
Mutia kembali memilih baju yang sekiranya cocok untuk dirinya. Dia sebenarnya ogah, tapi apalah daya suami memaksa. Ngeles sedikit boleh kan...
Sementara Sebastian asyik ngobrol dengan sahabatnya yang seorang CEO dan juga seorang dokter spesialis itu.
"Bara, kami pamit dulu. Makasih ya atas waktunya. Jarang-jarang seorang CEO longgar seperti ini" kata Sebastian. "Mumpung nggak ada jadwal operasi...he...he..." tukas Bara terkekeh. "Mari tuan Bara" Mutia ikut pamitan. "Makasih nyonya Sebastian atas kunjungannya. Sering-sering saja gesek kartu suamimu" kelakar Bara. Mutia tersenyum menanggapi. Kedua CEO di hadapannya ini ternyata konyol semuanya.
"Sayang, kita pulang yuk?" ajak Mutia. "Bentar, aku juga mau beli sesuatu" tukas Sebastian. "Mau beli apa?" tanya Mutia penasaran. "Ada deh, yuukkk" Sebastian menggandeng Mutia. "Eh, kok malah belok ke sini? Katanya mau beli sesuatu?" Mutia heran karena yang berada di depannya sekarang adalah outlet brand terkenal yang menjual berbagai macam dalaman wanita. "Lha barangnya semua ada di sini. Mau kemana lagi?" elak Sebastian. "Emang kau mau beli apa?" Mutia dibuat penasaran oleh suaminya itu. "He...he...mendingan ayo masuk daripada kamunya penasaran" Sebastian terkekeh melihat Mutia dengan ekspresinya.
Ternyata apa yang menjadi tujuan Sebastian, sungguh dia tak ada malunya sekali kepada karyawan wanita yang ada di sana. Dengan percaya diri dia menanyakan baju kurang bahan itu. Bahkan Sebastian juga meminta warna-warna yang disukainya. "Mba ambilin warna hitam, merah maroon masing-masing enam biji ya" pinta nya. Sementara Mutia hanya bisa membelalakkan mata. "Sayang, buat apaan?" Mutia tidak membayangkan disuruh memakainya, hingga geleng-geleng sendiri. "Nggak usah dibayangin, sampai apartemen ntar langsung pakai ya" bisik Sebastian. Mutia sampai melongo menanggapi.
Sebastian benar-benar mengajak Mutia pulang selepas barang yang diingini didapatnya. Tak lupa mengajak sang istri makan siang sekalian buat menyimpan energi. "Sayang kok langsung pulang, bukannya waktu jemput Langit ya?" Mutia mengingatkan. "He..he... Langit sudah kutitipin sama kak Catherine. Ntar sore baru kita jemput ke mansionnya" jelas Sebastian. "Jadi kita bisa langsung pulang. Honeymoon lagi" binar bahagia Sebastian.
"Tuan, kiriman untuk nyonya Mutia masih berada di bawah" beritahu security saat Sebastian dan Mutia hendak naik lift khusus itu. "Maaf tuan, belum kita naikkan" lanjutnya. "Baik pak, saya mengerti. Tolong antar ke apartemen saya ya. Barengan skalian aja sama kita" ajak Sebastian. "Baik Tuan" tukas security itu dengan penuh rasa hormat mengangkat barang belanjaan bersama dengan empunya. "Bawa masuk aja pak" ujar Mutia saat pintu apartemen sudah dibukanya. Sementara sang suami langsung masuk. "Makasih ya pak. Dan ini untuk anak bapak ya" tutur Mutia sambil menyerahkan uang berwarna merah dua lembar. "Makasih nyonya" pamit security itu dengan wajah sumringah.
Mutia membereskan barang belanjaan dan memasukkan ke lemari pendingin. "Hah, ternyata banyak juga aku belanja" batin Mutia. Sebastian yang baru balik dari kamar menghampiri Mutia yang masih di area dapur. "Yank, ngapain? Perlu bantuan?" tanya Sebastian mengambil air dingin dan segera duduk dekat Mutia. "Sudah selesai, baru nawarin bantuan" sungut Mutia. "Abisnya aku tadi kebelet" Sebastian. "Kebelet apa? Dari bawah kamu juga tenang-tenang aja" Mutia juga tau kalau itu hanya modus. "Kebelet nidurin kamu" imbuh Sebastian absurd.
__ADS_1
Mutia beralih ke wastafel untuk cuci tangan, tak tahunya tangan kekar suaminy sudah melingkar aja di pinggangnya. Tanpa banyak kata Sebastian sudah menciumi belakang telinga istrinya itu. Membuat bulu kuduk Mutia ikut meremang. "Main di sini aja yuk. Sudah nggak sabar nih" bisik Sebastian. "Mumpung nggak ada Langit" lanjutnya. Tanpa menunggu persetujuan Mutia, Sebastian sudah mengubah posisi istrinya sehingga saling berhadapan. Dia ***** bibir Mutia, bahkan sekarang istrinya mulai bisa mengimbangi membuat Sebastian semakin suka.
"Yank, nggak di kamar aja?" tanya Mutia mulai terdengar desah4an yang lolos dari mulutnya. Gelengan kepala Sebastian didapatnya, karena sang suami telah asyik bermain di dada. Sungguh rasa yang tak bisa tergambarkan. Desah4an demi desah4an lolos dari mulut keduanya. Mereka saling bertukar peluh siang ini. "Dilanjutin di kamar ya?" bisik Sebastian kembali. "Hah?" Mutia kaget. Tanpa menunggu jawaban lagi, Sebastian gendong tubuh istrinya ke kamar. Dia turunkan suhu kamar, karena peluh masih terasa di badan.
"Gantian kau pimpin?" ucap Sebastian. "Tapi...tapi..aku malu" tukas Mutia. "Come on sayang, kan hanya aku yang tau" imbuh Sebastian. Akhirnya Mutia menuruti juga yang diminta Sebastian, masih sedikit dengan tuntunan Sebastian. Dan saat hercules sudah ketemu lawan yang pas, Mutia mulai bergerak maju mundur dengan ritmik. Buah 36B nya bahkan menaikkan hasr4t sang suami. Dia bungkukkan tubuh sang istri ke arah bibirnya. Dia kulum pucuk, sementara tubuh Mutia bergerak semakin cepat. "Sayang aku tak tahan" ucap Mutia. "Bentar...tungguin..." tukas Sebastian. Akhirnya mereka mencapai puncak bersama setelah mendaki gunung dan menuruni lembah...he...he... (Sudah kayak ninja hatori belum ya??)
Mereka berdua tertelap setelah dua ronde terlewati tanpa jeda.
"Loh, kok sudah gelap aja" Mutia beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi. Badannya berasa remuk semua. Nggak siang nggak malam, gempuran suaminya datang. "Apa begini ya rasanya jadi pengantin baru?" Gumam Mutia sambil berendam air hangat. Sambil terpejam dia hirup aroma terapi yang telah dia nyalakan.
Ponsel Sebastian berdering, "Hei adik teng*l, kapan kau jemput Langit?" berondong tanya dari mulut kak Catherine, yang bahkan Sebastian belum ngucap halo. "Bentar kak, mau mandi dulu" jawab Sebastian tanpa rasa bersalah. "Enak di kamu dong. Nggak gratis ini" sarkas Catherine. "Dasar, matre sekali kau sama adikmu ini" gerutu Sebastian. "Ha...ha...ha...ya jelaslah" terdengar tawa Catherine membuat Sebastian sedikit menjauhkan ponsel dari telinganya. "Emang Reno sudah nggak ngasih jatah lagi kak?" tukas Sebastian enteng. "Awas kau ya" celetuk Catherine menutup panggilannya.
"Sayang, ayo buruan mandi. Langit belum dijemput lho" ujar Mutia yang hanya pake jubah mandi itu. "Kak Catherine kok nggak ngubungin ya, Langit rewel apa nggak" imbuh Mutia. "Langit nggak rewel, yang rewel malah kak Catherine. Barusan dia nelpon" sahut Sebastian sambil melangkah ke kamar mandi. "Airnya sudah kusiapin" celetuk Mutia melangkah ke ruang wardrobe. Setelah berganti baju, Mutia siapkan juga baju ganti untuk suaminya.
Saat mengeringkan rambut, Sebastian keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai handuk yang melilit pinggang. Perut six pack nya sungguh membuat Mutia menelan ludah. "Mau lagi?" kerling nakal nampak di mata Sebastian. "Genit ah, ayo buruan" ajak Mutia. Sebastian melepas handuknya tanpa risih sedikitpun, meski Mutia berada di sana. Mutia memandang ke arah lain, Sebastian yang berbuat Mutia yang malu..he..he.. Sebastian tertawa saja melihat tingkah istrinya, yang masih saja melihat kepolosan dirinya. Kepolosan dalam arti yang sebenarnya, polos tanpa pakai apa-apa.
__ADS_1
Mereka berdua sudah dalam perjalanan menuju mansion Reno dan Catherine untuk menjemput Langit. Ponsel Mutia yang gantian berdering. Beautiful in white mengalun dengan nyaring. "Halo Dena" sapa Mutia saat panggilan tersambung. "Iya kak, laporan harian perusahaan sudah saya kirimkan lewat email. Mulai dari outlet utama dan outlet cabang. Tolong dicek" jelas Dena. "Oke Dena, makasih ya" ucap Mutia. "Oh ya kak, mulai hari in**i aku harus terbiasa kirim laporan by email dong?" imbuh Dena. "Kenapa musti begitu?" Mutia beranggapan nggak akan sering cuti juga, mengingat sang suami juga sibuk. Kalau hanya di rumah saja, dia juga bisa bosan karena terbiasa beraktivitas. "Pasti abis ini kakak akan sering nggak datang ke Mutia Bakery. Aku yakin itu. Apalagi kalau nanti calon adiknya Langit telah hadir. Kakak pasti nggak dibolehin kecapekan kerja" celetuk Dena. "He...he....kayaknya begitu. Ucapanmu sembilan puluh persen ada benarnya" Mutia terkekeh sambil melirik suami yang kebetulan juga tengah menatapnya. "Kak, jangan lupa selain laporan bulanan juga ada proposal untuk pesanan nyonya Martha. Tolong koreksi kalau ada yang kelewat. Sudah ya kak, aku mau pulang. Nggak ada kakak sehari saja di sini. Badanku remek semua" keluh Dena. "Oke Dena. Ntar malem biar ku cek semua" imbuh Mutia terus menutup panggilan itu.
"Sayang, mulai besok suruh aja bik Sumi ikut beres-beres rumah. Aku nggak mau kau kecapekan. Setelah berberes, bik Sumi biar turun ke apartemen kamu" ucap Sebastian saat Mutia sudah menutup panggilan dari Dena. "Biasanya siapa yang ngebersihin apartemen seluas lapangan bola itu?" tanya heran Mutia. "Aku biasanya panggil tukang bersih yang bisa diorder online" jelas Sebastian.
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
To be continued, happy reading.
Makasih untuk semua, yang masih mengikuti cerita ini
like, komen dan vote nya biar karya ini makin populer
Follow IG author ya
@ moenaelsa_
__ADS_1
π