WANITA ITU IBU ANAKKU

WANITA ITU IBU ANAKKU
Part 142


__ADS_3

Supranoto pulang dalam keadaan mabuk dan kalah telak.


Nyonya Martha menghadang sang suami yang barusan datang.


"Darimana?" selidiknya.


"Ish, ganggu orang lewat saja" tukas Supranoto dengan menggeser paksa sang istri yang tepat di depannya.


"Pah, jangan bilang kalau kau mabuk dan judi lagi???" telisik nyonya Martha. Sudah seperti sebuah lagi dangdut belum sih? He...he...


"Kalau iya kenapa?" sahut Supranoto dengan bola mata yang memerah.


Supranoto tetap saja melangkah tanpa menghiraukan ocehan sang istri yang sudah layaknya beo.


Kebetulan bersamaan itu bayi Janetra rewel dan menangis keras tanpa jeda. Janetra sampai kewalahan menenangkannya.


"Kau ini kenapa sih? Rewel terus sedari tadi?" seloroh Janetra mulai emosi. Padahal bayinya mana tahu dengan keadaannya sekarang.


"Kenapa kau bikin repot saja" gerutu Janetra mulai tak sabar.


Bayinya dia taruh saja di ranjang, dan dia biarkan begitu saja. Maka semakin keraslah tangisannya.


Janetra menutup kedua telinganya. Suara bayi yang anaknya sendiri dianggapnya terlalu berisik.


Baru juga sehari dia merawat sendiri bayinya.


Nyonya Martha yang lewat depan pintu kamar, menghampiri cucu nya yang dibiarkan oleh Janetra si mama baru.


Dia ambil bayi yang berada di pembaringan. "Janet, sepertinya dia haus" kata nyonya Martha mendekat ke arah Janetra.


"Ih, apaan sih Mah" sungut Janetra dengan tetap menutup telinganya.


"Hei, kau ini mama nya. Cepetan kau susuin lah" suruh nyonya Martha.


"Nggak mau, ini asetku Mah" celetuknya sambil melihat ke arah tempat produksi ASI nya itu.


"Kau ini masih mikirin aset. Anakmu ini kasihan, dia haus" tukas nyonya Martha ikutan tak sabar.


Suaminya datang menguras emosi ditambah lagi dengan Janetra yang tak mau menyusui bayinya.


"Janet, susuin" bentak nyonya Martha.


Janetra menangis karena dibentak oleh sang mama. "Mama ini kenapa sih, kok malah membentakku?" Janetra semakin bersungut.


"Kau ini sudah jadi ibu, rawatlah anakmu dengan baik" kata nyonya Martha.


"Nggak mau, dia sangat merepotkan" tukas Janetra.


Bayi yang masih saja menangis juga membuat gemas nyonya Martha. "Kau ini kenapa, sedari tadi nggak mau diam?" bentak nyonya Martha ke bayi Janetra.


"Jangan kau bentak anakku" sahut Janetra sambil merebut bayinya. Dia coba susuin bayinya, dan akhirnya bayi itu mulai diam.


"Kenapa nggak sedari tadi sih?" imbuh nyonya Martha.


"Karena kau bentak anakku" seloroh Janetra.


Nyonya Martha tak menyahut meninggalkan Janetra dengan bayinya.


"Mah, kau mau ke mana?" tanya Janetra.


"Nyusul papa mu lah di kamar sebelah" jawab nyonya Martha.


"Mah, anak ini sepertinya kencing" kata Janetra.

__ADS_1


"Ya kau ganti Janet, masak mama yang musti gantiin" sela nyonya Janetra.


"Bantuin Mah" pinta Janetra.


"Tenyata punya bayi hanya buat kurepot saja" gumam Janetra dengan bersungut.


.


Pagi hari nyonya Martha telah bersiap dengan riasan tebalnya.


Supranoto meregangkan tubuhnya dengan masih di atas tempat tidur.


"Kau mau kemana?" telisik tuan Supranoto yang baru saja membuka mata dan disuguhi riasan menor sang istri.


"Papah lupa kalau hari ini aku arisan. Mana uang yang kau janjikan kemarin?" tanya nyonya Martha dengan menegadahkan tangannya lebar-lebar.


"Nggak ada" jawab singkat Supranoto.


"Apa maksudnya?" nyonya Martha mendekat ke sang suami.


"Nggak ada uangnya" jawab Supranoto tanpa menatap sang istri.


"Jangan bilang kau semalam main judi?" telisik nyonya Martha.


"Memang iya" jawab Supranoto tanpa rasa bersalah.


"Pah...kau tega menyiksa kita ya?" teriak nyonya Martha.


"Apaan sih. Nih kalau kau mau berangkat arisan. Jangan lupa kau bawa pulang uang seratus juta" Supranoto melemparkan tiga lembar uang seratus ribuan.


"Nih apaan? Uang arisanku lima belas juta Pah. Ini cuma cukup buat ongkos taksi aja" sahut nyonya Mawar.


Supranoto mengedikkan bahunya, tak mau tau keluhan sang istri.


"Janet, apa kau punya uang?" tanya Nyonya Martha menghampiri kamar Janetra yang berantakan.


Janetra yang baru bisa tidur menjelang subuh, "Aku uang darimana Mah?" celetuknya.


Jawaban Janetra semakin membuat nyonya Martha semakin bersungut.


"Mah, aku nitip susu bayi" teriak Janetra tanpa membuka mata.


"Tak ada" teriak nyonya Martha membalas kata-kata Janetra.


Di tempat arisan, nyonya Martha masih saja berlagak sok kaya.


"Calon besanku dulu ternyata datang juga" nyonya Martha menghampiri nyonya Baskoro yang nampak hadir di sana.


Nyonya Cathleen tak menanggapi.


'Cih, sombongnya' gumam Nyonya Martha dalam hati. Tapi tetap saja dia duduk satu meja dengan nyonya Baskoro.


"Sepertinya hawa di sini kok panas ya?" ucap salah satu nyonya yang duduk di sana.


"Apa karena ada wanita yang jatuh bangkrut ya?" sahut yang lain.


Nyonya Martha dibuat emosi oleh semua yang di sana.


Kehadiran nyonya Cathleen di sana sebenarnya hanya ingin melihat Martha menjadi bulan-bulanan peserta arisan yang lain.


Martha meninggalkan arisan tanpa ada hasil apapun. Hingga salah satu yang di sana menghampiri Martha sebelum dirinya melangkah ke pintu keluar.


"Martha, sepertinya gosip tentangmu benar adanya?" kata wanita itu.

__ADS_1


"Kalau kau mendatangiku karena ingin mengolokku percuma. Mendingan aku pulang saja" celetuk Martha dengan menahan amarah.


Wanita itu menahannya. "Mau kubantu?" Dia menawari.


Nyonya Martha menghentikan langkahnya, "Beneran?"


"Heemmmm" gumamnya.


"Mau berapa?" lanjut wanita itu.


"Seratus juta" jawab mantab nyonya Martha.


"Dua minggu harus balik seratus dua puluh juta" kata wanita itu.


"Oke" jawab nyonya Martha tanpa pikir panjang.


Terjebak rentenir nih ceritanya.


"Baiklah, mana nomor rekeningmu?" tanyanya. Nyonya Martha menyebutkan nomor rekening yang dimilikinya.


"Nih, sudah kutransfer. Tapi ingat dua minggu lagi" tegas wanita itu.


"Baiklah" jawab Martha dengan senyum lebar.


Nyonya Martha tetap melangkah keluar dari acara arisan itu.


"Akhirnya aku sukses menjeratmu wahai wanita ular" gumam wanita yang meminjami Martha uang.


Sementara Martha, bukannya pulang. Dia malah melangkah menuju klinik kecantikan langganannya. Bahkan di klinik itu sekali perawatan, minimal musti merogoh kocek puluhan juta.


"Hah, daripada suntuk di rumah. Mendingan healing aja" gumam Martha bermonolog.


.


Sebastian tersenyum saja membaca laporan masing-masing anak buah yang disebar olehnya.


"Ternyata untuk menghancurkan kalian sangat mudah. Bahkan tak perlu aku mengotori tanganku" gumam Sebastian.


"Sayang, kok senyum-senyum sih?" tanya Mutia menghampiri. Mutia sengaja ikutan karena bosan di mansion. Sementara mau nemanin Dena di Mutia Bakery tak diijinin sama sang suami.


"He...he....ada dech" jawab Sebastian berteka teki.


"Sayang, ini mu semakin berisi saja" kata Sebastian mengalihkan perhatian sang istri dan menatap gundukan yang berada tepat di depannya.


"Idih, mesum" seloroh Mutia.


"Di sini aja yuk" ajak Sebastian.


"Kalau Dewa masuk gimana? Aku nggak mau ketahuan Dewa seperti waktu itu" celetuk Mutia.


Sebastian meraih remot yang ada di meja dan menekan tombol. Terdengar pintu terkunci otomatis.


Mutia sendiri semenjak kehamilannya berjalan trimester kedua, hasratnya semakin meningkat. Bahkan dia sering menggoda sang suami dan tak malu meminta.


"Sini!" pinta Sebastian menepuk paha, meminta sang istri untuk duduk di pangkuannya.


Daripada pusing mikirin keluarga tak jelas itu, mendingan enak-enak saja. Pikir Sebastian.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


To be continued, happy reading


💝

__ADS_1


__ADS_2