
Bos dan asistennya itu keluar ruangan masing-masing saat jam makan siang.
Dewa memberi pesan ke sang sekretaris untuk mengosongkan jadwal hari ini selepas makan siang.
"Kita makan siang di mana Wa?" tanya Sebastian.
"Tuan, mampir di Mutia Bakery sebentar boleh?" tanya Dewa.
"Mau ngapain?" celetuk Sebastian.
"Tuan, gimana kalau selepas dari tempat tuan Budi. Kita bawain Opa Winardi kue-kue dari Mutia Bakery" usul Dewa tapi tak menjawab pertanyaan Sebastian.
"Bilang aja kau mau ketemu Dena. Gitu aja pake alesan bawain kue Opa Winardi" sahut Sebastian.
"He...he...." Dewa terkekeh, karena sang Tuan mengerti akan modus operandinya.
"Terserah kamu saja" ucap Sebastian memberi perintah.
Dan benar saja, Dewa mengajak Sebastian di sebuah resto dekat Mutia Bakery yang juga resto langganan Dena.
Entah sebuah kebetulan yang disengaja atau bagaimana, saat Sebastian dan Dewa duduk bersamaan dengan Dena masuk resto.
"Tuh Dena, panggil saja. Sekali-kali bos jadi obat nyamuk juga nggak apa" seloroh Sebastian.
"Denaaaa...." panggil Dewa ke arah Dena.
Dena yang mendengar suara yang tak asing, mencari-cari sumber suara.
Dilihatnya Dewa memanggil ke arahnya.
Dena menghampiri dan langsung duduk di samping Dewa.
Dia tinju lengan Dewa, "Sok sibuk loe, katanya ada rapat sama tuan" celetuk Dena.
"Selamat siang tuan Sebastian" Dena tak lupa menyapa CEO Blue Sky itu.
"Siang Dena. Wa, lekas pesan makanannya" ucap Sebastian.
"Den, Dewa itu sengaja mengajakku ke sini. Emang kalian ada hubungan apa sih?" celetuk Sebastian langsung ke inti.
"Eh...eh..." Dewa dan Dena gelagapan.
"Kok malah bingung. Kan tinggal jawab aja. Kalau saling suka tinggal tancap gas. Benar kan?" seloroh Sebastian tanpa filter.
Sungguh bos ini kalau ngomong seenaknya saja. Batin Dewa dan Dena.
Kita belum jadian tau. Umpat Dewa dan Dena bersamaan, tapi dalam hati masing-masing.
"Kalian belum jadian?" selidik Sebastian.
Dan dijawab gelengan kedua asisten itu.
__ADS_1
"Kalian saling suka?" sela Sebastian, sengaja memancing keduanya yang tak cepat tanggap dengan keadaan.
Dijawab anggukan keduanya.
"Hadech, gini aja kenapa musti gue yang ngajarin" Sebastian menepuk jidat menanggapi ulah kedua asistennya itu.
"Karena sudah saling suka, anggap aja hari ini adalah hari jadi kalian" ucap Sebastian tegas.
"Eh...eh..." Dewa dan Dena tergagap lagi.
"Apalagi yang menjadi pertimbangan kalian, lelet amat" Sebastian mulai gemas terhadap keduanya.
Belum juga Dewa dan Dena menjawab, makanan yang dipesan telah datang.
"Nunggu kalian jadian, laper gue" seloroh Sebastian dan langsung makan yang terhidang di depannya.
"Dewa, lekaslah. Abis ini kita pergi!" titah Sebastian.
"Baik tuan" Dewa dan Dena saling pandang sebentar, selanjutnya mengikuti apa yang dikerjakan oleh sang tuan. Melahap hidangan yang ada di depannya masing-masing.
"Den, abis ini tolong siapin macam-macam kue. Kirim ke panti jompo yang biasa istriku kunjungi" perintah Sebastian lagi.
"Siap tuan" balas Dena.
Karena Sebastian meminta kue-kue langsung dikirim ke panti jompo, selepas makan Dewa langsung mengarahkan laju mobil ke alamat yang disebutkan Sebastian tadi pagi.
"Selamat siang, saya asisten tuan Sebastian" Dewa masuk dan memperkenalkan diri.
"Baik nona, kalau sudah selesai tolong hubungi saya" Dewa menyerahkan kartu nama nya ke Hana.
"Saya akan tunggu di mobil saja.Terima kasih" ucap Dewa yang melibat gestur Hana hendak meminta menunggu di ruang tunggu kantor itu.
Ketemu Supranoto bisa ribet tuh urusan.
Dewa kembali masuk mobil, tapi sudah dihujani pertanyaan oleh sang bos. "Gimana?" tanyanya.
"Pak Budi masih ada tamu. Coba tebak siapa tamunya?" gurau Dewa.
"Pasti si sialan tua itu" celetuk Sebastian.
"Berani sekali dia, sudah buat aku menunggu" gerutu Sebastian.
"Kalau dalam setengah jam belum keluar, kau terobos saja" suruh Sebastian.
Belum juga selesai berkata, ponsel Sebastian berdering. My Queen calling.
"Halo sayang, sudah kangen ya?" kata Tian absurd, Dewa yang mendengar hanya menebalkan telinga nya saja.
"Iya, nanti aku belikan" kata Sebastian.
Mendengar kata-kata Sebastian, pasti lah sang nyonya menginginkan sesuatu.
__ADS_1
"Dewa, dari panti nanti kita mampir toko buah. Istriku ingin dibelikan buah semangka yang warna kuning" kata Sebastian sama saja perintah bagi Dewa.
Di depan mobil mereka melintas mobil Supranoto. Dan sedetik kemudian ponsel Dewa berdering dadi nomor tak dikenal.
"Halo tuan Dewa, Ini dengan Hana. Silahkan masuk. Sudah ditunggu pak Budi di dalam" ujar Hana di ujung telpon.
"Baik nona" tukas Dewa.
"Tuan, kita ditunggu di dalam" panggil Dewa, yang melihat sang tuan memejamkan mata.
"Heemmmm...kita masuk" ajak Sebastian beringsut keluar dari mobil.
Hana yang menyambut kedatangan mereka sampai terbengong melihat Sebastian yang masuk diikuti oleh Dewa.
"Tampan sekali" gumam Hana melongo.
Dewa tersenyum tipis mendengar gumaman Hana.
Meski tampan tuan ku ini sudah sold out nona. Batin Dewa terkekeh.
"Silahkan masuk tuan Sebastian" sapa pak Budi sang pengacara mempersilahkan Sebastian yang baru datang.
"Tak menyangka ternyata anda masih muda sekali" imbuh pak Budi.
Sebastian hanya menanggapi dengan senyum tipis.
"Tuan Winardi sudah menelpon saya tuan, kemarin sore" beritahu Pak Budi.
"Kalau begitu anda sudah tau maksud kedatangan saya kemari" tukas Sebastian.
"Benar, semua berkas pengalihan aset-aset tuan Winardi sudah disiapkan lama. Tapi pengalihan hak masih atas nama Aminoto putranya. Jadi apa anda membawa berkas yang saya perlukan?" tanya pak Budi.
Dewa dengan sigap menyerahkan berkas-berkas yang dibutuhkan oleh pak Budi.
"Oke tuan Sebastian. Akan saya proses secepatnya" kata pak Budi.
"Anda tahu kan pak Budi kalau menunggu itu membosankan. Saya ingin proses ini selesai dalam dua hari" tegas Sebastian.
"Ba...ba...baik tuan" pengacara yang sudah lumayan berumur itu tergagap mendengar kata-kata Sebastian.
Tujuan Sebastian memang hanya ingin mempercepat proses pengalihan dan balik nama aset-aset tuan Winardi.
"Sebaiknya anda hati-hati terhadap tuan Supranoto, tadi dia datang untuk mengancam saya agar segera menyerahkan berkas itu" jelas pak Budi.
Sebastian menautkan kedua alis tebalnya.
"Benar tuan, ini tadi tuan Supranoto juga bilang akan ke panti dan menemui tuan Winardi lagi" imbuh pak Budi.
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
To be contonued, happy reading
__ADS_1
π