
Dewa menceritakan keinginan sang tuan yang akan mengadakan sebuah pesta. Pesta pernikahan sekaligus pesta ulang tahun. "Tapi pesannya, jangan sampai nyonya Mutia tau" ungkap Dewa. Dena mengangguk tanda mengerti.
"Oke, aku pergi" Dena beranjak setelah Dewa menyampaikan semua maksud dan tujuannya.
"Untuk yang satu ini kita harus kompak kerjasama" imbuh Dewa.
"Heemm...Demi kebahagiaan dewi penolongku kak Mutia. Aku setuju. Deal" tukas Dena mengajak Dewa bersalaman.
"Kita mulai kapan?" tanya Dewa sebelum Dena melangkah keluar.
"Lebih cepat lebih baik. Oke aku pergi. Kehabisan mie pangsit bisa panjang urusannya. Bye" Dena bergegas keluar ruangan.
Bahkan di lobi depan banyak pasang mata yang mengawasi langkah Dena yang baru keluar dari lift khusus itu. "Ada apa dengan mata mereka semua ya, kayak nggak pernah lihat wanita cantik aja" gumamnya
Dena kembali bertemu dengan security yang tadi. "Sudah selesai non?" tanyanya berubah ramah.
"Sudah pak, mari" kata Dena dengan senyum sedikit dipaksakan.
"Oh ya Non, baru kali ini lho tuan Dewa didatangi oleh tamu cewek" beritahunya.
Dena diam tak menanggapi.
"Apalagi tuan Sebastian, banyak wanita yang mengantri tapi selalu berakhir di lobi. Untung saja tadi non langsung nelpon tuan Dewa. Kalau nggak non pasti berakhir seperti yang lain. Berhenti di lobi...he...he...." sang security terkekeh.
"Sudah pak ceritanya? Boleh saya pergi" Dena berhenti karena security itu menghalangi jalannya saat mau keluar. Bukan karena ingin mendengar cerita orang itu.
"Silahkan...silahkan..." security itu memberi jalan.
Ini baru aku yang datang ke sini. Kalau kak Mutia datang, terus tuan Sebastian menyambut di lobi. Nggak bisa bayangin hebohnya Blue Sky. Batin Dena tertawa karena membayangkan hal itu.
Suatu saat akan tiba waktunya tuan Sebastian sendiri yang akan memperkenalkan kak Mutia ke publik. Dena melangkah menuju tempat mobilnya terparkir.
Mobil Dena melaju ke Dirgantara mall. Mencari apa yang dipesan oleh sang kakak.
***
Beberapa hari sesudahnya, siang itu Mutia mencari keberadaan Dena ke ruangannya.
"Den...Dena..." panggil Mutia. "Loh kok kosong, kemana dia?" gumam Mutia.
"Dena kemana aja sih, saben abis makan siang kok mesti nggak ada. Coba kuhubungi aja" monolog Mutia.
Dena yang sedang bersama Dewa, terlonjak saat ponsel yang berada di genggamannya bergetar.
"Eh, k4dal!" celetuk latah Dena.
Dewa menyenggol lengan Dena, "Bosmu tuh"
"He...he...iya. Sori kadang mulutku nggak bisa dikondisikan" Dena membungkam mulutnya sendiri.
Imut juga dia kalau nggak dalam mode singa, batin Dewa.
__ADS_1
" Halo kak, aku lagi keluar nih" sapa Dena.
"Ke mana aja sih? Kuperhatiin beberapa hari ini kau selalu keluar dech abis makan siang" tegur Mutia.
"He...he...iya kak. Bantuin bagian pemasaran" bohong Dena.
"Mana ada alasan begitu?" cerca Mutia.
"Beneran kak, suerrrr" jawab Dena. Karena berbohong ke Mutia adalah hal yang sangat sulit dilakukan oleh Dena.
"Dena, kamu nggak lagi nyembunyiin sesuatu kan?" selidik Mutia.
"Nggak kak" suara Dena ditegas-tegasin agar Mutia percaya.
"Den, kakak boleh minta tolong nggak?" suara Mutia seakan berasa lemas.
"Kakak nggak sakit kan?" Dena mulai cemas.
"Nggak kok Den. Tapi kakak ingin kamu belikan ramen sama sushi" utas Mutia.
"Kak, bukannya kakak nggak suka jenis makanan itu?" Dena menegaskan apa yang dipesan Mutia.
"Tapi aku sedang ingin itu" Mutia menutup panggilan ke Dena.
Dena dan Dewa saling pandang. "Fix, mereka pasti ngidam bersama" ucap Dena dan Dewa hampir bersamaan.
"Oke lah, sebelum kita cari gedung. Mampir dulu belikan pesanan kak Mutia" usul Dena.
Mutia yang sedang berada di Dirgantara tak sabar menunggu kedatangan Dena. "Dena kenapa lama sekali ya?" gumam Mutia. Dia mondar mandir di ruangan.
Langit yang memperhatikan jadi bingung. "Bun, dari tadi kok jalan muter-muter?" celetuk Langit.
"Nungguin aunty, kok nggak datang-datang" tukas Mutia meneruskan jalannya.
"Kan bisa sambil duduk bunda" seloroh Langit.
"He...he....bener juga ya" Mutia duduk di depan Langit.
Tiba-tiba Mutia merasakan pusing yang luar biasa.
"Bun, bunda kenapa?" Langit menatap bunda yang duduk dengan menyandarkan kepala nya di sandaran kursi.
Mutia hanya terdiam, karena merasakan kepala yang berputar-putar seperti vertigo.
Langit beranjak mengambil ponsel sang bunda dan menghubungi daddy nya.
Sebastian yang memang sedang ada pertemuan dengan rekan bisnis tidak menyadari panggilan sang putra.
Baru panggilan kesepuluh, Sebastian tau saat mengambil ponsel yang tersimpan di tas kerja nya. "My Queen, sembilan kali panggilan tak terjawab???" gumam Sebastian.
"Halo Dad, Daddy kemana aja? Langit hubungin dari tadi nggak bisa" sungut Langit di layar ponsel yang baru tersambung itu.
__ADS_1
"Ada apa sayang, Daddy barusan selesai rapat" Sebastian mengungkapkan alasannya.
"Rapat terus, Bunda sakit tuh" beritahu Langit dan kamera ponsel dia putar untuk memperlihatkan sang bunda yang sedang tiduran di sofa ruangannya.
"Bunda bilang pusing Dad" tambah Langit.
Tanpa berpamitan ke yang lain, Sebastian meninggalkan ruang rapat itu.
Sebastian melajukan mobil ke Mutia Bakery. Tak mungkin juga menghubungi Dewa yang memang diperintahkan olehnya untuk menyiapkan acara di akhir bulan ini.
Sebastian bergegas turun dan menuju ruangan Mutia. Didapatinya sang istri yang sedang duduk menyandar dengan mata terpejam.
"Sayang, kok nggak pindah ke kamar di sebelah aja. Biar bisa baring" Sebastian langsung menggendong tubuh istrinya ke ruangan yang dimaksud.
Dihubunginya dokter Bara sahabatnya. "Bar, bisa datang nggak ke Mutia Bakery" ucap Sebastian menyebutkan nama jalan di mana alamat Mutia Bakery.
"Ada apa. Mau kasih aku roti kah?" canda Bara.
"Haissss... ke sinilah. Nggak tau nih, istriku ngeluh pusing" jelas Sebastian.
"Jangan-jangan hamil" tukas Bara asal tebak.
"Mana aku tahu" sahut Sebastian.
"Mana mungkin kamu nggak tahu. Kamu kan yang bercocok tanam...ha...ha..." Bara tertawa di sana.
"Bisa atau nggak?" tandas Sebastian.
"Iya, habis operasi aku ke sana. Tiga puluh menitan ya?" Bara menawar.
"Kubawa ke rumah sakitmu saja dech" tukas Sebastian tak sabar.
"Ayo sayang, kita periksa aja" ajak Sebastian.
"Aku nggak apa-apa. Aku cuma nungguin Dena kenapa nggak datang-datang" ucap Mutia lirih.
"Kok Dena?" heran Sebastian.
"Aku tadi tuh minta dibelikan ramen sama sushi sama Dena" lanjut Mutia.
Hanya nungguin pesenan yang belum datang ternyata. Batin Sebastian ikutan heran.
Sebastian mengirim pesan ke Dewa, yang pasti sekarang sedang bersama Dewa.
"Pesenan istriku cepetan anter ke kantornya. Kerjaan lain tunda dulu" bunyi pesan Sebastian.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
To be continued, happy reading
🤗
__ADS_1