di waktu yang tepat. Jangan kau hiraukan dua orang itu" kata Mutia membela Tania.
"Ha...ha...Betul itu Mutia" Tania tertawa mendapat pembelaan dari Mutia.
"Kau ter the best Mutia" Tania mengangkat kedua jempolnya.
Saat tengah asyik mengobrol, datanglah Janetra menghampiri mereka.
"Halo Tian, Halo Dewa" sapanya sok akrab tanpa menyapa Mutia dan Dena yang berada di samping kedua laki-laki itu.
Sebastian dan Dewa hampir tak mengenalinya. Melihat penampilan Janetra sekarang yang jauh dari kata elegan.
Sementara Tania masih melihat situasi yang ada di depannya.
Dewa yang dipandang oleh Tania, tau akan tatapan tanya Tania.
"Janetra" kata Dewa.
__ADS_1
"Janetra?" tanya Tania dan Dewa pun mengangguk.
Dewa masih teringat bagiamana bencinya Tania terhadap sosok Janetra, yang menyebabkan pertemanan ketiganya merenggang.
"Oh...dia Janetra? Si Cewek sombong?" tukas Tania.
"Heemmmm" Sebastian dan Dewa bergumam bersama.
Tania bertepuk tangan melihat sosok Janetra yang sekarang. Lusuh, itulah kesan pertama Tania.
"Halo Janetra" sapa Tania.
Janetra menoleh, dahinya berkerut melihat sosok Tania.
"Siapa kau?" telisiknya.
"Hei lihatlah, selain miskin ternyata dia sudah pikun" ledek Tania.
"Aku tidak miskin tau" Janetra mulai terbawa emosi.
"Ha...ha...." Tania terbahak mendengarnya.
"Kalau kau tak miskin, mana barang-barang brandedmu?" tutur Tania.
Janetra hanya terdiam, tak menanggapi. Barang brandednya telah ludes dia jual murah. Hanya untuk memenuhi makan dirinya.
Bahkan papa dan mama nya tak peduli dengan dirinya yang tengah hamil tua.
"Aku pergi dulu" kata Janetra tanpa menjawab pertanyaan Tania.
Kegelisahan Janetra dapat ditangkap oleh Mutia.
Mutia pernah berada di posisi Janetra, hamil tua dengan kondisi tak punya suami dan harta yang cukup untuk biaya persalinan.
"Dasar, dia mengunduh apa yang dia tanam dulu" umpat Tania.
"Nggak baik menyimpan dendam" nasehat Mutia.
"He...he...aku nggak dendam. Tapi kalau teringat perlakuannya dulu padaku. Aku jadi kesal lagi" Tania terkekeh.
"Sama aja tuh namanya" sela Tian dan mereka bertiga masih menertawakan Janetra yang telah menghilang dari pandangan mereka bertiga.
"Kapan makannya kalau ngobrol terus?" sela Mutia.
"Eh iya ya...lapar nih" tukas Tania.
Saat asyik makan, mereka mendengar keributan dari halaman parkir depan.
Mereka saling pandang, tapi sedetik kemudian melanjutkan makannya lagi.
Seorang security menghampiri meja Sebastian.
"Tuan, maaf. Siapa yang punya mobil dengan plat xx?" tanyanya.
"Itu mobilku" jawab Tania.
"Maaf Nona, bisa minta tolong untuk meminggirkannya sebentar. Mobil kami hendak keluar, karena sedang membawa wanita hamil pengunjung resto ini" cerita sang security.
"Janetra?" kata semuanya serempak.
"Ada apa dengannya pak?" Tania berdiri.
"Sepertinya mau melahirkan nona" jelasnya.
Mereka yang di sana saling pandang. Mutia bergegas terlebih dahulu untuk mendatangi Janetra.
__ADS_1
Tania langsung menuju mobil untuk memindahkan sesuai yang diminta oleh security tadi.
"Dimana dia pak?" tanya Mutia.
Sebastian mengikuti kemana kaki Mutia melangkah.
Di mobil itu, terlihat Janetra yang merintih menahan sakit.
Mutia mendekat, tapi terlihat ditahan oleh Sebastian.
"Apa yang kau lakukan sayang?" tanya Tian.
"Melakukan apa saja sebagai seorang manusia, yang melihat manusia lainnya sedang kesakitan" ulas Mutia. Akhirnya Sebastian hanya bisa pasrah menuruti keinginan sang istri.
"Janetra, apa yang kau rasakan?" tanya Mutia saat dia sudah mendekat. Sedikit banyak Mutia punya ilmu, karena pernah belajar di kampus kebidanan.
"Perutku rasanya mulas sekali Mutia. Seperti ingin buang air besar tapi nggak bisa keluar" keluh Janetra.
"Tolong aku Mutia, aku tak punya siapa-siapa lagi. Kedua orang tuaku sudah tak peduli lagi padaku" kata Janetra dengan terbata. Air mata nya keluar karena menahan rasa sakit yang luar biasa di perutnya.
"Akan kusuruh Dewa untuk menghubungi tuan Supranoto" kata Mutia.
Tapi Janetra seakan tak mau melepas genggamannya. Kepalanya menggeleng lemah.
Janetra meminta Mutia untuk mendekat.
"Mutia, mereka ternyata bukan orang tua kandungku. Bahkan karena mereka lah, aku dijual kepada Sebastian dan juga Frans. Aku mencari keberadaan kalian, hanya untuk meminta maaf" ucap Janetra dengan isak tangisnya.
Mutia memandang ke arah Janetra, untuk mencari sebuah kejujuran atau kebohongan yang terlihat di sana.
Melihat perlakuan Janetra sebelumnya, mustahil kalau wanita itu sekarang berkata jujur.
Janetra yang tau kalau Mutia meragukan dirinya, "Mutia aku tak bohong" Janetra semakin meringis menahan sakit.
Kenyataan apa lagi ini. Pikir Mutia.
"Aku hanyalah anak jalanan yang dipungut oleh mereka, agar Opa Baksono mewariskan hartanya. Aku juga baru tau kenyataan ini Mutia" lanjut Janetra lirih.
Mutia terdiam.
"Bahkan papa dan mama telah mengusirku dari kontrakan mereka, karena dianggap telah menyusahkan" isak tangis sedih Janetra.
Sebastian mendengar semua yang diucapkan oleh Janetra.
"Kita ke rumah sakit" ajak Mutia.
"Tania, pakai mobilmu saja" kata Mutia yang melihat posisi mobil Tania berada di dekat mereka saat ini.
"Pak...pak...bantuin nyonya ini pindah ke mobil temanku" pinta Mutia ke security yang tadi.
"Aku nggak mau merepotkanmu Mutia" tolak Janetra.
"Aku hanya menolong sebagai sesama manusia Janetra. Dan sepertinya kau butuh pertolongan saat ini" imbuh Mutia dengan memaksa Janetra.
"Sepertinya kau juga sudah pembukaan" kata Mutia.
"Bagaimana kau tau?" Janetra masih saja berkata meski rasa sakit yang dirasakannya luar biasa.
"Aku juga seorang ibu" tandas Mutia.
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
To be continued, happy reading
π
__ADS_1