WANITA ITU IBU ANAKKU

WANITA ITU IBU ANAKKU
Part 99


__ADS_3

Ternyata di lobi depan, seorang Frans sengaja menunggu Mutia.


Frans menghampiri Mutia yang hendak keluar itu. "Selamat pagi menjelang siang nyonya Mutia" sapa nya ramah.


Mutia menghentikan langkah dan melihat siapa yang sedang menyapa. "Oh tuan Frans, selamat pagi juga"


"Sendirian aja nyonya?" selidik Frans yang tak melihat keberadaan suami Mutia. Kebetulan saat keluar lift tadi Sebastian buru-buru ke toliet. Jadi belum melihat kebaradaan Frans yang berada di lobi.


Mutia hanya tersenyum tidak menanggapi ucapan Frans.


"Biasanya seorang Sebastian akan selalu mengikuti kemana wanitanya pergi?" Frans mulai melancarkan aksi nya.


Mutia masih tersenyum dan mendengarkan perkataan Frans.


"Bahkan dulu, dia selalu mengikuti kemana Janetra pergi. Untung sekarang Janetra telah menjadi nyonya Frans" ucapnya mulai ada nada penuh kesombongan di sana.


"Jadi anda ke sini cuma ingin bilang itu? Saya juga tau kalau nona Janetra telah menjadi istri anda. Tidak perlu kau katakan berulang-ulang tuan" tukas Mutia.


Frans bahkan tepuk tangan mendengar ucapan Mutia. "Bukan...bukan itu inti saya datang ingin menemui anda" lanjut Frans.


Mutia memicingkan netra dan dalam mode waspada.


"Santai...santai aja nyonya. Saya tak akan membahayakan anda" Frans masih dengan mode santai.


"Saya ke sini hanya ingin memberikan penawaran yang menguntungkan untuk anda. Bisa kita makan siang hari ini?" ajak Frans.


Mutia mulai menanggapi sinis kata-kata Frans.


"Maaf tuan Frans saya tidak tertarik dengan penawaran anda" tandas Mutia.


"Ha...ha...kau akan tertarik setelah kuberitahu nyonya" Frans masih berusaha mempengaruhi seorang Mutia.


"Maaf sekali lagi. Saya tegaskan saya tidak tertarik" Mutia hendak melangkah menuju pintu keluar.


"Sayang, tunggu" panggi Sebastian dari arah belakang sang istri.


Sebastian sedikit sedikit terkejut melihat keberadaan Frans yang tak jauh dari istrinya.


"Ada apa gerangan, seorang tuan Frans bisa datang ke sini pagi-pagi?" Sebastian menghampiri Frans yang tengah berdiri itu.


"Hhhmmmm...hanya ingin mencari kue pesanan istriku" Frans meninggalkan Sebastian dengan berbagai tanya dalam benaknya.


"Mencari kue pesanan istri. Bukannya outlet di sebelah sana" pikir Sebastian.


"Ayo sayang" Mutia telah memanggil sang suami yang sedang termangu.


"Baiklah" Sebastian menyusul sang istri dan menggandengnya sampai di mobil.


Mutia lebih banyak terdiam selama di perjalanan menuju Blue Sky. Moodnya yang telah membaik karena bau kue yang baru keluar oven, sekarang memburuk lagi karena seorang Frans.


Sebastian pun melihat perubahan mood sang istri akhirnya menahan rasa penasaran untuk bertanya tentang pertemuan Mutia dan Frans tadi.


Sebastian sengaja memarkirkan mobilnya di basement parkiran umum Blue Sky.

__ADS_1


Mutia yang melihat tukang bakso yang jualan, mendadak sumringah wajahnya.


"Sayang, makan bakso dulu yuk" ajak Mutia


"Bungkus saja ya?" ucap Sebastian sambil menutup pintu mobilnya.


"Maunya makan langsung di sana aja" rajuk Mutia.


Sebastian mengusap tengkuknya sendiri. Sabar Tian menghadapi bumil, hibur Sebastian terhadap dirinya sendiri.


"Ya sudah ayo" gandeng Sebastian.


"Tuan muda, kok di sini?" tanya pak parkir yang kemarin ditemui oleh Sebastian.


"Iya pak, mau ke sana" jawab Sebastian menunjuk ke abang penjual bakso.


"Sekarang yang jual ganti tuan muda. Bukan pak Kusnan, tapi adiknya" jelas pak parkir.


"Iya nggak apa-apa" sahut Sebastian.


Sementara Mutia mendekati abang bakso, tanpa menunggu sang suami.


"Bang, bakso seporsi tanpa baksonya ya" ucap Mutia.


Abang bakso menoleh suara di belakangnya.


"Loh, kok nggak pake bakso? Terus yang dibeli apa nya nyonya? Kuah sama mie?" tanya abang bakso.


Sebastian baru gabung, duduk di dekat Mutia.


Sebastian termangu mendengar pesanan sang istri. "Mie sama kuah?" ulang Sebastian.


"Iya" jawab Mutia singkat.


"Sudah bang, buatin saja apa yang diminta oleh istriku" ulas Sebastian.


"Baik tuan" meski belum tau siapa Sebastian, karena masih baru mangkal di situ. Abang bakso itu membuatkan pesanan sang nyonya.


"Kamu nggak pesan?" tanya Mutia.


"Nggak lah, masih kenyang" tukas Sebastian. Padahal saat ini dia menahan rasa mual.


Tadi waktu di Mutia Bakery, Sebastian telah memuntahkan semua sarapan pagi dan berujung ketinggalan informasi tentang pertemuan tak sengaja sang istri dengan Frans.


Mutia menerima semangkok mie dan kuah bakso. Dengan semangat dia menambahkan dua sendok sambal.


"Jangan banyak-banyak, nanti perutmu sakit" cegah Sebastian saat Mutia hendak menambahkan sendok ketiga.


Kali ini Mutia menurut. Dia mulai menyuapkan sesuap demi sesuap kuah bakso itu. Bahkan dahinya penuh dengan keringat, saking pedas nya. Sebastian hanya bisa menelan liur melihat sang istri yang begitu lahap menikmati kuah bakso.


"Mau???" Mutia menawari sang suami yang menatapnya tak berkedip.


Gelengan kepala dia dapatnya.

__ADS_1


"Lihat kamu makan aja sudah buat aku senang" celetuk Sebastian.


"Terus kalau makannya beginian terus, masam sama pedes. Gizinya dapat dari mana?" lanjutnya.


"Dari vitamin yang dikasih prof. Abraham" Mutia terkekeh.


"Abis ini temenin aku makan siang" kata sang suami tanpa mau dibantah. Hanya anggukan yang Mutia berikan.


Mutia mengajak sang suami setelah puas menikmati mie sama kuah bakso tadi. Sepeninggal sang tuan muda, beberapa karyawan menghampiri sang abang bakso. Karena sudah waktunya istirahat siang.


"Makan siang hari ini semua gratis" celetuk abang bakso membuat pengumuman.


"Beneran bang?" tanya salah satu karyawan.


"Iya, tuan muda tadi sudah memberi uang yang lebih dari cukup untuk jualan hari ini" jelasnya.


"Bang, tahu nggak siapa kedua orang tadi" si tukang parkir menghampiri abang bakso baru itu.


"Enggak" jawabnya singkat.


"Tuan muda tadi yang punya perusahaan ini" jelas pak parkir.


"Hah? Beneran? Terus nyonya tadi istrinya? Tapi kok dibolehin aja cuma pesen mie sama kuah bakso" selorohnya.


Semua yang mendengar di sana membego di tempat, mendengar kata abang bakso barusan.


Sebastian telah sampai di ruangannya dengan sang istri. Karena semua karyawan Blue Sky sudah tahu siapa Mutia, kedatangan mereka berdua sekarang tidak menjadi hal aneh lagi.


Melihat mood sang istri yang kembali baik, Sebastian mencoba mengorek tentang kedatangan Frans tadi. Tapi Sebastian ragu, takut mood sang istri kembali seperti tadi.


"Yank, tau nggak apa yang Frans bilang tadi?" seloroh Mutia tiba-tiba.


Sebastian yang ragu mau nanya, eh sang istri malah mengajaknya bicara duluan.


"Apa?" Sebastian pura-pura acuh.


"Mau mengajakku makan siang" tukas Mutia dengan mimik serius.


Sebastian baru menatap serius sang istri, "Berani sekali dia" sungut Sebastian.


"Sudah biarin aja, ngapain ditanggapi" Mutia mendekat ke tempat duduk sang suami.


"Dia juga nawarin aku sesuatu" imbuh Mutia.


Sebastian membelalakkan mata tak percaya mendengar cerita sang istri.


"Apa maksudnya coba. Tak ada angin tak ada hujan, datang-datang nawarin kerjasama yang menguntungkan katanya. Aneh nggak sih?" Mutia juga tak mengerti.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


To be continued, happy reading


Salam sehat

__ADS_1


πŸ€—πŸ€—πŸ’


__ADS_2