
Sebastian mengawali hari dengan aktivitas nya di Blue Sky. Setelah seharian kemarin menemani sang istri dengan segala permintaan ngidamnya.
Sebastian baru saja menaruh pantat di kursi kebesaran, saat Dewa masuk ke ruangannya.
"Tuan, kirain nggak masuk lagi hari ini. Apa kabar nyonya Mutia?" Dewa ikutan duduk di depan Sebastian.
"Jangan sok perhatian sama istriku" celetuk Sebastian menanggapi. Dewa tertawa melihat sang bos yang kena sindrome bucin akut itu.
"Apa acaraku hari ini?" tanya Sebastian.
"Semalam sudah ku email kan" tukas Dewa.
"Belum kubaca" ucap Sebastian tanpa rasa bersalah.
Dewa hanya bisa nyengir kuda melihat tingkah bos di depannya. "Baiklah tuan, akan kubacakan lagi agenda hari ini" kata Dewa.
Sebastian mendengarkan apa yang diucapkan Dewa. "Jadi hari ini kita ke kota A, meninjau proyek yang sempat tersendat dulu?" perjelas Sebastian.
"Benar Tuan" sambil mengangguk.
"Kenapa tidak kau beritahu dari kemarin, istriku di rumah sendirian ini" tukas Sebastian sewot.
Dewa hanya bengong, bukannya sudah kuberitahu lewat email. Salah sendiri kenapa tak dibuka. Kok malah nyalahin, gerutu Dewa.
"Kau saja yang berangkat ke sana. Kalau memang tak bisa, undur besok" perintah Sebastian.
"Lho besok sudah ada agenda pertemuan dengan direksi dan semua anak cabang tuan" perjelas Dewa.
"Kalau begitu kunjungan ke kota A, undur dua hari lagi. Nggak urgen kan?" tatap Sebastian.
"Nggak urgen sih Tuan, tapi pemerintah setempat sudah menunggu anda hari ini" lanjut Dewa.
"Kau ini, senang amat dengan birokrasi sih?" sungut Sebastian.
"Ya gimana tuan, kita kan simbiosis mutialisme" Dewa beralasan. Karena anggapan Dewa, proyek bisa lancar bila ikut melibatkan kekuasaan setempat juga. Tapi kadang Sebastian tak mau tau akan hal itu.
"Dua hari lagi saja kita ke sana" Sebastian menimpali dengan keputusan akhir.
"Baiklah tuan" jawab Dewa pasrah dengan keputusan sang bos.
"Dewa, gimana dengan proses peradilan manager Mutia yang di cabang itu?" tanya Sebastian tiba-tiba.
Dewa yang hendak beranjak pun kembali duduk di tempat. "Sudah proses putusan tuan, manager itu kena pasal penggelapan dan pemakai narkoba. Info terakhir dia juga kena pasal pengedar karena barang bukti di TKP yang lumayan banyak" kata Dewa serius.
"Hhmmmm. Ardian?" tanggap Sebastian.
"Sebagai bandar dan pemakai. Tapi untuk Ardian sepertinya ada backing kuat di belakangnya" lanjut Dewa.
"Kok bisa begitu? Apa tuan Supranoto?" Sebastian menautkan kedua alisnya.
__ADS_1
"Tuan Supranoto? Sepertinya bukan Tuan" imbuh Dewa.
"Tapi bisa saja si rubah tua itu terlibat" tandas Sebastian.
"Sejauh ini semua penyelidikan sepertinya tidak mengarah ke tuan Supranoto" tanggap Dewa serius.
"Oke, kita abaikan dulu masalah yang di sana. Anggap saja semua selesai, karena operasional cabang dari Mutia Bakery sudah berjalan normal" Sebastian menyandarkan kepalanya.
Memang benar ucapan nya seperti itu, tapi rasanya masih ada yang mengganjal dalam benak Sebastian.
Dewa beranjak hendak balik ke ruangan. "Wa, ada hal yang akan kubicarakan lagi" Sebastian mencegah kepergian Dewa.
"Asal jangan diajak menggosip pagi-pagi aja tuan" celetuk Dewa sembari menaruh pantatnya lagi.
"Tuan Supranoto semalam datang menemui papa" Sebastian memulai cerita.
Dewa masih menyimak dengan khidmat.
"Dia bilang, hati-hati dengan menantumu" lanjut Sebastian.
"Apa maksudnya?" selidik Dewa.
"Itulah yang harus kau selidiki Dewa. Bahkan dengan yakinnya tuan Supranoto bilang seperti itu ke papa. Pasti dia punya sumber yang terpercaya. Apa waktu penyelidikan kita dulu ada hal-hal yang terlewat?" Sebastian memicingkan mata sembari menerka.
"Bagaimana kalau kita mulai saja dari nyonya Mutia tuan?" usul Dewa.
"Maksudnya? Apa kita harus mencurigai istriku. Mana mungkin seperti itu?" sergah Sebastian. Dia tak menyetujui usulan Dewa.
"Benar juga apa katamu? Tumben loe pinter" Sebastian tersenyum, seakan mulai menemukan jalan awal untuk proses memulai penyelidikannya. Sementara Dewa manyun aja mendengar pujian yang terlihat tidak ikhlas itu.
Ponsel Sebastian berbunyi. My Queen calling. Tangan Sebastian mengisyaratkan untuk Dewa pergi. Dewa pun semakin menggerutu, tadi saja suruh duduk-duduk mulu. Sekarang saat istrinya nelpon langsung suruh pergi. Huft.
"Halo sayang" sapa Sebastian.
"Yank, aku ke kantor ya. Bosan di rumah sendirian" rajuk Mutia.
"Kenapa tiba-tiba. Tadi kan maunya di rumah. Lemes katanya?" tukas Sebastian.
"Tapi sekarang bosan yank, nggak ada yang dikerjain" Mutia semakin merajuk.
"Tapi aku nggak bisa jemput" Sebastian beralasan biar sang istri mengurungkan niatnya.
"Aku sudah nelpon Pandu barusan" ucap Mutia seakan tak mau dibantah.
"Baiklah, tapi tunggu sampai aku datang. Nggak kubiarin Pandu yang menjemputmu" Sebastian mengambil jas yang tadi dia lepas saat tiba.
"Hhmmm, beneran nggak sibuk? Kalau nggak bisa jangan dipaksakan" imbuh Mutia.
"Aku berangkat nih, tungguin" Sebastian menutup panggilan dari Mutia.
__ADS_1
Mutia ternyata telah bersiap, saat Sebastian datang. "Kenapa kau cantik sekali?" tatap heran Sebastian karena sang istri memakai riasan yang lebih tebal dari biasanya.
"Emang aku nggak cantik sebelumnya?" sungut Mutia.
Wah dia salah paham nih, batin Tian. "Bukan begitu maksudku sayang. Kenapa kau hari ini dandan? Kau sudah cantik. Tapi boleh nggak sih riasannya ditipisin" pinta Sebastian.
"Nggak tau yank, bawaannya ingin mulas bibir ini lebih dari biasanya" Mutia terkekeh.
"Apa bawaan orok kali?" Sebastian ikut tertawa.
"Emang mau ngapain ke kantor, Dena kan sudah bisa mengatasi semua" tanya Sebastian saat keluar dari apartemen mereka.
"Hanya ingin membau kue yang baru keluar dari oven" singkat Mutia.
"Hah????" Sebastian melongo heran.
"Bau harum khas nya itu bikin kangen lho sayang" Mutia menggandeng sang suami keluar dari lift.
Sebastian mengecup puncak kepala sang istri.
Sampai di Mutia Bakery, bukannya menuju ruangan biasanya. Mutia langsung ke arah pantry.
"Hhmmmm enaknya" Mutia menghirup nafas dalam-dalam. Sebastian masih berdiri di belakang sang nyonya.
"Kak, Tuan ngapain di sini?" tanya Dena yang menyusul kedatangan mereka berdua.
"Mau menghirup bau kue yang baru keluar dari pemanggang" beritahu Sebastian.
"Hah??????" Dena membego.
"Ingin kue yang mana kak, biar aku ambilkan di depan" Dena menimpali.
"Nggak usah Dena. Aku hanya ingin baunya saja" cegah Mutia.
"Mana ada mencium bau kue bisa kenyang? Kuambilkan ya?" Dena setengah memaksa.
"Nggak usah" Mutia menolak tawaran Dena
"Sayang, abis ini aku ikut ke Blue Sky boleh?" rajuk Mutia. Sebastian mengangguk mengijinkan. Melihat sang istri yang begitu antusias, tak tega Sebastian untuk tidak mengajaknya serta. Meski dengan kesibukan menggunung di kantor.
Setelah puas berada di pantry, mereka keluar dari sana.
Ternyata di lobi depan, seorang Frans sengaja menunggu Mutia.
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
To be continued, happy reading
Kalau haus banyakin minum air putih #Yang sudah ngikutin terus, othor ucapin makasih
__ADS_1
π€π€π€
π