
"Dewa, Dena aku kira sudah cukup. Silahkan kalian pulang! Tapi kalau kalian mau kencan juga boleh" tutup Sebastian mengakhiri pembicaraan.
"Beneran sudah boleh pulang nih? Ntar baru aja rebahan sudah ada panggilan lagi. Dokter aja kalah sama jam kerja ku" celetuk Dewa.
Sebastian masih memainkan ponselnya. "Pulang nggak!!!" hardiknya.
Terdengar notifikasi di ponsel Dewa dan Dena.
"Makasih tuan...anda bos terbaik" puji Dewa setelah membuka notifikasi tadi.
Demikian juga Dena.
"Biaya buat kalian kencan. Lekas pergilah. Eneg aku lihat kalian, pasti pada belum mandi kan???" usir Sebastian.
"Gini aja bilang eneg, karena sudah beres semua. Ingat tuan, kalau nggak ada kami berdua. Penyelidikan ini nggak bakalan sukses" imbuh Dewa.
"Hhmmm" Sebastian hanya berdehem, sambil mengibaskan tangannya meminta Dewa dan Dena segera keluar dari unit apartemen miliknya.
Dewa dan Dena kompak keluar dari apartemen sang bos. "Sering-sering aja ada tugas luar, biar bonus ngalir terus" ucap Dena ceria.
"Dasar matre" umpat Dewa.
"Apa kamu bilang?" Dena ngegas.
"Matre" perjelas Dewa.
"Heleh...kayak situ nggak aja" ledek Dena.
"Nggak ada uang nggak makan tuan Dewa" lanjut Dena.
"Eh, kamu lapar nggak... Makan dulu yuk di seberang jalan depan apartemen ini" ajak Dewa.
"Beneran???" Dena memegang kening Dewa, "Nggak anget juga" celetuknya.
"Normal tau. Aku nawarin kamu dalam keadaan sesadar-sadarnya" komen Dewa.
"He...he....mau lah. Gratis lagi" Dena terkekeh.
Duo D mulai akur kayaknya...he...he...
Sementara Sebastian dan Mutia masih berada dalam ruang kerja.
"Sayang, aku ke kamar Langit dulu. Mau lihat, sudah tidur belum dia" Mutia beranjak dari duduknya.
"Mau kubuatkan kopi nanti?" tawar Mutia.
"Boleh deh"
Mutia keluar dari ruang kerja. Sebastian kembali menelaah laporan Dewa dan Dena dengan serius.
Motif dari manager dan kepala gudang harus secepatnya kuketahui, pikir Sebastian.
Sebastian mencari kontak teman yang ada di kota S, sosok yang lebih senior dari dirinya. Dan sekarang mempunyai posisi tinggi di lembaga hukum.
"Selamat malam tuan Sebastian. Ada angin apa, tumben menghubungi ku" jawabnya lewat panggilan telepon.
"Apa kabar tuan Bagus?" sapa Sebastian.
__ADS_1
"Alhamdulillah baik. Tuan Baskoro bagaimana kabarnya?" tukasnya.
"Papa baik dan sehat. Begini tuan Bagus, anda tentu sudah dapat laporan kalau ada penggerebekan sebuah pesta narkoba di sebuah apartemen itu kan?" ulas Sebastian.
"Benar. Apa terkait dengan anda Tuan?" selidik tuan Bagus.
"Benar tuan, salah satu orang yang ditangkap oleh anggota anda adalah manager dari orang terdekat saya" akhirnya Sebastian menjelaskan tujuannya menelpon tuan Bagus. "Siap tuan Sebastian, paling lambat besok pagi kupastikan anda sudah menerimanya" ulas tuan Bagus.
"Baik. Terima kasih tuan Bagus" Sebastian menutup panggilan. Bahkan Sebastian juga meminta kepala gudang dijebloskan ke penjara berdasar laporan Dena selaku perwakilan dari Mutia Bakery. Perusahaan yang telah dirugikan langsung oleh ulah kepala gudang dan managernya.
Mutia masuk kembali dengan membawa secangkir kopi pahit, seperti permintaan Sebastian sebelumnya.
"Makasih sayang" Sebastian masih fokus dengan laptop di depannya.
"Apa seperti ini kegiatanmu tiap malam yank?" tanya Mutia.
"Nggak juga.. Kubelain lembur-lembur gini biar Minggu depan kita bisa honeymoon tanpa diganggu Dewa" tukas Sebastian.
"Langit gimana ntar?" Mutia duduk di samping suaminya.
"Oma dan Opa nya lah. Pasti kedua orang tua itu sangat senang, mansionnya jadi ramai" imbuh Sebastian.
"Antar jemput juga sudah ada Pandu. Apalagi yang kau pikirkan?"
"Kalau ku kangen. Aku kan nggak pernah jauh-jauhan dengan Langit selama ini?" seloroh Mutia.
"Kita kan pergi cuma semingguan. Nggak usah kuatir, Langit pasti baik-baik saja" hibur Sebastian.
Mutia lama-lama tertidur nungguin Sebastian di ruang kerja.
Sebuah notif pesan masuk ke email Sebastian. Sebuah pesan yang terenskripsi. Sebastian buka setelah memasukkan pasword. Ternyata laporan hasil penyelidikan kasus tadi. Sebastian semakin berpikir, karena untuk menangkap orang itu hanya ada bukti tak langsung.
Dia rebahkan tubuhnya di samping Mutia yang telah tertidur pulas.
"Kau pasti lelah" belai Sebastian di kepala istrinya. Dia kecup kening sang istri. "Harusnya kau di rumah saja, karena kamu adalah tanggung jawabku sekarang. Tapi apa kau mau? Sebelum menjadi istriku bahkan kau sudah membanting tulang, sehingga perusahaan yang kau dirikan semakin berkembang" gumam Sebastian di tengah malam itu. Dia rengkuh tubuh sang istri dalam pelukan, dan disusulnya Mutia yang sudah terbuai mimpi.
Pandu sudah bersiap di basement apartemen pagi harinya. Menunggu sang nyonya bos turun. Tak lama keluarga kecil itu telah nampak di lobi apartemen.
"Pagi tuan, pagi nyonya, pagi tuan kecil" sambut Pandu.
"Pagi juga" tukas Mutia.
"Langit, jadi barengan Bunda?? Daddy mau ada rapat pagi dengan om Dewa" jelas Mutia. Langit pun mengangguk.
"Oke Dad, Langit berangkat" tak lupa tuan kecil itu cium tangan Daddynya. Demikian juga sang istri melakukan hal yang sama dengan putranya.
"Hati-hati Pandu. Nggak usah cepat-cepat bawa mobilnya" pesan Sebastian. Pandu membungkuk hormat.
Mobil Sebastian tetap mengiringi di belakang mobil Mutia. Baru mendahului saat Pandu belok ke sekolah Langit.
"Anak ganteng bunda, belajar yang rajin ya di sekolah" pesan Mutia.
"Siap bunda cantik istrinya daddy tampan" tukas Langit.
Rona kemerahan di pipi Mutia. Siapa juga yang ngajarin Langit, batin Mutia. Pasti lah Daddy Sebastian.
"Nanti yang jemput Om Pandu ya, langsung nyusul bunda. Bye Langit"
__ADS_1
"Bye bunda" Langit berlari masuk ke kelasnya. Senyum simpul di bibir Mutia. Hidupnya berasa sempurna sekarang. Kehadiran Sebastian lah penyempurnanya.
Sebastian yang telah sampai di perusahaan disambut Dewa yang juga baru datang di lobi. Mereka melangkah beriringan menuju lift khusus untuk naik ke lantai teratas di mana ruangan mereka berdua berada.
"Dewa, kasus kemarin kayaknya tidak hanya berhenti di manager dan kepala gudang dech. Meski mereka benar pelakunya, tapi ada motif lain di balik itu" kata Sebastian saat mereka di lift.
"Sudah dapat informasi valid?" tukas Dewa dan Sebastian mengangguk. "Baru ada bukti tak langsung".
"Hhmmmm...motifnya?" penasaran Dewa.
"Menjatuhkan sang pemilik perusahaan, dan dimulai dari cabang. Karena mereka anggap disana cabang terbaru, pastilah manajemennya belum terlalu kuat daripada cabang lain" Sebastian keluar lift dan langsung masuk ke ruangannya.
Tapi Sebastian masih mendengar perkataan Dewa yang menyapa sang sekretaris, "Eh, kesambet setan dari mana loe? Penampilanmu aneh banget hari ini. Tapi lebih baik gini juga sih, tidak mengundang banyak setan di ruangan ini" Dewa terbahak pagi-pagi.
Sebastian menghela nafas melihat berkas-berkas yang menumpuk di atas meja. Sebastian mulai yang lebih dekat dari jangkauannya. Baru saja mulai, sebuah notifikasi pesan masuk ke ponselnya. "Nyonya "A" mendapatkan sebuah dana yang lumayan besar baru-baru ini tuan. Kami masih menyelidiki sumber dana yang didapatnya. Kalau teman yang satu komplotan saya yakinkan kalau dia hanya menjalankan perintah dari manager dengan mendapatkan imbalan" bunyi pesan itu. "Baiklah, terima kasih atas segala kerjasamanya" balas Sebastian.
"Tinggal menunggu siapa di balik transferan dana itu" gumam Sebastian. Sebastian kembali melakukan aktivitasnya. Berpacaran dengan berkas-berkas yang semuanya ingin dilihatnya satu persatu hari ini.
Sementara Mutia yang barusan datang, langsung ke pantry setelah menaruh tas di ruangannya.
Mutia ingin memastikan kalau semuanya sudah beres. Tidak hanya beberapa pesanan wedding cake, tapi juga orderan yang lain yang kuotanya besar. Dena menghampiri sang bos. "Untuk nyonya Martha gimana kak?"
"Tuh lihat yang di ujung itu" tunjuk Mutia ke arah wedding cake yang termewah di ruangan itu.
"Bagus ya kak?" celetuk Dena.
Mutia menyentil kening adiknya itu, "Lebay, kayak belum pernah lihat aja"
"He...he..." kekeh Dena.
"Kak, urusan mba Ana gimana?" tanyanya penasaran.
"Sudah ditangani suamiku" tukas Mutia.
"Ciee...cie...mentang-mentang yang bersuami" ledek Dena.
"Kamu juga akan punya suami. Dewa kayaknya siap dech" goda Mutia.
"Kalian kelihatannya semakin kompak aja" tandas Mutia.
Dena semakin manyun diledekin Mutia.
Mutia kembali ke ruangan setelah puas melihat hasil tim produksi barusan. "Hah...alhamdulillah semua tinggal kirim ke tempat acara masing-masing" gumamnya.
"Sayang, besok kuajak ke undangan keluarga Supranoto" bunyi pesan Sebastian. Keluarga Supranoto? Bukankah itu keluarga dari nyonya Martha. Berarti suamiku mengajakku ke pestanya Janetra. Hmmm aku harus mempersiapkan sebaik mungkin batin Mutia. Karena pertemuan yang terakhir dengan nyonya Martha, sangatlah tidak mengenakkan hati.
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
To be continued, happy reading
Rabu Kamis, sesudahnya adalah hari Jum'at # like, komen, vote yang manis, buat othor semangat
Push up olahraga buat lengan #sempatin up di tengah sibuk kerjaan
Makasih buat semua yang sudah nungguin up nya othor
Follow juga IG othor
__ADS_1
@moenaelsa_
π