
Orang tua itu menatap tajam ke arah Sebastian.
"Opa, dia itu suami Mutia. Maaf lama nggak ke sini, jadi belum sempat ngenalin ke Opa" ucap Mutia lembut.
Wajah teduh orang tua itu beralih ke Mutia. Mutia pun mengangguk.
"Opa, aku bawain bubur ayam kesukaan Opa lho? Opa mau?" kata Mutia dengan penuh kesabaran.
Orang tua itu mengangguk meski tak mengucapkan sepatah kata pun. Orang tua yang meski sudah pikun masih menyisakan guratan ketampanan dan kegagahan dalam sosoknya yang sekarang.
"Kuambilin dulu ya?" Mutia beranjak. Tapi pegangan erat sang Opa menghalangi langkah Mutia.
"Kuambilin aja. Sepertinya Opa kangen sama kamu" ucap Sarah beringsut dari duduk.
"Makasih kak Sarah" ucap Mutia.
"Sini sayang dekat sama Opa" pinta Mutia memanggil Sebastian.
Sebastian lebih banyak terdiam, dia belum tahu pasti situasi saat ini.
"Santai aja... Opa ini orang baik. Benar kan Opa?" tatap Mutia ke orang tua yang berada di dekatnya.
"Opa ini sudah lama di sini sayang, bahkan semenjak aku kuliah dulu aku sudah kenal tempat ini. Opa juga tahu kalau aku punya Langit. Meski mungkin sekarang Opa sudah lupa karena pikun" jelas Mutia.
"Langit mana?" kata lirih sang Opa.
"Loh, Opa masih ingat Langit?" Mutia kaget karena orang tua itu tidak terlalu pikun ternyata.
"Wah..kejutan" Mutia tertawa dan memeluk orang tua itu. Sebastian hanya bisa menelan ludah, tak berani menghalangi sang istri yang memeluk orang tua itu.
"Langit sekarang sudah sekolah Opa. Sudah besar dia" imbuh Mutia.
Bahkan orang tua itu kelihatan antusias mendengarkan cerita Mutia.
Sarah kembali masuk dengan membawa bubur ayam yang tadi dibawakan oleh Mutia.
"Kakak keluar dulu ya, ada yang musti kukerjakan" Sarah menyerahkan sekotak bubur ayam kepada Mutia.
Mutia menyuapkan bubur ayam ke sang Opa dengan telaten. Meski tak banyak pembicaraan di antara mereka berdua, Sebastian bisa melihat kalau hubungan mereka berdua sangatlah dekat.
"Sayang bisa minta tolong ambilkan air putih itu?" tunjuk Mutia ke air putih kemasan di samping Sebastian.
__ADS_1
"Minum dulu Opa" Mutia bahkan meminumkan air dalam gelas ke bibir Opa langsung.
Ketika sudah selesai semua, Mutia pamitan ke Opa. Tampak tetes air mata dari kedua netra laki-laki yang sudah renta itu.
"Jangan sedih dong Opa. Mutia janji akan sering mengunjungi Opa" Mutia memeluk erat laki-laki itu di depan suaminya.
Sebastian memberi kode untuk segera melepaskan pelukan, tapi tak digubris oleh sang istri...he..he...
.
"Sayang, kenapa nggak pernah cerita sebelumnya?" tanya Sebastian saat mereka dalam perjalanan pulang.
"He...he...maaf sayang. Lupa" jawabnya dengan tersenyum.
Sebastian mengerucutkan bibirnya. Mutia terkekeh melihat ulah sang suami.
"Ayo sekarang cerita" rajuk Sebastian.
"Iya...iya...tapi janji nggak ngambek lagi" Mutia mulai menceritakan awal pertemuan dengan sang Opa.
"Aku mulai kenal panti itu jauh sebelum keadaanku seperti ini. Aku yang sedang hamil sering menjajakan kue sampai daerah situ. Karena aku sering ngidam bubur ayam pak Sarmin. Aku membawa sebungkus bubur ayam yang sengaja akan aku makan sampai kontrakan" ucap Mutia.
Sebastian masih serius mendengar.
"Terus bagaimana kamu bisa dekat dengan Opa itu, padahal dengan yang lain biasa saja?" selidik Sebastian.
"Kamu cemburu?" Mutia memicingkan netra, mencari jawaban di wajah sang suami.
"Enggak" ucap Sebastian. Tapi sepertinya jawaban itu lain di mulut lain di hati.
"Yang benar???" tandas Mutia.
"Mana pakai peluk-peluk segala tadi" lanjut Sebastian.
"Ha...ha...ngaku juga akhirnya. Cemburu bilang dong sayang" Mutia tertawa.
"Kamu aja yang nggak peka" tukas Sebastian.
"Ha...ha...masak sama Opa kamu cemburu?" Mutia semakin terbahak. Aneh aja suaminya cemburu dengan laki-laki yang sudah tergolong renta.
"Dilanjut nggak ceritanya?" Mutia menghentikan tawa dan mulai serius kembali. Sebastian mengangguk.
__ADS_1
"Aku sering mampir ke sana, bila kue-kue ku masih banyak dan tak laku. Maka sering aku berikan ke kak Sarah. Mulai saat itu aku akrab dengan kak Sarah" lanjut Mutia.
"Dengan sang kakek akrab juga?" selidik Sebastian.
"He...he...Opa lah yang menghampiriku duluan. Padahal menurut kak Sarah, Opa itu sangat sulit untuk berinteraksi dengan yang lain. Bahkan anak dan menantunya saja tidak pernah ditemui saat berkunjung" Mutia mengambil air minum di sebelah tempat duduknya.
"Dan mulai saat itu lah aku akrab dengan Opa. Kata kak Sarah hanya aku yang mau Opa temui. Meski saat bertemu ya seperti itu tadi, jarang ada pembicaraan. Jadi pertemuan dalam diam. Cerita nya begitu sayang" Mutia mengakhiri sesi cerita.
"Oooooo.." Sebastian mengangguk.
"Kirain itu Opa aslimu sayang" canda Sebastian.
"Sayang, boleh tau nama Opa?" tanya Sebastian yang teringat akan nama-nama yang dikirimkan Dewa semalam.
"Kenapa?" tukas Mutia.
"Hanya ingin tau namanya aja. Opa sudah terlalu akrab dengan istriku, maka aku harus kenal dong. Opa yang sudah seperti Opa kandungmu itu" jawab enteng Sebastian yang seolah-olah tidak ada apa-apa.
"Kadang aku juga membayangkan seperti itu. Kalau seandianya Opa itu kakekku yang sebenarnya, alangkah senangnya aku" tukas Mutia.
"Maklum ayah dan ibu sudah tiada. Hidup seorang diri itu kadang terasa berat" ucap Mutia melow.
"Loh, kok jadi gini. Sudah...sudah...jangan terlalu dipikirin. Sekarang kamu sudah tidak sendiri lagi sayang, ada aku, Langit dan calon bayi kita. Jangan pernah bilang seperti itu lagi ya?" Sebastian mengelus kepala sang istri.
Sebastian masih menunggu jawaban sang istri tentang nama sang Opa. Dia mau menanyakan ke kak Sarah tentang keberadaan orang yang dicarinya, tapi menurut Sebastian dia belum seakrab itu dengan pengelola panti. Takut dicurigai, itu yang pasti.
"Namanya Opa Winardi" jawab Mutia tiba-tiba tanpa diminta Sebastian.
"Lengkapnya?" lanjut Tian.
"Nggak tau aku sayang. Biasanya kak Sarah memanggil Opa seperti itu" perjelas Mutia.
Pupus sudah harapan Sebastian menemukan jawaban. Dirasa Mutia memang tak tahu, hanya kebetulan saja istrinya sering ke panti jompo itu.
Tapi seingat Sebastian hanya ada satu nama Winardi di panti jompo berdasarkan info dari Dewa tadi malam
Kalau iya, apa ada kemungkinan namanya Opa adalah Baksono Winardi????? Pikir Sebastian.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
To be continued, happy reading 🤗🤗🤗
__ADS_1
cerita ini pure khayalan othor, maafkan jika ada kesamaan nama dan situasi yang ada dalam cerita.
💝💝💝💝💝