
Semua orang dewasa yang berada di sana hanya saling pandang. Mau tertawa takut dosa, mau diem tapi lucu juga. Akhirnya mama Cathleen yang tertawa duluan diiringi yang lain kecuali Mutia karena malu dengan ucapan Langit.
"Makanya, kalian berdua cepatlah menikah" tegas Tuan Baskoro.
"Aku sih tinggal menunggu jawaban iya dari bunda Langit. Kapanpun aku siap" jawab Sebastian.
"Buktikan kalau kamu serius" tegas tuan Baskoro.
"Menikah itu apa bun?" tanya polos Langit kembali. Hadech anak kecil ini, batin Sebastian. "Emang menurut Langit menikah itu yang seperti apa?" tanya balik bunda dengan bijaksana. "Menikah itu ya tinggal satu rumah, makan dan duduk bersama. Pokoknya kemana-mana harus bersama. Pokoknya itu dech" jelas Langit tentang versi menikah menurut anak balita itu. "Langit menikah itu adalah suatu janji, tapi janjinya nggak sehari saja ntar terus udahan saja. Tapi janji kepada Allah karena janjinya seumur hidup sampai tua bahkan maut memisahkan" jelas Mutia mencoba sesederhana mungkin biar Langit memahami. "Iya benar yang dibilang bunda. Seperti opa Baskoro dan oma Cathleen" Sebastian melengkapi penjelasan Mutia sambil mencontohkan keberadaan oma dan opa nya.
"Kalau begitu Daddy sama bunda lekaslah menikah seperti kata Opa tadi. Biar sampai tua bisa bersama" tandas polos Langit.
Reaksi berbeda ditunjukkan Mutia dan Sebastian. Kalau Mutia nampak terkejut, sementara Sebastian mendukung penuh ucapan Langit. Terlihat dari senyum lebar seorang Sebastian. "Ayolah Bun, aku juga ingin seperti teman lain. Yang bunda dan daddynya tinggal satu rumah. Jadi kalau mau ketemu nggak cuma di telepon saja" Langit merajuk lagi. Repot juga kalau musuhnya anak sendiri. Batin Mutia.
"Ayo makan malam dulu saja. Atau kau mandi duluan Mutia" Mama Cathleen menawari. "Kurasa ukuran bajunya Catherine sama denganmu" mama Cathleen menambahkan. Mutia mengiyakan saja karena badan juga berasa lengket semua. "Baik Mah" tukas Mutia. "Mandi aja di kamarnya Catherine" saran mama Cathleen. "Mandi di kamarku aja" sela Sebastian.
__ADS_1
"Kalau gitu anterin Mutia ambil baju di kamar Catherine, terus ajaklah ke kamarmu. Awas kalau kau macem-macem sama Mutia" ancam mama Cathleen. "Yeeeiiiii...usil. Terserah aku dong" tanggap Sebastian. "Halalin dulu" sarkas mama Cathleen. Sementara tuan Baskoro hanya berdehem saja agar perdebatan ibu dan anak itu lekas berhenti.
Langit masih bersama Oma dan Opa nonton film kartun kesayangannya. Mama Cathleen menciumi cucu yang baru dia ketahui setelah berumur lima tahun itu. Langit yang tak pernah merasakan belaian seorang nenek malah memeluk Oma nya. "Langit sayang Oma" ucapnya. "Oma juga sayang sama Langit, sama Bintang juga. Karena sama-sama cucu Oma yang ganteng sedunia" tukas mama Cathleen yang cenderung hiperbola ucapannya itu. "Sama Opa nggak sayang nih?" sela tuan Baskoro. "Sayang dong" Langit berlari memeluk sang Opa. Oma dan Opa itu menikmati kebersamaan yang terlewatkan bersama cucu nya. Terdengar sendau gurau mereka, karena celotehan Langit yang kadang menggemaskan itu.
Sementara Sebastian mengantar Mutia ke kamar Catherine untuk mencari baju ganti Mutia. Sebastian membuka sebuah ruangan yang berada di kamar Catherine, "Pilih sendiri saja" tukas Sebastian ikut membuka rak-rak yang ada di sana. Bahkan koleksi tas dan sepatu juga lengkap terpajang di sana. "Eh, sebelah sini Mutia. Ini kayaknya baju-baju baru dech. Pakai yang ini saja, daripada bekas kak Catherine" celetuk Sebastian. "Kamu ijinin dulu ke kak Catherine" tukas Mutia merasa tak enak hati merepotkan kakak Sebastian itu. "Ini semua sudah tak terpakai Mutia. Kalau kak Catherine mau, sudah dipindahin semua barang ini ke rumahnya. Jadi nggak usah sungkan" jelas Sebastian. "Apa mau kubelikan saja" Sebastian menawari. "Ah, nggak usah. Yang ada lama nungguin" tolak Mutia. Sebastian mulai punya hobi baru, yaitu menggoda Mutia.
"Jangan lupa dalaman sekalian ganti" celetuk Sebastian absurd. Pelototan Mutia didapatnya. "Ha...ha...salah ya yang aku bilang?" tanya Sebastian tanpa rasa bersalah. "Pasti ukuranmu juga sama dengan kak Catherine" lanjutnya lagi tanpa saringan..he..he... Mutia menimpuk Sebastian dengan baju ganti yang mau dipakainya. Sungguh seharian bersama laki-laki ini Mutia bisa melihat sisi lain seorang Sebastian, yang bahkan taraf kemesumannya high level. "Mutia...36B?????" Sebastian hanya asal nebak saja. Semburat merah terlihat di pipi Mutia. "Ha...ha....pipimu merahmu sudah menjawab tebakanku" absurd Sebastian.
"Mana kamarmu???" jengkel Mutia mendengarkah olokan Sebastian. "Eh sabar dong, tunggu kita menikah dulu" canda Sebastian. "Mau mandi tau..." tukas Mutia kesal. "Barengan ya???" goda Sebastian semakin menjadi. "Nggak jadi mandi aja dech" sungut Mutia. "Iya..iya..aku antar. Gitu aja ngambek. Ntar kalau Langit lihat, ntar dikiranya aku apa-apain kamu bisa berabe" Sebastian menggandeng Mutia menuju ke kamarnya. Hanya numpang mandi ya, nggak ada maksud lain.
Sebastian bahkan tak beranjak keluar kamar saat Mutia mandi. Sebastian malah sibuk membuka email yang masuk ke ponselnya. Laporan-laporan yang dikirim oleh Dewa dia cermati satu-satu. Bahkan Dewa juga menambahkan info kalau keluarga Supranoto juga akan menggelar pesta pernikahan mewah untuk Janetra bersama Frans. "Cihhhh, bahkan mereka tak malu dengan semuanya" umpat Sebastian. Tak ada rasa sesal sama sekali dalam diri Sebastian karena telah meninggalkan Janetra. Wanita yang tega mengkhianati dan malah akan menjadikan Sebastian tameng untuk menutupi kehamilannya.
Di akhir pesan nya Dewa juga mengirimkan sebuah video untuk Sebastian.
Malah ada judul besar di sana. 'Proses lamaran tak bermodal CEO Blue Sky" tulisnya. Sebastian meng-kliknya. Dan terlihat di sana dirinya dan juga Mutia duduk selonjoran di hamparan rumput luas. Sebastian juga tau obrolan apa yang mereka bicarakan di sana tadi.
__ADS_1
"Bonusmu kupending" tulis Sebastian mengirimkan pesan ke Dewa. Sebastian membanting ponsel nya di atas tempat tidur dan mulai menyandarkan tubuhnya ke tepian tempat tidurnya. Sebastian kesal karena ulah asistennya. Bahkan Sebastian terlupa kalau niat awalmya masuk kamar karena mengantarkan mandi Mutia.
Ceklek, pintu kamar mandi terbuka. Mutia yang hanya memakai bathrobe dan sebuah handuk melilit rambut basahnya, membuat Sebastian membego di tempat. "Eh, kok masih di sini?" tanya Mutia kaget. Sebastian tersadar setelah Mutia menjetik keningnya. "Iya, lagi bukain laporan-laporan perusahaan yang dikirimkan Dewa barusan" tukas Sebastian. "Bisa keluar dulu nggak, aku mau ganti baju" pinta Mutia. Sebastian tak beranjak. Aroma wangi Mutia membuatnya tertegun. "Tian...keluar dulu" usir Mutia. "Kalau aku nggak mau? Mau lihat 36B" ucapan Sebastian kembali absurd. Mutia hendak menjewer telinga Sebastian, tapi Sebastian lebih duluan lari ke kamar mandi untuk mandi juga. Sebastian keluar kamar mandi hanya dengan handuk melilit pinggangnya. Mutia bahkan menelan ludah melihat itu. "Porno ah" Mutia kemudian menutup matanya. Sebastian tersenyum. Kejahilannya timbul kembali, sengaja dia dekatkan tubuhnya ke Mutia tanpa adegan memeluk. Dia ingin lihat reaksi Mutia. Apa akan ketakutan seperti siang tadi saat dirinya mencoba memeluk Mutia. Sebastian sengaja memakai wangi-wangian yang bisa membuat efek rileks.
Melihat Mutia yang terdiam, muncul keberanian Sebastian untuk memeluk calon istrinya itu.
Mutia yang awalnya terdiam, kembali bergetar saat tubuh Sebastian menempel di punggungnya. Meski reaksinya tak sehebat siang tadi. Sebastian yang merasakan hal itu mulai menjauhkan tubuhnya, "Maaf" ucap Sebastian lirih.
Terdengar panggilan mama Cathleen di depan kamar, "Kalian lekaslah. Semua sudah siap nih di meja makan" perintah mama Cathleen. "Iya Mah, lima menit lagi" tukas Sebastian menjawab. "Mutia, kamu sudah selesai? Kamu duluan aja. Ntar aku nyusul" selorohnya sambil mengambil baju ganti. Bahkan kamar Sebastian juga sama seperti kamar kak Catherine. Kamar mewah nan luas itu juga tersedia ruang wardrobe milik Sebastian. Saat pintu dibuka oleh Sebastian, terlihat oleh Mutia koleksi jas mahal milik Sebastian. Beraneka ragam model sepatu juga nangkring indah di sana. Sudah seperti etalase mall yang berpindah. Sebastian kembali sambil membawa baju ganti, tapi masih melihat Mutia yang nampak bengong.
"Kok masih di sini??? Mau makein baju buatku" goda Sebastian lagi. "Idih ogah" Mutia menolak dan melangkah keluar kamar. Sebastian tertawa melihatnya. "Sungguh hari ini mulutku lelah sekali karena kebanyakan tertawa" gumam Sebastian. Hanya memakai kaus rumahan dan celana pendek selutut Sebastian turun ke ruang makan.
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
To be continued, happy reading
__ADS_1
I like monday
πππππ