WANITA ITU IBU ANAKKU

WANITA ITU IBU ANAKKU
Part 41


__ADS_3

"Wa, kau selidiki perbuatan siapa kali ini!!!!" perintah tegas Sebastian. "Jangan ada yang kelewat satu pun" tandasnya lagi.


"Ada yang mau main-main denganku" gumam Sebastian tapi masih terdengar oleh Mutia. Mutia sampai begidik ngeri. Ada apa dengan lelaki di depannya ini? Pikir Mutia.


Sementara Sebastian juga sibuk dengan pikirannya sendiri. Bagaimana bisa orang itu tau kalau dirinya alergi udang dan juga seafood. Bahkan dirinya akan menunjukkan gejala alergi meski hanya makan seujung kuku bahan-bahan itu. Tapi siapa? Hanya orang terdekatnya yang tau akan hal itu. Pikiran Sebastian masih sibuk menerka-nerka.


"Tuan, saya pergi dulu ke resto yang tadi" pamit Dewa yang melihat tuannya melamun. "Akan kumulai darisana" seloroh Dewa. "Oke, lekaslah. Jangan sampai berlarut-larut!!!" tegas Sebastian. Dewa keluar dari ruang perawatan Sebastian.


"Apa musti sebegitunya?" sela Mutia. "Maksudnya?" Sebastian yang hendak memeluk Langit kembali menoleh ke arah Mutia. "Aku kira itu hanya faktor ketidaksengajaan saja" kata Mutia. "Bagiku tidak" tandas Sebastian.


"Kamu belum tahu bagaimana kejamnya dunia bisnis yang sebenarnya Mutia" terang Sebastian. "Jangan kau kira omset perusahaanmu yang beberapa hari menurun kemarin itu hanya karena efek pemberitaan saja. Tidak. Itu semua ada yang bermain di sana" Sebastian menambahkan.


"Seorang pengusaha, kejujuran itu yang utama. Tapi tidak boleh lengah sedikitpun, meski itu rekan bisnis kita sendiri" tegas Sebastian kembali. Padahal dibalik bangkitnya Mutia Bakery ada campur tangan Blue Sky, tapi Sebastian tidak menyinggung hal itu sama sekali.

__ADS_1


"Mutia, maaf abis ini aku akan memberi pengawal ke Langit dan juga kamu" ujar Sebastian. Padahal sebelumnya dia sudah mempunyai suruhan untuk mengawal Mutia dan juga Langit. "Untuk?" tanya Mutia. "Kamu ingat waktu kamu mengadakan konferensi pers untuk penyangkalan dulu?" tukas Sebastian. Mutia mengangguk. "Waktu itu kan aku bilang kalau Langit adalah putraku. Secara tidak langsung aku telah mengumumkan bahwa Langit adalah penerusku" tambah Sebastian. "Terus???" Mutia melanjutkan tanyanya. "Otomatis rival-rival bisnisku bisa saja menjatuhkanku dengan memakai Langit. Aku ingin Langit aman, termasuk dengan bundanya" ada sedikit rayuan di kata-kata yang diucapkan oleh Sebastian itu. "Haisssss, semenjak kenal denganmu, hidupku sungguh tak tenang" gerutu Mutia sambil pindah duduk di sofa.


Sebastian tertawa mendengarnya dan kembali memeluk Langit yang tertidur lelap. "Istirahatlah!!!!" suruh Sebastian lembut ke arah Mutia. Tak berapa lama, terdengar dengkuran halus nafas Mutia. Sebastian memandangi wajah anggun nan teduh yang sedang tidur nyenyak itu.


Ponsel Sebastian berdering, Dewa calling. "Halo Wa..." sapa Sebastian berbisik karena tidak mau mengganggu istirahat Mutia dan Langit. "Tuan, aku sudah menginterogasi pelayan dan juga chef yang ada di resto ini" ucap Dewa ikutan berbisik seperti yang dilakukan Sebastian. "Terus?" imbuh Sebastian. "Kalau chef aman tuan, aku sudah lihat rekaman cctv di dapur resto. Tinggal pelayan yang belum mengaku" cerita Dewa. "Ancam saja, masukkan penjara kalau perlu. Dia sudah membahayakan nyawa orang. Untung Langit tidak ikutan makan" sanggah Sebastian. "Kayaknya targetnya kali ini hanya anda tuan" tukas Dewa. "Benar, tapi sebaiknya kau tambahkan orang lagi untuk mengawal Langit dan Mutia. Kita tidak boleh lengah" tegas Sebastian kembali. "Hari ini harus beres Wa. Besok kita kembali ke kota J!!!!" tandas Sebastian kembali. Dewa hanya garuk kepala mendengar perintah tuan yang tak terbantahkan itu.


Pagi-pagi Dewa sudah berada di rumah sakit untuk melaporkan hasil penyelidikannya. "Tuan, ternyata dugaanmu tidak ada yang salah" puji Dewa. Mutia yang sedang menyuapi Langit makan, mau tak mau ikut mendengar juga apa yang disampaikan Dewa. "Siapa orangnya?" tegas Sebastian. "Pelayan itu tidak mengenali orang yang menyuruhnya karena tidak pernah bertemu langsung. Dia hanya mendapat perintah lewat pesan ponselnya" jelas Dewa. "Jebloskan saja dia ke penjara, biar ada efek jera!!!!" perintah Sebastian. Mutia beranjak, "Langit kita makan di taman rumah sakit aja yuk!!!" ajak Mutia. " Di sana ada mainan prosotan loh" imbuh Mutia dengan berbisik biar Langit tidak ikut mendengar apa yang dibicarakan oleh kedua laki-laki dewasa itu.


"Mau ke mana kalian?" tanya Sebastian menelisik. "Ke taman Dad" tukas Langit. "Bosan ndengerin Om Dewa bercerita" ucap Langit ikut beranjak mengikuti langkah bunda nya.


"Wa, jangan kau bilang kalau keluarga Supranoto ada di balik semua ini" tatap tajam Sebastian ke arah Dewa. "Tapi kita tidak punya bukti kuat tuan" tukas Dewa. Insting tuan Sebastian memang Te-O-Pe. Batin Dewa. "Setidaknya kita tau sapa dalangnya. Belum jera juga mereka" umpat Sebastian. "Betewe kok Tuan bisa menebaknya?" tanya Dewa daripada penasaran. "Hmmmm..sudah kuduga. Pasti loading otakmu" sindir Sebastian. Dewa tersenyum kecut. Sungguh tuannya itu kalau menghina memang tidak tanggung-tanggung. Pasti langsung jleb di hati.


"Perlu kujelaskan???" ujar Sebastian. Dewa hanya mengangguk karena benar-benar tak mengerti.

__ADS_1


"Dewa, siapa saja yang tau kalau aku ada alergi semacam itu?" Sebastian balik nanya ke Dewa. "He...he....sekarang aku tau tuan. Nggak usah dilanjutkan ceritanya. Karena yang tau masalah alergi itu hanya keluarga Baskoro, aku dan juga Janetra anak tuan Supranoto" imbuh Dewa. "Tapi kan bisa saja yang melakukan kemarin nona Janetra bukan tuan Supranoto" lanjut Dewa. Sebastian menjitak kening Dewa, "Aku kan bilang keluarga Supranoto tadi, jadi bisa saja yang melakukan Janetra atau tuan Supranoto sendiri" jelas Sebastian melangkah menjauhi asistennya itu untuk mencari keberadaan Mutia dan Langit.


Sebenarnya Sebastian tidak pernah menceritakan alerginya kepada siapapun. Bahkan kepada Janetra yang waktu itu menyandang sebagai kekasihnya pun juga tidak dia beritahu. Hingga ada suatu kejadian seperti kejadian kemarin, alergi Sebastian kambuh saat sedang bersama Janetra. Jiwa muda yang menggebu, ingin mencoba makanan yang bahkan dirinya tau kalau itu menyebabkan alergi tetep saja Sebastian makan. Apalagi saat itu, mata Sebastian tertutup oleh cintanya kepada Janetra.


Sebastian menemukan Langit yang sedang mainan di taman rumah sakit. "Langit, bunda di mana? Ayo, Daddy sudah boleh pulang nih" ajak Sebastian. Langit melihat sebuah plester putih yang menempel di punggung tangan daddynya. "Beneran Dad?" tukas Langit. Sebastian mengangguk. "Yeeiiiii..." sahut Langit dengan gembira. Mutia menghampiri mereka. "Kok sudah di sini?" ucapnya. Sebastian menggandeng tangan Mutia dan menggendong Langit, "Saatnya pulang"


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


***To be continued


Happy reading


Like, komen, vote...hadiah..bahkan secangkir kopi juga boleh...

__ADS_1


Smoga suka 😊😊😊😊😊***


__ADS_2