WANITA ITU IBU ANAKKU

WANITA ITU IBU ANAKKU
Part 56


__ADS_3

Kok masih di sini??? Mau makein baju buatku" goda Sebastian lagi. "Idih ogah" Mutia menolak dan melangkah keluar kamar. Sebastian tertawa melihatnya. "Sungguh hari ini mulutku lelah sekali karena kebanyakan tertawa" gumam Sebastian. Hanya memakai kaus rumahan dan celana pendek selutut Sebastian turun ke ruang makan.


Ternyata tuan Baskoro dan mama Cathleen telah menggeser posisinya ke meja makan. "Waooowwwww, ada ayam goreng" celetuk Langit sumringah bagai menemukan sebongkah berlian. "Langit suka??" tanya Oma Cathleen. "Buangetttt Oma" tukas Langit. "Ya sudah, Langit mau duduk sebelah mana? Dekat Oma apa di tengah-tengah Oma dan Opa?" tanya mama Cathleen. "Nanti aku dekat bunda saja" ucap Langit.


Sementara yang dibicarakan barusan turun dari lantai atas. "Tuh bunda. Ayo sini Mutia. Silahkan duduk" mama Cathleen menyapa Mutia. Meski bagaimanapun Mutia belum sah menjadi salah satu keluarga Baskoro. "Sebastian mana?" imbuh mama Cathleen. "Masih pakai baju kayaknya Mah" celetuk Mutia, karena waktu dia keluar kamar memang Sebastian sedang pakai baju. "Hah? Pakai baju?" mama Cathleen kayaknya sedang salah sangka sekarang. "Ya iyalah Mah, abis mandi kan musti pake baju. Mama ini ngeres aja" tukas Sebastian ikut duduk di samping bunda Langit.


"Dad, aku mau dekat bunda. Ngapain Daddy duduk disitu?" sungut Langit dan berputar meja makan mendekat ke tempat duduk bunda. Posesifnya anakku, lirih Sebastian. "Gimana kalau bunda duduk di tengah, antara Daddy dan Langit. Adilkan" usul Sebastian. Langit nampak berpikir sejenak. "Oke Dad, setuju" tandas Langit. Belum apa-apa aja sekarang musti berbagi dengan anakku yang mulai teng*il itu, ntar gimana kalau sudah nikah. Batin Sebastian.


Mutia mengambilkan nasi untuk Sebastian. "No Mutia, yang low calori aja" tolak Sebastian."Ups, sori" ujar Mutia. "Buat Langit aja Bun nasinya. Karena Daddy sudah nolak pemberian Bunda biar Daddy ambil sendiri saja. Nggak usah diambilin" seloroh Langit. Sebastian hanya bisa menepuk jidat. Gokil bener putranya. Mau ngumpat, tapi itu putranya. Hasil perpaduan dirinya dan Mutia, meski itu tak disengaja. Bener-bener Sebastian dikerjain Langit di meja makan ini.


Selesai makan saat ngumpul di ruang keluarga, "Mutia, malam ini baiknya kalian nginap di sini saja" pinta mama Cathleen. "Mama mau diberi kesempatan untuk dekat dengan cucu mama" bisiknya ke Mutia. Tanggapan keluarga Baskoro ternyata begitu hangat. Tidak seperti bayangan Mutia sebelumnya. Permintaan Mama Cathleen juga didengar oleh Sebastian. "Besok Langit sekolah Mah" sela Sebastian. "Boleh nggak sih diliburin sehari saja? Aku belum puas main sama Langit" tanya mama Cathleen. Mutia masih terdiam. "Gimana Mutia?" Mama Cathleen bena-benar minta persetujuan Mutia. "Begini saja Mah, kita nginap. Tapi pagi-pagi kita pulang, buat ambil seragam nya Langit dan Mutia berangkat kerja" saran Sebastian.


"Eh, kok malah nginap?" tanya Mutia. "Nggak usah kuatir Mutia. Di sini nggak ada cerita penggerebekan karena kalian belum menikah. Kalau sampai Sebastian nyuri-nyuri masuk kamar. Papa dan mama yang akan menghukumnya" sarkas mama Cathleen. "Eh...eh...aku terus tidur di mana dong kalau nggak boleh sama mereka?" gurau Sebastian. "Ruang kerja" jawab tuan Baskoro dan mama Cathleen bersamaan. Mutia ikut merasakan bahagia bisa berada di tengah-tengah keluarga hangat ini. Sementara Sebastian hanya menggerutu menanggapinya.

__ADS_1


Ponsel Mutia berdering di tengah obrolan mereka. Dena calling. Mutia sampai lupa memberitahu Dena tentang keberadaannya saat ini. "Maag saya angkat telepon dulu" pamit Mutia beranjak dari duduknya. Sebastian menajamkan pendengarannya. "Halo Dena. Sori kakak lupa ngabarin. Malam ini kakak nginap di kediaman keluarga Baskoro bersama Langit. Oh ya Dena, pesan buat Bik Sumi ya. Besok pagi-pagi minta tolong siapin seragamnya Langit" Mutia ganti mendengatkan ucapan Dena. Bahkan dia menyuruh saja pakai tolong, batin Sebastian yang sengaja ikut mendengarkan alias menguping pembicaraan Mutia. "Apa???? Nyonya Martha mau diajukan acaranya. Bukannya aku belum memberikan penawaran harga sesuai yang diminta ya?" tanya Mutia kaget. "Iya kak, tapi nenek lampir itu maunya semua dari kita" sewot Dena. Mutia sengaja meloudspeaker panggilan karena telinganya panas mendengar suara Dena yang lumayan cempreng itu. "Den, Nyonya Martha itu yang minta diskon tadi pagi nggak sih? Aku lupa nama nyonya yang minta diskon tadi" tukas Mutia. "Ya itu kak nenek lampirnya" celetuk Dena di ujung telpon. "Oke, kita bicarakan besok saja. Ati-ati bawa mobilnya" pesan Mutia mengakhiri panggilan. Sebastian terdiam sambil mengeratkan genggaman tangannya. Pagi tadi dia ikut menyaksikan bagaimana mantan calon mertuanya itu mengintimidasi Mutia.


Langit terbaring di paha daddynya. Beberapa kali Langit menguap. Karena siang tadi tidak mau diajak tidur siang oleh Oma Cathleen. Alasannya menunggu bunda datang. "Langit gosok gigi dulu yuk. Abis ini bobok" ajak Mutia. Langit menurut saja, karena kekenyangan makan ayam goreng.


Sepeninggal Mutia, tuan Baskoro mengajak ngobrol serius putranya itu.


"Tian, ada yang mau papa sama mama omongin sama kamu" tuan Baskoro mulai serius. "Langsung aja Pah" jawab Sebastian. "Tunggu Langit tidur, abis itu ajak Mutia ke sini" perintah tuan Baskoro.


"Memang apa yang dilakukan oleh wanita ular itu?" mama Cathleen ikut nimbrung. "Tapi jangan sampai kedengaran Mutia ya Mah, karena aku tidak cerita kalau nenek lampir yang dimaksud asistennya tadi adalah mantan calon mertuaku" alibi Sebastian.


Mama Cathleen mengangguk, "Ayo lekas cerita, apa yang dilakukan Martha di sana". "Memaksa Mutia memberikan potongan harga dengan alasan karyawan Mutia melakukan kesalahan. Jadi Mutia menjadi sasarannya secara tidak langsung" cerita Sebastian. "Hhmmm..." Mama Cathleen terlihat sedang memikirkan sesuatu. "Bukanya Martha itu bukan pelanggan Mutia Bakery? Setau Mama dia itu pelanggan di Bakery yang ada di mall depan outlet Mutia" jelas mama Cathleen. "Cegah sebelum Supranoto mengacak-acak perusahaan calon menantuku" terdengar suara yang ditekan dari Tuan Baskoro saat mengucapkan menantu. Sebastian mengangguk setuju.


"Sudah lama Tian, Langit pasti sudah tidur. Kau panggil Mutia gih!!!" suruh mama Cathleen. Sebastian beranjak dari duduknya untuk memanggil Mutia yang berada di kamarnya bersama Langit. Sebastian mengetuk pintu dan segera melongokkan mukanya ke dalam. "Mutia, dipanggil papa sama mama. Ingin ngobrol katanya" celetuknya. "Serius???" Mutia mendekat ke Sebastian. "Kok jadi grogi aku. Takut kalau disuruh menikah sekarang" Mutia bergurau untuk menutupi kegugupannya. "Aamiin" tukas Sebastian. "Kok aamiin?" heran Mutia. "Aku mengamini saja, apalagi kalau disuruh menikah sekarang sama mama dan papa" Sebastian tertawa. "Ayo turun, tak baik membiarkan papa dan mama menunggu" ajak Mutia. Sebastian pun mengikuti langkah sang calon istri.

__ADS_1


"Kalian duduklah, ada yang papa ingin bicarakan" tuan Baskoro melihat ponsel sementara mama Cathleen mengubah chanel televisi besar yang ada di ruang keluarga itu. Mutia nampak terkejut melihat dirinya dan juga Sebastian yang tengah duduk selonjoran di hamparan rumput luas daerah pegunungan itu muncul di layar besar. "Aku sudah tau kau menerima lamaran putraku Mutia. Sudah saatnya kalian membicarakan acara pernikahan" tandaa tegas tuan Baskoro. "Hah???" Mutia menutup mulutnya. Apa harus secepat itu?? Batin Mutia. "Kalau sudah ada niatan baik, lebih cepat lebih bagus" nasehat mama Cathleen.


"Aku nunggu Mutia siap saja. Kalau aku, besok pun sudah siap" Sebastian menimpali ucapan tuan Baskoro. "Bagaimana Mutia?" tanya tuan Baskoro. "Eh..." Mutia bingung menjawab. "Diam mu kuanggap setuju" lanjut Sebastian. "Apa nggak terlalu cepat, memang kau sudah cukup yakin menikahiku???" tanya ragu Mutia. "Bahkan aku sangat yakin menikah dengan wanita baik sepertimu" kata Sebastian. Mutia hanya terdiam lagi.


"Oke, acara kita siapkan dua hari lagi" tegas tuan Baskoro. Mutia bahkan dibuat bengong oleh tuan Baskoro. "Acara berlangsung di sini saja, biar mama Cathleen yang menyiapkan" imbuh tuan Baskoro. Sungguh semua kenyataan di depannya kini, berada di luar nalar Mutia.


"Ijab kabul dulu saja Pah. Yang penting sah. Untuk pesta aku pikirkan lagi ntar" ucap Sebastian. Mutia semakin melongo dibuatnya.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


to be continued, happy reading


#Buah salak buah kedondong #vote-nya dong 😅

__ADS_1


__ADS_2