
Dewa melangkah mengiringi sang tuan menuju ruang VIP.
Tak lama, Mutia datang dengan rombongannya diantar oleh karyawan resto yang telah diberitahu Sebastian sebelum masuk tadi.
"Daddy..." panggil ceria Langit.
"Sini duduk sama Daddy, Bunda di tengah dech" pinta Sebastian.
"Aku maunya dekat bunda" celetuk Langit.
"Iya...sini Langit, Bunda, Daddy" tunjuk Sebastian ke arah tempat duduk di sampingnya.
"Jadi bunda bisa dekat Langit dan juga Daddy" tukas Sebastian.
"Emang harus segitunya ya tuan? Tempat duduk aja nggak mau ngalah sama Langit" celetuk Dewa.
"Husss...kau diam saja!!! Ngobrol aja tuh sama Dena sama Pandu sana" seloroh Sebastian.
"Atau kalian di sebelah sana aja" Sebastian menunjuk area depan resto.
"Apa kita ke sana aja ya, daripada melihat keuwuan tuan Sebastian sama nyonya Mutia" celetuk Pandu.
"Benar sekali, aku setuju dengan Pandu" tukas Dena.
"Haisss kalian kenapa sih, tinggal makan aja ribet banget. Sudah di sini saja semua" tandas Mutia.
Semua terdiam saat Mutia sudah andil bicara.
"Nggak usah keluar, mumpung kalian pada kumpul ada yang mau aku bicarakan" ucap Sebastian sambil menunggu pesanan makanan datang.
"Hhmmm pasti yang kau bicarakan di kantor tadi kan tuan?" sela Dewa.
"Bisa diam nggak?" sahut Sebastian melototi Dewa.
Dena sampai menahan tawa melihat ekspresi Dewa.
"Begini, ini tentang kepergian kita berdua minggu depan" Sebastian mulai serius.
"Dewa, aku mau semua urusan Blue Sky kau pegang selama aku pergi. Jika kamu kesulitan jangan sungkan mengirim pesan padaku. Atau bisa kau hubungi juga papa. Untuk Mutia Bakery, kau urus sementara Dena, belajarlah mandiri. Kalau ada kesulitan, Dewa siap membantu" jelas Sebastian.
Dewa mendongak, "Endingnya ke aku semua dong" tukasnya.
"Terus untuk Langit, antar jemput sekolah tetap menjadi tugasnya Pandu. Nanti langsung di antar ke mansion papa saja" imbuh Sebastian.
"Sekiranya ada hal-hal yang mencurigakan, Dewa harus siap siaga" Sebastian mengakhiri acara pembagian tugas kali ini.
"Berat di aku dong tuan" Dewa masih tak terima dengan tugas-tugasnya.
"Nggak mungkin juga kan aku kasih tugasmu ke Pandu????" seloroh Sebastian.
Dewa hanya bisa menggaruk kepalanya yang tak gatal itu.
"Emang Daddy sama Bunda mau pergi ke mana?" sela Langit di tengah obrolan.
"Bunda dan Daddy butuh waktu berdua nak. Biar adiknya Langit lekas hadir di perut bunda" bisik Sebastian lewat belakang punggung Mutia.
"Alasan macam apa itu?" sela Mutia.
"Tapi memang itu kan tujuan kita ke Maldives???" canda Sebastian terkekeh.
Menu makanan telah terhidang. Untuk sementara obrolan terjeda karena masing-masing sedang menikmati makanannya.
"Sayang, pagi ini kau ada tamu kan?" tanya Sebastian sambil cuci tangan selesai makan.
"Hhmmmm" angguk Mutia.
__ADS_1
"Frans sama Janetra?" tatap mata Sebastian ke arah sang istri.
"Sudah tahu kan? Pake nanya lagi" sungut Mutia.
"He...he....begitulah" Sebastian tertawa.
Tak terasa waktu kepergian Sebastian dan Mutia tiba.
Saat packing, "Sayang, jangan lupa aku reques baju yang kapan hari kau pakai" celetuk Sebastian.
"Baju yang persis jaring ikan itu kah? Kan rusak kau sobek?" tukas Mutia.
"Aku beli banyak kan?" tegas Sebastian.
Kok dia ingat saja sih, gerutu Mutia.
"Ingat dong yank" senyum Sebastian mengembang.
Malah sekarang Sebastian ikut nimbrung menyiapkan barang-barang yang akan dibawa ke dalam koper. Bahkan dia sendiri yang mencari baju keramat dan memasukkannya.
Kalau Mutia sendiri yang menyiapkan pasti tak akan dibawa dan di sana pasti akan menyampaikan beribu alasan karena tak membawa baju keramatnya itu. Oleh karenanya Sebastian bantuin prepare. Sungguh modus kan suami Mutia...he...he...
Mereka berdua tak jadi naik pesawat komersil, karena alasan waktu. Dengan naik jet pribadi, Sebastian lebih bisa mengatur waktu. Apalagi Langit selama ini belum pernah jauh-jauhan dengan bunda nya.
"Sayang, sudah siap?" tanya Sebastian dan Mutia mengangguk.
Digandengnya tangan sang istri. Langit yang lebih semangat mengantar kepergian orang tuanya telah berada di mobil bersama Pandu.
"Dad, beneran ya nanti oleh-olehnya adik!!" seloroh Langit saat mobil mulai perlahan berjalan menuju bandara.
Sebastian dan Mutia saling tatap. Lewat isyarat Mutia menyuruh Sebastian untuk menjelaskan ke putranya.
"Langit, Daddy sama bunda sedang berusaha. Jangan lupa Langit ikut mendoakan supaya adik lekas hadir di perut bunda" jelas Sebastian.
"Berdoa itu nggak ada akhirnya sayang, kalau belum dikabulkan ya berdoa lagi" Mutia menimpali.
Mereka telah tiba di bandara. Ternyata Dena dan juga Dewa telah menunggu kedatangan sang bos di sana. "Eh, kalian kok malah sudah sampai sini? Sudah akur kalian?" tanya Mutia saat Dena menghampirinya.
"Kan sang bos mau honeymoon, kita harus ikut ngantarkan dong" canda Dena.
Mutia mencubit lengan Dena, "Mutia Bakery dan Langit kutitipkan padamu" imbuh Mutia.
"He...he.... Kak...bahagia selalu ya buat kakak. Aku ikut senang jika kakak bahagia" kata Dena.
"Jangan bikin suasana jadi melow dong. Makasih atas doa-doanya" sanggah Mutia memeluk adik tercintanya.
"Kok pada sedih sih? Ayo sayang!" ajak Sebastian.
"Dad, Bun...nggak boleh lupa sama janjinya" sela Langit.
"Siap tuan kecil. Bye. We love you my son" pamit Sebastian menciumi Langit sampai puas.
"Langit nggak boleh rewel ya di rumah Opa dan Oma" pesan Mutia.
"Siap bunda" peluk Langit ke sang bunda seakan tak mau berpisah.
Jet pribadi mereka telah lepas landas menuju Maldives.
"Kamu istirahat di kamar aja sayang. Penerbangan ini akan lumayan lama" ucap Sebastian.
Mutia mengiyakan kata Sebastian. "Baiklah, aku tidur aja. Capek setelah semalam packing, belum lagi gangguan darimu" tukas Mutia.
Sebastian terkekeh menanggapi. Semalam memang dia gempur sang istri dua kali malah. Dia sendiri heran kenapa setiap ketemu sang istri pasti bawaannya mesum. Hercules nya tak bisa dikondisikan saat berada dekat dengan sang istri.
Perlu waktu tujuh jam lebih untuk sampai Maldives. Sebastian yang bosan sendirian menyusul sang istri yang tengah terlelap. "Imutnya istriku" Sebastian mencubit pelan hidung mancung Mutia yang sedang tidur dengan mulut sedikit menganga itu.
__ADS_1
"Sungguh, tidurpun kau sangat menggemaskan", gumam Sebastian. Dia ciumi pipi sang istri. Sementara Mutia hanya menggeser posisinya sedikit tanpa terbangun.
"Maafkan aku telah membuatmu capek ya yank" kecup Sebastian di bibir Mutia. Mutia hanya menyengir kuda dalam lelapnya.
Pesawat mendarat sempurna di bandara Maldives. Mutia yang telah bangun, "Apa kita sudah sampai yank?" tanya nya.
"Kayaknya begitu?" canda Sebastian.
"Serius dong" sungut Mutia.
"Loh, aku juga serius. Memang kita sudah sampai. Ayo" Sebastian meraih tangan Mutia supaya terbangun dari posisi rebahannya.
Mutia menyambut uluran tangan sang suami.
"Boleh menghubungi Langit?" tanya Mutia saat mereka berada di mobil dalam perjalanan menuju hotel.
"Ntar aja, kalau kita sampai hotel. Biar Langit belajar mandiri juga" imbuh Sebastian.
Mutia menuruti apa kata suami. Kalau Langit rewel pasti di ponsel akan ada panggilan tak terjawab dari sang putra. Nyatanya ponselnya tenang-tenang saja begitu dinyalakan saat turun pesawat tadi.
Sang CEO Blue Sky dan CEO Mutia Bakery sedang menikmati masa honeymoon mereka. Sementara sang asisten Dewa dan Dena kelimpungan menghandle semuanya.
Beberapa cabang Mutia Bakery kompak menerima orderan bejibun, sehingga membuat Dena kewalahan. Beda dengan Dewa, dia yang sudah terbiasa dipercaya oleh Sebastian kewalahan mengatur jadwal rapat-rapat yang seakan tiada habisnya. Biasanya kalau ada jadwal rapat bareng, dia dan Sebastian akan memisahkan diri untuk menghadiri rapat masing-masing.
Dewa tak sengaja melihat Dena di sebuah resto saat makan siang.
Dena terlihat menghempaskan pantatnya di sebuah kursi resto saat Dewa datang di pintu masuk.
"Loh itu kan Dena, ngapain dia sendirian ke sini" Dewa pun menghampiri asisten Mutia itu.
"Siang Nona Dena, boleh gabung???" tanyanya.
Dena hanya mengangguk saja.
"Letih sekali kelihatannya?" tanya Dewa.
"Hhmmm...baru tiga hari ditinggalin bos, nyatanya capeknya kebangetan" keluh Dena.
"Sama... Agenda rapat-rapat juga sudah menungguku" Dewa ikutan berkeluh kesah.
"Kak Mutia sama tuan Sebastian benar-benar hebat ya. Bahkan mereka telah menjalani semua ini lama. Tapi aku tak pernah mendengar keluh kesahnya" imbuh Dena. Dan Dewa mengangguk mengiyakan.
Sementara yang dibicarakan oleh kedua asisten itu sedang bertukar peluh di sebuah kamar hotel di Maldives. Mutia bahkan dikurung oleh Sebastian selama seharian ini. Belum diajak jalan-jalan oleh sang suami.
"Yank, tulangku rasanya mau lepas dari sendi. Lemas sekali" Mutia bahkan sudah tak mampu membuka matanya.
"Tidur aja, biar kupeluk" tanggap Sebastian terbahak.
"Tapi aku lapar" bisik Mutia.
"Siap my queen, kupesan dulu" Sebastian meraih pesawat telpon di ruangan itu untuk pesan makanan.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
To be continued, happy reading
Peti kemas di pelabuhan, telah datang up lanjutan
Indonesia telah merdeka, like komen vote kalau suka
😊💝
salam sehat
jangan lupa follow IG @moenaelsa_
__ADS_1