WANITA ITU IBU ANAKKU

WANITA ITU IBU ANAKKU
Part 122


__ADS_3

Bowo masih terdiam, padahal masih banyak yang ingin dikorek Sebastian dari mulut Bowo.


"Bowo, apa motivasimu menceritakan semua nya padaku?" Sebastian mendekat ke arah Bowo.


"He...he...saya sudah jenuh Tuan. Jenuh melayani hasrat tuan Frans" celetuk Bowo dengan tetap menunduk.


"Sebenarnya, saya malah bersyukur saat anda mengancam membunuhku. Hidupku sudah tak ada gunanya" lanjut Bowo.


"Mas, jangan kau ungkit lagi luka lama kita" isak tangis Putri mulai terdengar.


"Dewa, kau perketat penjagaan di rumah sakit. Aku rasa, sasaran Frans berikutnya adalah Mutia" perintah tegas Tian.


"Aku balik dulu ke rumah sakit, sebelum Frans menyadari jika anak buahnya telah kita amankan" Sebastian melangkah keluar.


.


Sampai di rumah sakit, dilihatnya Mutia yang sedang tidur nyenyak dengan ditemani bik Sumi.


"Bik, baringlah di sebelah sana. Pasti capek tiduran dengan duduk begini" ujar Sebastian menyuruh bik Sumi yang barusan terjaga dari tidurnya.


"Maaf tuan, saya malah ketiduran" bik Sumi bangkit dari kursi.


"Bik, tadi ada yang ke sini?" tanya Sebastian.


"Nggak ada tuan, cuma ada non Dena yang barusan pulang" cerita bik Sumi.


"Oke, makasih bik" Sebastian duduk di samping Mutia yang masih terlelap.


Sebastian menyusul tidur di samping sang istri, berbagi tempat tidur dengan Mutia.


.


Sementara Dewa, sejak ditinggalkan Sebastian mulai mengorek lagi kesaksian dari Bowo.


"Bowo, sudah berapa lama kau hidup bersamanya?" selidik Dewa.


"Sejak tuan Frans membayar hutangku pada rentenir" jawab Bowo.


"Ketemu di mana?" lanjut Dewa.


"Di sebuah club malam. Saat itu sedang mabuk, dan tak tahu dengan siapa aku pulang. Tau-tau saat tersadar aku sudah di rumah tuan Frans" kata Bowo bermonolog.


"Tuan Frans, bilang sudah mendengar semua masalahku. Dan bersedia membayar hutangku, dengan syarat seperti itu" imbuh Bowo.


Menurut Dewa, meski Bowo lelaki tulen tapi kalau diamati gestur tubuhnya memang sedikit gemulai.


"Apa itu juga alasan Frans untuk membebaskanmu dari penjara?" selidik Dewa.


"Iya" singkat Bowo.


"Hhheemmmm" Dewa manggut-manggut.


Tapi untuk menjebloskan Frans ke penjara, Dewa merasa masih kurang bukti. Karena semua tuduhan masih mengarah ke kedua orang di depannya, meski Bowo cerita kalau dia merekam semua perintah Frans di ponsel. Batin Dewa.

__ADS_1


"Tapi setidaknya dengan Bowo masih berada di sini, pasti akan memancing Frans untuk menunjukkan sisi aslinya" gumam Dewa yang telah berpindah ruangan di mana Bowo dan Putri disekap.


"Bisa saja Bowo adalah orang yang sangat penting bagi Frans daripada istrinya si Janetra" Dewa menyelonjorkan kaki, mulai terasa pegal-pegal.


"Apa besok kupancing Frans dengan memakai Bowo saja ya???" Dewa masih memikirkan cara mendapatkan Frans.


.


Keesokan pagi, terjadi keributan di depan kamar rawat Mutia. Ternyata seorang Frans yang datang.


Dia gagal masuk ke kamar Mutia karena dihadang oleh beberapa anak buah Sebastian.


"Hhmmmm, ada urusan apa ke sini?" Sebastian berdiri di depan pintu dengan menyilangkan lengannya.


"Bebaskan anak buahku!" sarkas Frans dengan tatap mata tajam.


"Ha...ha..." Sebastian terbahak menertawakan Frans yang sedang tersulut amarahnya.


"Aku dari semalam menunggu istriku di rumah sakit. Bagaimana bisa kau menuduhku?" seloroh Sebastian.


"Kau jangan menyangkalnya Tian" Frans siap menerkam Sebastian.


"Anak buahmu lah yang membawa Bowo" tegas Frans.


"Ooooooo...jadi si Bowo itu anak buahmu?" ucap Sebastian bertepuk tangan.


"Benar" jawab Frans tanpa keraguan.


"Kau juga jangan asal menuduh Tian" elak Frans.


"Ha...ha...jangan kau kira aku bodoh Frans. Sudah banyak kali kau membahayakan keluargaku" sarkas Tian.


"Bowo kau sekap di mana?" tanya Frans mengalihkan pertanyaan.


"Sudah kujawab kalau aku tidak tahu" Sebastian tak mau mengatakan pada Frans, lokasi keberadaan Bowo.


Frans menatap nyalang Sebastian. "Kau bebaskan dia atau nyawamu melayang?" Frans menodongkan sebuah senjata ke arah Sebastian.


Kebetulan rumah sakit lengang karena saat ini mereka berada di ruang VVIP.


Petugas keamanan rumah sakit bersiap memblokade area sekitar, tak akan membiarkan Frans melarikan diri.


Sebastian menghadapi Frans dengan sikap tenang, sementara Frans belum bergeming dari posisi semula.


Sebastian bisa menilai, seberapa berharganya seorang Bowo bagi Frans.


"Kalau kubebaskan Bowo, apa jaminanmu?" Sebastian mencoba menego Frans.


Barangkali Frans mempunyai informasi tentang kekuarga kandung Mutia, seperti yang diucapkan sebelumnya. Batin Sebastin.


"Aku akan memberi tahu siapa keluarga kandung istrimu" Frans sepertinya menerima negosiasi Sebastian.


Aku coba mengulur waktu saja sampai dia bercerita, pikir Tian.

__ADS_1


"Kalau begitu ceritakanlah" ucap Sebastian.


"Tak semudah itu, sebelum aku memastikan kalau Bowo selamat" picing netra Frans dengan tetap menodongkan senjata.


Dewa yang datang menyusul barusan menghampiri Sebastian. Dia tak takut sama sekali akan todongan senjata Frans. Karena Frans adalah tipikal orang yang tremor jika memegang senjata terlalu lama.


Dari mana Dewa tahu, tentu saja dari guru menembaknya. Karena Frans adalah yuniornya di tempat latihan itu, meski Frans sendiri tak tahu itu.


Frans semakin memperkuat pegangan senjatanya, karena dengan santai Dewa menghampiri Sebastian.


"Tuan, Bowo dan adiknya sudah kuamankan" ucap Dewa sengaja mengeraskan suara supaya terdengar oleh Frans.


Frans mendekat ketika Dewa menyebut nama yang dicari olehnya.


"Kau sembunyikan di mana?" Frans mendekatkan senjata ke arah kepala Dewa.


"Sekarang aku memegang kartu As mu tuan Frans, jadi turunkan senjatamu. Atau akan kubunuh orang kesayanganmu itu" ucap santai Dewa.


"Sekarang kau cerita, apa yang kau tau tentang Mutia" tatap Sebastian ke arah Frans.


"Ha...ha....tak akan semudah itu kawan. Akan kusimpan cerita itu sampai kau bebaskan anak buahku" tukas Iwan.


Sebastian tersenyum sinis ke arah Frans.


"Tanpa kau cerita, aku juga sudah tau Frans" tandas Sebastian. Padahal itu hanya lah taktik Sebastian, karena sebenarnya dia belum rampung menyelidiki silsilah keluarga dari istrinya. Keburu sang istri masuk rumah sakit terlebih dahulu.


Frans memicingkan matanya, tak percaya akan ucapan Sebastian.


"Tak percaya tak masalah" ungkap Tian.


"Jadi kau sudah tau, kalau tuan Baksono adalah kakek kandung istrimu. Kakek tua pikun nan sombong itu?" celetuk Frans tanpa sengaja menyebutkan sebuah informasi penting untuk tuan Sebastian.


"Kau tau dari mana?" selidik Sebastian.


"Ha...ha...sangat mudah bagiku untuk menggali semuanya. Mulut Janetra akan membuka dengan mudah jika aku membutuhkannya" Frans tertawa.


Saat Frans lengah, Sebastian dengan gerak cepat membekuk Frans tanpa menimbulkan banyak keributan di rumah sakit itu.


Frans mencoba melawan, tapi dia kalah kuat karena kini Sebastjan dibantu beberapa orang anak buahnya.


Frans dibawa ke kantor polisi setelah dibekuk oleh Sebastian, Dewa dan para anak buahnya.


Ternyata di sana telah ada Bowo dan juga Putri.


Frans menghampiri Bowo yang telah lebih dulu datang di kantor polisi.


"Apa kabarmu Bowo?" tanyanya basa basi.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


To be continued, happy reading


πŸ’

__ADS_1


__ADS_2