WANITA ITU IBU ANAKKU

WANITA ITU IBU ANAKKU
Part 83


__ADS_3

Padahal sebenarnya mereka berdua sedang bersiap menyambut sang bos di depan kediaman Sebastian.


Sebastian menggerutu karena tak melihat asisten kepercayaan untuk menjemput.


"Sudahlah sayang, Dewa sibuk kan juga karenamu" kata Mutia.


"Dia kan tahu kalau kita pulang hari ini. Paling nggak jadwal nya dikosongkan" Sebastian masih tak terima tak dijemput sang asisten.


Sebastian menekan tombol ponselnya. "Halo Wa, pagi ini kamu carikan bebek goreng pinggir jalan dengan sambal yang super pedas. Aku sampai apartemen harus sudah ada" suara Sebastรฌan saat panggilannya terrsambung ke Dewa.


Kerutan alis terlihat di wajah Mutia. Apa dia nggak salah dengar.


"Tuan, mana ada pagi gini bebek goreng pinggir jalan. Kebanyakan jualnya malam hari" suara Dewa yang dilouspeaker sama Sebastian.


"Ya kamu carikan. Aku ingin makan itu" tandas Sebastian.


Mutia geleng-geleng merasa aneh dengan kelakuan sang suami.


Gara-gara nggak dijemput saja, tega bener ngerjain sang asisten.


Padahal awalnya Sebastian memang ingin ngerjain Dewa, tapi sekarang malah benar-benar menginginkan itu. Dia sendiri aja merasa aneh, kenapa tiba-tiba ingin sambal pedas. Perutnya juga bisa perang sendiri kalau makanan pedas masuk.


Sebastian CEO Blue Sky ingin bebek goreng pinggir jalan??? Dewa termangu di tempat.


"Dewa, lekaslah. Sampai apartemen sudah harus ada!!!" Sebastian mengulangi perintahnya.


"Tuan sudah di bandara?" tanya Dewa.


"Sudah di mobil, otewe pulang" kata Sebastian. Padahal Sebastian masih berada di lokasi bandara.


"Hah????? Mana cukup waktuku" tandas Dewa.


"Aku nggak mau tau" Sebastian menutup panggilannya.


Mutia menoleh ke Sebastian yang berjalan di sampingnya. "Sayang, beneran ingin menu itu?" Mutia memastikan


"Bukannya kamu nggak tahan dengan cabe?" imbuh Mutia.


"Nggak tau, tapi aku ingin" rengek Sebastian. Bahkan Langit aja kalah sama rengekan daddy nya.


Sebastian menggandeng mesra sang istri.


"Dad, gendong" pinta Langit yang sebelumnya berjalan di depan mereka.


"Baiklah, anak daddy ganteng" senyum Sebastian.


"Rewel nggak nih anak daddy waktu daddy sama bunda pergi?"


"Nggak Dad. Oma sama Opa selalu nemenin. Langit juga bobok sendiri loh" ceritanya.


"Oh ya??? Pintar dong anak daddy" puji Sebastian.


"Hhmmm...kalau pintar aja dibilang anak daddy, tapi kalau sebaliknya bilangnya anak bunda" celetuk Mutia.


"Ha...ha... Kalau gitu Langit anaknya siapa?" Sebastian kembali menciumi sang putra karena gemas.


"Anak daddy" tukas Langit.


"Tuh dengerin Langit bilang apa" Sebastian seakan mendapat pembelaan dari sang putra.


"Ya udah, ntar malam kalian tidur berdua ya. Anak sama daddy" tanggap Mutia sambil tersenyum.

__ADS_1


"Hah...?" Sebastian serasa mendapat ancaman kali ini.


Wah bisa puasa dong 'hercules' . Batin Sebastian.


"Anak daddy sama bunda. Benar kan bun?" Sebastian meralat ucapan sebelumnya membuat Mutia tertawa.


Mereka sudah otewe pulang menuju apartemen.


Di depan lift Dena menyiapkan segala hal untuk penyambutan sang bos dibantu bik Sumi. Padahal sebelumnya ada Dewa juga di sana.


Tapi karena permintaan mendadak dari sang bos, Dewa urung membantu Dena.


"Non Dena, kenapa juga kita buat seperti ini?" tanya bik Sumi.


"Kejutan aja bik buat bos-bos kita. Selama kak Mutia menikah, kita juga belum sempat kasih kado kan?" ungkap Dena.


"Benar juga Non...he...he..." bik Sumi menimpali. Bik Sumi sibuk meniup balon pakai pompa.


"Bik, urusan dalam beres kan?" tanya Dena.


Bik Sumi mengacungkan dua jempolnya, "Sudah bersih semua. Kemarin aku lembur loh Non".


Dewa juga membuat kata sambutan di sebuah banner 'Welcome home my bosss'.


"Lebay nggak sih kita bik?" tanya Dena.


"Sedikit sih Non...he...he.... Tapi nggak apa-apa lah, Nyonya Mutia kan juga baru kali ini berpergian lumayan lama. Sekali-kali kita sambut" utas bik Sumi.


Dewa datang dengan tergopoh. "Nona Dena. Aku sudah dapat bebek gorengnya. Tapi nggak beli di pinggir jalan seperti permintaan tuan. Jam segini ternyata sulit juga nyarinya" Dewa bermonolog.


"Hisss...panggil Dena aja kenapa sih?" sungut Dena.


"D-E-W-A. Dewa. Panggil seperti itu juga" kata Dewa penuh penekanan.


"Aku dapat di resto langganan tuan. Semoga saja tuan Sebastian tak tahu kalau aku belinya di resto" ucap Dewa harap-harap cemas. Tuannya itu sangat detail sekali, urusan kecil aja dia ingat. Semoga kau aman Dewa, batinnya.


"Serahin bik Sumi aja, biar disiapin" tukas Dena. Dan Dewa menyerahkan sebuah box makanan ke bik Sumi. Bahkan dilihat dari packingnya aja, jelas kelihatan kalau makanan itu berasal dari resto mewah.


Bik Sumi masuk apartemen, karena setelah Mutia menyuruhnya untuk membantu bersih-bersih dia telah diberi akses keluar masuk apartemen Sebastian. Begitu juga Dena dan Dewa.


Sebastian turun dari mobil dengan semangat. Digendongnya Langit menuju lift.


"Sayang, jangan cepat-cepat dong jalannya" sergah Mutia berusaha menyusul jalan sang suami.


"Sudah mbayangin bebek goreng yank" tukas Sebastian.


"Hah? Kok ingat saja sih?" ucap Mutia yang telah berhasil menyusul Sebastian yang telah memasuki lift itu.


Dan.....Dor.... Dor.... Dor.... Potongan kertas berhamburan di depan mereka saat pintu lift terbuka. Langit bahkan terkaget tapi begitu melihat dia tertawa sumringah.


"Surprise" ucap Dewa dan Dena kompak.


Mutia tersenyum menanggapi. "Makasih ya" sambut Mutia.


"Hanya itu kak?" tanya Dena.


"Terus aku musti apa, melompat kegirangan gitu?" tukas Mutia.


"Ha...ha... Selamat datang kembali kak Mutia, tuan Sebastian" sambut Dewa diikuti Dena.


Sebastian yang terdiam, tiba-tiba nyeletuk. "Bebek gorengnya dapat?"

__ADS_1


Melihat reaksi Dewa yang terdiam, Sebastian mengulang lagi pertanyaannya.


"Dapat tuan, lagi disiapin sama bik Sumi di dalam" Dena bantu menjawab.


"Oke. Makasih ya" balas Sebastian.


Sebastian dan Mutia telah masuk terlebih dahulu.


Dewa dan Dena masih berdiri di tempat. "Semoga aku selamat kali ini" gumam Dewa.


"Yang tenang, ada kak Mutia di sampingnya" bisik Dena.


Dewa dan Dena menyusul ke dalam. Baru saja hendak duduk.


"Dewaaaaaaa" terdengar teriakan Sebastian dari meja makan. Dewa bahkan sampai terlonjak mendengarnya. Dewa menatap Dena, "Habis gue Den" celetuknya.


"Tarik nafas dalam dulu, baru menghadap tuan" saran Dena.


Dewa melangkah ke meja makan, di mana Sebastian tengah menunggunya.


"Kau beli di mana?" selidik Sebastian. Padahal melihat tampilannya aja, Sebastian sudah tahu makanan itu Dewa dapat dari resto mana.


Dewa menunduk, seakan dihakimi.


"Sudahlah sayang, Dewa kan sudah berusaha. Emang kalau pagi gini juga susah nyari bebek goreng pinggir jalan" ucap Mutia menenangkan sang suami.


"Asisten macam apa kamu, suruh belikan gitu aja nggak bisa!!" Sebastian masih melanjutkan amarahnya.


Dewa masih terdiam di tempat, tidak menanggapi. Berucap satu kata saja bisa panjang urusannya.


"Sekarang habisin semua yang sudah kau beli itu. Aku nggak mau" Sebastian beranjak meninggalkan meja makan.


Mutia merasa suaminya aneh banget, semenjak di bandara tadi. Dewa pun juga merasa begitu, tapi nggak berani berucap.


"Dewa, panggil Dena ke sini. Langit ajak sekalian. Tadi dia datang langsung ke kamarnya" kata Mutia.


"Untuk apa nyonya?" tanya Dewa.


"Makan lah. Dimarahi juga butuh energi untuk mendengarkan" Mutia tersenyum.


"Makasih nyonya" balas Dewa ikutan tersenyum.


Dena dan Langit ikutan berkumpul di meja makan. Demikian juga bik Sumi.


"Dewa...abis ini belikan es campur!!!" teriak Sebastian dari ruang kerjanya.


Dewa menghentikan suapannya.


"Es Campur????? Cobaan apalagi ini Tuhan" gumam Dewa.


๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ


To be continued, happy reading


Kare ikan patin sungguh lezatnya, sudah hari Senin ditunggu vote nya ๐Ÿค—


Salam sehat, banyak cinta untuk readers tercinta ๐Ÿฅฐ


Follow IG othor ya @moenaelsa_


๐Ÿ’

__ADS_1


__ADS_2