WANITA ITU IBU ANAKKU

WANITA ITU IBU ANAKKU
Part 52


__ADS_3

Baik nyonya, nanti akan saya ajukan semua rincian biayanya" ujar Mutia. "Oke, saya tunggu potongan harga sesuai janji nyonya di depan" senyumnya dengan sinis. Nyonya Martha beranjak dari duduknya dengan menyerahkan sebuah kartu nama ke Mutia.


Mutia menerima kartu nama itu.


Dena menghampiri Mutia yang masih berada di tempat duduknya, saat nyonya Martha telah keluar dari outlet itu. "Kak, kenapa kau turuti kemauan nyonya itu? Atau dia memang sengaja modus kemarin. Minta yang aneh-aneh, beralasan kalau pelayanan kita mengecewakan agar dikasih potongan harga" gerutu Dena.


"Hus...nggak boleh bilang begitu ke pembeli. Nggak papa, anggap saja sedekah. Kita pasti akan diberi lebih setelahnya. Allah nggak akan menukar rejeki yang sudah menjadi hak kita. Percayalah" ucap Mutia bijak. "Kakak itu terlalu baik, sedekah ke orang yang sudah kaya" tandas Dena dan meninggalkan Mutia. Mutia hanya tersenyum menanggapinya.


Mutia sampai tidak menyadari ada seseorang yang fokus memperhatikannya dari tadi. Orang yang rela meninggalkan acara peletakan batu pertama pada proyeknya. Padahal acara baru saja dimulai, cukup basa basi sebentar ke yang punya wilayah. Bahkan acara sambutan pun diwakilkan ke asistennya Dewa. Saat Dewa mau maju ke podium, "Wa, heli sudah disiapkan?" bisiknya sebelum asisten Dewa beranjak. "Tuan, aku mau mewakilimu di sana loh. Masih sempat-sempatnya nanyakan heli" tukas Dewa sambil menunjuk arah podium. Melihat Sebastian yang gelisah, Dewa jadi tak tega. "Noh, di sana tuan!!!" tunjuknya ke arah berlawanan. Sesungging senyum menghiasi wajah Sebastian, "Kau is the best Wa. Turun podium cek rekeningmu!!!" Sebastian berlari ke arah yang ditunjuk Dewa. "Dasar, bucin akut" umpat Dewa ke sang bos.


Dan di sinilah Sebastian sekarang. Di Mutia Bakery. Bahkan dia sudah melarang Dena yang menghampirinya tadi untuk memberitahu kedatangannya ke Mutia. Sehingga dia bisa melihat interaksi Mutia dengan wanita yang bahkan sangat dikenal Sebastian. Melihat kejadian tadi membuatnya semakin kagum dengan Mutia.


Sebastian menghampiri Mutia yang akan beranjak dari duduknya. Dia tepuk bahu Mutia dari belakang. "Ada apa lagi Dena???" tukas Mutia tanpa menoleh. "Hmmmmm...." Sebastian hanya berdehem. Barulah Mutia menoleh, "Ups sori, ternyata kau Tian?" balas Mutia. "Iya" singkat Sebastian. "Eh, bukannya masih di kota A?" selidik Mutia. "Kalau sudah di sini berarti sudah di kota J dong" sahut Sebastian. "Kalau itu Langit juga paham Tian" lanjut Mutia.


"Nggak nyuruh duduk nih??" tanya Sebastian. "Aku belum ke ruanganku dari datang tadi. Kalau nggak keberatan bilang aja sekarang, ada perlu apa?" tandas Mutia. Sebastian hanya garuk kepala dengan ketidakpekaan wanita yang berdiri di hadapannya sekarang. "Hmm...nggak ada apa-apa sih" celetuk Sebastian. "Oooo...ya udah kalau gitu aku ke ruanganku dulu" Mutia berbalik dan melangkah ke ruangannya.


Sebastian mengikuti langkah Mutia. Dia sungguh benar-benar tak peka, gerutu Sebastian dalam hati. Jauh-jauh menyempatkan mampir bahkan acaranya pun Sebastian tinggalkan, malah tak ada kata sambutan darinya.


"Loh, kok malah ikut ke sini. Apa nggak sibuk?" tanya Mutia. Sebastian duduk di kursi yang bersebarangan dengan tempat duduk Mutia.

__ADS_1


"Waktu nelpon kemarin kan aku sudah bilang kalau mau bicara sama kamu setelah urusanku di kota A selesai" tandas Sebastian. "Berhubung urusan di kota A sudah selesai, aku menagih janjimu sekarang" kata Sebastian.


"Loh, waktu itu aku cuma bilang kalau akan kuusahakan. Tapi tidak secepat ini. Aku juga sibuk Tian" Mutia beralasan. "Aku akan menunggumu di sini sampai sibukmu selesai" tukas Sebastian. "Hah...???" Mutia bengong.


"Anggap saja aku tak ada. Biasa saja. Silahkan" ucap Sebastian enteng. Seenaknya sendiri, padahal ini kan perusahaan juga punyaku, ruangan ini juga ruanganku, gerutu Mutia dalam hati. "Nggak usah menggerutu, aku tau kau mengumpatiku sekarang" seloroh Sebastian. "Hmmmmm" Mutia hanya berdehem menanggapi celotehan laki-laki itu. Laki-laki yang tak sengaja menghamili dirinya yang berarti ayah kandung dari putranya. Untung dia tampan, batin Mutia.


"Kalau tak nyaman mendingan ikut aku sekarang" ajak Sebastian menggandeng Mutia keluar dari ruangannya. Sebastian sudah tau kalau Mutia hari ini tidak sibuk berdasarkan informasi dari Dena. Makanya Sebastian coba mengikuti saja alur dari Mutia semenjak dia datang ke Mutia Bakery. "Heh...heh...mau kemana? Aku sedang sibuk ini" celetuknya. "Hmmmm...sabar dong. Ntar kamu juga akan tau" sahut Sebastian tetap menggandeng tangan bunda anaknya itu. Sampai-sampai pengunjung di outlet lantai paling bawah menengok ke arah mereka.


Mutia menarik lengannya saat diajak Sebastian naik mobil yang telah disiapkan oleh pak Sarno, satpam yang berjaga saat itu. "Makasih pak" ucap Sebastian ramah. Mutia dipaksa naik mobil, karena kalau tak dipaksa dia pasti akan menolak...he..he...pikir Sebastian.


Saat mobil melaju dengan kecepatan sedang, "Aku tau kau nggak sibuk. Dena sudah cerita semua kepadaku sebelum aku menemuimu tadi" seloroh Sebastian mulai membuka pembicaraan. Sialan Dena, bos nya siapa tapi nurutnya sama siapa. Lagi-lagi Mutia mengumpat. "Jangan salahin Dena" tukas Sebastian seakan tahu pemikiran Mutia. Mutia membuang muka, menatap sepanjang jalur yang dilewati. "Mau di bawa ke mana ini?" Mutia akhirnya bersuara. "Tenang saja, kau pasti aman kalau bersamaku" jamin Sebastian. Mutia mencebik, "Aman apa, nyatanya jadi Langit" seloroh Mutia tanpa basa basi. "Ha...ha...itu lain lagi ceritanya. Kalau sekarang aku jamin kau aman" tukas Sebastian mengedipkan sebelah matanya. "Genit ah..." ledek Mutia. "Hanya kepadamu ku berani genit..sumpahhhhh" ucap Sebastian. "Gombal" ledek Mutia. "Beneran....suerrrrrr..." wajah dingin Sebastian mulai mencair bersama Mutia.


"Eh...eh...mau kemana ini???? Jauh amat. Ntar jemput Langit telat lho" kata Mutia beralih menatap Sebastian. "Tenang aja, ada kak Catherine. Tadi sudah kuhubungi kalau Langit barengan pulangnya. Dan kuminta langsung ke mansion papa" ucap enteng Sebastian. "Aku sudah menyiapkan semuanya, jadi tenang saja. Cukup kamu fokus saja kepadaku saat ini" kata Sebastian tetap fokus menyetir. Mutia mulai jengah mendengarkannya. Bisa-bisanya laki-laki ini merubah jadwal yang telah kususun seenaknya sendiri, gerutu Mutia. Mutia yang kesal mendiamkan Sebastian.


Mutia yang hanya berdiri saja tanpa beranjak dari tempatnya, membuat Sebastian semangat menggoda wanita itu. Sikapnya yang jinak-jinak merpati semakin membuat Sebastian ingin segera mengungkapkan perasaannya.


Mutia yang tetap saja berdiri termenung, Sebastian gandeng kembali. Mutia yang penasaran hanya mengikuti langkah Sebastian. Hawa sejuk pegunungan membuat mood Mutia kembali baik. "Huh...segarnya..." Mutia membentangkan tangannya dan menghirup nafas dalam. Seakan beban hidupnya ikut hilang dibawa angin pegunungan...(lebay dikit gak papa lah ya...??).


"Stop" ucap Sebastian tiba-tiba. "Hah??" Mutia membego. "Boleh kututup matamu dengan ini??" ijin Sebastian sambil menunjukkan sebuah kain penutup mata. "Nggak mau ah, takutnya dengan mataku yang tertutup malah kau dorong aku ke jurang. Langit pasti akan kau kuasai kan?" seloroh Mutia menolak permintaan Sebastian.

__ADS_1


Sebastian menyentil kening Mutia, "Itu akibatnya kalau kebanyakan nonton drakor, ditambah sinetron di stasiun ikan terbang".


"Aku kan sudah bilang kalau kau aman saat bersamaku" tandas Sebastian serius meyakinkan Mutia.


Mutia akhirnya mau juga ditutup matanya meski dengan paksaan. Sebastian menuntun Mutia ke sebuah hamparan luas dengan pemandangan di bawahnya yang menghijau terbentang. Hawa segar mengular di sekitar mereka. "Nah, sekarang bukalah penutupnya" suruh Sebastian. Mutia mulai membuka, pandangan yang awalnya temaram sekarang mulai jelas terlihat. "Wooooooowwwwwww, indahnya...... Sungguh luar biasa ciptaaanNya" kagum Mutia. Saat sedang fokus melihat hamparan hijau terbentang di depannya, tiba-tiba muncul tulisan berurutan yang masih nampak jelas di mata Mutia. "W...I...L...L..... Y...O...U..... M...A...R...R...Y...... M...E......" Mutia tertegun melihatnya.


Pandangan Mutia beralih ke Sebastian seakan meminta penjelasan.


"Aku serius Mutia. Biarkan aku bertanggung jawab atas kesalahan masa lalu" ucap Sebastian.


"Dengan menyayangi Langit dengan tulus kau telah bertanggung jawab. Jangan kau paksa juga hatimu untukku, kalau kau memang tidak mencintaiku. Aku pernah bilang kalau aku masih ada sedikit trauma Tian" tukas Mutia.


"Langit akan tumbuh lebih baik dengan orang tua lengkap Mutia. Apa kau akan percaya kalau sekarang aku bilang bahwa aku mencintaimu? Rasa cinta itu mulai tumbuh, saat aku melihat bagaimana kau mencintai Langit dengan sepenuh hati. Padahal kau tau seberapa bejat laki-laki yang tega merusakmu. Bahkan kau dengan berbesar hati menerima kehadiran laki-laki ini untuk menyayangi putramu yang telah kau besarkan dengan susah payah. Bahkan kau begitu percaya padaku bahwa aku tak akan merebut Langit darimu" ucap haru Sebastian yang mulai menitikkan air mata.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


To be continued, happy reading


siang-siang enaknya makan durian# stop dulu biar penasaran 😅

__ADS_1


Like, vote, favoritin yaaaahhhh


Met' weekend semuanya


__ADS_2