
"Kalau sudah habis, lekas kau keluar!!!" kepala Sebastian muncul kembali di ruang kerja membuat Dewa tersedak kopi panas.
"Dasar bos nggak tau diri" batin Dewa. Segala macam umpatan hanya lewat di hati, Dewa tak berani mengutarakannya.
Dewa melewati sang bos yang ternyata sedang duduk di ruang tengah sambil melihat berita bisnis itu. "Bos, aku pergi dulu. Bilang nyonya Mutia, makasih kopinya. Kalau aku ke sini lagi, siap menerima kopi buatan nyonya" kelakar Dewa. "Tak akan kusampaikan" ucap Sebastian sewot. Dewa keluar apartemen Sebastian sambil tertawa.
"Sayang, sudah selesai belum? Ayo berangkat!!!" panggil Sebastian. Mutia keluar kamar dengan make up tipis namun nampak elegan. "Cantik" gumam Sebastian. "Kalau kayak gini, rasanya ingin mengurungmu saja di kamar yank" puji Sebastian. "Hhmmm...jangan mulai dech" tukas Mutia. Sebastian yang biasa memakai pakaian resmi, kali ini hanya pakai kaos dan celana selutut dengan sneaker yang match semua. Jam tangan dari merk terkenal juga menghiasi pergelangan tangannya. Mutia memandangi laki-laki tampan yang telah resmi menjadi suaminya itu. "Yank, kok melamun. Aku tau aku tampan, jadi nggak usah segitunya kali memandangku" Sebastian merangkul pundak Mutia dan mangajaknya berangkat.
Sampai di basement apartemen, pasangan yang sedang mesra-mesranya itu melihat Dewa dan Dena sedang ada perdebatan sengit. "Gara-gara kau pekerjaan ketunda tau, karena para pekerjamu yang memasang cctv tanpa kabar-kabar dulu" ucap sengit Dena. "Heh, harusnya kau bersyukur nona. Dengan adanya cctv itu, keamanan 'Mutia Bakery' pasti akan lebih terjamin" sahut Dewa tak kalah sengit. "Dan kau harusnya mengucapkan terima kasih padaku untuk hal itu" tandas Dewa. "Cih, nggak sudi gue" Dena cepat menyahut. Entah siapa yang mengawali, sehingga kedua asisten itu saling mengeluarkan kelebihan energi pagi-pagi dengan saling berdebat.
"Asistenmu dan asistenku bagai Tom and Jerry dech. Njodohin mereka selain dapat pahala, kayaknya lucu juga" bisik Sebastian. Mutia tertawa menanggapi, "Setuju".
"Hei, duo 'D'..." panggil Sebastian mendekat ke arah Dewa dan Dena. "Hah????" Dewa dan Dena kompak menengok. "Iya Duo 'D'...Dewa dan Dena...ha..ha... Ngapain pagi-pagi sudah mbangunin para penghuni apartemen?" tanya Sebastian pura-pura serius. "Asistenmu tuan" "Asistenmu Nyonya" ucap Dewa dan Dena berbarengan, dan kemudian mereka saling melotot ke arah masing-masing.
"Sudah...sudah...lekas berangkat sana" Mutia menengahi kedua asisten itu. Tanpa banyak kata, mereka berdua melangkah ke mobil masing-masing. Tapi ternyata arah mereka kompak kebalik, jadilah mereka saling balik badan bersama menuju mobilnya. Bahkan bibir mereka juga kompak mengerucut saat berpapasan. Mutia dan Sebastian hanya geleng kepala saja melihat tingkah kedua asisten itu.
"Kita ke Mall Dirgantara aja ya" celetuk Sebastian saat mobil mewah itu mulai melaju. "Ikut aja dech, yang penting isi kulkas di rumah terisi" tukas Mutia. "Emang hanya mau belanja isi kulkas aja, nggak ada yang lain?" imbuh Sebastian. "Nggak ada, yang lain sudah kau sediakan semua. Bahkan sampai baju pun tinggal pakai. Makasih ya suamiku" ucap tulus Mutia. "Kau bilang apa tadi? Coba diulangi!!!" Sebastian mulai aksi becandanya. "Hhmmmm nggak mau ah" sahut Mutia. "Ya kan, malu lagi istriku ini" Sebastian mengusap rambut istrinya.
__ADS_1
Sebastian mengandeng posesif istrinya sesampai di Mall Dirgantara. "Kamu kok suka sekali ke mall ini kenapa sih yank?" tanya Mutia. "Satu, lokasi paling terjangkau. Kedua, pemilik mall ini sahabatku. Teman satu angkatan, beda jurusan" jelas Sebastian. "Wah hebat juga sahabatmu, punya mall sebesar ini" puji Mutia. Wah, dia nggak ngakui nih kalau suaminya juga tak kalah dengan dokter Bara pemilik mall ini, Sebastian mengerutu dalam hatinya.
Mutia benar-benar mengajak Sebastian belanja semua keperluan rumah tangga. "Pasti nggak biasa ya beli semua ini??" tanya Mutia melihat suaminya sering menautkan alisnya seakan heran melihat Mutia mengambil barang belanjaan. "He..he...ini kali pertamanya. Biasanya cuman nganter mama. Mama yang muter aku nunggu aja di foodcourt" imbuh Sebastian. Mutia berjalan ke area daging segar, ayam segar dan juga ikan segar. Sebastian yang tak pernah datang sama sekali ke tempat itu, perutnya mulai bergejolak. Dia menahan mualnya sampai merah padam. Mutia yang sedang asyik memilah barang-barang itu tak tahu akan hal itu. "Bentar yank" Sebastian meninggalkan Mutia yang tetap asyik memilih-milih belanjaan.
Seseorang menghampiri Mutia yang nampak asyik mendorong keranjang belanja sendirian. "Pagi nyonya Mutia. Banyak juga belanjaannya??" sapa wanita itu sok ramah. Mutia menoleh ke arah suara orang yang menyapa. "Oh, nyonya Martha. Apa kabar?" tukas Mutia membalas sapaan nyonya Martha. "Entah bagaimana ya? Aku merasa kita akhir-akhir ini sering dipertemukan. Jodoh kali ya?" tukasnya tersenyum sok ramah. Mutia hanya tersenyum menanggapinya. "Sendirian aja nyonya? Bawa belanjaan segini banyak?" selidik nyonya Martha. Mutia kembali tak menjawab, hanya tersenyum saja.
"Nyonya Mutia, apa nggak sebaiknya anda menikah saja. Aku dengar dari putriku anda sudah punya anak tanpa menikah" kata nyonya Martha menyindir Mutia. Mutia masih punya stok kesabaran yang cukup untuk menahan emosinya. Dia yang terbiasa dengan cemoohan dan hinaan orang sebelumnya seakan kebal dengan kata-kata yang diucapkan oleh nyonya Martha. "Emang ada yang salah dengan status saya nyonya?" Mutia membalikkan pertanyaan nyonya Martha. "Ya kali aja, kau berminat menikah nyonya Mutia. Agar tidak ada lagi korban seperti putri saya yang akhirnya dibatalkan pernikahannya sepihak hanya karena ulah anda" sarkas nyonya Martha. "Jadi anda menuduh saya menjadi penyebab gagalnya pernikahan putri anda dengan CEO Blue Sky itu?" selidik Mutia. "Bisa saja. Bahkan media saat itu juga memojokkan anda bukan?" tandas nyonya Martha, yang mulai hilang keramahannya.
"He...he...hari gini anda masih begitu percaya berita. Bukannya berita itu juga media yang memihak perusahaan suami anda nyonya...? Jelas saja beritanya pasti memojokkan saya" ujar Mutia tegas.
Nyonya Martha yang tak bisa memojokkan Mutia, mulai nampak emosi. "Oh ya nyonya, sekalian menambahkan untuk sekedar kau ketahui. Untung loh, CEO Blue Sky tidak menempuh jalur hukum karena kalian telah menipunya mentah-mentah" lanjut Mutia. "Bukannya calon cucumu bukan anaknya tuan Sebastian nyonya??" bisik Mutia ke telinga nyonya Martha. Wajah nyonya Martha menjadi sangat merah padam menahan amarah tapi tak bisa membalas ucapan Mutia, karena akan mempermalukan dirinya sendiri. Karena ucapan Mutia yang terakhir itu memang benar adanya. "Ada yang perlu disampaikan lagi nyonya? Kalau tak ada saya permisi dulu" ucap Mutia kembali sopan dan meninggalkan nyonya Martha yang termangu menahan emosi.
Sebastian menyusul Mutia yang telah berada di meja kasir. "Dari mana saja?" tanya Mutia seolah tak terjadi apa-apa barusan. "He...he...aku nggak tahan saat kamu ambil daging segar tadi. Perutku mual, jadi muntah dech" Sebastian menanggapi pertanyaan Mutia. "Apa masih mual? Abis ini kita ke foddcurt aja dulu. Beli teh hangat buat ngurangin mualmu" Mutia mulai panik. "Biasa saja sayang, mualnya hilang kalau bau amisnya juga hilang" tutur Sebastian yang sudah baik-baik saja.
"Mba, minta tolong daging, ayam dan ikan segarnya dipacking yang benar ya. Dan semuanya tolong dikirim ke apartemen Royal" celetuk Mutia sambil menyerahkan kartu yang diberikan Sebastian sebelumnya. "Yank, kupakai ya?" tengok Mutia ke arah Sebastian. "Terserah kau saja, itu semua sudah jadi hak kamu sayang" tukas Sebastian.
"Ayo ke foodcourt dulu. Cari teh hangat" ajak Mutia. "Nggak usah sayang, mualku juga sudah hilang" tukas Sebastian sambil menggandeng Mutia masuk ke sebuah butik terkenal di mall itu. "Ngapain ke sini yank?" tanya Mutia. "Pilih aja, aku mau kasih hadiah buat kamu" kata Sebastian. "Hadiah apa?" imbuh Mutia. "Hadiah atas kesediaanmu menjadi istriku" ulas Sebastian. "Kalau itu nggak usah dikasih hadiah juga nggak papa yank. Perlakuanmu yang baik terhadapku dan Langit saja sudah merupakan hadiah tak terkira buatku. Kok jadi mellow sih akunya" ucap Mutia menahan tangis. Mereka malah berpelukan di dalam butik yang masih nampak lengang itu. "Hei, pengantin baru yang tak mau undang-undang tamu. Ngapain kalian pelukan di butikku" celetuk seseorang di belakang mereka. Sebastian menoleh. "Ha...ha...ternyata kau Bara??? Kok sudah di sini aja? Apa kau sudah dipecat jadi CEO Dirgantara?" cela Sebastian. "Apa kau juga sudah jadi pengangguran juga?" tukas Bara. Mereka pun tertawa bersama.
__ADS_1
"Oh iya, kenalin istriku. Mutia ini dokter Bara, pemilik mall ini" Sebastian mengenalkan Mutia ke Bara. Mereka bersalaman saling menyebutkan nama. "Oh ya Mutia, Bara ini juga seorang duren lho" ledek Sebastian. "Duren nya nggak usah disebut kali" tukas Bara.
Mutia kembali memilih baju yang sekiranya cocok untuk dirinya. Dia sebenarnya ogah, tapi apalah daya suami memaksa. Ngeles sedikit boleh kan...
Sementara Sebastian asyik ngobrol dengan sahabatnya yang seorang CEO dan juga seorang dokter spesialis itu.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
To be continued, happy reading.
Makasih untuk kalian, yang masih mengikuti cerita ku sampai di titik ini.
like, komen dan vote nya biar karya ini makin populer
Jangan lupa follow IG author ya
@ moenaelsa_
__ADS_1
💝