WANITA ITU IBU ANAKKU

WANITA ITU IBU ANAKKU
Part 104


__ADS_3

"Langit mana Mah?" tanya Sebastian yang belum melihat keberadaan sang putra.


"Sudah tidur. Tuh di kamar" beritahu mama Cathleen.


"Kok sudah tidur aja" celetuk Tian.


"Lihat tuh sudah jam berapa. Lagian kamu tuh pamitnya mau periksa tapi pake belok ke bioskop segala" ujar mama Cathleen.


"Siapa yang ke bioskop, aku tadi cuma booking aja tapi nggak jadi nonton" Sebastian duduk di samping papa nya.


"Mutia, kehamilanmu nggak apa-apa kan sayang? Mama kok ikut kuatir" belai mama Cathleen ke Mutia yang duduk di sampingnya.


"Prof. Abraham bilang begitu sih Ma. Janin yang tidak berkembang itu nanti akan diserap oleh tubuh kita kembali" jelas Mutia.


"Semoga sehat-sehat kalian" doa mama Cathleen.


"Aamiin. Makasih Mah" ulas Mutia.


"Sayang, kita pulang atau nginap?" tanya Sebastian.


"Langit kan sudah tidur mendingan tidur sini aja kalian" suruh mama Cathleen.


"Mesthi begitu. Mama dan papa kesepian kan?" ledek Tian.


"Sayang, nggak boleh begitu ah" celetuk Mutia.


"Tuh, dengerin istrimu" imbuh mama.


"Kalau capek, istirahat dulu sana" suruh mama.


Mama beranjak meninggalkan mama dan yang lain. Saat ini dia hanya ingin meluruskan pinggangnya.


"Mah, bibi mana? Kopi kayaknya enak dech" pinta Tian.


"Sedikit gula?" tanya mama.


"Yap" tukas Tian mengacungkan jempolnya.


Mama Cathleen beranjak, selain membuat kopi sekalian mengambilkan minuman hangat untuk sang suami tercinta.


"Pah, tadi aku ketemu Frans di depan bioskop" beritahu Sebastian.


"Terus?"


"Ada sesuatu yang dia bilang ke istriku. Katanya dia ingin membantu istriku menemukan keluarga kandungnya" lanjut Tian.


"Mutia gimana?" selidik Tuan Baskoro.


"Tentu saja Mutia tolak, Mutia yakin kalau kedua orang tua nya ya pak Aminoto dan bu Aminah yang sudah meninggal itu" kata Tian


"Dewa juga pernah beritahu aku Pah, kalau akte kelahiran istriku dibuat saat Mutia berusia hampir enam tahun. Tapi itu kan juga hal yang wajar, aku rasa tidak ada keanehan di situ" Sebastian masih melanjutkan ceritanya.


"Apa ada kemungkinan istrimu bukan anak kandung mereka?" Tuan Abraham menautkan alis seakan tengah berpikir.


"Aku nggak mau spekulasi Pah. Apalagi Mutia tengah hamil. Aku nggak mau ini jadi beban pikiran buat dia. Positif thinking aja" imbuh Sebastian.

__ADS_1


"Tapi melihat bagaimana impulsifnya Supranoto dan menantunya, aku yakin pasti ada sesuatu. Jadi hati-hati saja" nasehat papa Baskoro.


"Siap tuan besar. Aku juga sudah bilang ke Dewa, keep silent...he...he..." Sebastian menyeruput kopi yang dibuatkan oleh mamanya.


"Perusahaan lancar?" tuan Baskoro mengalihkan topik pembicaraan.


"Sejauh ini lancar sih Pah" tukas Tian.


"Perusahaan istrimu?" telaah tuan Baskoro.


"Lancar juga Pah" jelas Tian.


"Kau harus banyak bantu istrimu juga Tian. Perusahaan yang dengan susah payah dibangun oleh istrimu itu cegah jangan sampai jatuh. Aku merasakan sendiri bagaimana susahnya membangun sebuah perusahaan" nasehat tuan Baskoro untuk kesekian kalinya.


"Siap bos. Ada lagi tambahan nasehatnya? Ngantuk nih" seloroh Sebastian dan menguap.


"Ngantuk apaan? Paling juga gangguin istrimu. Ingat masih delapan minggu, jangan sering ditengok" imbuh tuan Baskoro.


"Kok tau Pah? Papa pasti lebih pengalaman kalau soal beginian...ha...ha..." Sebastian tertawa.


Dia beranjak menyusul sang istri ke kamar. Didapatinya Mutia yang gelisah dalam tidurnya.


"Sayang....sayang..." Tian membangunkan Mutia.


Mutia terjingkat kaget oleh sentuhan sang suami. Sebastian menyodorkan minum untuk Mutia, "Minum dulu!" suruhnya.


"Mimpi buruk???" tatap Sebastian.


Bahkan Mutia masih terengah-engah.


"Apa artinya ya yank?" Mutia ganti menatap sang suami.


"Hanya bunga tidur aja. Yuk tidur lagi. Jangan lupa doa" ucap Sebastian.


"Yank, peluk" manja Mutia.


Sebastian tersenyum, dan memeluk sang istri.


"Ntar kalau yang di bawah kebangun jangan salahin aku ya. Kan sudah lama nggak nengokin adik bayi di sini" Sebastian mengelus perut bawah Mutia.


"Geli ah" Mutia memegang tangan Sebastian yang mulai tak terkondisikan.


"Boleh ya???" harap Sebastian disetujui Mutia.


Mutia mengangguk, "Janji pelan-pelan ya?" Ganti Sebastian yang mengangguk.


Tapi kadang janji tinggallah janji. Apalagi kalau disuguhi hal-hal yang membuat nikmat, akan berbeda cerita akhirnya.


Sekali lagi mereka telah mereguk kenikmatan bersama, saling bertukar peluh. Sebastian sangat senang, karena semenjak hamil sang istri semakin agresif. Apa karena hormon kehamilan? Sebastian tak ambil pusing. Yang penting aman untuk sang istri dan bayinya, Sebastian sih tinggal ngegas saja..he..he...


Bahkan kali ini Langit tidur ditemani papa Baskoro dan mama Cathleen, membuat daddy dan bundanya saling mengeksplor. Sebastian bahkan tak mau membuang kesempatan.


.


Mutia terbangun dengan rasa mual mendera. Sebastian yang masih terlelap, kaget dengan pergerakan sang istri. Disusulnya ke kamar mandi.

__ADS_1


"Yank, aku lemas sekali" Mutia terkulai di pelukan Sebastian.


"Yank...sayang..." Sebastian menepuk-nepuk pipi Mutia.


Melihat Mutia yang semakin pias dan pucat, diangkatnya tubuh sang istri dan dibaringkannya di tempat tidur.


"Bentar ya kuambilkan teh hangat" Sebastian beranjak keluar kamar menuju dapur mansion.


"Den, ngagetin aja. Masih pagi, aden cari apa?" tanya bibi yang sedang mempersiapkan menu sarapan pagi.


"Bik, boleh minta tolong buatin teh manis hangat. Istriku mual" pinta Sebastian.


"Iya den. Nanti kuantar ke kamar" jawabnya sopan.


"Makasih bik" Sebastian kembali ke kamar.


"Masih mual?" tanya Tian dan duduk di depan sang istri.


"Sedikit, mulutku sampe pahit banget" keluh Mutia.


Terdengar ketukan pintu kamar, "Masuk aja bik" suruh Sebastian.


Bibi masuk membawa secangkir teh manis hangat.


"Ini den teh yang diminta" Bibi meletakkan di meja.


"Makasih ya bik" ucap Mutia.


"Sama-sama" bibi membawa nampan keluar kamar.


"Minum sekarang aja ya, buat ngurangin mual" kata Sebastian.


Mutia mengangguk. Mutia meminum teh yang diantar oleh bibi barusan. Tapi belum sampai tertelan, Mutia kembali merasakan mual dan memuntahkan teh yang baru sampai mulutnya.


Sebastian yang merasa cemas, segera menelpon Bara temannya yang dokter itu.


"Ada apa nelpon pagi-pagi? Matahari aja masih ogah bangun tuh" suara Bara di seberang.


"Mau nanya, istriku mual muntah nih apa obatnya?" tanya Sebastian panik


"Hei, CEO Blue Sky. Semenjak istrimu hamil kenapa kau jadi bego sih" ledek Bara.


"Bumil muntah-muntah kan wajar karena pengaruh hormon kehamilan" imbuhnya.


"Tapi kasihan tahu. Semua yang sampai mulut nggak masuk" tandas Sebastian.


"Kalau sampai lemas sekali, sebaiknya rawat inap saja. Kasihan istrimu kalau nggak ada makanan yang masuk" saran Bara pada akhirnya.


"Makasih Bar" Sebastian menutup panggilannya ke Bara.


Sebastian menatap sang istri, tapi gelengan kepala Mutia didapatnya.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


To be continued, happy reading

__ADS_1


💝


__ADS_2