
Tak terasa waktu terus berjalan. Obrolan demi obrolan semakin mengakrabkan Mutia dan nyonya Cathleen. "Mutia, ternyata sudah siang nih. Waktunya jemput anak-anak" ajak Catherine. Mutia melihat jam yang terpasang di peegelangan tangannya. "Iya nih kak. Mah, aku pamit dulu. Makasih atas waktunya" pamit Mutia. "Aku yang makasih sekali, sudah kau ajari buat kue. Kapan-kapan gantian mama ngajarin kamu masak yang lain" tandas Mama Cathleen. "Siap Mah....Siap makan" Catherine ikut menimpali.
Catherine dan Mutia yang berada dalam satu mobil, meluncur ke sekolah Langit dan Bintang. "Abis ini aku antar aja ke perusahaan kamu" tukas Catherine. "Kayaknya hari ini aku langsung balik aja kak. Nggak usah repot, aku sama Langit naik taksi aja" tolak halus Mutia. "Kalau nanti kakak pake acara mengantarku, yang ada malah muter-muter nggak karuan" lanjut Mutia. " Bener juga sih...he...he..." Catherine terkekeh. "Oh ya Mutia, kapan-kapan kita bicarakan lagi tentang kue diet yang kamu planing tadi ya? Kayaknya aku minat dech. Ntar aku yang ngomong ke papa nya Bintang, biar mau diendorse..." celetuk Catherine. "Beneran minat kak????? Coba besok akan kubicarakan dengan tim ku" tukas Mutia. "Oke, kamu rapatkan dengan tim manajemen mu. Aku bicara dengan Reno. Mumpung ada peluang kenapa nggak dimanfaatin..he..he..." dan mereka berdua pun tertawa bersamaan. Selama ini Reno memang belum mengijinkan Catherine untuk bekerja, tapi kalau hanya endorsement sebuah produk dan mengunggah di akun sosmed, Catherine rasa tidak akan menyita banyak waktunya.
Mama Cathleen yang telah ditinggalkan oleh Mutia dan Catherine beranjak dari duduknya. Saat masuk tak sengaja berpapasan dengan sang asisten rumah tangga setianya. "Mba, tolong beresi yang di meja sebelah sana ya" ujar mama Cathleen menunjuk ke arah meja dekat kolam renang. "Baik nyonya" jawabnya.
Mama Cathleen menyusul papa Baskoro suaminya yang sedang berada di ruang kerjanya. Suami nya yang sangat betah berjam-jam bila sudah berada di sana.
"Pah, aku mau cerita dech" ucap mama Cathleen duduk di samping papa Baskoro. "Jangan gosip ah, males papa" tolak papa Baskoro. "Ini tentang Mutia" tandas mama Cathleen lagi. "Kenapa Mutia? Sudah mau dilamar sama Sebastian??? Lagian mama juga kan yang semangat mendekatkan mereka???" tandas papa Baskoro. "Haiisssss, papa denger dulu dech baru komen" sungut mama Cathleen yang bahkan sampai punya cucu tetap manja di hadapan suaminya. "Apaan sih, buat penasaran aja???" papa Suryo akhirnya mau menutup buku yang dibacanya. "Nah gitu dong" ucap mama Cathleen semangat.
"Jadi gini Pah, tadi Mutia itu kesini dan buat kue sama mama" mama Cathleen mulai cerita. "Itu sih papa tau" potong papa Baskoro. "Hhmmm denger dulu dong, main potong aja" Mama Cathleen akhirnya menceritakan apa yang dia ketahui hari ini. "Mah, yang punya kalung itu kan ada beberapa. Terus kenapa kalau Mutia punya itu??" papa Suryo hanya geleng-geleng kepala mendengar penuturan istrinya. "Tapi Mutia bilang itu warisan orang tuanya, padahal menurut Sebastian papa kan dengar sendiri keadaan orang tuanya bagaimana" lanjut mama Cathleen. "Kan bisa saja, orang tua Mutia dulu kaya terus jatuh miskin" papa Baskoro masih memberikan jawaban yang rasional. "Tapi benar juga sih apa yang papa bilang barusan" tandas mama Cathleen. "Bentar Pah, coba lihat fotonya" celetuk mama Cathleen. "Bahkan mama sempetin foto??" tanya heran papa Baskoro. "Nggak lah, kayak kurang kerjaan saja. Tadi Catherine sempat selfie bareng bertiga. Coba kulihat sosmednya Catherine" tukas mama Cathleen kembali. Mama Cathleen menscrol layar ponselnya dan menunjukkan foto mereka tadi ke suaminya, "Nih tolong lihat Pah". Sama seperti yang dilakukan mama Cathleen, tuan Baskoro mencoba mengingat siapa yang memakai liontin itu selain Mutia. "Hmmmm...aku ingat Mah siapa yang pakai liontin itu" ucap tuan Baskoro setelah beberapa saat. "Nyonya Supranoto, sewaktu acara lamaran Sebastian". "Ternyata ingatan papa tajam juga kalau mengenai nyonya Supranoto?" sungutnya. Tuan Baskoro diam tanpa menanggapi. Kalau sudah begini bicara salah, diam pun akan salah juga. "Papa hanya kebetulan mengingat saja" ujar papa Baskoro akhirnya mengeluarkan suaranya lagi setelah mereka saling diam. Mama Cathleen manggut-manggut tapi ingatannya masih buram...he...he...."Aku belum terlalu ingat Pa" ungkap jujur mama Cathleen. Tuan Baskoro hanya tertawa menanggapi perkataan istrinya, "Ternyata usia juga berbanding lurus dengan ingatan seseorang" tukas tuan Baskoro semakin keras tertawanya. Mama Cathleen mulai jengkel, pasti endingnya dia juga yang akan kena getahnya. Kena olokan suami tercintanya.
__ADS_1
Saking penasarannya, nyonya Cathleen mencoba browsing tentang liontin yang dipakai Mutia. Sungguh oma-oma kekinian...he...he... Sementara tuan Baskoro kembali menikmati buku yang dibacanya tadi. "Pah...lihat sini dong" colek mama Cathleen. Tuan Baskoro membenahi letak kacamata nya, "Apa lagi????. "Nih, coba papa lihat. Liontin jenis ini ternyata hanya diproduksi sejumlah dua saja. Bermata biru dan merah. Benar-benar limited edition" ujar mama Cathleen. "Kalau Mutia memakai yang bermata biru, berarti satunya bermata merah" mama Cathleen menimbang.
"Terus apa hubungan Mutia dengan keluarga Supranoto itu ya??? Mutia aja bilang tak kenal" mama Cathleen mencoba menghubungkan keterkaitan keduanya. "Mama ini kok aneh, kalau memang nggak ada hubungannya ya jangan dipaksain untuk menghubungkan dong. Mama tadi kan bilang kalau Mutia jelas-jelas tak mengenal keluarga Supranoto" tuan Baskoro menimpali. "Sudah ah, papa mau lanjutin baca". Mama Cathleen manyun.
"Daripada manyun gitu mendingan ambilin kue yang kau buat tadi dong Mah" tutur tuan Baskoro. Mama Cathleen pun beranjak meninggalkan suaminya yang sedang asyik membaca.
Mama Cathleen mengambilkan apa yang diminta suaminya. Seletah menaruh di dekat tuan Baskoro, mama Cathleen hendak meninggalkan tuan Baskoro yang kembali sibuk membaca. "Mah, di sini aja. Mau kemana?" tuan Baskoro mendongak. "Mau nyiapin makan siang. Daripada di sini dikacangin sama papa. Sudah tau aku nggak suka baca" tukasnya. "Bentar aja..sini duduk dekat papa" pinta tuan Baskoro. Mama Cathleen mendekat dan duduk kembali.
"Iya dech, aku cerita sekarang. Mama pasti belum lihat berita kan? Mantan calon besan kita akan menikahkan putrinya dengan Frans Pandjaitan putra dari keluarga Pandjaitan pemilik perusahaan Sejahtera Grub. "What...secepat itu?" tanggap mama Cathleen. Bahkan bukan hanya Sebastian yang merasakan janggal dengan pernikahan itu, ternyata mama Cathleen merasakan hal yang sama. "Papa hanya memberitahu, dan untuk selanjutnya biar menjadi urusan mereka. Tadi aku juga sudah ngasih tau Sebastian. Dia juga nanggapi nya biasa aja. Papa hanya kepikiran putra kita, takutnya seperti yang sudah-sudah. Ternyata anak kita benar-benar sudah move on" tuan Baskoro terkekeh. Begitulah tuan Baskoro akan banyak cerita bila bersama keluarga, tapi kalau sudah di perusahaan senyumnya pun menjadi limited edition. Kebiasaan itu menurun persis ke putra keduanya, Sebastian Putra Baskoro.
Sementara itu Catherine dan Mutia telah sampai di sekolah Langit dan Bintang. "Eh Mutia, kok aku baru kepikiran ya. Kalau nama putra kita kayak terkait gitu" celetuk Catherine dengan tetap fokus memarkirkan mobil mewahnya. "Maksudnya kak?" heran Mutia. "Langit....Bintang...terus nanti kalau punya anak perempuan namanya Bulan atau Wulan gitu" Catherine menimpali. "Oh iya..ya...nama mereka berdua masuk golongan benda-benda di angkasa..ha..ha... Kenapa kita bisa kompak begitu ya? Padahal juga belum kenal waktu itu" ujar Mutia yang baru menyadari ucapan Catherine. Mereka kembali tertawa bersama. "Malah Langit juga kompak tuh kompak juga dengan Daddy nya. Terselip nama Putra kan di tengah namanya Langit. Sebastian juga begitu. Suatu saat di belakang nama Langit harus ditambahi Baskoro" imbuh Catherine. Mutia diam tak menanggapi. "Kok malah diam? Apa karena usulanku barusan?" heran Catherine.
__ADS_1
"Mutia berilah kesempatan Sebastian untuk memperbaiki kesalahannya. Aku rasa dia sudah banyak berubah semenjak mengenalmu dan juga Langit. Aku sebagai kakaknya sangat merasakan perubahan itu" ucap Catherine serius saat ini. "Akan kupertimbangkan kak" tukas Mutia.
"Sudah saatnya Sebastian bertanggung jawab kepadamu dan juga Langit. Sudah saatnya kalian bahagia" lanjut Catherine.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
***To be continued, happy reading 😊
makasih buat yang ngedukung karyaku ini
jangan lupa tuk favoritnya yaahhhh 😊😊😊***
__ADS_1