
Frans menghampiri Bowo yang telah lebih dulu datang di kantor polisi.
"Apa kabarmu Bowo?" tanyanya basa basi.
"Baik Tuan" jawab Bowo sambil menunduk.
"Kalian tenang saja, pengacaraku sebentar lagi akan segera ke sini" ucap Frans dengan percaya diri.
Sementara Sebastian sebagai pihak pelapor, diminta keterangannya dan menyerahkan semua bukti yang telah disiapkan Dewa.
Setelah delik pengaduan dirasa lengkap, Sebastian keluar dari ruang pemeriksaan.
"Wa, untuk sementara sampai di sini. Aku mau ke rumah sakit dulu" ucap Sebastian.
"Baik tuan" imbuh Dewa.
"Siapkan pengacara terbaik untuk kasus ini" suruh Sebastian.
Dewa mengiyakan perintah sang tuan.
Perkiraan Dewa pasti persidangan untuk kasus ini akan berjalan alot. Karena kebanyakan terdakwa adalah orang-orang Frans. Mereka bisa saja bekerja sama untuk meringankan dakwaan masing-masing.
Pengacara yang diminta Sebastian pasti akan bekerja ekstra.
"Aku akan minta tolong sama Tania aja deh, biar dia yang menyelesaikan kasus ini" gumam Dewa. Dan segera menghubungi Tania untuk membantu menuntaskan kasus Sebastian dengan Frans.
.
Sementara itu di ruang interogasi, Frans sedang berhadapan dengan penyidik.
Semua tuduhan yang didakwakan kepada Frans masih disangkal olehnya.
Tapi keterangan berbeda diberikan oleh Bowo dan juga Putri. Kakak adik itu mengakui semua perbuatannya. Seperti yang mereka janjikan ke Dewa sebelumnya.
Karena kebaikan Dewa dan juga kebesaran hati Sebastian lah, orang tua mereka telah terjamin keamanannya.
Apalagi sekarang, Bowo divonis oleh dokter terkena penyakit menular mematikan. Membuat Bowo ingin berbuat baik di akhir kehidupannya. Tapi dia juga ingin melindungi sang adik, yang baru kali ini Bowo libatkan.
.
Mutia telah diperbolehkan pulang, tapi harus tetap banyak istirahat. Karena perdarahan masih beresiko berulang. Apalagi pemeriksaan USG terakhir kali yang dilakukan oleh prof. Abraham menunjukkan kalau plasenta berada di segmen bawah rahim.
"Sayang, sampai kapan aku di suruh puasa?" sungut Sebastian.
"Ya sampai plasenta nya geser dong yank" tukas Mutia.
"Emang bisa geser?" tanya Sebastian yang awam tentang ilmu kebidanan.
"Jawabannya antara bisa dan tidak. Semua tergantung yang di Atas. Kalau kehamilan muda gini sih biasanya bisa geser seiring bertambahnya usia kehamilan" terang Mutia yang juga seorang bidan itu. Bidan yang beralih profesi menjadi tukang kue...he...he...
"Wah, kalau tak bisa geser alamat bisa sampai sembilan bulan dong puasanya??" Sebastian dengan wajah kusut karena hampir dua minggu tak dapat jatah dari Mutia.
"Kan semua demi anak kita sayang" Mutia mengelus lembut tangan Sebastian.
"Jangan menggodaku kalau gitu" Sebastian menimpali.
__ADS_1
"Apanya yang menggoda?" Mutia tak habis mengerti. Dia kan hanya mengelus tangan sang suami.
"Jangan mencoba membangunkan macan tidur sayang. Apalagi dia sudah lama kau suruh puasa" kata Tian.
Mutia mendelik saat baru sadar ucapan sang suami.
Tapi lama-lama Mutia kasihan juga melihat Sebastian yang kusut itu.
Sebenarnya Mutia juga menginginkannya. Tidak tau kenapa apa karena hormon kehamilan yang membuatnya ingin saat ini. Tapi Mutia berinisiatif melakukan dengan cara lain.
Kebetulan Langit sudah tidur dari sore, karena kecapekan waktu les bola.
Mutia menyerang sang suami dengan ciuman panas.
"Sayang, apa yang kau lakukan? Aku sedang setengah mati menahan hasr4t ini" ucap Sebastian mencoba menghindar dari serangan Mutia.
Tak berhenti di situ Mutia malah menyerang Sebastian di tempat lain.
"Biarkan aku memuaskanmu sayang" bisik Mutia.
Akhirnya sebuah lenguh4n Sebastian lolos juga. Sang istri sangat memanjakannya kali ini.
Apalagi tepat di depannya disuguhi kedua benda kembar yang sangat kencang. Tentu Sebastian tak menyia-nyiakannya.
Mutia menjalankan semua sampai Sebastian terpuaskan. Meski lahar keluar di luar, sudah membuat Sebastian tak merasakan nyut-nyut an lagi.
Dia kecup kening sang istri, "Makasih ya, sering-sering aja" senyum menghiasi bibir Sebastian.
"Idih...maunya" kata Mutia beringsut hendak membersihkan diri.
Mutia menuruti apa kata Sebastian. Bahkan Sebastian menciumi perut sang istri yang mulai menonjol di perut bagian bawah.
"Ayo tidur" ajak Mutia sambil memeluk tubuh Sebastian.
"Heemmmm" Sebastian meredupkan lampu kamar.
.
Sayang, aku bosan selalu kau tinggalin saben hari" rajuk Mutia. Mutia telah bedrest di rumah hampir dua minggu, tentu saja membuatnya bosan.
"Bukannya sama Om Abraham memang disuruh lebih banyak istirahat" sahut Sebastian.
"Tapi kan bosan yank" Mutia kembali merengek.
"Emang mau ke mana?" tanya Sebastian akhirnya mengalah untuk menuruti kemauan sang istri.
"Mau ke mansion papa" pinta Mutia.
"Kirain ngajak jalan, kalau ke rumah tuan Baskoro aja aku siap nganterin" Sebastian terkekeh.
"Yank, kapan-kapan kita panti jompo ya?" ucap Mutia.
"Nanti biar diatur Dewa dulu ya waktuku" imbuh Sebastian.
"Mutia Bakery bagaimana?" tanya Mutia. Karena selama dua minggu bed rest Mutia sedang malas ngapa-ngapain.
__ADS_1
Laporan Dena saja tidak disentuhnya.
"Loh, bukannya Dena sudah mengirimkan ke emailmu?" tanya Tian.
"He...he...belum aku cek. Males sekali rasanya" ulas Mutia.
"Kirimkan ke emailku, nanti aku yang ngecek" dijawab anggukan cepat Mutia. Untuk saat-saat begini, sang suami sangat bisa diandalkan.
.
Selepas mengantar sang istri ke mansion tuan Baskoro, Sebastian meluncur ke Blue Sky. Langit juga sudah diantar jemput oleh Pandu.
"Pagi tuan" Dewa datang bersamaan di lobi Blue Sky. Semua karyawan yang berpapasan menunduk hormat kepada Sebastian dan Dewa.
"Hari ini sidang perdana Frans dkk tuan" Dewa memberikan informasi saat mereka memasuki lift.
"Oooo...baguslah. Jadi tidak perlu bertele-tele menunggu mereka masuk bui" sahut Tian.
"Tania akan mengatasinya tuan" jelas Dewa.
"Heemmmm, jadi kau pakai cewek bar-bar itu" Sebastian menimpali.
"He...he...benar tuan" Dewa terkekeh.
Dewa ingat saat kuliah, Tania adalah sahabat nya dan juga sahabat Sebastian. Cewek yang bila didekati laki-laki akan mengaum layaknya singa yang kelaparan. Hanya Sebastian dan Dewa yang cocok dengan gadis itu.
"Baguslah. Aku yakin dia akan menang" Sebastian ikutan tertawa.
"Wa, apa sudah kau telusuri perkataan tak sengaja Frans waktu itu?" Sebastian menoleh ke Iwan.
"Tentang sosok kekuarga Supranoto?" tatap Dewa.
"Heemmmmm" gumam Tian.
"Maaf tuan, aku masih berkutat di kasus nya Frans. Dan belum melangkah jauh" tandas Dewa.
"Kita ikuti saja jalan persidangan Frans dalam diam. Tapi secepatnya kau harus cari keluarga kandung istriku" perintah Tian.
Dewa menghela nafas panjang. Tuan Sebastian memang selalu seenaknya sendiri memberi perintah, gerutu Dewa.
Saat keluar lift, mereka dikejutkan adanya Janetra di lantai di mana ruangan Sebastian berada.
Dewa dan Sebastian saling pandang, bagaimana wanita ini bisa lolos dari keamanan yang sudah diwanti-wanti Sebastian untuk tidak menerima tamu sembarangan sejak kejadian sang istri dulu.
"Tian" panggil manja Janetra. Wanita dengan perut yang sudah membesar, tapi masih memakai baju seksi itu mendekat ke arah Sebastian.
Tatap sinis Sebastian didapatnya.
"Apa kabar?" sapanya.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
To be continued, happy reading
Biar semangat up komen, like, vote atau apalah tetep othor tungguin loh 🤗
__ADS_1
Lope-lope untuk kalian 💝💝💝