WANITA ITU IBU ANAKKU

WANITA ITU IBU ANAKKU
Part 139


__ADS_3

"Sebaiknya silahkan bawa surat aslinya saja nyonya, agar kami yakin kalau itu memang barang asli. Kalau anda tidak menunjukkan surat itu, maka kami anggap anda mau menipu kami" tandas karyawan itu.


"Apa kau bilang, kita menipu kamu. Cuihhh!!!" umpat nyonya Martha.


"Asal kau tau nona, kami bisa melaporkan kamu atas tuduhan pencemaran nama baik" ucap sengit nyonya Martha.


"Silahkan. Saya tak takut. Karena saya mengatakan yang sebenarnya" ucap karyawati toko itu.


"Hei...kau panggilah nyonya Berlyan. Pemilik toko ini, akan kuadukan kamu padanya" ancam nyonya Martha.


"Nyonya belum datang" tukas karyawati itu.


"Akan aku tunggu. Akan aku buktikan kalau kalung ini asli. Kalau sampai kau salah, akan kupastikan kamu akan mendekam di penjara nona" nyonya Martha teguh dengan pendiriannya.


Karyawan itu meninggalkan keberadaan nyonya Martha dan suaminya.


.


"Nyonya Berlyan" panggil nyonya Martha saat melihat pemilik jewelry itu lewat di depannya.


Wanita yang merasa dipanggil namanya itu menoleh.


"Iya, ada yang bisa dibantu nyonya Martha" tukasnya.


Nyonya Martha menceritakan semua yang dialaminya tadi, dan diiyakan oleh tuan Supranoto.


"Boleh kulihat liontinnya?" tanya Nyonya Berlyan.


Nyonya Martha menyerahkan liontin yang dipakainya.


Sejenak nyonya Berlyan mengamati liontin itu, "Bukannya ini palsu nyonya?" celetuknya.


"Palsu?" nyonya Martha melotot tak percaya.


"Apa nyonya ada surat-suratnya?" tanya nyonya Berlyan.


Tuan Supranoto memandang tak percaya ke arah istrinya. Nyonya Martha menggeleng.


"Nyonya Berlyan, saya jamin liontin ini memang asli. Aku yakin anda pasti akan medapatkan keuntungan yang banyak jika membelinya" nyonya Martha sedikit memaksa sang pemilik jewelry.


"Maaf nyonya, tapi saya memang tak berminat" ulas nyonya Berlyan.


Tuan Supranoto melihat situasi sekeliling, dan mendekat ke arah nyonya Berlyan.


Situasi sepi di outlet itu mendukungnya untuk mengancam nyonya Berlyan.


Tuan Supranoto menodongkan senjata ke arah nyonya Berlyan. Memaksa untuk memberikan sejumlah uang diganti dengan liontin yang sedang dibawa oleh istrinya itu.


Dua orang security mall melintas dan mendekat ke arah tuan Supranoto yang sedang mengarahkan senjata ke nyonya Berlyan.


"Pah, apa yang kau lakukan? Kita cari tempat lain aja untuk menjual ini" ucap nyonya Martha.


"Tidak, sebelum nyonya Berlyan memberikan uang pada kita" tatap tajam tuan Supranoto ke arah sekeliling.


Saat akan menarik pelatuk senjatanya, seseorang tiba-tiba saja mengunci pergerakan tuan Supranoto dan senjata yang dipegangnya terjatuh.

__ADS_1


Kedua security bergerak maju untuk mengamankan tuan Supranoto. Digiringlah tuan Supranoto ke pos satpam di mall itu. Banyak pengunjung yang melihat ke arahnya.


Kedua security itu juga meminta orang yang melumpuhkan tuan Supranoto dan nyonya Berlyan untuk ikut juga ke pos security untuk dijadikan saksi.


Sementara itu nyonya Martha mengiringi langkah suami menuju pos keamanan.


Tuan Supranoto menceritakan kronologi kejadian hingga dia sampai tega melakukan penodongan senjata.


"Kalau begitu, cerita awalnya karena sebuah liontin?" tanya orang yang menggagalkan rencana Supranoto.


"Boleh kulihat liontinnya. Kebetulan aku penyuka benda-benda antik" lanjutnya.


Dengan segera, nyonya Martha menunjukkan liontin yang dimaksud.


"Ooooo...bagus sekali. Boleh kubeli" kata orang itu.


"Boleh...boleh tuan" tukas Supranoto dan Martha bersamaan.


"Minta berapa? Kebetulan aku suka modelnya. Tapi kalau cocok sih harganya" tanya orang itu.


"Satu Milyar tuan" jawab tuan Supranoto.


Orang itu tidak nampak kaget sama sekali mendengar permintaan tuan Supranoto.


"Anda terlalu tinggi memberi harga. Aku yakin kalung ini tak akan laku kalau kau jual segitu" celetuk orang itu.


"Kalau tak punya uang jangan sok-sok an kau" sarkas tuan Supranoto.


"Bukannya ungkapan itu lebih cocok untuk menggambarkan dirimu sendiri tuan" serang balik orang itu.


Orang itu tersenyum sinis ke arah Supranoto dan Martha.


"Kita juga tak tahu kan kalung ini asli apa nggak? Emang papa tahu?" bisik nyonya Martha ke telinga sang suami.


"Kau tawar berapa tuan?" tanya tuan Supranoto. Mereka tawar menawar harga di ruang keamanan dengan tangan tuan Supranoto masih terikat.


"Kalau lihat harga emas sekarang saya cuma berani menawar maksimal lima puluh juta" ungkap laki-laki gagah yang juga berhasil mengunci pergerakan Supranoto tadi.


"Heh tuan, uang lima puluh juta bisa dapat apa sekarang?" Supranoto kembali menggertak.


"Ha...ha...kalau tak mau ya sudah. Aku pun tak rugi. Aku juga tak begitu membutuhkannya" tukasnya terbahak membuat Supranoto dan Martha saling pandang.


"Bagaimana?" telisiknya.


"Ya sudah, daripada nggak dapat uang" ujar Supranoto.


Di pos keamanan itu akhirnya terjadi transaksi pembelian kalung milik nyonya Martha.


"Pak satpam, kalian yang jadi saksi ya. Kalau aku telah sah membelinya" ujar laki-laki dengan tampilan parlente itu.


"Siap tuan" tukas para satpam yang berdiri di sana. Tak lupa mereka pun mendapat tips dari laki-laki itu.


"Tuan, mau cek atau tunai?" tanya nya kepada Supranoto.


"Tunai saja" jawab Supranoto singkat.

__ADS_1


"Baiklah" laki-laki itu menyerahkan sejumlah uang tunai kepada Supranoto sesuai harga yang dia tawar tadi.


Para satpam sengaja melepas begitu saja Supranoto dan Martha setelah melakukan transaksi.


Ponsel Martha yang berdering beberapa kali, akhirnya dilihat oleh Martha.


"Pah, Janetra?" ucapnya sambil memandang layar ponsel.


"Angkat dong. Ada apa anak itu?" ucap Supranoto.


"Halo Janet" ucap nyonya Martha saat mereka keluar mall.


"Mama sama papa kemana aja sih? Kutelponin sedari tadi nggak diangkat. Janet bingung ini" tandas Janetras saat panggilannya tersambung.


"Ada apa?" tukas nyonya Martha.


"Mah, aku bingung biaya rumah sakit ini. Tagihanku ada lima belas juta lebih" imbuh Janetra.


"Bukannya sudah dibayarkan?" tanya tuan Supranoto heran.


"Belum Pah, aku ada di ruang admin rumah sakit ini. Apalagi kamar ku diberikan kamar kelas satu. Rumah sakit sini kan juga langganan orang menengah ke atas" jelas Janetra.


"Sialan Sebastian" umpat Supranoto.


"Papa kok malah mengumpat sih, gimana ini biaya rumah sakit ku" kata Janetra dengan kesal.


"Iya kita kesana!" kata nyonya Martha menyambung.


"Kalian dapat uangnya? Sekalian beliin alat perlengkapan bayi ya Mah" pinta Janetra.


"Dasar merepotkan" gerutu nyonya Martha.


.


Sementara itu di ruang keamanan, nampak laki-laki itu menelpon seseorang.


"Tuan, semua sudah beres. Liontin sudah aku dapatkan. Tapi maaf aku menebusnya dengan uang lima puluh juta" katanya memberitahu orang yang ditelpon.


"Baik tuan, aku akan langsung ke kantor dengan membawa liontin itu" ucapnya penuh dengan nada sopan. Panggilan itu pun diakhiri.


Dia pun menghampiri nyonya Berlyan pemilik toko perhiasan mewah itu


"Nyonya, tuan kami mengucapkan terima kasih atas segala bantuan anda dan karyawan anda" ucapnya.


"Sama-sama Tuan, sampaikan salam kami buat bos besar anda. Sampaikan juga, kalau bos anda mau menjual liontin itu saya siap menampungnya...dua milyar pun aku mau" celoteh Nyonya Berlyan.


"Baik nyonya, akan kusampaikan tuan Sebastian" ujar laki-laki itu beranjak dari duduknya.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


To be continued, happy reading


💝


Ikan sepat bunga sepatu, sempatin up di hari Minggu

__ADS_1


__ADS_2