
Mereka bertiga benar-benar pergi setelah makan siang bersama.
"Kita mau ke mana kak?" tanya Mutia.
"Ada dech" celetuk Catherine.
"Biasalah kakakmu itu ngajak keluar kalau nggak nyalon ya ngemall" mama Cathleen terkekeh.
"Mutia, kau pasti belum pernah gesek kartu yang diberikan adikku kan?" tanya Catherine.
"Belum... Emang belum perlu sih kak" tukas Mutia.
"Hhhmmm kau ini. Kau lupa siapa suamimu?" imbuh Catherine.
"Ya nggak lah kak Catherine. Suamiku Sebastian Putra Baskoro, sekarang juga menjadi Daddy nya Langit Putra Ramadhan" Mutia terkekeh.
"Maksudku kau nggak tau seberapa kaya nya suamimu?" perjelas Catherine.
"Enggak" ucap polos Mutia.
"Hadech....kau ini terlalu polos Mutia" tukas Catherine.
Mama Cathleen yang duduk di belakang bahkan ikut menertawakan kepolosan menantunya itu.
Ternyata oleh Catherine mobil diarahkan ke mall Dirgantara. Siang ini dia sengaja mengajak Mutia, biar kartu yang diberikan oleh Sebastian berguna.
Mereka bertiga jalan beriringan. Catherine belok ke arah etalase yang memajang tas-tas branded. Mutia yang seorang CEO dari Mutia Bakery saja masih menyipitkan mata melihat harga yang terpampang di tas itu.
"Ini beneran?" katanya tak percaya melihat nominal yang tertera di sana.
"Lima ratus juta? Hanya untuk ini?" gumamnya sendirian karena Catherine dan mama Cathleen juga sibuk mencari tas yang diingini.
Bukannya tak bisa membeli, tapi uang segitu banyak untuk sebuah tas adalah bukan pilihan bijak. Mutia sebelumnya lebih banyak menginvestasikan uangnya untuk membuka cabang-cabang Mutia Bakery. Bahkan sampai sekarang masih seperti itu. Makanya koleksi-koleksi barang branded juga terbatas di apartemennya.
"Mutia, sudah dapat belum?" tanya Catherine.
"Aku nggak beli aja kak, harganya mahal-mahal semua"
Catherine sampai menepuk jidatnya.
"Tas yang kau pegang itu, bila kau beli. Angka nol yang ada di kartu mu itu tak kan bergeser maju. Sudah beli aja" seloroh Catherine.
Lima ratus juta, bahkan bisa untuk beli sebuah unit rumah. Ini buat beli sebuah tas, batin Mutia. Suamiku marah nggak ya? Pikir Mutia
Catherine yang melihat Mutia nampak ragu, mengambil tas itu dan membawanya ke kasir. "Mana kartumu?" pinta Catherine.
Mutia akhirnya menyerahkan black card pemberian Sebastian.
"Nah gitu dong" senyum sumringah Catherine.
Setelah berhasil menggesek kartu Mutia, Catherine ikut tertawa sumringah setelah berhasil menggesek kartunya sendiri untuk keperluannya.
"Rasain Tian..." gumam Catherine.
Mama Cathleen hanya bisa geleng kepala melihat tingkah putri pertamanya itu. Meski masing-masing telah berkeluarga dan punya anak, tingkah mereka kadang-kadang juga masih seperti bocah.
"Sudah Cath, jangan pengaruhi Mutia terus" kata mama Cathleen.
__ADS_1
"Biarin Mah, kalau nggak gitu harta adikku tak akan berkurang" Catherine terkekeh.
Catherine, Mutia dan juga mama Cathleen telah membawa goodie bag nya masing-masing.
Saat berbalik hendak meninggalkan kasir, bertemulah mereka dengan nyonya Martha dan juga Janetra.
"Selamat siang nyonya Cathleen" sapa nyonya Martha.
"Ooooo, sedang bersama menantu juga ya???" tukas nyonya Martha.
Mama Cathleen hanya sedikit menyunggingkan senyumnya tanpa bersuara.
"Wah, ternyata nyonya Sebastian hobi belanja juga ya?" sindir Janetra.
Catherine akan menimpali, tapi pegangan Mutia seakan tak membolehkannya.
"Benar nyonya Frans" ada nada tegas di ucapan Mutia.
"Ha....ha....gimana kak Catherine sudah tau belangnya kan?" kata Janetra bertepuk tangan.
Mutia bahkan tak ingin menimpali lagi.
"Wanita murahan" umpat Janetra di telinga Mutia.
"Ha...ha...siapa yang kau bilang murah. Bukankah itu menunjuk ke anda sendiri?" balas Mutia telak.
"Kau tau, pagi tadi suamimu mendatangiku lagi" bisik Mutia sengaja memanasi wanita picik di depannya.
Janetra membelalakkan matanya. "Jaga suamimu, jangan sampai kau ditinggalin lagi" imbuh Mutia dan mengajak mama Cathleen dan Catherine meninggalkan kedua wanita itu.
Janetra menghentakkan kakinya, karena tak berkutik dengan ucapan Mutia.
"Benar Mah, mau mengajak kerjasama katanya" jawab jujur Mutia.
"Adikku tau?" Catherine menimpali.
"Tau lah kak. Mana bisa aku bohong sama dia...he..he..." Mutia terkekeh.
"Kerjasama apaan sih?" tanya Catherine lagi.
Mutia mengangkat kedua bahunya, "Nggak tahu, aku juga nggak minat" jelas Mutia.
"Daripada mikirin yang nggak jelas, kita nyalon dan spa aja yuk" usul mama Cathleen.
"Wah, beneran tuh. Daripada bete mendingan kita nikmatin hidup ini dengan menggesek kartu suami" tawa Catherine terdengar renyah.
"Cari tempat yang aman juga buat bumil ini" ujar Mama Cathleen menggandeng menantunya.
"Di tempat langganan kita kan juga ada Mah, spa khusus ibu hamil" celetuk Catherine.
"Oke, kita ke sana aja"
Mereka bertiga benar-benar menikmati harta suami.
.
.
__ADS_1
Sebastian melihat ada notifikasi di ponselnya saat sedang menikmati makan siang dengan menu mie sama kuah bakso sesuai pesanannya ke Dewa tadi.
"Tuan, seperti kekurangan harta aja. Makan mie sama kuah bakso" ledek Dewa.
"Wa, rasanya benar-benar maknyussss" tiru Sebastian ke seorang food vlogger.
"Apanya yang maknyus, kuah sama mie?" Dewa masih heran dengan Sebastian saat ini.
Bahkan Sebastian menyeruput kuah bakso dari mangkoknya langsung sampai tandas.
"Ih, tuan jorok ah" ucap Dewa.
"Ternyata makan model beginian, nikmatnya luar biasa Wa" Sebastian mengelap sisa kuah di sudut bibirnya.
"Tuan, ngidamnya kok aneh. Tidak seperti dulu?"
"Biarin. Ini bisa dikata lebih baik dari yang dulu. Daripada nggak masuk apa-apa?" kata Sebastian.
"Bener juga sih, daripada aku juga ikutan repot. Mending ngidam beginian aja tuan. Cukup turun ke parkiran, dan dapat dech menu yang diinginkan" Dewa terkekeh.
Sebastian memainkan ponselnya, di buka notifikasi yang sempat dilupakan olehnya. Sebastian memicingkan matanya, "Akhirnya berguna juga" sudut bibir Sebastian sedikir terangkat.
"Ada apa?" tanya Dewa.
"Kepo aja kamu" Sebastian masih dengan mode senyumnya.
"Apaan sih tuan, senyum-senyum sendiri. Obatnya habis?" sahut Dewa.
"Kalau iya, kamu bisa menuliskan resepnya?" imbuh Sebastian.
"Aku tuh cuma penasaran, tanya gitu aja nggak dijawab" gerutu Dewa.
"Ha...ha...aku tuh senang sekali Wa, akhirnya kartu yang kuberi ke istriku kepakai juga. Pasti kak Catherine dengan susah payah membujuk Mutia untuk belanja" tawa Sebastian terdengar renyah.
Dewa membego, kok begini amat ya.
"Ya sudahlah Wa, kau pasti tak tahu rasanya. Kau kan masih jomblo" ledek Sebastian. Dewa hanya bisa garuk kepala.
"Wa, tadi pagi si Frans mendatangi istriku lagi" ucap Sebastian mulai serius.
"Kok bisa?" tukas Dewa.
"Bisa lah. Dia kan punya kaki" celetuk Sebastian.
"Maksudku tujuannya apa?" tandas Dewa.
"Katanya mau ngajak kerja sama sih. Tapi langsung ditolak oleh istriku" lanjut Sebastian.
"Apa tuan tidak merasakan ada hal yang janggal?" kata Dewa.
Sebastian nampak berpikir, "Ada sih, cuma ini masih sebatas kecurigaan" sambut Tian.
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
To be continued, happy reading
Hujan lebat angin kencang, ramein dong up yang baru datang π€
__ADS_1
Salam sehat
π