WANITA ITU IBU ANAKKU

WANITA ITU IBU ANAKKU
Part 61


__ADS_3

Setelah melepas gaun, Mutia pamit dengan mama Cathleen dan juga Madam Chandra. "Eh Mutia, abis ini ajak Sebastian tuh ke spa. Calon pengantin musti perawatan atuh" saran Madam Chandra. "Dan jangan lupa gesek terus kartunya Sebastian, biar berkurang tuh nolnya yang berbaris rapi" lanjutnya sambil tertawa.


"Sayang, seperti yang dibicarakan si Rio tadi. Setuju nggak kalau kita ke klinik kecantikan langganan mama Cathleen dan kak Catherine untuk kamu perawatan" saran Sebastian. Eh, sudah beda aja dia panggil Mutia. Mutia menoleh heran. "Mulai sekarang harus biasa aku panggil sayang" tukas Sebastian seolah tau arti tatapan Mutia. "Dan sebaiknya kau juga begitu. Tidak memanggilku nama saja" lanjut Sebastian.


"Sampai sekarang aku masih merasa gimana gitu. Nggak bisa njabarin. Kok rasanya terlalu cepat kita ambil keputusan" Mutia risau. "Sudahlah jangan terlalu dipikirin. Sudah menjadi takdir Tuhan kita berjodoh" tegas Sebastian. "Bener juga sih. Eh Tian, bukannya kita harus dipingit ya?" tanya Mutia. "Tian...Tian....ganti dong. Apa gitu???" Protes Sebastian. "Maaf. Terus aku musti manggil apa dong? Daddy?" usul Mutia. "Emang kapan aku nikah sama mommy-mu? Yang lain ah" Sebastian masih merajuk. "Maksudku Daddy nya Langit. Ah, daripada sulit aku manggil seperti kamu aja ya sayang???" Mutia masih merasa geli aja memanggil dengan sayang. "Nah, gitu dong" tukas Sebastian merasa senang.


"Sayang, belum jawab pertanyaanku yang tadi" ucap Mutia. "Yang mana?" sela Sebastian. "Itu loh kenapa kita nggak dipingit?" jelas Mutia. "Ha...ha...harusnya sih begitu. Tapi belum dipingit aja kita sudah ada Langit" Sebastian malah tertawa. "Kok ketawa sih?" sahut Mutia. "Ya sudah, abis ini kita dipingit ya. Tapi tunggu, abis jemput Langit. Kamu pulang ke apartemenmu. Dan aku pulang ke apartemenku" usul Sebastian. Dan mereka berdua sekarang dalam perjalanan menjemput putra semata wayangnya. Langit Putra Ramadhan.


"Mutia, aku mau nanya serius sama kamu" ucap Sebastian dengan mimik yang dingin dan serius. "Apaan sih? Jangan buat aku takut lihat mukamu dong" celetuk Mutia.


"He...he....emang muÄ·aku kenapa? Biasa saja deh. Ini masalah bisnis" Sebastian kembali dengan mimik serius.

__ADS_1


"Kamu kenal nyonya Martha kan?" tanya Sebastian. "Kenal, tapi baru juga kenalnya" imbuh Mutia. "Oke. Aku mau tanya dan jawab dengan jujur. Apa nyonya Martha hendak kerjasama dengan Mutia Bakery?" tanya Sebastian semakin serius. "Bener sih. Awalnya kutolak, tapi nyonya itu maksa. Ya akhirnya aku setujuin. Lagian cuma kusanggupin untuk pembuatan wedding cake aja. Yang lain sudah kubatalin semua. Nggak sanggup Mutia Bakery kalau ada orderan mendadak gitu" jelas Mutia. "Baiklah, selepas acara nikah kita. Aku mau semua sudut Mutia Bakery terpasang kamera pengawas. Dewa akan kusuruh nyari orang yang terpercaya untuk memasang itu. Kalau perlu sore ini kusuruh pasang" Sebastian dengan gagasannya. "Eh mana bisa begitu? Yang ada karyawanku merasa tak nyaman dong" Mutia menolak usulan Sebastian. "Demi keamanan sayang. Begitu kita go publik nanti, maka semakin banyak orang mengenalmu. Semakin banyak juga saingan bisnisku yang akan mengincar kamu dan juga putra kita. Makanya aku harus maksimal menjaga kamu dan Langit" Sebastian semakin serius. Mutia mulai paham arah pembicaraan calon suaminya, "Baiklah, asal dengan tujuan baik aku setuju kau pasang kamera pengawas di Mutia Bakery". Padahal selain untuk keamanan, Sebastian juga bisa mengawasi sepanjang hari kegiatan Mutia. Iya kan, modus lagi. Sekali mengayuh dayung maka dua tiga pulau terlampaui.


"Ingat pesanku sayang, hati-hati dengan nyonya Martha" Sebastian mengingatkan. "Kau kenal dengannya???" selidik Mutia. "Kenal. Mau kucerita atau di skip aja" Sebastian menoleh sebentar ke arah Mutia. "Tergantung. Kalau sekiranya penting, silahkan cerita. Tapi kalau nggak ada yang penting, skip saja. Daripada ujungnya menggibah orang lain" celetuk Mutia.


"Nyonya Martha itu mama nya Janetra" singkat Sebastian. Ucap singkat Sebastian tadi sudah bisa menjelaskan bagaimana hubungan laki-laki di sampingnya saat ini dengan nyonya Martha, batin Mutia. "Sudah lah nggak usah diceritain lagi" potong Mutia. "Kau ngambek???" Sebastian menyentuh lengan Mutia. "Nggak lah, semua kan sudah jadi masa lalu kamu" ujar Mutia dengan mimik yang biasa saja.


"Langit, mau makan apa kali ini?" tanya Sebastian selepas Langit masuk mobil. "Pokoknya apa saja, yang penting ada ayam gorengnya" tukas Langit. "Nggak bosen dengan menu itu melulu?" tanya Sebastian menengok ke Langi yang duduk di sampingnya dan sedang main game pake ponsel Mutia. "Nggak Dad, soalnya kalau pakai yang lain nggak dibolehin sama bunda" Langit menjawab tanpa menoleh dari layar ponsel. Alergi lah yang menyebabkan Mutia membatasi apa yang boleh dan tidak boleh dimakan oleh Langit


"Oke lah, kita makan di resto langgananku aja. Banyak pilihan di sana" putus Sebastian. Makan siang yang dipenuhi canda tawa antara Daddy dan putranya. "Langit, besok Daddy sama bunda akan menikah. Jadi abis itu kita tinggal bersama" jelas Sebastian menggunakan bahasa yang mudah dimengerti Langit. "Beneran Dad? Jadi Langit bisa tinggal di apartemen Daddy? Ntar tiap pagi kita berenang ya Dad???" Langit sangat antusias sekali. Sebastian mengangguk. "Kenapa nggak hari ini aja sih menikahnya Dad?" celetuk Langit barusan. Ini saja sudah terlalu cepat, kok malah minta hari ini, batin Mutia. Sementara Sebastian hanya tertawa menanggapi. "Karena hari baiknya masih besok Langit" imbuh Sebastian. "Hah??? Hari baik??? Bukannya semua hari itu baik Dad?" Langit malah semakin banyak bertanya. "Benar Langit, semua hari itu baik. Tapi kalau mau menikah kan juga perlu ada persiapan. Jadi baru besok bisa dilaksanakan acaranya" jelas Mutia menengahi. "Ooooo...begitu ya Bun" seloroh Langit dan akhirnya diam karena melahap ayam goreng di depannya.


Seperti yang diucapkan ke Sebastian tadi, Mutia merebahkan diri di kamarnya. Bukan kantuk yang datang. Tapi otaknya malah melanglang buana ke mana-mana. Ingatan-ingatan tentang masa lalu kembali hadir. Kejadian malam itu, berlanjut ke kehamilan dan persalinan Langit melintas satu-satu di pikiran Mutia. Sampai sekarang bisa di titik ini. Tidak ada penyelasan dalam diri Mutia. Mungkin sudah menjadi takdirnya melalui semua rintangan yang tak begitu mudah dilewati. Saatnya menatap masa depan, gumam Mutia.

__ADS_1


Belum sempat terlelap, pintu kamar di ketuk oleh Bik Sumi dari luar. "Nyonya...ada yang mencari" bilang bik Sumi. "Siapa bik?" Mutia merasa heran karena memang jarang ada tamu yang mencarinya di apartemen. "Namanya nyonya Catherine" utas bik Sumi. "Oh..kak Catherine. Tolong suruh nunggu sebentar ya bik" tukas Mutia kembali masuk kamar.


"Hai kak, tumben?" Mutia menyambut kedatangan Catherine. "Iya nih, Sebastian barusan nelpon. Katanya suruh ngajak kamu perawatan. Dia bilang nggak paham dengan urusan wanita seperti ini. Yukkk cussss...mumpung aku juga kebagian rejeki ini. Jarang-jarang dia kasih gratisan seperti ini" Catherine yang lebih antusias kali ini. Karena barusan dapat transferan yang wow dari adiknya itu. Dan disinilah mereka berdua, di sebuah klinik kecantikan kelas atas langganan Catherine. "Kau biasa perawatan di mana Mutia?" tanya Catherine. Mutia menyebutkan sebuah nama klinik kecantikan yang berada di mall X, "Tapi kalau sempat aja sih kak" imbuh Mutia. "Mulai saat ini kau harus rutin perawatan Mutia. Menyenangkan suami itu pahala lho. Lagian kartu no limit Sebastian harus bener-bener kau kuras" saran Catherine. Selain saran bisa juga sih disebut hasutan...he...he.... Mutia tertawa menanggapi.


Selesai perawatan, saat hendak keluar lagi-lagi Mutia ketemu dengan Janetra. Kali ini Mutia bertemu lengkap dengan nyonya Martha. "Kayaknya kita berjodoh ya nyonya Mutia. Bisa bersua di tempat seperti ini" ucap nyonya Martha ramah. "Benar nyonya" tukas Mutia tak kalah ramah. "Nyonya Mutia ternyata pelanggan di sini juga ya? Sini mahal lho, aku aja hanya mampu menjadi pelanggan silver. Aku ke sini mau perawatan paket lengkap calon pengantin" Janetra memanasi Mutia. Bahkan Janetra tak tau kalau seorang Catherine adalah pelanggan premium klinik kecantikan itu. Bahkan Mutia juga telah selesai perawatan yang dikatakan Janetra tadi. Tapi nggak ada yang perlu dipamerkan menurut Mutia. Catherine masih diam mengamati. "Sore kak Catherine, apa kabar?" sapa Janetra sok ramah. "Baik" ucap singkat Catherine. "Kak, Minggu depan datang ya ke pesta pernikahanku" undangan sekaligus menyindir Mutia. "Iya nak Catherine, pesta termewah tahun ini" nyonya Martha menimpali. Cihhh, bahkan mereka bertambah sombong saja, umpat Catherine dalam hati. "Jangan lupa nyonya Mutia, untuk wedding cake nya. Tidak usah diberi diskon. Pokoknya aku pesan wedding cake yang paling mahal di Mutia Bakery ya" ucap nyonya Martha seakan pamer ke Catherine. "Baik nyonya" Mutia masih bersikap ramah. "Oh ya, yang paling mahal kalau nggak salah seharga lima ratus juta kan?" pertegas nyonya Martha. Catherine yang mendengar sudah mulai jengah.


"Apa ada yang perlu dibicakan lagi? Kalau sudah tidak ada yang penting, ayo kita pergi Mutia" ajak Catherine merasa tak senang berada di antara kedua wanita licik itu. "Oh ya...maaf...maaf..silahkan kalau kalian mau pergi. Terima kasih sudah menganggu waktunya" nyonya Martha semakin menunjukkan sikap kalau mereka sekedar basa basi. Masih terdengar di telinga Mutia dan Catherine, ucapan mereka saat mulai melangkah menjauh. ""Memangnya hanya keluarga Baskoro saja yang bisa kita manfaatkan" gumam nyonya Martha dan Janetra tertawa menanggapi.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


To be continued, happy reading

__ADS_1


#kue lumpur kue klepon# setelah up tolong direspon


😊


__ADS_2