WANITA ITU IBU ANAKKU

WANITA ITU IBU ANAKKU
Part 109


__ADS_3

"Sayang, besok ijin ke Mutia Bakery ya. Bosan jika di rumah terus" rajuk Mutia.


"Bukannya enak ya yank, bisa lihat drakor...he...he.." gurau Sebastian sambil menghabiskan kuah mie rasa soto.


"Yang ada malah kerasa mual terus. Kalau dipakai kerja kan fokus teralihkan" Mutia beralasan.


"Iya...iya...kuijinin. Seminggu sekali, dan di sana setengah hari aja" Sebastian menyetujui.


"Sama aja bo'ong" sungut Mutia.


"He...he...kalau nggak mau ya di rumah aja" Sebastian memberikan pilihan lain yang tak lebih baik dari yang pertama.


Mutia semakin mencebikkan bibirnya dan langsung saja dicium oleh sang suami. Untung saja Langit sudah balik kamar, jengah melihat Daddy yang sibuk godain bunda sedari datang tadi.


"Mandi dulu sana" ucap Mutia.


"Siap My Queen" Tian beringsut dari meja makan melangkah ke kamar utama.


Tak berapa lama, setelah membereskan meja makan. Mutia menyusul Tian, menyiapkan baju ganti untuk sang suami.


Mutia menghampiri Langit yang sedang berada di kamar.


"Kirain jagoan bunda sudah tidur?" Mutia duduk di tepian tempat tidur Langit.


"Belum bun" jawab Langit tapi tetap fokus dengan miniatur mobil-mobilan yang dipegangnya.


"Waktu bunda di rumah sakit, Langit bobok sama siapa?" tanya Mutia seolah tak tahu. Padahal Oma dan Opa nya sudah cerita, kalau putra pertamanya itu sangat mandiri.


"Sendiri dong bun. Langit sudah mau punya adik, masak tidur aja ditemenin Oma. Ntar kalau daddy dan bunda kerja, Langit kan bisa ikut bantu njagain" celoteh Langit.


"Anak bunda makin pinter aja" Mutia mengecup kening Langit.


"Langit sayang bunda" Langit membalas dengan pelukan.


"Eh..eh...ada apa ini? Kok main peluk aja sama istri Daddy" ucap Sebastian yang baru masuk ke kamar sang putra.


"Ini bunda Langit" ucap sebal Langit.


"Ini juga istrinya Daddy loh" Sebastian bahkan ikut memeluk istrinya bersamaan.


Mutia sampai merasa sesak dan mengurai pelukan keduanya.


"Bunda sesak nafas nih karena kalian" Mutia berakting.


Bukannya kasihan dengan sang bunda dan istrinya, keduanya malah menggelitik Mutia.


"Ampun...ampun...geli" ucap Mutia dengan tawa lepasnya.


Sebastian mengalihkan ke sang putra, dia ciumi dan menggelitiknya. Langit pun melakukan hal yang sama seperti bunda.


Mereka bertiga terengah di atas tempat tidur, capek setelah saling menjahili.


Hidup Sebastian menjadi lebih berwarna dengan kehadiran istri dan putranya itu.

__ADS_1


"Daddy ke ruang kerja dulu ya. Langit ditemenin bunda?" Sebastian bangkit dari tempat tidur.


"Nggak, Langit bobok sendiri aja" tolak Langit.


"Oke, kalau gitu bunda sama daddy keluar dulu ya. Met bobok sayang, have nice dream" Mutia beringsut juga dari tempat tidur Langit.


Mutia mengiringi langkah sang istri keluar dari kamar Langit.


"Sayang, mau kopi?" Mutia hendak ke dapur.


"Nggak usah sayang, perutku kenyang banget" Sebastian mengelus perutnya yang memang sudah terasa begah.


"Makan mie doang kenyang" celetuk Mutia.


"He...he...tadi sore aku ke outlet kamu. Ingin kue karakter yang sangat disukai oleh Bintang" Sebastian terkekeh. Karena dia ingat telah menghabiskan tiga potong kue sekali santap.


"Air putih aja sayang, kutunggu di ruang kerja ya" Tian berlalu ke ruang kerja.


Mutia mengambilkan minum seperti permintaan sang suami.


Sebastian mulai membuka email-email yang dikirim Dewa. Semua laporan harus melewati Dewa lebih dahulu. Setelah diteliti oleh Dewa baru dikirim ke Sebastian.


Perusahaan yang telah dirintis oleh tuan Baskoro, semakin maju dan berkembang setelah dipegang oleh Sebastian.


Sebuah notifikasi pesan masuk ke ponsel Sebastian. Diliriknya sekilas, ternyata berasal dari Dewa.


"Tuan, tolong di cek nama-nama yang anda minta tadi sore" bunyi pesan itu.


Sebastian sejenak mengalihkan perhatian dari laporan-laporan yang dikirim oleh Dewa juga.


Dia teliti nama-nama yang tertuang di sana. Tian mengernyitkan alisnya, saat melihat sebuah nama Tn. B. Winardi tersemat di sana. Sedang nama lain tidak menjadi perhatian seorang Tian.


Sebastian mencoba mengingat nama itu, seperti tak asing di telinganya.


"Sayang serius amat, nih minumnya" Mutia menyerahkan segelas air putih untuk sang suami.


"He...he...lihat laporan Dewa harus teliti dong" sahut Tian.


Mutia duduk di hadapan sang suami.


Sebastian mendongak, "Ada apa?" tanyanya.


Hanya gelengan kepala Mutia yang didapati


"Ada yang kau pikirkan?" tatap Sebastian.


Mutia lagi-lagi menggeleng.


Sebastian mendekati sang istri, "Kalau ada masalah harus dibagi. Ingat kau sudah punya suami sekarang" elus tangan Sebastian di puncak kepala sang istri.


"Beneran nggak ada kok" imbuh Mutia.


Sebastian mengurai pelukan dan menatap istrinya. Hormon kehamilan benar-benar mempengaruhi mood dan emosi sang istri.

__ADS_1


"Ya udah, kalau belum mau cerita" sambung Sebastian.


Mutia menatap sang suami, "Aku cuma kepikiran sama ucapan Frans beberapa hari yang lalu, dan juga mimpi yang sama beberapa hari ini".


"Ucapan Frans yang mau membantumu menemukan keluarga kandungmu?" tanya Tian.


Mutia mengangguk.


Akhirnya Sebastian menceritakan usahanya akhir-akhir ini bersama Dewa. Tapi belum menemukan titik terang.


"Maaf sayang, sejujurnya sejak lama aku merasakan hal ganjil. Mulai adanya keberadaan liontin yang kau punya" ungkap Sebastian.


"Tapi aku memang tidak ada hubungan dengan keluarga mereka sayang. Bahkan aku juga tak tahu bagaimana ayahku mendapatkan liontin itu" jelas Mutia.


"Aku tau. Sudah nggak usah terlalu kau pikirkan. Biar aku sama Dewa yang menyelidikinya" sahut Dewa.


Mutia merebahkan badannya dan menyandarkan kepalanya di pangkuan sang suami. Sebastian kembali meraih laptop di sampingnya.


"Tidurlah" suruh Sebastian, tapi matanya tetap fokus dengan laporan Dewa.


Tn. B. Winardi???? Sebastian berusaha mengingatnya kembali.


Apa besok pagi kutelepon papa aja ya? Barangkali papa kenal. Gumam Sebastian.


Selesai meneliti semua laporan Dewa, Sebastian menggendong sang istri yang masih tertelap di pahanya.


.


Mutia pagi-pagi telah bersiap ke Mutia Bakery. "Beneran nih, mau kerja???" seloroh Sebastian yang sudah duduk di meja makan.


Mutia bengong dengan perkataan sang suami, "Bukannya kemarin sudah dibolehin ya?" tanya balik Mutia.


"Iya..iya..aku ijinin. Tapi aku yang ngantar, dan tidak ada penolakan" tandas Sebastian.


Tak mau berdebat lagi, Mutia menyetujui saja permintaan sang suami. Daripada tak diijinin ke Mutia Bakery. Sementara Langit sudah berangkat duluan diantar oleh Pandu.


Ponsel Sebastian berdering menandakan ada panggilan masuk yang ternyata berasal dari tuan Baskoro. "Halo Pah, pagi" sapa Sebastian.


"Sudah berangkat belum. Kalau belum mampir ke rumah sebentar. Ada yang papa mau omongin sama kamu" kata tuan Baskoro.


"Penting Pah? Aku mau mengantar istriku dulu" sahut Sebastian. Ngapain juga nanya penting atau nggak. Kalau tuan Baskoro nelpon duluan, pasti lah ada hal penting di sana.


"Oke, jangan lama-lama" tuan Baskoro menutup panggilannya.


Sebastian hanya bisa menggerutu, karena sang papa yang langsung menutup panggilannya sepihak.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


To be continued, happy reading


Senin waktunya vote 🤗


💝

__ADS_1


__ADS_2