WANITA ITU IBU ANAKKU

WANITA ITU IBU ANAKKU
Part 38


__ADS_3

Mutia akhirnya melakukan apa yang dibilang oleh pesan itu. Berbaring di samping Langit, kemudian menarik selimut. Mutia tertidur sampai tiba-tiba terdengar bunyi bel pintu kamar hotel yang ditempati Mutia.


Mutia terjingkat dari tempat tidurnya. Mode waspada di on kan. "Siapa tengah malam ke sini?" gumamnya sambil beranjak. Sebelum membukanya Mutia sempatkan untuk melihat siapa yang datang dari lubang kecil di pintu. Mutia menaikkan alisnya, "Ada apa lagi?" Mutia membatin.


Pintu terbuka, senyum manis Sebastian mengembang. "Pagi Mutia" sapanya. "Hah...????" ucap Mutia dengan penampilan khas bangun tidur. "Jangan bilang kau baru bangun tidur Mutia...he...he...Langit mana? Boleh masuk?" Sebastian minta ijin. Mutia menunjuk Langit dengan arah matanya. "Heiiiii, anak daddy...nyenyak sekali tidurnya" tanpa menunggu persetujuan, Sebastian masuk kamar dan langsung memeluk Langit. "Masih malem Dad, bentar lagi plisssss" seloroh Langit dengan mata masih rapat terpejam.


Tanpa hilang akal, Sebastian menyibak tirai jendela di sampingnya. Membuat Mutia dan juga Langit silau. "Dad...." panggil Langit. "Ya sayang..." tukas Sebastian cepat. "Silau nih..." Langit bersembunyi di balik selimut. Sebastian tertawa melihatnya. Wajah khas bangun tidur mereka berdua sungguh menggemaskan. Sebastian menyusul Langit yang berada di balik selimut tebalnya. "Dad, geli....." teriak Langit masih di dalam selimut. "Hayo bangun, mau ikut daddy nggak?" tanya Sebastian. Seketika Langit langsung terbangun dengan muka bantalnya.


"Daddy mau mengajakku ke mana?" ungkap Langit penasaran. "Ke mana aja, yang penting bunda mu bisa tenang. Emang bunda kemarin mau mengajak Langit ke mana?" Sebastian sungguh tak hilang akal untuk mengerjai Mutia yang mencoba menghindarinya. Langit mengangkat kedua bahunya, karena Langit juga tak tahu mau diajak ke mana. "Bunda cuma bilang mau mengajak Langit liburan Dad" bisik Langit membuat Mutia curiga karena mereka saling berbisik. Sebastian manggut-manggut. "Daddy boleh ikut nggak?" tanya Sebastian dengan mimik mengharap biar dibolehkan oleh Langit. Kalau Langit mengiyakan, Mutia pasti tak berkutik. Sungguh modus kau Sebastian.


"Boleh dong Dad...pasti seru!!!!" tukas Langit penuh semangat. Padahal tadi dirinya sendiri yang mengajak, sekarang pura-pura mau ikutan. Batin Mutia sedikit jengah karena ulah Sebastian. Tapi mau gimana lagi, siasatnya sungguh licik dengan mendekat ke Langit. Begitu kira-kira benak Mutia.


"Kalau gitu buruan mandi gih" ujar Sebastian. "Terus nanti ikut daddy ke suatu tempat. Tanya bunda juga mau ikut apa nggak?" suruh Sebastian ke Langit.


"Daddy kan bisa nanya sendiri ke bunda" tukas Langit tak kalah seru. Pintar juga anaknya, batin Sebastian.

__ADS_1


"Gimana Mutia, ikut nggak? Kalau tak mau kuajak, anggap saja kalau Langit yang mau kamu ikutan" ucap Sebastian. "Heiii Dad, aku lho nggak maksain bunda ikut" Langit tak mau dirinya dibawa-bawa atas modus daddy nya. "Kalau nggak ada bunda, nggak seru dong" elak Sebastian.


Akhirnya dengan sedikit perdebatan, Langit mau juga diajak mandi. Mutia pun akhirnya menyetujui permintaan Sebastian dengan pertimbangan kebahagiaan Langit. Karena sekarang fokus utama Mutia adalah kebahagiaan Langit. Dan Sebastian sangat tahu akan hal itu.


Mutia yang banyak melamun selama dalam perjalanan tak lepas dari pandangan Sebastian. Mutia belum nyaman denganku, batin Sebastian.


Langit yang sangat menikmati perjalanan pertama naik helikopter, sungguh tak berhenti bertanya terutama kepada Dewa asisten Daddynya. "Om Dewa, kenapa pesawat ini musti pake baling-baling?" tanya Langit. "Om, kok heli kecil tidak seperti pesawat?" Om...Om...dan Om...banyak sekali soal-soalmu Langit..he..he... Sebastian sampai menertawakan Dewa yang kadang kesulitan menjawab pertanyaan Langit. "Langit, kenapa nggak nanya daddy aja sih?" bisik Dewa. "Kan Om Dewa asistennya Daddy" sahut Langit. "Emang kenapa kalau Om asisten Daddy?" tanya Dewa. "Kan kerjaan Om bantuin Daddy, menjawab pertanyaanku sekarang juga menjadi tambahan tugas buat Om Dewa" jelas Langit. "Mati aku" gumam Dewa. Sementara Sebastian menertawakan mimik Dewa yang sekarang.


Sampailah mereka di sebuah area wisata pegunungan yang sangat asri dan sejuk. Selepas heli mendarat, Langit turun dengan ditangkap daddy nya. "Wowwwwww indahnya" celetuk Mutia memandangi sekeliling. Sebastian yang mendengar sedikit mengangkat bibirnya. Ternyata kau suka dengan alam dan kesepian, tebak Sebastian. Kau memang unik. Banyak wanita suka dengan gaya hedon, kau malah sebaliknya. Sementara itu yang bisa dilihat Sebastian dari sosok Mutia.


"Langit, gimana kalau Langit bersama Om Dewa dulu. Tuh, di sebelah sana ada permainan seru" tunjuk Sebastian ke sebuah wahana. "Kena lagi gue" gerutu sengit Dewa. Sebastian yang sedang menggendong Langit pun melotot ke arah Dewa. "Iya...iya...siap..." tukas Dewa. "Daddy, kok sepi tempatnya???" tanya Langit. "Kan ini bukan hari libur sayang, pasti sepi lah" tukas Sebastian. Dewa hanya menggelengkan kepalanya, bagaimana tuannya beralasan seperti itu. Jelas-jelas sang tuan lah yang membooking tempat ini dan dengan semena-mena menutupnya tanpa memperdulikan pengunjung lain, batin Dewa.


Sementara Sebastian mengajak Mutia duduk di tempat yang memang sudah sepi itu. "Mutia, duduk sini" panggil Sebastian. Tanpa banyak tanya Mutia duduk di depan Sebastian.


"Ada banyak hal yang ingin kusampaikan padamu" Sebastian mencoba mulai menjelaskan. Sosok Mutia yang tenang, membuat Sebastian sedikit nyaman menceritakan semuanya.

__ADS_1


Sebastian menceritakan kejadian malam itu versi Sebastian. "Kalau kau tak percaya dengan ucapakanku, bisa kau tanya Dewa. Karena saat itu Dewa lah saksinya. Dewa baru menemukan kebaradaanku keesokan pagi setelah kejadian satu malam denganmu. Dia kehilangan jejak saat mengikuti laju mobilku" jelas Sebastian. "Bagaimana aku bisa percaya padamu Tian kalau Dewa saksinya. Jelas-jelas Dewa akan memihakmu" tukas sinis Mutia. Mutia jelas-jelas bersikap rasional kali ini. Yang benar saja, dia bilang Dewa saksinya. Kalau bejat ya bejat saja, nggak usah bawa yang lain. Begitu pikiran Mutia saat ini.


"Aku juga punya bukti, saat seorang sosok wanita memberiku sesuatu. Yang mengakibatkan diriku hilang kendali dan memperkosamu" Sebastian tau kalau Mutia sangat meragukan ceritanya.


"Maafkan aku yang terlambat menemukanmu. Beri kesempatan padaku Mutia" harap Sebastian. "Kesempatan apa?" tukas Mutia yang mulai melibatkan emosi dan perasaannya. "Untuk membahagiakanmu dan juga Langit" sahut Sebastian. "Tanpa kau datang pun, aku dan Langit sudah bahagia Tian" tegas Mutia.


"Malah kehadiranmu membuat hidupku dan juga Langit menjadi tak tenang" lanjut Mutia. Mutia teringat kembali dengan wanita hamil yang mendatanginya kemarin itu. "Apa kehadiran Janetra kemarin, membuatmu meragukanku???" tanya telak Sebastian seakan tau arah pemikiran Mutia.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


To be continued


"**DO MORE OF WHAT MAKE YOU HAPPY" (Harold Whitman)


Lakukan hal-hal yang membuatmu bahagia,

__ADS_1


Sejatinya kebahagiaan bersumber dari kita sendiri 😊


Baca novel online salah satunya 🤗** (ini mah author maksa banget)


__ADS_2