
Sungguh CEO Blue Sky tak berkutik di hadapan CEO Mutia Bakery.
Dewa yang terbahak di antara Mutia dan juga Sebastian langsung saja menghentikan tawanya ketika pelototan tajam Sebastian mengarah padanya. Sebastian meneruskan makannya sampai tandas meski perutnya terasa begah sekarang. "Dad, ayo main lagi!!!" ajak Langit setelah mereka selesai makan. "Hah...???" Sebastian masih mengelus perutnya yang terasa tak nyaman. "Bentar ya daddy ke toilet dulu" pamit Sebastian. Sebastian yang selama ini selalu berpola makan seimbang, rusak gara-gara menu yang disodorkan Mutia. Ternyata perutnya tidak bisa dipaksakan untuk menerima sembarang makanan.
Sebastian bertahan lumayan lama di toilet, sampai akhirnya terdengar ketukan dari arah pintu. "Tuan...pingsan kah?" tanya orang yang sepertinya Dewa. Andai tak sakit perut, pasti Sebastian sudah menendang pintu di depannya. Mana ada orang yang pingsan ditanya, yang ada orang pingsan diperiksa. Gerutu Sebastian.
Kurang lebih sudah tiga puluh menit Sebastian masih betah di sana. Bahkan tubuhnya mulai terasa lemas. Tak hilang akal, Sebastian memanggil Dewa lewat panggilan ponsel. "Wa, lekas ke toilet yang kau ketuk tadi. Kayaknya aku dehidrasi nih, badanku lemas sekali" keluh Sebastian ke Dewa by phone. Dewa yang menerima telpon, "Nyonya aku nyusul tuan dulu" pamitnya. "Susul ya susul aja, pake ijin segala" jawab Mutia ketus. "Kayaknya tuan salah makan nyonya???" beritahu Dewa. "Bukannya kamu yang pesan Wa" seloroh Mutia. "Iya aku yang pesan, tapi nyonya kebanyakan ngasihnya" sahut Dewa tak mau kalah. Langit yang melihat keduanya berdebat sampai gusar melihatnya dan langsung menyusul daddy nya ke toilet.
"Dad...Daddy...." panggil Langit setengah berteriak. Tak ada sahutan. "Daddyyyyyy....." Langit memanggil kembali. Mau mencoba mendobrak, tapi tenaga Langit tak seberapa kuat. Maklumlah masih usia lima mau enam tahun...he...he...
Saat melihat lewat bawah pintu sebuah toilet, Langit melihat Sebastian yang tergeletak. Langit memanggil Dewa yang kelihatannya masih berdebat sengit dengan Mutia.
__ADS_1
"Hentikan....!!!!" tandas Langit di antara mereΔ·a berdua. Mutia dan Dewa pun menoleh ke arah Langit. "Ada apaan?" tanya Dewa. "Om, Daddy pingsan" jelas Langit. "Whatttt?????" ucap Mutia dan Dewa bersamaan. Mereka berdua berlari mengikuti ke mana Langit berlari.
Dewa mendobrak pintu yang terdapat Sebastian di dalamnya. "Hati-hati Dewa, jangan sampai pintu terantuk ke kepala Sebastian" Mutia mengingatkan. "Tadi saja, tuan kau cela terus nyonya. Sekarang malah suruh pelan ndobraknya" ucap Dewa dengan kaki menendang pintu toilet itu. Tapi Dewa tetap melakukan apa yang diperintahkan nyonya Mutia.
Saat pintu terbuka, Sebastian tergeletak dengan beberapa bagian tubuhnya bentol-bentol. Dia juga kelihatan susah bernafas. "Dewa, apa tuan mu ada alergi?" tanya Mutia langsung saat melihat keadaan Sebastian. "Iya nyonya, tuan Sebastian alergi udang sama seafood" terang Dewa. "Lantas kenapa kau tadi pesan makanan yang berbahan itu?" tandas Mutia. "Mana ada?" tolak Dewa yang merasa memang tidak memesannya. Daripada berdebat, Mutia segera mendudukkan tubuh Sebastian. "Heh, kenapa kau malah terdiam, cepat hubungi call darurat. Segera kirim tenaga medis kesini !!!!!" teriak Mutia ke arah Dewa. Sebastian semakin sesak. "Sudah tau alergi, kenapa tetap kau makan saja apa yang kusodorkan. Andai aku tahu, pasti tak kan kuberi kau menu itu Tian. Maaf" gumam Mutia yang bahkan masih terdengar oleh Sebastian.
Tak lama kemudian, tenaga medis yang mereka butuhkan tiba di tempat. Segera mereka memasang infus dan memasukkan beberapa obat injeksi anti histamin untuk meredakan alergi yang diderita oleh Sebastian. Gejala sesak nafas Sebastian mulai berkurang. "Sebaiknya langsung dibawa ke rumah sakit saja, karena alergi yang diderita tuan Sebastian lumayan parah. Selain itu ada tanda dehidrasi juga" saran tenaga medis itu. Heli yang memang stanby dari awal mengantar mereka ke tempat ini, segera membawa Sebastian ke rumah sakit terbesar di kota A itu.
Mutia menoleh dan menatap tajam ke arah Dewa seakan meminta penjelasan. "Nyonya, sungguh aku tadi memesan makanan yang aman buat tuan" jelas Dewa. Saat ini Dewa juga merasa bersalah karena teledor, meski merasa tidak memesan itu. Dewa bahkan menyodorkan nota pembayaran berdasarkan menu yang dipesannya. Ternyata memang benar-benar tidak ada menu yang mengandung udang dan seafood yang lain.
Tapi ya sudahlah, yang penting Sebastian telah membaik. Menurut Mutia. Tapi mungkin akan lain pandangannya kalau Sebastian telah tersadar. Mutia sampai tak menyadari kalau putranya telah tidur pulas di samping daddy nya dengan posisi terduduk. Sabastian terbangun merasakan pergerakan Langit. "Mutia" panggil Sebastian karena saat terbangun dilihatnya Mutia sedang melamun. "Heh??? Iya..." jawab Mutia terkaget. "Maaf ya sudah merepotkanmu" ucap tulus Sebastian. "Aku juga minta maaf, andai aku tau kalau kau alergi seperti Langit" Mutia menimpali. "Hah????" Sebastian terkejut karena Langit putranya juga punya alergi seperti dirinya. Mutia mengangguk sebagai balasan rasa ingin tau Sebastian. "Wa, tolong pindahin langit ke sampingku... Kasihan dia tidur dengan posisi duduk seperti itu" perintah Sebastian. Mutia menoleh ke arah Langit yang memang telah tertidur itu. "Biar di sofa aja" sahut Mutia saat Langit akan dipindahkan Dewa di bed Sebastian. "Mutia, jangan kau bantah... Langit pasti kecapekan. Kalau tidur di sofa pasti tidak akan nyaman buatnya" tolak Sebastian atas permintaan Mutia. Mau tak mau Mutia akhirnya terdiam. Sebastian langsung memeluk serta menciumi putranya, "Maafin daddy ya" Sebastian semakin memeluk erat Langit setelah puas menciumi Langit. Semua itu tak lepas dari pandangan Mutia. Bahkan dalam tidur pun Langit membalas pelukan daddynya itu.
__ADS_1
"Wa, kau selidiki perbuatan siapa kali ini!!!!" perintah tegas Sebastian. "Jangan ada yang kelewat satu pun" tandasnya lagi.
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
to be continued
***makan nasi kucing, sambil dipangku # good morning, my readers'ku πππ
ke Paris, merajut kasih # bagi yang masih di sini, terima kasih ππ
ter-love dech buat semuanya π₯°***
__ADS_1