
Dewa menarik nafas panjang. Akan lebih panjang lagi nih prosesnya? Batin Dewa.
"Sarah, sudah lama tuan Winardi di sini?" tanya penasaran Dewa.
"Tuan Winardi itu yang pertama kali tinggal di sini. Aku dulu perawat pribadinya. Bangunan ini kan awalnya rumah pribadi dari beliau" jelas Sarah.
"Ooooo...begitu" tandas Dewa.
"Bahkan orang-orang yang membantu di sini juga orang yang dulu pernah ikut kerja di rumah tuan Winardi" imbuh Sarah.
"Bagaimana ceritanya bisa jadi panti?" Dewa mencoba mengulik cerita dari bibir Sarah.
"Waktu itu tuan Winardi belum sepikun sekarang. Sekarang beliau mah hanya ingat dengan Mutia. Aneh sih menurutku. Tapi aku juga tak tahu alasannya apa. Karena kalau kutanya langsung, tuan Winardi tak pernah menjawab" cerita Sarah selanjutnya.
"Apa pernah keluarganya datang dan mencoba menemuinya?" selidik Dewa.
"Lumayan sering sih tuan. Kadang sebulan sekali, bisa kadang dua bulan baru datang" ucap Sarah.
"Tapi tak pernah bertemu?" selidik Dewa lagi.
"Heem...karena tuan Winardi tak pernah mau menemuinya" tandas Sarah.
"Maaf boleh nggak nanya yang lebih dalam?" ijin Dewa.
"Maksudnya?"
"Nanya tentang keluarga tuan Winardi?" imbuh Dewa.
"Kalau bisa ku jawab, akan aku jawab" celetuk Sarah.
"Apa keluarganya juga ikut membantu kebutuhan panti?" ucap hati-hati Dewa.
"Tidak ada sama sekali. Tapi kadang aku mendengar pembicaraan mereka, tujuannya ke sini hanya ingin minta tanda tangan tuan Winardi" ucap Sarah memelankan suaranya.
Sarah cerita ke Dewa, karena Dewa utusan Mutia dan suami. Sementara Mutia selama ini adalah donatur terbanyak di panti jompo itu.
Dewa mengangguk tanda mengerti.
"Apa salah satu keluarganya adalah tuan Supranoto?" tatap serius Dewa.
"Anda kok tahu?" tanya Sarah heran.
"Beneran?" Dewa seperti mendapat lotre saat ini.
"Iya bener" jawab Sarah dengan yakin.
"Kalau nggak salah nama lengkapnya apa tuan Baksono Winardi?" tanya Dewa meyakinkan.
Hanya anggukan kepala Sarah yang didapat oleh Dewa.
"Tuan, jangan sampai orang lain tau nama lengkap tuan Winardi. Karena orang-orang di sini taunya beliau bernama tuan Winardi. Beliau juga tak mau kalau dipanggil dengan nama depannya" bisik Sarah.
"Oke, baiklah" sesungging senyum di bibir Dewa.
"Sarah, aku pamit dulu ya. Makasih atas jamuannya" Dewa beringsut dari duduknya dan hendak meninggalkan ruangan Sarah.
"Oh ya Sarah. Ada yang terlupa, tuan Sebastian sudah mentransfer sejumlah dana untuk biaya operasional panti selama setahun" tambah Dewa.
__ADS_1
"Makasih tuan. Semoga amal baiknya mendapatkan pahala dari Allah" doa Sarah.
"Aamiin" Dewa menimpali.
"Ya sudah Sarah. Aku pamit beneran ini...he...he..." Dewa melangkah keluar area panti menuju tempat mobilnya terparkir.
Hal yang sebelumnya gelap gulita, mulai menunjukkan titik terang. Batin Dewa.
.
Dewa menjalankan mobil menuju Blue Sky. Hal yang dia inginkan saat ini adalah segera menemui Sebastian untuk melaporkan temuannya.
Kebetulan ponsel nya berbunyi di tengah perjalanan.
"Halo Tuan" sapa nya.
"Sudah sampai mana?" tanya penelpon yang ternyata adalah Sebastian.
"Otewe Blue Sky tuan" jawab Dewa.
"Kau belok Mutia Bakery, bawakan kue seperti yang kuminta sebelumnya" kata Sebastian di ujung telpon.
"Putar balik dong? Akan lebih lama ya tuan aku sampai sana" kata Dewa.
"Lekas lah...jangan dibiasakan lelet" tukas Sebastian, dan menutup panggilannya.
Dewa menyalakan musik di mobil. Dia putar balik laju mobil nya ka arah Mutia Bakery. Ada-ada saja permintaan sang bos yang lagi ngidam itu.
Sampai sana, kebetulan Dewa melihat Dena yang sedang menemui Frans yang sepertinya mencari keberadaan Mutia.
"Bukankah sudah kujelaskan dari tadi tuan Frans, kalau kak Mutia sekarang jarang ke sini" ucap Dena dengan nada yang lebih tinggi dari biasanya.
"Maaf, aku nggak berani ngasih kecuali atas ijin kak Mutia sendiri" jelas Dena.
"Begini saja tuan, ada keperluan apa anda ingin bertemu dengan kak Mutia? Nanti saya sampaikan" tandas Dena.
"Saya harus ketemu langsung, karena ada hal penting yang ingin aku sampaikan sendiri. Tiap hari apa saja nyonya Mutia datang?" tuan Frans masih terus menyelidik sampai Dena jengah menanggapi.
"Saya tidak tahu pasti, karena kak Mutia juga tak pernah bilang ke saya. Maaf saya sibuk" Dena meninggalkan Frans sendiri.
Semua interaksi tadi tak terlewat sedikitpun di netra Dewa.
Frans membalikkan badan, dan dilihatnya Dewa yang sedang berdiri tepat di depannya.
"Wah, ternyata asisten setia tuan Sebastian berada di sini juga ya?" ucap sinis Frans.
"Heemmmm" gumam Dewa.
"Ada angin apa yang membawa anda ke sini, mencari istri orang pula?" sarkas Dewa.
"Ha...ha...sepertinya bukan urusan anda tuan Dewa" Frans berjalan meninggalkan Dewa.
.
Dewa melupakan sejenak permintaan sang tuan. Dia harus mencari Dena dulu, untuk bertanya tentang Frans. Apalagi ini pasti ada kaitannya dengan Nyonya Mutia dan tuan Sebastian.
"Dena..." panggil Dewa yang kebetulan melihat Dena mau masuk ke pantry.
__ADS_1
"Eh Wa, tumben" Dena menghampiri.
"Sengaja mampir, biasa tuan Sebastian. Lagi ngidam kue yang seperti biasanya" jawab Dewa.
"Ngidam kok terusan ya?" sahut Dena.
"He..he...mana aku tau. Boro-boro rasa ngidam seperti apa. Rasanya ngehamilin aja aku belum tau" ucap jujur Dewa.
Dena meninju lengan Dewa, gemas juga dengan jawaban Dewa barusan.
"Den, aku tadi ketemu Frans di depan? Ada apaan?" selidik Dewa.
"Mana aku tahu" Dena mengangkat kedua bahu nya.
"Emang nggak kamu tanya?" Dewa menunggu jawaban Dena.
"Enggak. Tuan Frans juga nggak bilang keperluannya apa" tandas Dena.
"Sering ke sini?" cerca tanya Dewa.
"Kau seperti menginterogasiku aja" Dena melotot ke Dewa.
"Ha...ha...kepo dikit bolehlah" jawab Dewa lengkap dengan gurauan.
"Seminggu ini sudah dua kali sih. Aku juga berharap smoga aja tak pernah ketemu dengan kak Mutia" seloroh Dena.
"Aku mau ke pantry. Sudah terjawab belum kekepoanmu?" Dena balik badan meninggalkan Dewa sendirian.
"Dasar" umpat Dewa yang ikutan berbalik, beda arah dengan Dena.
Dewa menuju outlet di mana kue yang diinginkan sang bos berada di sana.
.
Sampai di Blue Sky, Dewa langsung saja masuk ruangan sang bos. Sengaja tak mengetuk pintu untuk memberi kejutan kepada CEO nya, malah Dewa sendiri yang terkejut.
Dengan mata kepala sendiri, Dewa melihat keabsurdan pasangan bucin yang sedang saling ******* bibir.
Dewa menutup pintu pelan supaya tak ketahuan sang bos.
"Dewaaaaaa....." teriak Sebastian dari dalam ruangannya.
Dewa mengelus dada sambil komat kamit melafalkan doa, semoga amarah sang bos bisa diredam oleh sang nyonya.
"He...he...selamat siang tuan" Dewa masuk sambil cengegesan, seperti maling yang kepergok.
"Siang, ngapain kau balik keluar tadi?" sarkas Sebastian.
'Sepertinya otak bos lagi tak di posisi normal dech. Lagi hot-hotnya malah suruh ngliatin. Jiwa jombloku mau ditaruh mana???? Hiks...hiks...gerutu Dewa.
"Heh kok bengong? Mana kue yang kupesan?" tagih Sebastian.
"Mau nya tadi mau ngasih ini, tapi gimana lagi. Aku nggak mau ganggu hobi barumu tuan" sindir Dewa.
Dewa menyerahkan kue yang diinginkan oleh Sebastian. Dan segera meninggalkan ruangan sang CEO tanpa melaporkan informasi yang didapat.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
__ADS_1
To be continued, happy reading
💝