WANITA ITU IBU ANAKKU

WANITA ITU IBU ANAKKU
Part 54


__ADS_3

Hmmm tidur rupanya" gumam Sebastian. Dia tepikan mobilnya, Sebastian menyelimuti Mutia dengan jas nya dan kembali melajukan kendaraannya.


Sebastian tak menyangka bisa bertemu kembali dengan wanita tragedi satu malamnya. Bahkan tragedi satu malam itu telah membuahkan seorang putra tampan yang sangat mirip dengan dirinya. Entah apa yang terjadi jika sampai wanita baik ini menggugurkan kandungannya atau meninggalkannya di sebuah panti asuhan. Sebastian geleng-geleng kepala, kok bisa membayangkan suatu hal yang sering terjadi di sinetron.


Sudah satu jam Sebastian melajukan mobilnya. Mutia semakin tertidur pulas di samping Sebastian.


Tiba-tiba hujan turun dengan lebatnya. Jarak pandang yang terbatas membuat Sebastian menghentikan laju mobil dan menepi. Untungnya lokasi mobilnya dekat dengan sebuah minimarket dua puluh empat jam. Sebastian turun, niatnya hendak membeli minuman hangat buat dirinya dan juga Mutia.


Sebastian kembali ke mobil dengan membawa dua gelas minuman. "Gimana ini cara bangunin Mutia? Mau dipeluk Mutia masih trauma, dicium ntar dikira curi kesempatan. Sebastian menimang apa yang akan dilakukan untuk membangunkan calon istrinya itu.


Sebastian yang sibuk memikirkan cara membangunkan Mutia, tiba-tiba saja Mutia menggeliat. Jas yang menutupi tubuhnya tiba-tiba saja melorot. Bahkan bagian atas Mutia sebagian terekspos. Sebastian hanya bisa menelan ludahnya sendiri. Hujan lebat harusnya membuat syahdu suasana, tapi membuat seorang Sebastian kepanasan. Bahkan celana nya mulai terasa sesak. "Siallll...kau bangun di saat yang tidak tepat" umpat Sebastian merutuki dirinya sendiri.


Sebastian mengambil jas limited edition yang telah berpindah di kaki Mutia. Saat hendak menyelimutkan kembali ke tubuh Mutia, tiba-tiba Mutia terbangun. Sebastian terlonjak. "Apa yang kau lakukan?" tanya Mutia yang sebenarnya juga terkaget dengan posisi seperti itu. "Hmmmmm.." Sebastian hanya berdehem, bingung juga mau menjawab seperti apa. Posisi waktu Mutia terbangun sungguh tidak menguntungkan Sebastian yang terlihat seperti hendak menerkam Mutia.


"Ini minum dulu. Abis itu baru kujelaskan" Sebastian menyodorkan sebuah cappucino hangat yang barusan dibelinya kepada Mutia. "Makasih" tukas Mutia. "Mau kujelaskan atau nggak?" celetuk Sebastian. "Daripada kau curiga padaku" tandas Sebastian lagi.

__ADS_1


"Tadi niatku awalnya mau membangunkanmu untuk minum kopi hangat yang ku bawa ini. Eh, tiba-tiba saja kau menggeliat, dan jas ku yang kau pakai melorot. Jadi aku mau membetulkan jas yang kau pakai selimut itu tadi" jelas Sebastian. Mutia menelisik ke badannya. Dan ternyata benar, jas mahal punya Sebastian telah beralih fungsi menjadi selimutnya. "Makasih" ucap Mutia pelan. "Harusnya kau dapat hukuman dariku" ucap Sebastian. Mutia mencebik mendengar penuturan Sebastian. Tapi tiba-tiba bibir Sebastian telah mendarat indah di pipi Mutia. "Lain kali hukumannya bukan di pipi tapi di sini" tunjuk Sebastian ke arah bibir Mutia. Mutia gantian yang terbengong mendengar penuturan Sebastian yang absurd itu.


"Ayok pulang aja" ajak Sebastian. "Nggak lihat hujannya masih deras" tukas Sebastian. "Tuh minum cappucinonya keburu dingin" suruh Sebastian. "Hmmmm...hawanya jadi pingin ngemil. Apalagi yang pedes-pedes" celetuk Mutia. "Pingin cemilan??" tanya Sebastian yang gemas melihat ekspresi Mutia yang seperti anak kecil yang merajuk itu. "Iya" angguk Mutia. "Bentar, tungguin" Sebastian membuka pintu mobilnya. Mutia tersenyum melihat Sebastian yang berlari membuka pintu minimarket itu. Seorang CEO perusahaan multinasional, seorang dari keluarga konglomerat bahkan sudi disuruhnya untuk membelikan cemilan untuknya. Bahkan Mutia hanya merasa bagai butiran debu di depan Sebastian. Heleh.


Sebastian kembali membawa sekantong besar cemilan. Mutia menerimanya dengan senang. Mutia memilih salah satu diantaranya dan membuka untuk dimakan. "Mau?" tawar Mutia ke Sebastian. Sementara Sebastian hanya menggeleng saja. "Pasti aneh ya, makanan seperti ini buatmu?" celetuk Mutia. Sebastian menggeleng lagi. "Bukannya aneh, hanya nggak terbiasa saja" bela Sebastian. "Sama saja" ketus Mutia. Sebastian terkekeh, niatnya menggoda malah berakhir ucapan ketus Mutia. Sebastian mengambil cemilan yang dibuka oleh Mutia, "bagi dong".


"Betewe, cemilannya harus habis ya. Siapa yang meminta dia yang harus menghabiskan" tutur Sebastian yang mulai kepedesan. "Aturan darimana?" tanggap Mutia. "Dariku" ucap singkat Sebastian. Mutia mengerucutkan bibirnya kembali. "Mau kuhukum lagi" tatap Sebastian ke Mutia. "Hukuman macam apa itu" tanggap Mutia. Sebastian terkekeh melihatnya. Saat Mutia terlena, kembali dia cium Mutia yang terlihat semakin menggemaskan saja. "Idih..cari kesempatan saja" cela Mutia. Sebastian terbahak menanggapinya.


"Ayok pulang, hujannya mulai reda tuh" ucap Mutia dengan tetap nyemil. "Nggak nelpon Langit, ngabarin kalau kita kejebak hujan" ucap Sebastian. "Mau ngubungi siapa? Kan Langit ada di mansion tuan Baskoro" celetuk Mutia. "Maksudnya Tuan Baskoro calon mertuamu?" Sebastian semakin menggoda wanita di sampingnya. "Pakai ponselku aja" Sebastian mengambilnya di saku celananya. "Paswordnya?" tanya Mutia saat menerima ponsel yang diserahkan Sebastian. "Ulang tahun Langit" tandas Sebastian. "Ulang tahunmu juga" imbuh Mutia. "Eh kok tau?" Sebastian pura-pura lupa. "Mama Cathleen yang kasih tau. Bulan depan kan ultahnya" Mutia menimpali.


Mutia menekan kontak dengan nama istri k4pold4. "Halo Tian. Kau bawa ke mana saja Mutia??? Langit dari tadi mencari bunda nya terus nih" jawab mama Cathleen tanpa tahu kalau yang menelpon adalah Mutia. "Mah, ini Mutia. Maaf tadi kita berhenti dulu menunggu hujan reda" ucap Mutia sopan. "Sori Mutia, kirain anak teng*il yang menelpon. Alihkan ke video call aja, Langit mau bicara ini" pinta mama Cathleen. Mutia pun melakukan apa yang diminta oleh mama Cathleen.


"Halo Bun, kok perginya lama banget sih??? " tanya Langit. "Bintang sudah pulang duluan, jadi Langit cuma sama oma dan opa" imbuh Langit. "Iya, Bunda juga mau sampai ini. Tadi Bunda sama Daddy kejebak hujan. Jadi lama dech pulangnya" jelas Mutia. "Jadi bunda perginya sama Daddy. Asyik ntar pulangnya bawain Langit adik yaa" suara antusias Langit terdengar nyaring di mobil itu. Mutia dan Sebastian saling pandang. "Halo Bun, Dad...kok pada diam? Kata temanku di sekolah, kalau daddy sama bunda sering pergi bersama bisa buatkan adik buat Langit. Benarkan Bun??" imbuh Langit. Mutia menutup mulutnya mendengar ucapan anaknya yang begitu polos itu. Tapi beda lagi tanggapan Sebastian. Dirinya berasa mendapatkan dukungan penuh dari putranya.


"Sudah ya Langit, kita sudah mau sampai ini" sahut Mutia karena tidak bisa menjawab pertanyaan putranya. "Oke, bye bunda" tutur Langit sambil melambaikan tangannya.

__ADS_1


"Gimana Mutia? Kalau aku sich setuju dengan permintaan putra kita?" ucapan Sebastian penuh maksud. "Adik???" tebak Mutia. "Hhmmmm" angguk Sebastian. Sementara Mutia menepuk jidatnya. "Daddy sama anak kayaknya ada persekongkolan nih" celetuk Mutia. "Ha....ha...aku harus segera menikahimu. Untuk segera mewujudkan keinginan putra kita" tukas Sebastian. "Besok pun aku siap, kalau kau siap" tandasnya. "Itu sih maunya kamu" Mutia menimpali. "Niat baik itu sebaiknya tidak ditunda Mutia. Bagaimana? Besok saja kita menikahnya ya" tambah Sebastian. Mutia membelalakkan seakan tak percaya omongan Sebastian. "Aku serius Mutia" tandas Sebastian. Mutia terdiam tak menanggapi.


Sampai di mansion Langit benar-benar menanyakan keberadaan adik. Anak ini benar-benar membuat bundanya bingung menjawab. "Mampus kau Tian" bisik Tuan Baskoro yang sedari tadi ikut menemani Langit bersama mama Cathleen. Sebastian menggantikan peran Mutia untuk menjelaskan. "Langit, sini daddy jelasin" Langit pun dipangku oleh Sebastian. "Langit, buat adik itu nggak segampang buat gorengan. Adik harus ada di dalam perut bunda selama sembilan bulan, ntar baru dilahirkan oleh Bunda. Langit dulu juga seperti itu" jelas Sebastian. Tak dinyana Langit berlari ke Mutia. Langit mengelus perut bundanya, "Adik sehat-sehat ya di perut bunda" celetuknya. Semua orang dewasa yang berada di sana hanya saling pandang. Mau tertawa takut dosa, mau diem tapi lucu juga. Akhirnya mama Cathleen yang tertawa duluan diiringi yang lain kecuali Mutia karena malu dengan ucapan Langit.


"Makanya, kalian berdua cepatlah menikah" tegas Tuan Baskoro.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


To be continued, happy reading


#angklung musik tradisional, begitu juga gamelan#niat hati ingin up lebih awal, tapi lupa nge-save hasil ketikan


Syedihnya tuh di sini 🥺


🏃‍♀️🏃‍♀️🏃‍♀️🏃‍♀️🏃‍♀️

__ADS_1


__ADS_2