WANITA ITU IBU ANAKKU

WANITA ITU IBU ANAKKU
Part 92


__ADS_3

Rencana yang awalnya untuk memberikan kejutan sang istri dengan menggelar pesta pernikahan sekalian, terpaksa dibatalkan oleh Sebastian. Mengingat sang istri yang sedang hamil muda, Sebastian tak mau Mutia kecapekan karena acara yang digelar.


Dewa dan Dena pun ikut kelimpungan karena perubahan mendadak yang diminta oleh sang tuan muda.


Tepuk tangan meriah dari semua yang hadir atas pengumuman resmi yang disampaikan oleh CEO Blue Sky.


Tapi lain halnya dengan Janetra dan Frans yang semakin mengepalkan genggaman tangannya.


Sementara tuan Supranoto saling menautkan alis. Entah apa yang ada dipikirannya saat ini.


Keluarga besar Baskoro ikut naik panggung. Pelukan tuan Baskoro dan nyonya Baskoro yang diberikan kepada Mutia menandakan bahwa wanita cantik itu telah diterima oleh keluarga itu. Langit dan Bintang pun bergandengan tangan.


Banyak yang memberikan ucapan selamat dan mendoakan kepada keluarga baru itu.


Momen itu tak lupa diabadikan oleh para pewarta.


Sebastian juga memberikan kesempatan kepada para wartawan. Dewa mempersiapkan acara jumpa pers dengan baik.


"Bersiaplah sayang. Apabila ada pertanyaan yang sulit dan menyudutkanmu. Aku yang akan menjawabnya" bisik Sebastian saat mereka duduk di hadapan para pewarta itu.


"Setelah apa yang kuumumkan tadi di depan kalian semua, untuk selanjutnya saya harap tidak ada kesalahpahaman lagi. Mutia Arini telah benar-benar menjadi istri sah saya. Kenapa baru saya umumkan, karena saya punya alasan sendiri untuk itu" tegas Sebastian.


Sebagian besar pewarta langsung mengangkat tangan untuk bertanya.


"Baik, tiga pertanyaan dulu" ungkap Dewa memberi kesempatan.


"Terima kasih tuan, saya hanya ingin bertanya kenapa anda begitu yakinnya bahwa putra yang dikandung oleh nyonya Mutia itu putra anda?" pertanyaan pertama.


"Bagaimana anda menemukan mereka setelah sekian lama?" pertanyaan dari wartawan kedua.


"Apa benar karena nyonya Mutia lah anda membatalkan pernikahan anda dengan nona Janetra, yang saat itu nyata-nyata sedang hamil putra anda?" pertanyaan wartawan tiga penuh selidik.


Sebastian menanggapi semua pertanyaan dengan sesungging senyum di bibirnya, sementara tangannya masih menggenggam erat tangan sang istri.


Dengan tenang dia mulai menjawab pertanyaan para pewarta.


"Bagaimana saya yakin jika Langit adalah putra saya, karena Langit sangat mirip denganku saat kecil. Bahkan saat papa saya tuan besar Baskoro mengusulkan untuk melakukan tes DNA, saya tidak menyetujui karena saya sangat meyakini jika Langit adalah putraku" ucap Sebastian dengan tenang.

__ADS_1


Seorang wartawan mangangkat tangan, " Tuan Sebastian, kenapa selanjutnya anda tetap melakukan tes DNA? Padahal anda sudah bilang kalau anda yakin bahwa tuan muda kecil adalah putra anda"


"Oke, saya jawab. Kenapa saya akhirnya memutuskan melakukannya, karena saya ingin anak saya punya perlindungan hukum. Dengan melakukan tes DNA, ada bukti legal bahwa Langit adalah benar-benar putra saya" Sebastian menunjukkan sebuah akta kelahiran sang putra. Di sana tertulis nama anak dan nama kedua orang tuanya lengkap. Bahkan Mutia yang berada di sampingnya nampak terkejut dengan itu.


"Kapan kau mengurusnya?" bisik Mutia.


"Ada dech" imbuh Sebastian dengan tersenyum.


"Untuk pertanyaan kedua, bagaimana saya menemukan mereka? Takdir... Takdirlah yang mempertemukan kami" jawab Sebastian tanpa menceritakan kejadian satu malam yang terjadi antara dirinya dengan Mutia sang istri.


"Maaf tuan Sebastian. Apa benar, anda dan nyonya Mutia melakukan hubungan terlarang sehingga mendapatkan anak di luar pernikahan?" tanya tajam seorang wartawan yang duduk di belakang.


Sebastian memicingkan matanya, menelisik siapa wartawan itu. Dewa yang mendapat kode itu, mengedipkan sebelah matanya ke Sebastian. Sebastian menyuruh Dewa untuk mencari dari media mana yang berani bertanya soal itu. Karena kejadian itu telah ditutup rapat tanpa ada pewarta yang tahu. Kenapa bisa bocor juga.


"Untuk menjawabnya, apa saya perlu ungkapkan aib seseorang? Kalau saya ungkapkan beberapa orang akan terkait" singkat Sebastian.


"Dengan jawaban itu tadi, seolah anda menuduh seseorang telah melakukan kesalahan kepada anda" cecar wartawan itu.


Sebastian tersenyum sinis, "Apa perlu bukti saya perlihatkan? Saya tidak ingin mempermalukan seseorang yang telah merubah jalan hidup saya. Bahkan karena perbuatannya juga, akhirnya saya menemukan sebuah berlian yang sekarang telah duduk di samping saya"


"Dan menjawab pertanyaan yang terakhir tadi, saya tegaskan kembali. Istri saya ini tidak melakukan apa yang kalian tuduhkan. Saya punya alasan tersendiri kenapa saya membatalkan pernikahan dengan putri keluarga Supranoto. Bahkan keluarga Supranoto juga telah menerima alasan pembatalan itu" tegas Sebastian.


Keesokan hari berita tentang Sebastian telah menjadi berita eksklusif dari beberapa media bisnis terkenal.


Dengan mengumumkan resmi pernikahan mereka, Sebastian tentu sudah paham segala konsekuensinya.


"Sayang, jangan kaget kalau nanti Mutia Bakery akan semakin ramai" ucap Sebastian saat sarapan pagi.


"Kok bisa?" telaah Mutia.


"Pasti hari ini akan banyak wartawan yang menunggumu di kantormu" jelas Sebastian.


"Apa karena semalam?" selidik Mutia. Dan Sebastian hanya mengangguk.


"Eh, hampir lupa. Ntar sore kita periksa kandunganmu. Ke prof. Abraham aja, om nya Bara temanku itu" ajak Sebastian.


Mutia beranjak dari duduknya, sedari tadi sebenarnya sudah merasakan mual tapi mencoba menahannya supaya tak muntah. Mutia memuntahkan semua makanan yang dimakannya pagi ini.

__ADS_1


"Nggak usah ke Mutia Bakery. Istirahatlah" tandas Sebastian.


"Tapi nanti aku bosan yank, malah tambah mual nantinya" tukas Mutia.


"Aku temani dech, biar nggak bosan" senyum smirk nampak di wajah Sebastian.


"Langit, ayo diantar Daddy ke bawah. Om Pandu sudah menunggu. Bunda hari ini biar istirahat saja" jelas Sebastian, benar-benar tak membolehkan Mutia untuk bekerja hari ini. Mutia hanya bersungut menanggapi perintah sang suami.


"Bunda, Langit berangkat dulu" pamit Langit beranjak dari duduknya.


"Iya sayang. Maafin bunda nggak bisa ngantar sampai sekolah" ucap Mutia sambil mencium kening sang putra.


Bahkan Langit memeluk sang bunda erat pagi ini, dan menciumi perut bunda nya. "Kakak berangkat dulu ya dik, jagain bunda ya. Jangan buat repot bunda". So sweet kakak Langit, membuat Mutia tersenyum.


Sebastian mengantarkan Langit sampai mobil. Di sana Pandu sudah menunggu dan bersiap mengantarkan sang tuan muda kecil. "Pandu hati-hati ya!" pesan Sebastian.


"Siap tuan" tukas Pandu sambil membungkuk hormat.


Mobil berjalan perlahan. Saat Sebastian hendak balik, tak sengaja bertemu Dena.


"Dena" panggil Sebastian.


"Istriku hari ini tak ke kantor. Dan mulai saat ini biasakan kamu yang pegang Mutia Bakery ya. Biar Mutia bisa fokus dengan kehamilannya" jelas Sebastian.


"Kok begitu tuan? Mana saya sanggup pegang Mutia Bakery dengan banyak cabangnya" Dena masih mencari alasan yang tepat.


"Sanggup kalau kamu belajar. Jika kesulitan, hubungi Dewa" ucapan Sebastian sekaligus perintah yang tak bisa dibantah.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


To be continued, happy reading


secangkir kopi hangat di pagi hari, sebagai teman makan roti # part baru telah hadir di pagi ini, silahkan kalian nikmati 🤗😊


Yukk ramaikan, biar karya ini semakin populer


Follow IG othor juga ya @moenaelsa_

__ADS_1


💝


__ADS_2