
Keesokan hari dilihatnya wajah segar sang istri saat Sebastian terbangun.
"Sudah mandi sayang?" Sebastian bangkit duduk di ranjang.
"Katanya mau ngajak jalan?" tukas Mutia sambil memoleskan make up tipis ke wajahnya.
"He...he...kenapa nggak di kamar aja sih?" celetuk Sebastian bercanda.
"Ngapain jauh-jauh ke sini, kalau cuma di kamar aja?" sungut Mutia.
"Ha...ha... Iya..iya...aku bersiap dulu" Sebastian beranjak dari tempat tidur dengan tubuh polosnya.
Mutia memalingkan wajahnya.
"Ih, kenapa malu sih? Bukannya kamu semalam sangat menikmatinya" kata Sebastian vulgar.
"Stop jangan diterusin, aku malu" Mutia menutup wajah dengan telapak tangannya.
"Ha...ha... Aku suka sayang. Apalagi des4hanmu sungguh amat menggoda" kata Sebastian semakin absurd.
"Sayang, stop it. Mandi sana!!!" sergah Mutia.
Sebastian terbahak saat masuk kamar mandi. Bahagia bisa menggoda sang istri
Sungguh malunya, batin Mutia.
Bahkan trauma itu entah hilang ke mana sekarang. Sebastian sangatlah pintar memanjakan seorang Mutia. Perlakuan-perlakuan Sebastian yang lembut dan penuh perhatian, sangat membantu Mutia menghilangkan rasa traumanya.
Mutia menyiapkan baju ganti untuk sang suami. Baju yang serasi dengan baju yang dipakai olehnya.
Daripada gabut nungguin sang suami yang sedang mandi, Mutia mencoba menghubungi Dena.
"Pagi Dena" sapa Mutia.
"Pagi??? Di sini sudah menjelang siang. Jangan bilang kakak barusan bangun" celetuk Dena.
"Kak, cantik banget. Sudah ke mana aja???" puji Dena karena mereka melakukan video call.
"Boro-boro diajak jalan. Selama di sini ruteku cuma kamar, sama kamar mandi doang" sahut Mutia.
"Ha...ha.... Enaknya pengantin baru. Nggak apa-apalah kak, kan sedang on proses produksi buat adiknya Langit" Dena terbahak.
Mutia bahkan tersipu oleh ucapan Dena. Memang benar adanya, hampir empat hari di Maldives tubuhnya selalu dikocok oleh sang suami bagai adonan kue. Tak puas di bawah dia disuruh di atas oleh Sebastian.
"Kak, kok malah diam. Pasti lagi bayangin kocokan kan?" tebak Dena.
"Ih, kau selalu ngasal dech kalau ngomong" ucap Mutia.
"Bagaimana keadaan Mutia Bakery?" tanya Mutia.
"Aman kak, orderan semakin membludak. Lumayan rempong sih..he...he... Tapi jangan kau pikirkan itu kak. Fokus saja ke produksi adiknya Langit" imbuh Dena.
"Tuan Sebastian di mana, kok sepi?" tanya Dena.
Bersamaan dengan itu Sebastian keluar hanya dengan handuk menutup perut sampai sebatas paha.
"Sayang, lagi nelpon siapa?" tanyanya.
__ADS_1
Mutia buru-buru menutup kamera ponselnya.
"Kak, kok jadi buram sih. Kak...Kak..." teriak Dena di seberang.
Mutia tersenyum, mana dia rela Dena melihat sang suami tak berbaju.
"Kok ditutupin kameranya?" tanya Sebastian tak paham dengan kondisi tubuhnya sekarang.
Mutia mengkode dengan arah matanya, barulah Sebastian tersadar.
"He...he... Betul juga, kau tutup aja kameranya" tukas Sebastian.
"Kak...Kak..aku tutup aja dech. Kak Mutia nggak seru" celetuk Dena.
"Bentar Dena, Langit gimana?" tanya Mutia.
"Langit masih sekolah lah kak. Pulang sekolah langsung ke tuan Baskoro. Apa kakak nggak nanya ke Dewa aja?" Dena menimpali.
"Oke Dena. Bye" Mutia memutus panggilannnya.
"Jadi jalan nggak nih?"
Mutia menengok ke belakang, melihat sang suami sudah berganti dengan baju yang dia siapkan.
Mutia tersenyum ke arah Sebastian.
"Baru sadar kalau suamimu tampan?" seloroh Sebastian.
Mutia bahkan berinisiatif menggandeng lengan sang suami, untuk mengajaknya jalan. Daripada seperti kemarin-kemarin, setelah bersiap jalan akhirnya gagal dan berakhir bertukar peluh di ranjang.
Sebastian tertawa mendengarnya.
Sebastian membawa sang istri ke pantai-pantai yang memang indah di Maldives. Bahkan mereka juga mampir ke pasar traditional yang berada di sana.
"Yank, aku capek. Perutku juga udah demo" keluh Mutia.
"Ya sudah, kita makan dulu aja sebelum balik hotel" sahut Sebastian.
"Kok balik hotel? Habis makan jalan lagi dong" rengek Mutia.
"Sudah persis Langit dech kalau sudah begini" canda Sebastian.
Seharian mereka berdua menikmati suasana Maldives.
"Kapan-kapan kita ajak Langit ke sini ya yang?" kata Mutia saat balik hotel.
"Boleh, tapi kayaknya di sini pas buat yang honeymoon deh yank. Kalau mau ajak Langit mendingan ke Jepang aja, ntar ke Disneyland. Atau ke Amerika sekalian" usul Sebastian.
"Kayak nggak sibuk aja" seloroh Mutia.
"He...he...kita agendakan akhir tahun ini aja gimana? Kita atur jadwal kita masing-masing" tukas Sebastian.
"Lihat nanti aja. Yang penting besok kita cari oleh-oleh...he...he..." Mutia sangat paham dengan kesibukan sang suami. Makanya Mutia juga tidak menuntut banyak waktu Sebastian untuk dirinya.
Sesuai permintaan sang istri, keesokan hari Sebastian menemani sang istri untuk membeli oleh-oleh.
"Apa kamu nggak capek yank, muter-muter sedari tadi?" tanya Sebastian.
__ADS_1
"Nggak" Mutia berbelok ke penjual aksesoris.
"Apa semua karyawanmu mau kau belikan?" Sebastian makin banyak bertanya. Karena sebenarnya dia mulai capek mengikuti Mutia. Tapi demi sang istri keluh kesahnya tak keluar sama sekali.
Kalau sampai berkeluh kesah, bisa disuruh puasa tuh herculesnya. Berabe dong dunia persilatan...he...he....
"Apa baiknya juga begitu ya yank?" Mutia menoleh ke sang suami.
"Kalau aku sih mendingan ku kasih bonus aja, biar mereka beli sendiri sesuai kebutuhannya" ulas Sebastian.
"Tapi kan barang yang dijual di sini belum tentu ada di negara kita. Namanya juga oleh-oleh" sahut Mutia.
"Ya terserah kamu aja sih. Daripada ntar beli barang banyak-banyak tapi nggak kepake, kan sayang" Sebastian memang jarang bawa oleh-oleh untuk anak buah. Kalau mau ya tinggal kasih bonus aja biar mereka beli sendiri sesuai selera.
"Tapi kupikir-pikir bener apa kata kamu deh yank. Kalau gitu kita balik aja ke hotel. Aku rasa sudah cukup banyak yang kita beli" imbuh Mutia.
"Makasih ya" lanjut Mutia mengecup pipi sang suami. Bahkan Mutia tak malu lagi mencium di tempat umum. Tentu saja Sebastian senang.
Tak terasa seminggu telah mereka lalui berdua di Maldives. Semua barang telah ditata demikian rupa oleh Mutia dibantu oleh Sebastian. "Hah, leganya" Mutia mengusap keringat di kening.
"Berangkat dua koper, pulang kok jadi sepuluh koper?" Sebastian merasa heran.
Mutia tersipu. Tak menyangka barang-barang yang dibelinya ternyata terlalu banyak. "He...he...untuk oleh-oleh yank".
"Baiklah, kali ini kumaafkan. Tapi nanti sampai rumah, berlaku hukuman dua kali" gurau Sebastian.
Mutia menyela, "Hukuman macam apa itu?"
"Ada dech. Esok paginya juga, nambah sekali" Sebastian semakin terkekeh.
Sampai di bandara kota J, Sebastian dijemput oleh Pandu dan juga Langit.
Mutia memeluk putra kesayangannya itu. Tak dinyana Langit malah menciumi perut sang bunda. "Dik, kamu sudah ada di sini belum?" celetuk polos Langit.
Mutia menatap sang suami. Sebastian hanya mengangkat kedua bahunya.
"Semoga saja segera hadir ya nak" Mutia mengelus lembut kepala Langit.
"Pulang ngggak nih? Daddy nggak dipelukin?" sela Sebastian.
Langit berlari ke arah daddynya. "Langit kangen daddy" Sebastian memeluk sang putra dan mencium sepuasnya.
"Dena sama Dewa?" tanya Sebastian setelah menelisik situasi bandara.
"Tuan Dewa belum selesai rapatnya tuan, Non Dena sepertinya juga begitu" Pandu memberikan alasan sesuai instruksi kedua orang itu
Padahal sebenarnya mereka berdua sedang bersiap menyambut sang bos di depan kediaman Sebastian.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
to be continued, happy reading
bunga matahari kuning warnanya, othor up tiap hari ditunggu vote nya
salam sehat
💝
__ADS_1