
"Mutia berilah kesempatan Sebastian untuk memperbaiki kesalahannya. Aku rasa dia sudah banyak berubah semenjak mengenalmu dan juga Langit. Aku sebagai kakaknya sangat merasakan perubahan itu" ucap Catherine serius saat ini. "Akan kupertimbangkan kak" tukas Mutia.
"Sudah saatnya Sebastian bertanggung jawab kepadamu dan juga Langit. Sudah saatnya kalian bahagia" lanjut Catherine.
"Biarkan Sebastian ikut menanggung kesalahannya dengan mempertanggungjawabkan perbuatannya dulu. Meski itu juga tidak benar-benar murni kesalahan Sebastian" Catherine tetap melanjutkan bicaranya. "Aku tahu kak. Sebastian juga sudah menceritakan kepadaku meski hanya sekilas" Mutia menanggapi.
"Baguslah kalau begitu" tukas Cattherine membuka pintu mobil karena mendengar bel tanda pulang sekolah telah berbunyi.
"Ayo kita susul mereka ke kelas" ajak Catherine. Kedua wanita cantik itu pun berjalan beriringan menuju kelas anak-anaknya.
"Bunda...." "Mama...." kedua anak laki-laki itu bersamaan memanggil bunda dan mama nya. "Bunda, tadi di kelas diajarin melipat kertas. Ni aku buat burung" cerita Langit menunjukkan hasil pembuatan origami. "Wah, bagusnya....terus ini kepalanya kok sembunyi???" puji Mutia untuk usaha putranya, meski kepala burung dari kertaa lipat itu tak terlihat. "Itu karena burungnya sedang tidur bun, jadi kepalanya disembunyikan" bela Langit. "Ooooo begitu ya....???" Mutia membiarkan putranya berimajinasi sesuai usia dan tidak menyela. Dia tahu Langit putranya pasti sudah berusaha sebaik mungkin membuat burung dari kertas lipat. "Bintang buat apaan?" Mutia menoleh ke Bintang. "He...he...Bintang buat kapal aunty, tapi karena kapalnya karam duluan jadinya kayak gini" tunjuk Bintang ke kertas lipat yang sudah tak berbentuk itu. Catherine hanya ketawa melihat kelucuan putranya itu. Bintang memang tidak begitu minat dengan hal-hal yang seperti itu. Tapi kalau aktivitas yang memerlukan fisik, Bintang pasti antusias. Karena sangat memahami itu, Catherine mengikutkan Bintang les renang dan taekwondo. Kalau Langit, jangan ditanya. Renang agak lama saja bisa berakibat demam tinggi. Setiap anak punya keistimewaan masing-masing. Eh, kok malah kayak bunda PAUD nih..pissss ah...beliau-beliau yang lebih paham pastinya.
__ADS_1
"Mutia, aku dan Bintang duluan ya. Maaf nggak bisa nganterin" ujar Catherine. "Nggak papa kak, ni aku sudah pesan taksi online" jawab Mutia sambil menunjukkan aplikasi pemesanan kendaraan online itu. "Oke..hati-hati ya kalian" pesan Catherine. "Bye Langit, ntar kalau uncle Sebastian sudah datang kita ke apartemen nya lagi yaaa" Bintang melambaikan tangan dengan kaca mobil yang masih terbuka sebagian. Langit mengangguk dan tersenyum ke arah Bintang.
Mutia menggandeng Langit menuju mobil yang nopol nya tertulis di aplikasi pemesanannya. Mobil sejuta umat, tapi masih kelihatan terawat "Selamat siang, dengan nyonya Mutia?" tanyanya. "Iya kak, langsung apartemen royal kak" jawab Mutia. "Baik nyonya" angguknya sopan. Mobil melaju perlahan, kemacetan siang ini tidak begitu parah. Ponsel Mutia bergetar dalam tasnya. "Bun, ada yang nelpon tuh" beritahu Langit. "Eh iya, aunty Dena" Mutia menerima panggilan Dena. "Kak, nggak ke perusahaankah?" tanya Dena. "Aku langsung balik nih. Kalau mau ke situ nanggung" jawab Mutia. "*Hanya info aja kak, tadi tuh ada yang pesen buat wedding git*u. Tapi sungguh kak, belibet banget permintaannya. Aku belum mengiyakan sih. Katanya besok mau balik. Jadi kakak besok harus ada di tempat" curhat Dena. "He...he....pelanggan adalah raja. Ingat itu Dena" Mutia terkekeh. "He...he...emang benar sih kak. Tapi kalau cerewetnya ngalahin nenek lampir, aku nggak sanggup dech" celetuk Dena. "Ya sudah, besok biar sama aku saja" jawab bijak Mutia. "Kakak ku yang satu ini memang terlope dech, udah cantik, bijaksana sama kurang apa ya??? Hmmmmm......." sahut Dena sengaja menggantung perkataannya lagi. "Kurang apa?" sela Mutia. "Kurang pendamping hidupnya...ha...ha..." imbuh Dena dan tertawa di seberang sana. "Apaan bun pendamping hidup??? Kan sudah ada Langit yang mendampingi bunda" sela Langit yang tak sengaja mendengar perkataan Dena. "Tuh kamu dengar kan Langit bilang apa? Jadi hidupku sudah lengkap tau" seloroh Mutia merasa menang karena pembelaan Langit. Sementara Dena hanya tertawa mengimbangi ucapan Mutia. "Ya sudah kak, besok kalau nyonya alay itu datang lagi kakak yang musti ngadepin" kata Dena mengakhiri panggilan telponnya.
Mutia menghela nafas panjang. Selama ini memang dirinya lah yang terjun langsung ke lapangan terutama pelanggan-pelanggan yang sulit. Mutia bahkan tak bisa menghitung hinaan dan celaan yang diterima olehnya. Hinaan dan celaan dianggapnya sebagai cambuk untuk meraih sukses. Hal itu memang terbukti benar. Nyatanya Mutia sukses dengan menjadi pengusaha menggunakan kaki sendiri. Mutia sampai tak sadar kalau mobil yang ditumpanginya telah berhenti di basement apartemen yang dihuninya. "Nyonya, sudah sampai" ucap driver taksi online itu. "Eh iya, makasih kak. Sudah kubayar lewat aplikasi ya. Bisa di cek" tukas Mutia tersenyum. "Baik nyonya, sudah masuk. Jangan lupa kasih bintang lima ya nyonya" harapnya. "Baiklah..akan kukasih bintang lima. Sekali lagi makasih kak" Mutia turun menggandeng Langit.
"Siang nyonya Mutia, tumben nggak bawa kendaraan sendiri" sapa ramah satpam apartemennya. "Siang juga pak. Iya, mobilnya tadi dibawa Dena. Mari pak, saya duluan" senyum ramah selalu menghiasi wajah Mutia.
"Bun, Daddy emang pergi berapa lama?" Langit masih penasaran. "Bunda juga nggak tau Langit, Daddy cuma bilang kalau urusan di luar kota selesai baru pulang" jelas Mutia. "Lama dong" terdengar nada kecewa Langit. "Makanya Langit berdoa, semoga segala urusan Daddy di sana dilancarkan. Biar Daddy cepet ketemu Langit" jelas Mutia penuh kesabaran. "Siap bunda cantik" jawab Langit mulai bisa tersenyum.
Langit tertidur setelah makan siang dengan menu favoritnya, ayam goreng. Kali ini bik Sumi menambahkan sayur sop untuk pelengkap lauk makan siang Langit. "Makasih bik. Aku ke ruang kerja dulu sebentar. Tolong kalau Langit terbangun ya" pesan Mutia. "Iya" jawab singkat bik Sumi yang sibuk membersihkan meja makan.
__ADS_1
Mutia kembali membuka buku-buku rekomendasi untuk membuat kue-kue kekinian. Dia juga serius membukan tab nya untuk mencari sumber-sumber terpercaya tentang pembuatan menu-menu bagi para lansia dan juga penderita penyakit khronis. Mata Mutia tertuju ke salah satu menu diet penderita Diabetes Mellitus. "Hmmm, bahkan untuk menu satu penyakit ini saja sudah banyak sekali macamnya" gumam Mutia. "Apa aku perlu merekrut dietisien dan ahli gizi ya khusus buat mengembangkan ini" Mutia berpikir. "Prospek ke depan kayaknya bagus, apalagi kalau bisa bekerjasama dengan rumah sakit. Jadi pasien yang sudah pulang bisa kita rangkul untuk kelanjutan progres dietnya. Tapi kok kayaknya ribet banget sih?" Mutia masih menimbang. "Apa aku buat saja dengan pangsa pasar orang yang suka ngemil tapi takut gemuk...seperti diriku..he..he..." Mutia bahkan menertawakan dirinya sendiri. Kue-kue low kalori dengan bahan kentang atau tepung jagung, low sugar. Bisa nggak ya? Memikirkan hal itu membuatnya tertidur di ruang kerja.
Mutia terbangun saat hari menjelang sore. Bahkan Dena telah sampai. "Ciee yang baru ketemu camer pules amat tidurnya " godanya. Mutia menimpuk Dena dengan sebuah bantal di didekatnya. "Langit mana?" tanya Mutia yang belum menemukan keberadaan Langit. "Di kamar tuh, sedang mandi sama bik Sumi" Dena menanggapi. "Oooooo..." tukas Mutia dan berjalan ke arah kamarnya.
Ponsel Mutia berdering saat sedang menonton televisi bersama Langit. Acara apa yang dilihat, pastinya film kartun dengan dua anak-anak laki-laki lengkap dengan bahasa Melayunya. Mutia meraih ponselnya, Daddy Langit memanggil. Mutia menerima panggilan video itu. "Assalamualaikum" sapa Sebastian di seberang. "Waalaikumsalam" jawab Mutia yang nampak malu berhadapan langsung dengan wajah tampan itu. Tiba-tiba Langit sudah berada di belakang Mutia. "Halo Daddy, kapan pulangnya???" Langit bertanya sama persis yang ditanyakan ke Mutia siang tadi. Langit pun mulai menguasai ponsel bunda nya. "Iya, doakan urusan Daddy di sini cepat selesai ya. Jadi Daddy bisa segera pulang" jawab Sebastian. "Daddy sama bunda kok kompak sekali. Tadi siang bunda juga jawab persis kayak Daddy" tukas Langit memanyunkan bibirnya. Bahkan mereka berdua berlanjut ngobrol seakan Mutia tidak berada di sana. Sungguh mereka ya, batin Mutia. Mau geregetan tapi Langit putranya dan Sebastian adalah daddy nya Langit. "Bun, daddy mau bicara" Langit tiba-tiba menyodorkan ponselnya. "Aku hanya ingin bilang, kalau aku balik tolong luangkan waktu. Aku ingin benar-benar bicara sama kamu" Sebastian dengan mimik serius. "Akan aku usahakan" jawab Mutia singkat. Langit pun mengakhiri panggilan telepon dari daddy nya itu.
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
To be continued, happy reading
Jangan lupa like, komen, vote, favorit yang semakin membuatku semangat up nih...π€
__ADS_1