
"Aku ikut" alibi Sebastian untuk menghindari amukan tuan Baskoro.
Sebastian mengikuti langkah prof. Abraham ke ruang USG.
Saat masuk ruangan itu, Mutia ternyata sudah baring di meja pemeriksaan.
"Apa yang kau rasakan Mutia?" tanya Om Abraham dan duduk di depan mesin USG itu.
"Tadi memang mules dokter, cuma sekarang sudah mendingan" jelas Mutia.
"Melihat perdarahan yang kau alami, hampir saja kau mengalami keguguran Mutia" ujar prof. Abraham dengan tangan menggerakkan probe USG di perut Mutia.
"Tuh, dengarkan denyut jantung janinnya" prof. Abraham menghentikan probe tepat di jantung janin, kemudian merekamnya.
Terdengar dug...dug...dug...yang teratur.
"Sehat kan dokter?" tanya Mutia dengan harap cemas.
"Sehat. Semua sehat" senyum dokter Abraham.
"Oh iya Mutia, sebaiknya rawat inap saja. Kita observasi sampai bebas perdarahan" saran dokter Abraham.
"Bed rest, dan tunda hubungan suami istri" imbuh dokter Abraham.
"Baik dok" sahut Mutia cepat. Tapi saat melihat ekspresi Sebastian, membuat Mutia tak kuasa menahan tawa.
"Om, kau tega sekali padaku" rengek Sebastian.
"Kalau kau ingin bayimu sehat, kau harusnya mengalah dong" sarkas dokter Abraham.
Sebastian mencebik mendengar ucapan Om Abraham.
.
Di Blue Sky, Dewa langsung mengutus anggotanya untuk mencari keberadaan Putri. Untuk saat ini dia lah saksi kunci kejadian tadi siang.
Dewa juga mengutus anggota yang lain untuk mengantarkan sampling air minum lengkap dengan gelasnya di sebuah laborat ternama. Bahkan sidik jari di gelas itu, Dewa menginginkan untuk diselidiki.
"Apa sudah ketemu alamat Putri?" tanya Dewa pada orang yang diutus melalui sambungan telpon.
"Sudah tuan, tapi aku belum menemukan keberadaan Putri. Menurut tetangga kontrakannya, mendadak Putri pulang kampung" jelas utusan Dewa.
"Sial, kalah cepat aku" umpat Dewa.
"Kau lacak sekarang keberadaan Putri" perintah Dewa. Dewa semakin yakin, kalau karyawan baru itu terlibat.
"Apa selama ini kejadian yang menimpa tuan Sebastian dan nyonya ada kaitannya dengan Frans??" Dahi Dewa sampai berkerut memikirkan itu.
"Tapi apa tujuannya?" Dewa masih bergumam.
Dewa melihat sekilas CV dari Putri yang diserahkan oleh Doni tadi siang.
Dewa mencoba melacak keberadaan Putri melalui nomor ponselnya.
"Sial, ternyata ponselnya pun dalam kondisi mati" umpat Dewa lagi.
"Dia terlalu pintar untuk seorang cleaning service" gumam Dewa.
Dewa mengotak atik lagi laptop di depannya.
"Ketemu" ucap Dewa puas. Dia menemukan titik terakhir keberadaan ponsel Putri.
"Yesss, sebuah stasiun" ucap Dewa sedikit lega.
__ADS_1
Langsung saja orang suruhannya bergerak ke stasiun. Mereka mencari nama Putri ke tempat pemesanan tiket.
Tanpa kesulitan mereka mendapatkan alamat yang menjadi tujuan Putri.
Sungguh, perjuangan orang-orang suruhan Dewa layak diacungi jempol.
.
Entah bagaimana caranya, tak sampai tiga jam mereka telah berada di depan kediaman orang tua Putri.
"Permisi, selamat malam. Apa ini kediaman Putri?" tanya sopan salah satu utusan Dewa.
"Benar tuan, baru saja dia datang dari kota. Katanya dia nggak nyaman di tempat kerja baru" cerita orang tua Putri.
"Boleh kami menemuinya?" lanjutnya.
Melihat pakaian rapi orang suruhan Dewa, membuat orang tua Putri percaya kalau mereka adalah rekan kerja anaknya. Karena sebelumnya orang utusan Dewa juga mengaku kalau mereka adalah rekan kerja Putri.
Putri keluar hendak menemui tamu nya.
Alangkah terkejutnya dia, karena dia tak mengenal sama sekali orang-orang yang datang.
Karena Putri mengira, orang yang ada datang adalah orang yang akan memberinya banyak uang.
"Sabaiknya kau ikut kami. Sebelum tuan muda bertindak tampa ampun kepadamu" bisik orang suruhan Dewa untuk mengancam Putri. Bulu kuduk Putri sampai meremang mendengar ancaman itu.
"Aku akan bilang ke orang tuaku, kalau kalian orang jahat" hardik Putri.
"Bilang saja, kita tinggal buka kedokmu yang sebenarnya kepada orang tua mu" jawab orang suruhan Dewa lagi.
"Jangan asal tuduh" elak Putri.
"Ha...ha...kami punya bukti semua yang telah kau lakukan"
"Tuan, kami sudah bawa orang yang tuan maksud" kata orang suruhan Dewa melalui sambungan telpon.
"Oke, langsung saja bawa ke basecamp, aku akan menghubungi tuan Muda" cakap Dewa.
"Siap tuan".
.
Dewa mendatangi rumah sakit lagi setelah urusan nya di Blue Sky teratasi. Tinggal menungu hasil pemeriksaan air dan juga sidik jari di gelas itu.
Dewa masih memikirkan siapa orang yang berani menyusup kadang singa, dan berani membangunkan singa tidur seperti Sebastian.
Bos nya itu tipikal orang yang tak akan menggigit bila tak digigit duluan.
Dewa malah mengibaratkan sang bos bagai singa...he...he....
Dewa mengetuk kamar perawatan nyonya Muthia. Dia tak ingin memergoki adegan live yang sering ditemuinya secara tak sengaja.
"Masuk" terdengar perintah Sebastian dari dalam.
Dewa membuka pintu ruang VVIP itu, ternyata di sana ada tuan besar Baskoro bersama mama Cathleen.
"Apa kabar Wa?" tanya tuan Baskoro.
"Baik tuan" kata Dewa.
"Yang kutanya bukan kabarmu Wa, tapi hasil penyelidikanmu?" ujar tuan Baskoro.
Dewa hanya bisa mengusap tengkuknya. Dia lupa kalau tuan muda dan tuan besar itu setipe. Suka-suka kalau ngomong.
__ADS_1
Sebastian hanya menatap sang asisten. Sementara mama Cathleen seakan tak peduli dengan kehadiran Dewa yang diinterogasi oleh suami-suami mereka berdua.
"Boleh minum dulu Tuan. Mendadak tenggorokan saya kering" Dewa mengambil air dalam gelas kemasan yang tersedia di atas meja.
"Duduk!" suruh Tian.
"Karyawan yang bernama Putri, sudah aku amankan di basecamp. Terserah tuan mau apakan" ujar Dewa.
"Mah, nitip Mutia dulu ya. Aku mau keluar sebentar" Sebastian beringsut dari duduknya.
"Mau kemana?" sergah Mutia.
"Ada perlu sedikit dengan Dewa. Biasa masalah Blue Sky" jelas Tian.
"Jangan lama-lama ya sayang" pinta Mutia.
"Heeemmm" gumam Sebastian. Dia kecup kening sang istri sebelum pergi.
"Tian, jangan beri peluang!!!!" nasehat tuan Baskoro.
Sebastian mengangguk menanggapi ucapan papa nya.
Dewa mengemudikan mobil ke arah base camp mereka.
"Anak buah kita sudah menyita ponsel orang yang bernama Putri itu tuan" ujar Dewa memulai pembicaraan.
"Ada yang mencurigakan?" imbuh Sebastian.
"Sepertinya begitu" tukas cepat Dewa.
Sebastian menautkan alisnya, butuh jawaban dari Dewa.
"Ada percakapan yang mencurigakan di ponsel wanita itu" jelas Dewa.
Sebastian lebih banyak terdiam setelahnya.
Sesampai di base camp, didapatinya wanita yang bernama Putri telah diikat erat oleh anggotanya.
Sebastian menghampirinya dengan tatapan dingin.
"Heemmmm, sebaiknya kuapakan kau ya?" bisik Tian di telinga Putri.
"Anak buahku sepertinya butuh kehangatan sekarang" seringai devil terlihat di sudut bibir Sebastian.
Anak buah Sebastian mendekati Putri setelah diberi isyarat oleh Sebastian.
Mereka bertiga pura-pura akan memperkosa gadis cleaning service itu.
"Makasih tuan muda. Hawanya sangat mendukung kali ini. Bolehkah kami mulai" celetuk salah satu dari ketiga anak buah Sebastian.
"Mulai saja. Aku yang akan jadi penontonnya" Sebastian memerintah dan duduk di kursi sambil menyilangkan kaki.
Tubuh Putri bergetar..."Ampun...ampun...tuan" ucapnya lirih.
"Ha...ha....hanya sebeginikah keberanianmu" tawa Sebastian saat ini terasa sangat menyakitkan di telinga Putri.
"Beraninya kau menyusup ke kantorku" Sebastian mencengkeram kuat dagu wanita di depannya. Seandainya Sebastian tak mengingat kalau dia wanita, sudah dihajarnya orang di depannya ini.
Tubuh Putri semakin bergetar ketakutan.
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
To be continued, happy reading
__ADS_1
ππππ