WANITA ITU IBU ANAKKU

WANITA ITU IBU ANAKKU
Part 113


__ADS_3

Kalau iya, apa ada kemungkinan namanya Opa tadi adalah Baksono Winardi????? Pikir Sebastian.


Sebastian masih berpikir sambil melajukan mobilnya.


"Sayang, aku lapar" Mutia menoleh ke sang suami yang lebih banyak terdiam.


"Sekarang ngidam apa lagi bumil cantikku?" tukas Sebastian.


Mutia tertawa. Suaminya begitu menggemaskan sekarang.


"Seblak" imbuh Mutia.


"Seblak????" kernyit alis Sebastian.


"Ha...ha....pasti nggak tau seblak itu apa" tandas Mutia terbahak.


"Apaan itu?" Sebastian benar-benar tak tahu makanan yang disebutkan sang istri.


"Langsung ke jalan Pandan aja yank, di sana ada yang jualan" pinta Mutia.


"Baiklah" Sebastian membelokkan arah mobil ke jalan yang disebutkan sang istri.


"Langit hari ini pulang jam berapa?" tanya Tian.


"Sore mesthinya. Abis istirahat siang, Pandu sudah kuberitahu untuk mengantarkan Langit les bola" terang Mutia.


"Kalau gitu kabarin Pandu, kita aja yang jemput Langit nanti" imbuh Tian.


"Depan kanan itu yank penjual seblaknya" tunjuk Mutia.


"Putar balik dong?" seloroh Sebastian.


"Nggak juga nggak apa-apa. Aku yang nyeberang jalan aja" kata Mutia.


Tapi mana rela Sebastian membiarkan itu. "Putar balik aja" tukasnya.


Mutia turun dari mobil berjalan ke arah penjual seblak.


"Jangan-jangan itu juga penjual langganannya?" gumam Tian.


Saat hendak menyusul sang istri, ponsel Tian berdering. Dewa lagi yang menelpon.


"Tuan, beneran nggak ke Blue Sky?" tanya Dewa dengan wajah melas minta dikasihani.


"Enggak" Sebastian terkekeh.


"Gini amat ya nasib anak buah" keluh Dewa.


Sebastian semakin terbahak melihat ekspresi itu.


"Kalau gitu, aku nanti ke apartemen. Minta tanda tangan" potong Dewa dengan cemberut.


"Tidak menerima tamu" canda Sebastian.


"Tuan Sebastian, hari ini anda sungguh merepotkan diriku" serius Dewa.


"Kalang kabut dengan segala rapat yang tak kau datangi. Tuan Dika juga sedang menunggu persetujuan dari anda tentang proposal pengajuannya yang kemarin" lanjut Dewa.


"Ceritanya kau mau curhat? Curhat aja ke rumput yang bergoyang" imbuh Sebastian dengan kata konyolnya.


"Terus kelanjutan panti jompo itu gimana?" sela Tian.


Dewa menepuk jidatnya, "Sungguh terlalu kau Tuan" umpat Dewa lirih.

__ADS_1


"Ha...ha...kau mengumpat?" seloroh Tian.


"Oke, kutunggu kau di apartemen" Sebastian menutup panggilan Dewa dan menyusul keberadaan sang istri.


"Sudah belum sayang?" tanyanya.


"Belum, masih antri" Mutia meringsek maju.


"Bang, seblaknya seporsi aja. Level lima ya!" sebut Mutia.


"Kok cuman satu?" Sebatian berujar.


"Kamu mau?" tukas Mutia.


"Heem" gumam Tian.


Mutia akhirnya memesan bebarapa bungkus lagi karena sang suami bilang kalau Dewa mau mampir ke apartemen.


Istri CEO Blue Sky kedapatan membeli seblak pinggir jalan. Kalau ada berita seperti itu pasti akan trending...he...he...


.


Ternyata Dewa datang bersama Dena. Sebastian yang sedang berenang, disusul oleh Dewa. Sementara Dena memghampiri Mutia yang sedang menata seblak di meja makan.


"Wow...seblak jalan Pandan kah?" sebut Dena.


"Kok tahu?" picing netra Mutia.


"Tahu lah kak, lihat tampilannya saja aku tau kalau itu seblak jalan pandan" Dena terkekeh.


"Kakak yang ngidam atau tuan Sebastian yang sekarang ngidam?" tutur Dena.


"He...he..." Mutia hanya terkekeh menanggapi.


"Kak, tadi kubawaain kue. Tadi sih masih hangat baru keluar oven" imbuh Dena.


Mutia membuatkan segelas minuman hangat untuk sang suami.


"Mana rotinya Dena?" panggil Mutia.


Dena kembali ke meja makan, dan memotong-motong kue.


Saat Mutia hendak mengantarkan minuman hangat dan beberapa potong roti ke kolam renang, "Kak, kok minumnya cuman satu? Dewa ada di sana loh" selorohnya.


"Kamu aja yang buatin. Aku tak tahu selera Dewa" Mutia beralasan membuat Dena mendesis tak setuju.


"Ha...ha...." Mutia terbahak melihat tingkah Dena tapi tetap saja meninggalkan Dena yang masih termangu di meja makan.


Dilihatnya Dewa yang termangu seperti Dena tadi.


Mutia menghampiri tepian kolam renang, Sebastian pun mendekat.


"Minuman hangat sama kue kutaruh di sana ya?" ujar Mutia.


"Hhhmmm oke sayang. Kulanjut dulu, setengah jam lagi" Sebastian melanjutkan acara renang, membiarkan sang asisten menunggunya selesai.


Dena benar-benar membuatkan kopi untuk Dewa yang masih saja termangu ditepian kolam.


"Hai...ngelamunin apa sih?" Dena menepuk bahu Dewa.


"Melamun yang bisa dilamunin" jawab Dewa sekenanya.


"Ish..nyebelin" Dena meninggalkan Dewa.

__ADS_1


Dewa menyeruput kopi yang diantar Dena. "Anj4iii...panas sekali" Dewa meniup-niup, lidahnya kerasa kebakar.


Tiga puluh menit menunggu sang bos naik dari kolam renang, membuat segala nama hewan lolos dari mulut Dewa.


Karena bosan, Dewa mengeluarkan ponsel untuk main game favoritnya. Apalagi kalau bukan game yang ada adegan saling serang itu.


Saat seru-serunya ngegame sampai tak sadar sang bos telah naik. Bahkan telah makan beberapa potong kue yang disediakan sang istri. Bahkan minumnya pun telah tandas tinggal gelasnya doang.


"Yuk ke ruang kerja" celetuk Tian.


"Yaaahhhhhhh...kalah gue" gerutu Dewa karena teamnya pun ikutan kalah.


"Kayak anak kecil aja, main begituan" cela Tian.


"Anda belum tahu aja, kalau sudah piawai pasti ketagihan" tandas Dewa.


"Siapa bilang?" tukas Tian.


"Beneran, bisa untuk ngusir rasa jenuh karena kerja tuan" tanggap Dewa serius.


"Aku nggak suka main begituan" tukas Tian.


"Terus?" kejar Dewa.


"Main sama istri dong" Sebastian tertawa melihat Dewa yang bingung.


"Makanya nikah, biar tau rasanya main sama istri" imbuh Tian sambil berbisik.


Dewa mengacak rambutnya yang rapi itu, sebal juga dengan ucapan tuannya.


Sebastian menghampiri sang istri yang berada di meja makan bersama Dena.


"Mandi dulu ah, ganti baju" pinta Mutia yang melihat Sebastian masih memakai kimono mandi abis berenang.


"Siap my Wife" Sebastian berbalik ke kamar utama disusul Mutia.


"Kamu sudah mandi yank?" tanya Tian.


"Belum" singkat Mutia dan hendak mengambilkan baju ganti suaminya.


Tapi Sebastian dengan cepat menyambar tubuh sang istri dan menggendongnya ke kamar mandi. Pasangan itu tak peduli dengan kehadiran asisten masing-masing. Seperti biasa bertukar peluh di dalam kamarnya.


Sejam lebih mereka baru keluar dengan aura berbeda. Aroma shampoo menyeruak di penciuman Dewa dan Dena. Bahkan Duo 'D' itu saling pandang lama.


"Biasa aja, kalau nanti kalian jadi pasangan akan merasakan juga" ucap Tian ambigu.


"Yuukk makan" Sebastian duduk duluan disusul Mutia.


"Kalian nggak makan?" Mutia mendongak melihat Dewa dan Dena terdiam di tempat.


"Langit mana?" Sebastian mencari keberadaan Langit yang tak ada di meja makan.


"Bentar kupanggilin" Mutia beranjak dari duduknya.


Tapi balik lagi tanpa Langit.


"Sudah tidur" ucap Mutia yang melihat sang suami menatapnya.


"Kecapekan kali yank, kasihan kalau dibangunin baru nyenyak-nyenyaknya" kata Mutia.


"Oke lah kita makan duluan aja. Abis ini kita ke ruang kerja Wa" kata Sebastian bagai perintah bagi Dewa dan juga Dena.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


To be continued, happy reading


💝


__ADS_2