
"Bunda......" suara Langit dari luar pintu pun sudah kedengeran. "Halo sayang" Mutia menyambut putranya yang baru datang dari sekolah dengan sebuah pelukan dan kecupan. "Daddy nya mana?" ujar Mutia yang belum melihat keberadaan sang suami. Barulah Sebastian muncul dari pintu masuk. "Pasti sengaja ngumpetin daddy ya?" canda Mutia. "Daddy yang nyuruh bun" elak Langit. "Waduh, nggak bisa diajak kerjasama nih Langit" celetuk Sebastian.
Tiba-tiba Sebastian menyodorkan seikat bunga lily berwarna putih kepada Mutia. "Waoooowww makasih sayang. Kok tahu aku suka lily?" Mutia menerima pemberian bunga segar itu dari tangan sang suami dan menaruhnya di atas meja. "Langit ganti baju dulu ya. Sudah bunda siapkan" ucap Mutia penuh kesabaran. "Oke Bun" Langit berlari ke ruangan sebelah untuk melakukan seperti yang diminta bundanya. Langit anak mandiri, meski masih TK kecil mulai biasa berganti baju sendiri.
"Langit nggak gangguin kalau kamu kerja?" tanya Sebastian yang belum tahu kebiasaan istri dan anaknya di Mutia Bakery. "Ya biasalah, namanya anak kecil. Kadang kalau lagi bosan, dia turun ke bawah. Nyari security yang jaga terus diajak main bola" imbuh Mutia. "Kayaknya Langit ada bakat ke sana. Gimana kalau kita ikutin les sepakbola aja?" usul Sebastian. "Tanyakan langsung aja ke anaknya. Kalau aku sih selama itu positif kenapa nggak. Kemarin-kemarin belum aku ikutin, selain terkendala siapa yang antar jemput juga takut nggak ada yang ngawasi Langit selama ikut les. Aku juga nggak mau membebani dia dengan beraneka ragam les, biar Langit bisa menikmati waktu anak-anaknya dengan semestinya" tukas Mutia. "Benar juga yang kamu katakan. Tapi kalau melihat Langit waktu main sepakbola memang dia kayaknya ada bakat ke sana dech yank. Aku yakin itu" tandas Sebastian. "Boleh, tapi jangan dipaksakan kalau anaknya nggak mau. Takut dia terbebani" seloroh Mutia.
Siang ini, keluarga baru itu benar-benar menikmati bekal yang dibuat oleh Mutia. Bahkan Sebastian yang biasanya sangat menjaga asupan karbo meminta nambah pada istrinya. "Beneran ini nambah?" tanya Mutia saat Sebastian sedang menodongkan piringnya. "Tuh kan Dad, bener kan kataku. Bunda tuh kalau masak tidak ada duanya" puji Langit. Sementara Sebastian mengacungkan dua jempol tanda setuju.
"Langit, abis ini Daddy balik kantor. Jagain bunda buat Daddy ya" rajuk Sebastian ke putranya. Lah siapa yang jadi ayah siapa yang jadi anak, ini mah kebalik. Mutia sampai terpingkal melihat ulah Daddy dan anaknya itu. "Siap Dad, akan kujaga bunda segenap jiwa dan raga. Meskipun Daddy tak memintanya tetap akan kulakukan" Langit berbicara laiknya orang yang sudah dewasa.
"Sayang nanti sore kujemput ya. Dan mulai besok sudah ada sopir yang siap mengantarmu kemanapun kau mau pergi" Sebastian beranjak dari duduknya. "Kok sopir? Kan sudah ada Dena yang bisa barengan ke sini? Ribet banget sih yank?" Mutia ingin menolaknya.
"Jangan repotin Dena terus. Yang antar jemput Langit biar sopir itu sekalian baik ke sekolah ataupun ke tempat les. Kamu kan juga tahu kesibukan ku seperti apa. Jadi nggak ada penolakan" ucapan Sebastian sama juga paksaan bagi Mutia. Mutia terdiam menanggapi ucapan Sebastian. "Diam kuanggap setuju. Oke aku balik ke Blue Sky" Sebastian mengecup kening istri dan juga putranya. "Bye Daddy" jawab Langit melambaikan tangan.
__ADS_1
Seolah tau sudah waktunya tidur, tanpa rewel seperti yang sudah-sudah. Langit merebahkan diri tanpa disuruh oleh sang bunda. Sampai Mutia merasa aneh, anak ini semenjak aku menikah dengan daddy nya kenapa jadi penurut sekali, batin Mutia.
Mutia melanjutkan pekerjaannya yang tertunda, yaitu menghubungi Mba Ana sang manager cabang. Karena sampai sebelum kedatangan Langit dan Sebastian tadi, Mutia masih kesulitan menghubungi managernya itu. Dan sama jawaban yang didapatnya, nomor yang dihubungi sedang tidak aktif. Kalau dia belum menghubungi sampai sekarang, berarti dia nggak masuk kantor. Gumam Mutia. "Oke lah, besok aja coba kuhubungi lagi" Mutia menghela nafas. "Semoga mba Ana nggak ada apa-apa" ucap Mutia hendak beranjak mau keluar dari ruangannya.
Seharian di ruangan bosan juga ternyata. Mutia hendak ke pantry di mana proses produksi berlangsung di sana. "Kak...Kak Mutia" Dena datang tergopoh menghampiri Mutia yang hendak masuk lift itu. "Ada apaan sih Dena, kayak dikejar hantu aja kamu" tukas Mutia sambil menahan pintu lift agar nggak ketutup. "Lihat nih kak berita lokal dari kota 'S" imbuh Dena.
Mutia mengambil tab yang dipegang oleh Dena dan mulai membaca berita itu. "Seorang Manager cabang perusahaan 'M B' tertangkap tangan dalam sebuah pesta narkoba" judul berita itu. Melihat sosok yang dicarinya sedari pagi dengan memakai baju khas tahanan membuat Mutia syok juga. Bagaimana bisa manager yang dipercaya mengelola cร bang di sana bisa salah dalam pergaulan. Padahal sewaktu dia ikut Mutia di sini, Mba Ana menunjukkan kinerja yang sangat baik. "Kak, apa yang harus kita lakukan. Bisa juga Mba Ana dijebak kan?" ujar Dena. "Kita belum tau bagaimana cerita yang sebenarnya Dena. Sebaiknya kuselidiki dulu. Bisa jadi besok aku terbang ke kota 'S'. Tolong urus tiket pulang perginya" perintah Mutia. "Jangan lupa kak ijin suami juga penting...he...he..." Dena mengingatkan. "He...he...benar juga tuh. Tumben kamu bener ngomongnya" canda Mutia. Hhmmm ujung-ujungnya gue yang kena" mulut Dena dimanyun-manyunkan.
"Ikut turun nggak nih?" Mutia menawari karena mereka masih berada di dalam lift yang terdiam di tempat. "Mau ke pantry?" tanya Dena dan dijawab anggukan Mutia. "Oke lah" Dena mengekori langkah Mutia.
Sore hari Sebastian benar-benar menjemput sang istri dan putranya yang baru terbangun dari tidurnya itu. "Wah anak Daddy baru bangun ya" Sebastian menguyel gemas putranya yang barusan membuka mata. "Geli Dad" Langit terbahak karena kegelian. Mutia tersenyum melihat keakraban mereka. "Yank, seumpama sebelum pulang kita mampir dulu di resto X gimana? Semua karyawan Mutia Bakery kusuruh ke sana hari ini. Hanya sebagai ungkapan rasa syukur atas pernikahan kita. Lagian kemarin kita juga tak sempat mengundang mereka semua. Gimana?" usul Mutia. "Boleh, tapi jangan lama-lama ya" Sebastian menyetujui dengan syarat yang sudah disampaikan. Hari ini Sebastian merasa capek, karena setumpuk berkas yang disodorkan Dewa.
"Oh ya, urusanmu dengan manager cabangmu bagaimana?" tanya Sebastian yang masih berada di tempat tidur bersama Langit. "Oh itu. Tadi Dena sudah sempat kasih info kepadaku. Kalau dia ketangkap aparat saat pesta obat terlarang" Mutia sengaja melirihkan suara biar tidak terdengar sang putra. "Rencana aku besok terbang ke kota S" ucap Mutia lagi. "What? Nggak bisa diwakilkan?" respon Sebastian. "Siapa lagi?" tanya balik Mutia. "Harusnya si Dena tuh mulai kau ajari yank, biar bisa terjun di segala arena" tukas Sebastian. "Sudah begini saja, besok Dena suruh berangkat. Dewa tak suruhnya untuk mendampingi" usul Sebastian. Mutia terdiam masih menimbang usulan Sebastian. "Apa memang sebaiknya begitu ya. Biar mereka juga semakin dekat" tanggap Mutia. "Baiklah, nanti pas di resto kubilangin Dena" imbuh Mutia.
__ADS_1
Seperti janji Sebastian tadi, mereka bertiga mampir sejenak ke resto X skalian makan malam. Mutia didampingi Sebastian beramah tamah dengan para karyawan Mutia Bakery. Semua mengucapkan selamat atas pernikahan sang bos dan mendoakan yang baik-baik. Di tengah acara, Mutia memanggil Dena untuk bergabung di mejanya sebentar. "Dena, besok aku nggak jadi terbang ke kota S. Aku rasa lebih baik kamu saja yang berangkat.Tolong tuntaskan permasalahan di sana. Kalau kamu kesulitan ada tuan Dewa yang akan mendampingi. Ini perintah dan tak ada alasan untuk menolak" tegas Mutia. "Tapi kak..." Dena hendak meneruskan kata-katanya tapi keburu dipotong Mutia. "No!!! Kali ini tidak ada penolakan".
๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ
To be continued, happy reading.
Makasih untuk semua, yang masih mengikuti cerita sampai di part ini
like, komen dan vote nya biar karya ini makin populer
Follow juga IG author ya
@ moenaelsa_
__ADS_1
๐